Pesan pendek Nadya masuk ke gawai Ferdy tepat pukul 16:48. Satu bar chat yang cukup jelas, membagikan lokasi sebuah hotel di pinggiran kota, tempat mereka pernah bertemu di beberapa kali kesempatan. Disusul chat lanjutan berisi kalimat, "Sepulang kerja usahakan ke sini, ya. Aku lagi butuh kamu banget", diakhiri emotikon sedih. Ferdy yang sedang berkemas untuk pulang kantor sore itu, sejenak menghentikan aktivitasnya. Membaca dan mengamati pesan itu dengan saksama, sebelum tiga menit setelahnya Ferdy membalas, "Ada masalah sama Ronald?". Selang beberapa detik Nadia membalas, "Biasalah, tantrum sejak kemarin. Nanti aja aku ceritain pas kamu udah di sini".
Memasuki 7 tahun pernikahannya dengan Ronald, 2 tahun belakangan Nadya merasa pernikahannya selalu berjalan di atas kewaspadaan. Banyak sekali perubahan Ronald yang sangat terasa. Mulai mudah marah, kasar dalam pemilihan kata, sering mengumpat dengan bahasa dan kalimat yang tidak seharusnya, tidak pernah lepas dari gawai, bahkan merekayasa jam pulang kerja. Lebih parahnya, beberapa percakapan sering berakhir dengan gebrakan meja atau pintu yang ditutup dengan kerasnya. Nadya tidak pernah benar-benar tahu kapan semuanya mulai retak. Kenyataan yang ia tahu, Ronald tidak pernah bisa diajak diskusi agar retakan itu bisa diperbaiki.
Sejak menjadi tim kerja di kantor lama 9 tahun lalu, Ferdy adalah satu-satunya orang yang bisa dijadikan tempat sampah dan sandaran ketika Nadya merasakan berbagai bentuk kekacauan dalam hidup. Ia menjadi tempat Nadya menyimpan cerita-cerita yang tak bisa dibawa pulang. Kegagalan, ambisi, luka lama, hingga privasi yang tak mungkin bisa dibagi. Kisah cinta, bisnis, patah hati, kecewa, bahkan untuk sekadar memilih jenis mobil atau motor apa yang akan dibeli oleh Nadya. Terlalu kotor untuk disebut hubungan yang sah, terlalu intim untuk disebut sebuah persahabatan.
Pada dasarnya, mereka berdua saling mencintai, namun pada akhirnya harus bersedia saling meletakkan perasaan masing-masing karena satu hal besar yang tidak mungkin bisa mereka terjang jika hanya mengandalkan akal sehat dan perasaan. Ferdy dengan besar hati merelakan Nadya menikah dengan Ronald, sedangkan Nadya selalu saja memberi sinyal melalui perlakuannya bahwa hatinya sampai saat ini masih tetap milik Ferdy. Keberadaan Ferdy bukan sebagai kekasih, tapi sebagai satu-satunya orang yang setiap bisa dipeluk agar Nadya bisa kembali merasa utuh.
Nadya dan Ferdy tahu semua ini salah. Nadya dan Ferdy tidak pernah berusaha membela diri.
Namun jauh di dasar hati Nadya, ia merasa keberadaan Ferdy merupakan salah satu alasan terbesar kenapa ia bisa mempertahankan pernikahannya bersama Ronald.
Setiap kali ada pertengkaran dengan Ronald, Nadya cukup menyelesaikannya dengan bertemu Ferdy. Menceritakan banyak hal tentang permasalahannya, dan entah kenapa, di mata Nadya, Ferdy selalu mampu menjadi penasihat ulung yang paham betul harus ambil jalan keluar seperti apa, sehingga Nadya bisa pulang dengan kepala lebih dingin dan hati yang sudah jauh lebih tenang. Setiap pertengkaran dengan Ronald selalu ada jalan pulang yang ditemukan Nadya dari suara, nada bicara, dan tatapan mata Ferdy.
Ferdy paham betul posisinya, dirinya hanyalah pelampiasan.Ia bukan bukan obat yang menyembuhkan, hanya pereda ketika sakitnya tidak bisa lagi ditahan. Bukan tujuan, hanya tempat peristirahatan. Namun di sisi lain, karena didukung cintanya kepada Nadya yang sangat dalam, Ferdy tidak pernah rela melihat pernikahan Nadya hancur. Ferdy akan tetap berdiri di luar, menjaga agar bangunan itu tetap terlihat elok dan tidak roboh. Meskipun artinya ia sendiri tidak akan pernah diizinkan masuk ke dalam bangunan tersebut.
Cinta Nadya ke Ferdy senyap dan membatu, kuat dan menetap. Pernikahan Nadya dan Ronald sakral namun pilu; diakui, tapi sering dijalani dengan perasaan kosong dan hati yang hampa. Keduanya adalah perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat dan logika mana pun. Dua situasi itu hidup berdampingan namun tidak pernah sejalan. Di situlah Nadya akhirnya memahami satu hal, dengan pahit yang tak bisa ia jelaskan pada siapa pun, mencintai dan menikah tetaplah dua hal yang sangat jelas berbeda dan sering kali tidak berjalan beriringan.