Gadis kecil ini menggenggam erat tangan kananku dengan kedua tangannya. Ia membimbingku berjalan-jalan mengelilingi taman kota ini. Hari ini Sabtu, tak heran suasananya lebih ramai dibandingkan hari-hari lainnya. Taman kota memang menjadi tempat rekreasi pilihan bagi masyarakat kota di akhir pekan untuk istirahat sejenak dari rutinitas. Namun bagiku, taman memiliki makna yang lebih dari sekadar tempat liburan di akhir pekan.
Gadis kecil ini berjalan bersamaku dengan begitu tenang dan pelan. Padahal aku masih ingat betapa aktifnya ia beberapa tahun yang lalu bila kuajak ke taman. Ia senang berlarian kesana kemari, berbalik arah secara tiba-tiba saat sedang berjalan, dan sesekali terjatuh karena kurang memperhatikan jalan ketika tengah berlari. Ah, aku rindu melihatnya kembali seperti itu. Aku rindu meneriakinya dari jauh, “Alika, jangan lari-lari! Pelan-pelan saja!”. Setiap kali ia mendengarkan teriakanku, ia selalu menjawab, “Iya, Ayah!”. Jawaban itu sebenarnya hanya formalitas saja, karena justru ia semakin mempercepat larinya setelah itu. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.
Kembang gula adalah jajanan favoritnya kala dulu. Jika melihat penjual kembang gula, ia akan merengek-rengek kepadaku untuk minta dibelikan. Kalau aku tidak membelikannya, rengekannya akan semakin keras, bahkan sampai menangis sekeras-kerasnya. Jadilah aku selalu tidak bisa menolak permintaannya yang satu ini. Ia sering batuk atau sakit gigi karena terlalu banyak makan kembang gula. Kupikir itu akan menghilangkan kebiasaannya, tapi ternyata hal itu tidak sekali pun membuatnya jera. Hanya waktulah yang sedikit demi sedikit mengubahnya. Saat ini, ia masih menyukai kembang gula, meskipun tingkat kecanduannya tidak lagi seperti dulu.
Napasku mulai tersengal-sengal setelah beberapa saat berjalan. Aku juga jadi lebih sering mencuri-curi kesempatan untuk berhenti sejenak. Alika memperhatikan tingkahku dan tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengajakku duduk pada sebuah bangku kayu yang kebetulan berada di dekat kami.
“Ayah udah jarang lari pagi, ya?” tanyanya.
“Masih rutin kok. Walaupun lebih banyak jalannya. Walaupun lebih banyak lagi diam dan ngobrolnya,” jawabku sambil tertawa kecil.
“Pantas baru jalan segini udah capek,” komentarnya.
“Kamu jarang ngajak Ayah lari, sih,” balasku.
Dia tersenyum kecut. Ekspresi yang paling kusenangi darinya sejak dulu kalau sedang kuledek—aku sering melakukannya.
“Nah, makanya aku ajak Ayah jalan-jalan sekarang. Mumpung aku lagi di rumah,” katanya.
Aku tersenyum mendengarkannya. Alika memang sangat sering kuajak jalan-jalan ketika ia masih kecil. Mulai dari taman kota, museum, pasar, toko buku, pantai, rumah penduduk desa, sungai, hingga ke puncak bukit. Sejak istriku meninggal ketika ia baru berusia empat tahun, ia sering terlihat murung dan kesepian. Karena itulah, aku berusaha memberikan banyak waktuku bersamanya. Syukurlah, ia sangat menikmati itu. Ia begitu penasaran ketika kuajak ke tempat-tempat baru. Tak henti-hentinya ia bertanya apapun kepadaku, termasuk pertanyaan-pertanyaan yang ia tanyakan entah berapa kali. Ah, selain rupanya, sifatnya juga memang sangat mirip dengan ibunya.
Seorang pria tampan menghampiri kami bersama seorang gadis kecil yang sedang ia gendong. Gadis kecil itu awalnya tengah menyaksikan beberapa orang bocah perempuan sedang bermain lompat tali. Namun begitu matanya—yang cukup besar untuk ukuran kepalanya—memperhatikan aku dan Alika yang masih duduk, ia segera mengalihkan fokusnya kepada kami. Ia pun meminta diturunkan dari gendongan lelaki itu dan segera berlari menuju kami.
“Bundaaa!” serunya saat mendekati Alika.
“Eh, Fani udah balik. Gimana jalan-jalannya sama Ayah?” tanya Alika.
“Asyik banget, Bun! Tapi Ayah tadi pelit, gak mau beliin kembang gula!” jawab Fani dengan ekspresi sebal yang begitu lugu. Ia benar-benar mirip seperti Alika dua puluh lima tahun yang lalu.
“Duh, dasar Ayah pelit. Nanti Opa yang beliin, deh!” ujar Alika sambil menoleh kepadaku.
“Beneran, Opa?” tanya Fani dengan mata besarnya yang membelalak sehingga terlihat semakin besar.
“Iya, nanti Opa beliin. Tapi pakai uang Ayah Fani, ya,” jawabku sambil tertawa.
Pria tampan itu tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kelakuan anak, istri, dan mertuanya. Enam tahun yang lalu, ia mengucapkan ikrar sakral di hadapanku untuk melanjutkan tugasku menjaga dan membimbing Alika. Ikrar yang dari hati kecilku tidak pernah ingin kudengarkan, karena itu berarti bakti Alika akan berpindah kepada pria itu. Tapi di sisi lain, ikrar itu juga yang paling kutunggu-tunggu, karena itu menandakan aku telah sukses mengantarkan Alika dalam menyempurnakan separuh agamanya. Semuanya kini aku syukuri, karena Alika hidup bahagia bersama suami dan putri kecilnya.
Di mataku, Alika tetaplah gadis kecilku yang lucu, sekalipun ia telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang tangguh. Walaupun ia dan keluarganya tinggal jauh dariku, tetapi hampir setiap hari ia meneleponku, sehingga aku tidak terlalu kesepian di hari tua ini. Jika ia pulang ke rumah, aku akan menghabiskan banyak waktu bersamanya, seperti yang selalu kulakukan sedari dulu. Pernah ia menawariku untuk tinggal bersamanya di pulau seberang. Tapi kutolak secara halus dengan alasan aku masih ingin menikmati kehidupan di kota ini, tempat aku menyimpan kenangan membesarkannya.