di Kenawa Island
Not today Justin
$LAYYYTER
ojovivo

izzy's playlists!
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
h

ellievsbear
art blog(derogatory)
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
EXPECTATIONS

Andulka

bliss lane
tumblr dot com
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Today's Document

Game Changer & Make Some Noise
🩵 avery cochrane 🩵
Fai_Ryy
macklin celebrini has autism
sheepfilms
seen from Philippines

seen from Ukraine
seen from Brazil
seen from United States

seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from Morocco
seen from Brazil

seen from United States

seen from United States
seen from Costa Rica
seen from South Africa
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Venezuela
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from China
@viaginting
di Kenawa Island
#latepost #bestfriend #edisiholiday #monday #bandung #tsb #like4like #instalike (di TSB (Trans Studio Bandung))
#latepost #bestfriend #edisiholiday #gengges #alay #bandung
#latepost #edisiholiday #bestfriend #floatingmarket #like4like #explorebandung (di Lembang Floating Market)
#latepost #holiday #tangkubanperahu #wisataalam #explorebandung #sejarahindonesia #like4like #alay (di Kawah Ratu Tangkuban Perahu)
#latepost #holiday #bestfriend #sedarahsetanahair #like4like #instalike #dusunbambu #bandung #alay (di Dusun Bambu Lembang Bandung West Java)
#latepost #edisibungabungaan #holiday (di Dusun Bambu Lembang Bandung West Java)
#latepost #holiday #kampungbambu #edisibungabungaan #gilafoto #kumpulbocah
#latepost #kenawaisland #sumbawa #nusatenggarabarat #gilafoto #holiday #interensip (di Wisata Bahari Pulau Kenawa, Sumbawa-NTB)
#latepost #drsiwe #caruringu #berpose #di #hutan #kalahin #monyet 😂😂😂 (di hutan amazone dompu)
#latepost #ishipdompu #drkecebong #padangsavana #doroncanga #caruringu #narsis (di Padang Savana Doroncanga, Dompu Ntb)
#latepost #melompattinggi #tengahjalan #carimati
Check out the video I made with Meipai~ (di Basecamp Dokship Dompu)
Upaya membahagiakan diri sendiri, menciptakan euforia Tambora di IGD. 😁
Heaven’s New Angel
Wanita ini adalah orang pertama yang wajahnya aku lihat ketika membuka mata pada 6 Oktober 1993. Yang pasti aku tidak ingat persis bagaimana memori saat itu, tapi menurut cerita papa sebelum aku membuka mata, suster membiarkan mama menggendongku hingga aku membuka mata.
Vonne Tineke Sambouw, nama asli sebelum dirinya bertemu papa yang kemudian menggunakan nama belakang Kosakoy. Namanya yang memiliki banyak nama panggilan lainnya seperti Ivon dan Ivonne. Seorang wanita sederhana yang memilih hidupnya untuk menjadi seorang pendeta. Wanita ini sering dikenal dan dipanggil oleh jemaatnya sebagai Ibu Pendeta. Tidak sekedar menjadi pendeta, melainkan ‘ibu’ bagi mereka. Wanita sederhana yang tidak suka dandan.
Dari situlah aku belajar untuk tidak egois. Ibuku juga ibu orang lain. Mereka menyayanginya sama seperti kami sekeluarga menyayanginya. Mereka yang mengenal mama tidak hanya sebagai seorang ‘ibu’, tetapi juga sebagai seorang sahabat yang mau mendengarkan di tengah waktu pelayannya yang padat. Mungkin mereka merasakan apa yang aku rasakan, yaitu mempercayainya sebagai sahabat yang tidak pernah mengadili dan mau mendengarkan dengan sabar setiap celotehan yang tidak penting. Tidak hanya itu, juga sebagai seseorang yang mau membukakan mata bagi sesuatu yang tidak pernah terpikiran. Itulah kenapa mereka begitu merasa kehilangan ketika wanita yang sangat berarti ini harus pergi dari dunia.
Seperti yang diucapkan oleh setiap orang kepada kami sekeluarga mengenai kepergian mama, “Ini rencana Tuhan”, kami sadar mama diberikan penyakit seperti ini juga termasuk bagian dari rencana besar Tuhan buat mama dan buat kami sekeluarga. Mungkin aku bisa gila jika mama pergi dengan kecelakaan atau kepergian secara tiba-tiba, tapi melalui penyakit bertahun-tahun sehingga Tuhan mengizinkan aku untuk mengikuti proses ini.
Mungkin Tuhan memberikan penyakit paling ganas untuk tubuh kuatnya. Breast Cancer itu telah menggerogoti tubuhnya selama kurang lebih 6 tahun.
Dimulai dari tahun 2009, kelenjar sel kanker tumbuh hanya seperti benjolan. Mama menyadari kehadiran benjolan asing tersebut dan mama tidak menanyakan kepada kami apa itu. Mama berinisiatif sendiri melakukan check up ke dokter dan menanyakan apa yang terjadi dengannya. Saat itu hanya mama seorang diri yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami tidak tahu apa-apa, mama menganggap seolah semuanya baik-baik saja.
Tahun berikutnya, awal tahun 2010. Sel kanker itu seperti menusuk-nusuk mama dari dalam. Mama sering terlihat merasa ngilu sendiri dan kami sekeluarga mulai curiga. Hingga pada akhirnya, mama mengajak kami satu per satu berbicara 4 mata di waktu yang berbeda.
Aku tidak tahu persis bagaimana mama mengatakannya kepada papa dan teo, yang jelas aku orang terakhir. Siang itu, mama masuk ke dalam kamarku dan melihat aku sedang berada di depan laptop. Mama menanyakan dengan suara setengah gemetar, “Dek, kamu sibuk ga?”. Aku melihat mama sambil menggelengkan kepala dan mulai bertanya-tanya kenapa mama. Mama cepat-cepat mengajakku ke kamarnya dengan segera berpaling muka. Sepertinya mama menahan tangis.
Dan betul, setibanya di kamar mama menangis. Aku juga ikut menangis duluan tanpa bertanya kelanjutannya. Mama mulai menarik nafas dan menguatkan dirinya untuk mengatakan semuanya. Kalimat pertama yang terucap, “Kamu jangan kaget ya” sambil dia membukakan bajunya dan memperlihatkan benjolan yang cukup besar ada di payudara kanannya.
Aku kaget tapi aku cuma bisa meneteskan air mata tanpa mengomentari apa-apa. Melihat itu, mama berusaha menguatkanku. Mama bilang, “Tapi kamu ga boleh kepikiran ya dek, mama sudah bilang sama papa dan teo. Kita berdoa sama-sama saja ya”. Aku semakin menangis ketika mendengar perkataan mama dengan suara setengah menangis tetapi setengah menjelaskan. Mama seperti berusaha kuat meskipun sebenarnya dia tidak begitu kuat untuk menghadapinya. Mama juga bilang mama tidak mau memberitahukan hal seperti itu di saat-saat seperti itu, di saat aku sedang menjalani masa-masa ujian akhir SMA. Tapi aku menepati janji, hal tersebut tidak menjadi pikiran justru dengan begitu mama mengajakku untuk percaya dan kuat.
Setelah semua ujian selesai dan sedang menunggu pengumuman, mama tau inilah saatnya aku bergumul dengan mama dan mengajakku menemaninya berobat. Ketika satu hari mama selesai menjalani pengecekan mengenai kankernya, ada satu map putih yang berisi hasil pengecekan secara keseluruhan. Aku tidak mengerti bahasa medis, sehingga aku tidak begitu tahu bagaimana hasilnya. Tapi di bagian bawah, pada bagian kesimpulan, kalimat terakhir mencantukan kalimat “Stadium III”. Melihat di film-film jika ada yang terkena penyakit kronis terutama kanker kemudian sudah stadium III ataupun IV, aku hanya menyimpulkan itu adalah stadium akhir.
Sesampainya di rumah, mama menanyakan waktu kosongku di sela-sela aku harus mengurus pendaftaran kuliah. Mama meminta satu hari untuk aku menemaninya pergi ke gereja untuk berdoa bersama. Dan mama mengajakku untuk berdoa di gereja katholik. Ini bukan kali pertamanya dia masuk ke dalam gereja katholik. Mama menjelaskan bahwa saat dia pertama kali berdoa di sana, ada sesuatu yang beda, dia merasa lebih tenang ketika dia mencurahkan isi hatinya dalam doa kepada Tuhan.
Malam itu, aku tidak begitu ingat kapan, di suatu gereja katholik Santa Maria Tak Bercela daerah Ngagel. Mama memilihnya karena tidak begitu jauh dari rumah, mama mengajakku ke sana dengan menaiki becak. Malam itu habis diguyur hujan. Ketika becak berhenti di depan gereja, aku merasa takut untuk masuk. Aku merasa apa tidak apa-apa? Karena terakhir kali aku mengikuti ibadah di gereja katholik Santo Arnoldus adalah saat aku kelas 3 dan 4 SD di Strada Budi Luhur. Mengikuti misa hanyalah sebagai kewajiban siswa dan siswi yang bersekolah di sana. Tetapi malam itu, aku datang dengan sebuah harapan. Aku berharap Tuhan menyembuhkan mama. Hanya itu.
Sejujurnya saat itu kami berdua tidak tahu harus kemana, kami tidak tahu harus berdoa dimana dan bertemu siapa. Tapi saat itu, pintu gereja sedang terbuka setengah seolah mempersilahkan kami berdua untuk masuk. Suasana dalam gereja, gelap. Kami hanya melihat lilin di sekitar patung Yesus dan bunda Maria. Mama duduk di bangku deretan 2 dari depan dan mulai berdoa. Aku mengambil tempat persis di depan patung bunda Maria dan kemudian berlutut sambil berdoa. Aku mulai berdoa sambil menangis. Hanya bisa mengucapkan, “Tuhan tolong Tuhan tolong mama”, di samping aku sudah terbawa emosi yang terlintas di pikiranku hanya kalimat-kalimat seperti itu. Selebihnya aku lebih banyak menangis. Tak lama penjaga gereja tersebut datang dan menemukan kami berdua seperti tamu tak diundang. Penjaga tersebut seperti ingin sekali menyuruh kami untuk keluar tetapi karena melihat kami berdua sedang berdoa, penjaga tersebut hanya sengaja membunyikan gemerincing kunci di tangannya sebagai tanda sudah ingin menutup pintu gereja ini. Setelah amin. Aku yang duluan selesai berdoa, aku melihat mama masih tertunduk lesu. Aku juga tidak mengerti bagaimana isi doanya tapi yang dari nonverbalnya, dia seolah berserah.
Sebagai seorang anak perempuan, itulah mengapa mama sering bercerita. Terutama mengenai orang-orang yang terkadang membuatnya ‘sakit’. Mama tidak menyebutkan secara spesifik, tapi hampir setiap malam aku ingin tidur dengan mama dan sebelum kami tidur, kami bercerita mengenai apapun yang terjadi hari itu. Mama bercerita kepada aku yang seolah sepantaran dengannya dan seseorang yang dapat dipercaya. Mama meluapkan semuanya dengan berbagai macam ekspresi entah itu senang ataupun sedih, hingga akhirnya kami lelah sendiri dan memutuskan untuk berdoa. Tidak selalu mama yang memimpin doa, tapi seringkali mama mempersilahkan aku yang memimpin doa.
Di pagi harinya, jika aku tidur di sebelahnya. Aku tidak pernah melihat mama ada di sebelahku saat membuka mata. Mama selalu bangun lebih dulu dan ada saja sesuatu yang sudah dia kerjakan. Mama tidak berani membangunkanku meskipun hari sudah mulai siang, kata mama “Tidurmu nyenyak. Biar kamu bangun sendiri supaya bangunnya enak”. Jika sudah mulai terlalu siang aku belum bangun juga, baru mama mau membangunkanku secara perlahan, “Dek, bangun dulu kamu belum makan. Kalo mau tidur lagi gapapa, yang penting makan dulu”
Mama tidak pernah marah, sekalipun mama marah mama hanya meluapkan emosinya di saat-saat pertama saja seperti dia berteriak tetapi selanjutnya dia berdiam diri bahkan menangis di dalam kamar dan mengunci dirinya. Mama adalah wanita bertopeng yang paling jago memainkan perannya. Dia selalu bisa membuat kami orang lain percaya bahwa dia baik-baik saja.
Hingga akhirnya papa dan mama kembali harus bertugas di Jakarta lagi, di situlah aku dan teo mulai hidup sendiri di Surabaya. Aku mulai sering kangen dengan mama, pada awalnya memang rajin telepon ke Jakarta hanya untuk menanyakan kabar. Terlebih menanyakan bagaimana perkembangan pengobatan mama yang mama lakukan di Tangerang. Pengobatan dengan menggunakan rompi listrik tersebut kami kira membawa sesuatu dampak yang baik dan membawa mama kepada kesembuhan tetapi kebalikannya.
Memang benar, rompi itu bertujuan untuk menghilangkan sel kanker di payudara tersebut. Setelah diperiksa sel tersebut nihil, tetapi sel tersebut menyerang yang lain. Tulang belakang mama menjadi sasarannya. Sehingga mama mulai tidak bisa berjalan seperti biasanya. Tanda-tandanya pada waktu pertengahan tahun 2014 lalu, mama sering merasakan capek dan tidak kuat lagi berjalan jauh. Sehingga mama menggunakan kursi roda.
Lama kelamaan mama mulai tidak bisa menggerakan kedua kakinya begitu juga dengan tangan kanannya. Kami sekeluarga dan pihak gereja menjadi lebih sering membawa mama keluar masuk rumah sakit. Semenjak mama di RS, ada begitu banyak orang yang silih berganti menjenguk mama. Mereka menguatkan mama dan mendoakannya. Beberapa dari mereka yang menjenguk mama, setelah selesai berdoa, ada yang menahan tangis tapi ada juga dan tak kuat menahan tangis dan memutuskan untuk keluar ruangan untuk melepaskannya. Menurut mereka, mereka mendoakan fisik seseorang yang bukan lagi Ibu Vonne, karena fisik mama tidaklah sama seperti yang dulu. Mereka mendoakan seorang wanita tak berdaya berambut pendek cepak putih dan tidak dapat berkomunikasi secara maksimal. Tapi mereka masih melihat kekuatan yang luar biasa dari dalam diri pasien lemah ini. Dalam keterbatasannya ini, mama masih ingin melayani. Di bulan Januari 2015, mama bersih keras melayani katekisasi pra nikah meskipun dirinya hanya bisa tertidur di atas ranjang dan melayani lewat telepon atau ditemui di tempat.
Hingga belasan Februari, saat imlek. Aku harus ke Jakarta karena mama masuk Cikini. Mama tidak bisa berkomunikasi secara normal karena mama harus memakai alat bantu pernafasan. Pengaruh obat dan kekurangan cairan dalam tubuh yang membuat mama jadi linglung. Mama sampai tidak mengenaliku dengan baik bahwa aku adalah anaknya sendiri.
22 Maret malam, Mama Jane telefon. Mama Jane bilang aku harus ke Jakarta besok paginya karena mama masuk ICU. Mama Jane tidak menjelaskan penyebabnya tapi mama Jane menenangkanku yang sudah mulai menangis, “Mama cuma lagi kangen, mama pengen ketemu”. Aku tidak punya firasat apa-apa bahwa itu adalah tanda mama ingin pamitan. Mama ingin melihat aku dan Teo untuk terakhir kalinya.
I have tried, we have tried.
Setibanya di Jakarta, kami langsung menuju RS. Tebet. Aku dan Teo menunggu jam besuk dan kemudian kami masuk ke dalam ruangan ICU. Pertama kali kami masuk, mama sedang tidur. Ketika kami mendekati ranjangnya, dan aku memegang tangannya. Mama terbangun, dan sedikit kaget melihat kehadiran kami berdua. Mata mama seperti semangat melihat kiri dan kanan, aku menanyakan apakah mama sudah makan? Mama cuma bisa menggelengkan kepalanya. Aku dan mama kemudian dalam beberapa detik hanya bisa bertatapan mata saja tanpa berbicara sepatah katapun, aku mengeluarkan air mata tanpa disadari dan aku berusaha untuk tetap terus berbicara dengan mama. Menanyakan mama mau apa, mama kedinginan atau bagaimana meskipun dengan suara bergetar.
Malamnya, ketika aku sendirian masuk ke dalam ruangan ICU. Aku kembali melihat ketakutan di mata mama dan mama berusaha berbicara sesuatu yang paling aku sesali sampai saat ini. Aku tidak mengerti sama sekali yang mama ucapkan, hingga mama mengulanginya beberapa kali bahkan ada penekannya, aku tetap tidak mengerti. Mama akhirnya menyerah sendiri, dari nonverbalnya mama capek dan memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi. Mama memilih untuk memejamkan matanya sesaat. Aku hanya bisa mengelus kepalanya, merapikan selimutnya, dan memijiti kakinya meskipun mama tak lagi merasakan kedua kakinya. Ketika aku ingin keluar, aku pamit. “Ma, ini bajunya kan mau dipinjem sama orang lain yang mau besuk, jadi harus gentian sama aku. Aku keluar dulu ya nanti aku masuk lagi”. Mama tidak memberikan respon, mama cuma melihatku mendekati pintu ICU. Saat aku membuka pintu, kembali aku melihat mama, mama masih melihatku seperti dalam hati berkata “Jangan keluar, temenin mama dulu”. Akhirnya aku kembali ke ranjang mama, aku mengelus kepalanya hingga lama kelamaan mama tertidur kemudian aku keluar.
23 Maret, kami berdua harus kembali ke Surabaya karena kami masih harus menyelesaikan kuliah kami. Terutama Theo yang harus melakukan sidang pada tanggal 25. Sebelum kami meninggalkan rumah sakit, jam 11 siang itu, kami berdua kembali masuk ke dalam ruangan. Mama kembali meminta sesuatu, dan yang mengerti adalah Teo. Kami berdua kira mama mau air putih. Saat mama mengulanginya lagi, dan Teo menanyakan “Kayu putih?”, mama mengangguk. Teo menyuruhku mengambil minyak kayu putih di luar, tapi setelah membuka tas yang biasanya aku selalu membawa minyak kayu putih kemana-mana, saat itu tidak ada. Hanya ada salep fix yang bisa aku bawa kembali ke dalam ruangan ICU, saat ini mengatakan kepada mama bahwa kayu putihnya tidak ada, mama sudah tertidur. Teo menyuruhku untuk mengoleskannya di kaki mama.
Flight kami ke Surabaya adalah jam 5 sore, dimana jam besuk juga jam 5 sore jadi kami tidak sempat masuk kembali ke ruangan ICU pada saat jam besuk. Kami berdua memutuskan untuk masuk ke ICU dengan tujuan berpamitan dengan mama pada jam 3 sore. Tapi pintu ICU terkunci sehingga kami memutuskan untuk tidak masuk ke ruangan ICU lagi kemudian langsung menuju ke bandara.
25 dini hari. Aku tidak pernah menggantikan profile vibrate menjadi sound dalam minggu-minggu kuliah. Tapi entah kenapa dan tanpa perasaan apa-apa, sehari sebelumnya aku menggantikannya dengan sound. Sehingga pada pukul 03:39, Teo telepon. Dan seketika itu aku terbangun dan mengangkat teleponnya. Suaranya seperti gemetar. Aku mulai curiga ngapain telepon subuh-subuh.
“Pris..”
“Hmm?”
“…Tidur lu?”
“Iya kenapa?”
Teo diem sambil terdengar dia menarik nafas panjang. “Tadi Kak Maya telepon…”
Mendengar bahwa yang menelepon adalah pihak gereja, aku semakin khawatir. Teo kembali melanjutkan,
“Jadi…kita harus kuat pris…….Jadi..mama…ya mama uda ga ada.. gitu pris”
Setelah Teo menyelesaikan kalimatnya, aku dalam posisi duduk hanya merespon “…oh…….…yauda..”
Beberapa detik saat itu aku seperti kosong, aku tidak tahu apa yang harus aku respon apa yang harus aku pikirkan, aku cuma bisa bernafas. Hingga Teo menanyakan, “Kok lo ga kaget?”
“Tadi gua ga mikir apa2 aja, hilang beberapa detik. Ya cuma merasa yauda te ini yang terbaik buat mama”
Setelah kami berbicara pajang lebar dan saling menguatkan satu sama lain, Teo memutuskan untuk menutup telepon sementara. Saat itulah aku mengabari orang-orang terdekatku bahwa mama sudah tidak ada.
Bagaimana perasaan kami berdua saat itu? Mau tidak mau harus kuat. Teo harus menjalani sidang seminar pagi itu, pikiran dan perasaannya kacau. Hingga ingin masuk ke dalam ruang siding pun Teo masih belum bisa berkonsentrasi dengan baik, aku cuma berpesan “Te, doa aja sebelum masuk sidang.”
Hingga pengumuman kelulusan itu kami terima, kami berdua larut dalam haru begitu juga dengan teman-teman lainnya. Mama dan papa merasakan yang aku rasakan, bahwa kami bangga dengannya. Di saat kondisi seperti itu, Teo bisa melewati sidang seperti mama melewati dan berjuang dengan penyakitnya.
Mungkin hari itu, aku masih bisa tertawa. Aku ingin seolah-olah semuanya baik-baik saja. Aku tahu mama ingin kami semua kuat, sehingga aku harus membuktikannya. Tapi aku tahu aku tidak baik-baik saja. Mama ibarat tangan kananku. Apa yang terjadi jika tangan kanan hilang? Bahwa aku harus melakukan segala sesuatu yang biasanya menggunakan tangan kanan tapi kemudian aku harus menggunakan tangan kiri. Pasti kaget dan tidak sebaik menggunakan tangan kanan. Aku pasti akan sangat kesulitan beradaptasi menjadi kidal. Mungkin awalnya aku akan capek karena aku tidak bisa terbiasa dengan tangan kiri. Tapi apa dengan kidal aku menyerah? Aku harus menjalani hidup dengan tangan kiri, mau tidak mau. Aku harus tetap menulis dan tetap melakukan segala sesuatunya dengan tangan kiri dan satu-satunya tangan yang tersisa.
Aku mungkin tidak sebaik mama tapi aku harus tetap melanjutkan semangatnya. Aku mencintaimu, sahabat terbaik sepanjang masa. Selamat jalan ma, Tuhan akan bangga punya malaikat sepertimu.
Musim yang Berjarak
Semusim tlah kulalui, tlah ku lewati tanpa dirimu. Tetapi bayang wajahmu masih tersimpan dihati.
Tiba-tiba saja aku menerima lagu yang dipopulerkan oleh Marcell Siahaan itu di email. Cepat aku tulis pesan whatsapp saat selesai mendengarkannya. Aku hanya bertanya : ada apa ?
Dia -yang mengirim lagu itu- menjawab,
Disini musim dingin sudah selesai. Matahari kembali hangat, tidak lagi dikalahkan dingin. Salju sudah mencair dan bunga-bunga mulai kembali mekar. Satu musim lagi berlalu, sayang. Dan kita masih dipisahkan oleh jarak nyata antar benua. Entah apa lagi yang akan dilakukan jarak untuk membunuhku. Aku mulai lelah harus menjalani hari yang berbeda denganmu. Perbedaan waktu berhasil membuatku muak. Aku rindu. Rindu saat kita dipagi yang sama saling bertatap muka di bawah matahari yang menghangat. Rindu makan siang dengan masakanmu yang selalu terasa enak di lidahku. Rindu melihatmu cemberut sebal karena macet khas ibukota, padahal perutmu sudah berteriak lapar minta makan malam. Sayang, aku ingin meleburkan jarak ini hingga tidak ada lagi musim berganti tanpa kamu disisi.
Membaca balasannya membuatku setengah mati menahan air mata. Satu yang aku tau sekarang. Entah berapa kali musim berganti, rasa dihati kita tidak akan pernah terganti. Terima kasih sudah ada disini walaupun ragamu tidak ada di sini.
__________________________
MUSIM-nya gowithepict
Bandar Lampung, 4 April 2015 17:55
image from tumblr
This is yours lagilaginia
http://lagilaginia.tumblr.com/post/115471155131/musim-yang-berjarak
Mau Ke Mana Kita?
“Mau ke mana kita?”
Aku selalu ingat bagaimana wajahmu ketika mengucapkan hal itu. Bagaimana kedua alismu meninggi seperti matahari menyinari pagi tanda kau tak mengerti. Telingaku sudah terlalu fasih dengan nada tanya yang terucap dari bibir tempatku ingin beristirahat di setiap malam. Sembari sibuk dengan sabuk pengaman, kau terus menghardikku dengan pertanyaan yang sama.
“Mau ke mana kita?”
Walau kau melihat aku diam sambil tersenyum menatapmu, sebenarnya di dalam hati aku terpingkal-pingkal. Mobil kita melaju seperti biasa, melewati beberapa waktu pagi ketika embun masih kalah segar ketimbang melihat wajahmu tertidur pulas di kursi depan. Melewati beberapa siang ketika panas matahari enggan menyiksa hati yang bahagia karena kau terus bercerita. Melewati beberapa senja jingga yang merasa malu ketika mendengar kau memuji keindahannya. Dan melewati beberapa malam ketika bintang harus rela tak berpijar lebih terang karena kau masih terjaga. Siapapun tahu, cahayamu lebih terang ketimbang bintang di galaxy manapun.
Perjalanan malam bersamamu, menjadi perjalanan paling indah dalam setiap malam yang kulalui dalam hidupku. Berkendara dengan ceria, tanganmu setia mendekap tanganku agar tak pergi ke mana-mana. Saat itu, sampai tujuan rasa-rasanya seperti sekarat karena kekurangan udara.
Aku tak ingin pulang. Aku tak ingin sendirian. Bolehkah kita lebih lama di luar?
Suatu sore, jalanan kota Bandung tak kalah ramai dengan kepalaku yang selalu dijejali oleh kau. Dengan pelan-pelan, kita melaju di antara mobil yang pelan-pelan berhenti, lalu jalan lagi. Aku ingat, saat itu sudah memasuki penghujung bulan Oktober dan kita sedang terjebak macet pada senja yang mulai menitikkan air hujan.
Para pengendara motor berteduh agar tidak kebasahan, para pedagang mulai menaikkan tendanya agar tidak terkena air hujan. Di dalam mobil, hujan mengajarkan kita bahwa seorang manusia pada hakikatnya membutuhkan air, tapi sering takut untuk basah, sama seperti cinta, manusia membutuhkannya, tapi ntah kenapa mereka takut untuk terluka.
Sembari menggenggam tanganmu, aku bertanya,
“Musim apa yang paling kau suka?”
Kau terbangun dari lamunan kecilmu menghadap jendela depan, tanganmu semakin erat menggenggam tanganku, kau melihat ke arahku dengan tatapan yang mampu membunuhku hanya dengan sekejap kedipan.
“Musim hujan.” Jawabmu manja.
“Kenapa?” Aku kembali bertanya.
“Aku suka musim hujan, bersama kamu, di dalam mobil ini. Mendengarkan musik, melawan hujan, tanpa harus takut basah. Seperti yang kamu katakan kepadaku dulu perihal hujan yang serupa dengan cinta. Kita yang melaju di dalam mobil, adalah kita yang bertahan pada hubungan ini. Walau hujan, kita tidak takut basah. Walau banyak yang tak setuju, tapi kamu selalu meyakinkan aku bahwa kita ini satu.”
Entah ada angin apa hingga kau kesurupan lalu mulai mengiggau sebuah kalimat yang indahnya luar biasa jika di dengar oleh telingaku. Tahukah kau, diperhatikanmu, aku merasa hidup. Dicintaimu, aku merasa bahagia. Didampingimu, aku merasa ada.
Kita bersenda gurau di dalam mobil berdua, sembari diiringi musik-musik Jazz Michael Franks kita kembali saling jatuh cinta. Tangan kita saling menggenggam erat, kepalamu ada di pundakku, namun namamu selalu ada di setiap sujudku.
Bolehkah aku mengemudikan mobil ini lebih lambat? Aku tidak peduli ke mana kita akan pergi, selama itu bersamamu kita bisa mengambil jalan memutar yang lebih panjang. Atau bahkan aku ingin tersesat sekalian, kehilangan arah, seperti yang kurasakan ketika kau pernah memutuskan untuk pergi, kita pergi ke tempat yang tidak kita ketahui.
Aku tak ingin pulang. Aku tak ingin sendirian. Bolehkah kita lebih lama di luar?
Sudah lebih dari 4 tahun semenjak hari itu berlalu. Apa yang kita senangi, adalah apa yang merenggutmu dariku. Setiap malam aku dihantui perasaan-perasaan bahwa ini semua adalah salahku, setiap malam kepalaku penuh dengan penyesalan-penyesalan bahwa kepergianmu itu disebabkan olehku.
Air hujan bercampur dengan air mata kala aku menemukan kau terpejam di kursi depan. Ada yang mentes di pipimu, bukan air hujan, bukan air mata, sebuah cairan merah kental yang turun dari kepala. Tanganmu terlepas dari genggaman tanganku, namamu kusebut dengan lantang namun kau tetap terpejam. Kepalamu bersandar di dashboard depan dan bukan di pundakku.
Malam itu, musim hujan merenggutmu dari diriku. Selama-lamanya. Malam itu, suasana yang kau cintai merenggutmu dari diriku selama-lamanya. Detik itu, keadaan yang membuatmu nyaman bersamaku merenggutmu dariku selama-lamanya.
Sekarang sudah kembali memasuki penghujung bulan Oktober, tepat setelah 4 tahun berselang. Aku tak banyak bicara semenjak kepergianmu dulu, aku sering berkendara sendirian berharap suatu saat aku menemukan kau dipinggir jalan sambil tersenyum dan menunggu aku.
Musim hujan datang lagi. Airnya dengan lembut mengetuk-ngetuk kaca jendela depan mobilku. Mobilku berjalan pelan seakan rodanya tak ingin kembali pulang. Suasananya sama seperti apa yang kita lalui 4 tahun lalu, hanya saja bedanya, sekarang tak ada kau lagi.
“Mau ke mana kita?”
Aku menengok ke arah kursi kosong di sebelahku, bertanya, dan berusaha tersenyum seperti apa yang sering kau lakukan kepadaku dulu. Dengan nada yang sama, dengan senyum yang sama, dan dengan tatapan yang sama seperti kebiasaan kecilmu ketika baru saja membuka pintu dan sibuk mengkaitkan sabuk pengaman. Sebelum pada akhirnya senyumku luruh hilang terhapus oleh air mata yang diturunkan lebih deras ketimbang musim penghujan di negeri manapun.
Sudah lebih dari 12 musim berganti. Dan kau tak ada di sampingku ketika musim berubah. Sudah lebih dari 12 musim berganti. Dan kau tak pernah menjawab lagi setiap aku bertanya, “Mau ke mana kita?”
.
.
.
MUSIM-nya gowithepict Bandung , 3 April 2015 20.00
Walaupun kini terpisah, kuharap masih ada kesempatan untuk bertemu lagi.
This is yours mbeeer
http://mbeeer.tumblr.com/post/115474779012/mau-ke-mana-kita