“Berapa kali Mama menangis dan Papa kecewa”
Sore itu entah bagaimana mulanya, aku tiba di rumah lebih awal, Mama memesankan ojek untuk mengantarku pulang dari tempat lesku yang cukup jauh dari rumah, di sepanjang jalan, langit sore hari itu cerah, mengingat beberapa hari ke belakang hujan lebat sering mengguyur jalanan, tapi tidak lagi setelah sampai rumah.
Aku turun tepat didepan gerbang rumahku, ketika hendak membuka gerbang aku sedikit mendengar obrolan yang cukup memekingkan telinga, tentu saja itu Mama dan Papaku, entah apalagi kali ini. Aku enggan masuk sampai percakapan sengit mereka mereda, aku sengaja membunyikan bel,…~triiiinnngggg
Suara nyaring bel rumahku cukup melerai percakapan mereka, Papaku membuka gerbang, kulihat dia sangat lelah tapi mencoba menyapaku, “heyyy, how’s your day, tumben kamu sudah pulang”, Papaku membawakan tasku yang beratnya mungkin 3 kilo, aku hanya diam saja sampai di depan pintu masuk, aku melepas sepatu dan bergegas masuk rumah, aku melihat Mama sedang minum air, namun pipinya yang basah tak pernah bisa membohongiku.
“Mama, hari ini aku mendadak ada ujian Matematika di kelas”, “oiya, bagaimana hasilnya?” mama berusaha meresponku dengan baik dikala hatinya berkecamuk, “hasilnyaa?, hhhmmm biasa saja, tidak sempurna tapi cukup memuaskan karena tidak Remidi”, “syukurlah, mama tau kamu bisa”, aku bergegas ke kamarku setelah itu aku mandi dan bersiap makan malam, aku selalu penasaran karya apa yang dibuat mamaku di meja makan malam ini.
Suasana dirumah senyap, yang terdengar hanya suara Mama mencuci piring, aku segera duduk di meja makan seperti biasa, menunggu yang lain turut ikut serta, rupanya kesenyapan mulai merambah diatas meja makan kami, hidangan yang tadinya hangat, kini mendadak dingin, begitu pula obrolannya, dari mataku yang terlihat hanya sendok dan garpu yang bertengkar, tapi di dalam kegaduhan itu Mama dan Papaku saling melempar kesunyian, adegan ironi di hari itu membuatku bertanya, kira-kira berapa kali Mama menangis dan Papa kecewa, lalu ditengah suapan terakhirku, sebuah pertanyaan kembali muncul,
kira-kira berapa kali mereka saling memaafkan kembali?
Malam itu kesunyian berhasil merenggut kehangatan rumah kami, dan keesokan harinya, saat Papa mengantarku ke sekolah, kesunyian masih menetap bahkan terasa di sela-sela AC mobil, biasanya dia memutar musik ditengah perjalanan kami, aku ingat lagu yang sering dinyanyikan Papa dan Mama “Can’t Smile Without You-Barry Manilow”, aku ingat bagaimana mereka bercanda ditengah kemacetan kota dan menghiraukan bisingnya klakson, saat itu dunia rasanya hanya ada kami, hanya ada bahagia yang hadir karena satu sama lain. Aku memutuskan untuk memutar musik, memecah keheningan yang canggung selepas pertengakaran mereka dirumah, mungkin sesuai dengan judulnya, hari itu aku benar-benar melihat mereka tidak bisa tersenyum, tapi entah bagaimana aku menjelaskannya, aku selalu yakin bahwa mereka akan segera membaik, Mamaku adalah orang paling berisik sekaligus pemaaf, Papaku juga demikian, yang kutahu dia adalah orang paling sabar dan pendiam dirumah ini, entah bagaimana dua orang angkuh itu memutuskan untuk saling mencintai, mungkin masih banyak hal yang tidak kuketahui di rumah tangga mereka, tapi aku tau bahwa mereka mencintai satu sama lain, aku hanya mau meyakininya, setelah beberapa menit lagu terlantun, Papa tersenyum dan mengucapkan “Terima kasih ya selalu menyelamatkan kami”,..
Aku berharap sepulang sekolah, semua badai itu mereda, seperti langit sore kala itu yang cukup membuat siapapun lega melihatnya.
Setelah hari itu berlalu, selepas papa pulang kerja, dia membawakan nasi goreng kesukaan mama, aku hanya melihat dari kejauhan, mereka makan sepiring berdua diatas meja makan. Aku hanya yakin bahwa Tuhan enggan memisahkan mereka sekali lagi.
Aku juga akan menyelamatkan mereka, hari ini, besok, dan ketika mereka lupa bahwa satu sama lain berharga.