Mencari makna kemanusiaan
while we’re living, the dreams we have as children fade away
while we’re living, the dreams we have as children fade away
they’re gonna fade away, away, away
oasis - fade away (warchild version)
mari memulainya dengan bertanya pada diri sendiri, ketika kecil apa kalian ingin menjadi apa?
saat kecil, entah apa yang membuat saya ingin menjadi seorang professor. saya begitu tidak hirau dengan definisi fisik professor kebanyakan orang yang berpakaian serba putih, berkacamata dan membawa peralatan untuk penelitian, saya simpel berfikir bahwa setiap orang yang membawa kaca pembesar (LUV) adalah professor, pokoknya yang pake kacamata terus bawa luv dia pasti professor.
sangat konyol dan kadang saya geli sendiri
saya belum berhenti disitu. dijaman saya kecil, saya sangat antusias dengan buku RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap). sebuah buku yang cukup tebal dan tidak sangat keren untuk ditenteng ke sekolah, yang berisi soal dan intisari pelajaran SD, dibagi berdasarkan caturwulan (sistem pembagian smester per empat bulan zaman Orde Baru-Reformasi), lucunya buku ini saya bawa kemanapun saya pergi, hanya untuk kemudian membaca dan melihat gambar-gambar dari halaman pertama hingga lembar terakhir sebelum sampul.
percayalah masa kecil saya seaneh itu.
tapi setelah hampir seperempat abad hidup, ngga ada tuh bau-baunya saya pengin jadi professor. dan ternyata gambaran professor zaman kecil pun berubah drastis, dulu saya begitu yakin bahwa setiap orang berpakaian putih dan membawa luv berarti professor. dikemudian hari saya menertawakan diri sendiri karena kenyataannya professor tidak bergestur seperti itu, tidak dengan kaca pembesar dan berbaju putih. setelah lulus kuliah, saya praktis memilih jalan menjadi pekerja desain grafis, dan perlahan menjauh dari lingkungan dan ekosistem kehidupan akademis tinggi. meskipun ayah saya adalah seorang dosen, toh saya tetap kekeuh memilih untuk tidak bersinggungan dengan kehidupan kampus dalam arti menjadi tenaga pengajar dan berkutat dengan riset yang penuh sarat ilmu pengetahuan, setidaknya belum.
so much true for the children’s dream fading away, life did happened
saya lantas seringkali bertanya apakah sebenarnya saya masih memiliki angan seluas mimpi saya sewaktu kecil, masih adakah waktu bagi saya untuk menjadi apa yang saya inginkan dari diri sendiri, apa sebenarnya mimpi dan apa sebenarnya yang dicita-citakan saat ini?
karena kadang-kadang hidup datang mendahului mimpi, realitas. dan itu mengubah manusia sebagaimana bunglon merubah warna kulitnya dimana dia berada, sederhananya ; beradaptasi. kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungannya menciptakan proses pendewasaan diri sehingga ada hal-hal yang dikorbankan untuk tetap melanjutkan hidup
saya dengan sangat sadar sudah merelakan mimpi kecil saya menjadi seorang yang mengenakan jas lab putih panjang, memakai kacamata nerdy, menenteng beberapa dokumen penuh riset dan menuju laboratorium. saya menukar mimpi untuk melanjutkan hidup, menemukan manusia.
12 tahun hidup saya dihabiskan untuk bersekolah di Jawa, mulai dari SMP hingga bangku kuliah. praktis saya menemukan kultur baru dan ekosistem manusia yang baru berbeda dari kampung halaman saya.
awalnya saya mempelajari hal-hal sederhana yang ditawarkan dari menjadi manusia, dalam pertemanan, pergaulan, kuliner, event budaya dan hal-hal lainnya. dengan pengalaman dan hidup seperti itu, saya mulai membangun cita-cita akan hidup untuk menemukan manusia dimana dapat bertukar pikiran, berdiskusi rasa, berbagi keresahan, menciptakan resolusi, apapun itu demi kelanjutan masa depan. awalnya, saya memproyeksikan cita-cita ini dengan berkeinginan menetap di Jawa, tapi menyadari bahwa resikonya cukup besar, saya praktis membatalkannya, karena seiring kedewasaan bertambah tampaknya kebutuhan hidup tersebut bergeser kepada hal lain
seiring waktu dan hidup terjadi, tampaknya akan selalu ada hal-hal berasaskan cita-cita yang terus diambil dari manusia oleh Tuhan
ada keyakinan yang selalu mempercayai bahwa manusia memiliki hati dan jiwa, memiliki akal dan naluri, memiliki persepsi dan determinasi, hanya kemudian muncul satu hal dari manusia yang sampai saat ini saya belum memahami ; kemanusiaan. saya tidak tahu pasti apa itu kemanusiaan, yang jelas, humanitas adalah cita-cita manusia mewujudkan haknya sebagai manusia.
dan sebagaimana cita-cita terkadang tidak sejalan dengan hidup, atau lebih tepatnya, diambil dari hidup.
Juli 1998, 16 tahun yang lalu seorang sastrawan dan aktivis asal Solo menghilang dan keberadaannya tidak diketahui hingga detik ini.
September 2007, sepuluh tahun yang lalu aktivis HAM diracun diudara dan meninggal, menyisakan tanda tanya besar terhadap alam justitia di tanah air
dua kasus, berbeda zaman, satu hasil yang sama : mati, padahal mereka hanya punya kebenaran yang sederhana.
saya boleh membawa pulang, kembali kepada masa dimana negeri ini pernah takut dengan kata-kata. pernah ada tiga dekade dalam hidup manusia di Indonesia dimana mulut dan kata dibungkam, pernah ada masa dimana cita-cita seluruh rakyat di tanah air, adalah kebebasan mengungkapkan kata-kata, menyuarakan suara dari mulut yang 32 tahun lamanya dilarang bicara, apalagi berteriak.
dan tanah air cukup butuh satu orang untuk menggetarkan tirani yang berdiri sepanjang tiga dekade, lewat kata-katanya.
muncul banyak manusia Indonesia yang mencoba mewujudkan cita-cita ini, dan banyak pula ‘hidup’ yang merenggut mimpi-mimpi mereka. gugur tanpa jasad, hilang tanpa rupa, lenyap tak bersisa. mereka diburu, mati, ditembak, dihilangkan, dienyahkan, karena memang hidup pada masa itu tidak menghendaki cita-cita mereka abadi. tapi selayaknya sunatullah perlawanan dan kita sangat familiar dengan peribahasanya, bahwa mati satu tumbuh seribu. satu orang dari mereka yang maju mewujudkan cita-cita mati ditelan hidup, tumbuh seribu sumbu dengan nyala api yang siap membakar kejamnya hidup, mewujudkan mimpi. takkan pernah padam
hingga cita-cita itu terwujud ketika saya baru lima tahun menjalani hidup di dunia. panggung dunia pun tertuju kepada tanah air yang menyambut era baru setelah orde baru.
mereka mati dan hilang demi menyemen keabadian cita-cita manusia Indonesia, mengentaskan kata-kata, saya takjub karena meskipun mereka ditelan hidup yang tidak sempat mewujudkan kata-kata itu, suara mereka justru tetap hidup dalam nyala api perlawanan. selalu ada peringatan kamis sore di istana presiden, berpakaian serba hitam dan membawa payung hitam, sebuah gestur akan simbol perjuangan menolak lupa, selalu ada kampanye kampanye yang meminta keadilan atas nyawa-nyawa mereka yang hilang. selalu ada rekonsiliasi sastrawan dan penggiat sosial, dibawah payung solidaritas, memperjuangkan hak-hak manusia lainnya yang tertindas, tergerus hidup yang tak ramah, diambil yang merasa lebih kuat, orang-orang baru inilah wujud abadi kata-kata mereka yang tidak sempat merasakannya di dunia, karena suaraku lebih keras daripada dari atas bumi!
dan epilog perjuangan mereka telah selesai, lalu bagaimanakah dengan perjuangan kita?
salah satu yang menguntungkan dari zaman bebas berkata-kata ini adalah kita tidak lagi memiliki keterbatasan informasi, aspirasi, dan inspirasi. era modern sangat borderless, tanpa batas. kita bisa mengetahui apapun yang terjadi di belahan dunia lainnya diluar Indonesia.
disinilah sebenarnya perlawanan kita mulai. variabel cita-cita manusia lainnya yang mendekati cita-cita kemanusiaan adalah agama. semua orang bebas memilih beragama atau tidak memeluk agama, saya sangat paham itu. banyak sekali agama yang diyakini, dianut dimuka bumi ini. entah itu memiliki sistem ketuhanan yang pasti ataupun diciptakan berdasarkan pada pemikiran-pemikiran. tapi, sebagaimana sebuah cita-cita yang bebas, saya merasa ada satu garis cita-cita diantara mereka yang beragama ataupun tidak beragama yang saling berhubungan.
mencita-citakan perdamaian adalah mimpi semua manusia beragama. saya ingin meyakini bahwa setiap agama pada dasarnya diciptakan untuk memberikan kedamaian kepada manusia, bahwa damai ada diciptakan untuk menenangkan manusia dari kekejaman dunia yang mampu merengut jiwa-jiwa mereka kapanpun dunia mau, bahwa damai menjernihkan kekusutan, kekhawatiran, kecurigaan diantara manusia dan memilih untuk tetap menghormati yang berbeda pendapat, menghormati yang mengambil jalan yang berliku, mencintai dan memelihara yang satu arah
lalu perang datang merusak segalanya
Tuhan selalu menciptakan hitam dan putih untuk manusia dan dunia ini. ada baik dan buruk, ada jernih dan keruh, dan jika ada damai maka sangat pasti ada perang. kedua sisi yang berbeda dan selalu hadir dekat dengan kehidupan kita, dengan atau tanpa kita sadari
dan perang adalah sisi berbeda yang sangat kelam, saya tidak tahu apa yang dipikirkan Tuhan menciptakan perang, tetapi saya melihat nyata dampaknya, nyawa manusia adalah mainannya, darah dan air mata adalah nyanyiannya, desing peluru dan dentuman keras adalah instrumennya, politik dan tirani adalah kuratornya,
dan bagian terjahatnya adalah perang membuat semua agama menjadi bermusuhan. ini sangat buruk, agama yang seharusnya menjadi dogma yang diyakini memberikan kedamaian bagi umat manusia berubah menjadi alasan utama setiap dari mereka mengangkat senjata dan membunuh. meskipun saya percaya bahwa ada agama-agama yang berbicara tentang perang, tapi rasanya itu adalah cara paling terakhir untuk mempertahankan diri jika keyakinan terancam dan agama itu terancam punah
bicara soal cara terakhir, mengingatkan kita kepada suriah.
memang perang atas nama agama takkan pernah berakhir, akan selalu ada intrik, politik, dogma, alasan hal konyol untuk menyatakan perlawanan, tapi mengingat kalau perang ini harus merengut nyawa manusia yang tidak terlibat sama sekali dalam pertikaian agama, hidup selayaknya manusia biasa dan memiliki anak dan istri, saya rasa sudah keterlaluan. hari ini, pagi ini, detik ini bisa jadi saat terakhir bagi anak-anak dan masyarakat disana yang sudah tidak mampu lagi berlari menyelamatkan diri, atau mungkin tertimpa runtuhan bangunan yang hancur oleh bom, atau juga peluru yang melesat menembus tubuh-tubuh kecil mereka. saat saya menulis ini bisa jadi saat terakhir bagi anak kecil suriah merasakan nafas-nafas kehidupan dan cita-cita mereka untuk melanjutkan hidup.
kita sedang diambang kelunturan kepercayaan akan kemanusiaan dan peran agama. sangat sulit menemukan kebenaran diatas ketidakadilan yang menggurita dan bersembunyi dalam gelap, yang benar dan yang salah semakin tersamarkan, who sided who, who betrays who. banyak dari kita yang tidak mengetahui lagi mana yang benar atau salah, sadarilah bahwa kita sedang hidup pada zaman penuh tanda tanya dan abu-abu. diantara manusia dan agama, diantara kemanusiaan dan perdamaian. diantara cita-cita dan hidup yang tidak pernah ramah.
dan jika mengingat bahwa anak-anak itu menangis, teriak untuk lari, parau rintih mereka seakan suara bahwa menyelamatkan hidup dan melanjutkan hidup menjadi cita-cita mereka, rasa-rasanya sangat wajib kita untuk iba dan kasihan.
ketika saya kecil saya belum mengerti bagaimana caranya untuk memulai perlawanan, bagaimana cara untuk memukul balik. saat ini, ketika cara memukul balik sangat berlimpah tekniknya, saya tidak ingin hanya diam. okelah katakan saya pekerja desain grafis, hidup dari menciptakan karya dan seni desain, tapi bukan berarti saya apatis dengan apa yang terjadi di sekitar saya, dan sangat dekat dengan saya. tidak sekali-kali tidak
siapapun kita, selalu ada cara untuk melawan balik, dan sudah saatnya kita memukul balik.
“suaraku lebih keras daripada dari atas bumi!” adalah perkataan Tan Malaka sebelum dirinya dihukum mati
“oasis - fade away (warchild version)” pada versi ini, Johnny Deep (Pirates of Carribean) memainkan slide gitar, Liam Gallagher menjadi backing vocal dan Noel Gallagher gitar dan lead vocal. Warchild adalah organisasi Britannia Raya, berdiri di tahun 1993 yang bergerak untuk menanggulangi anak-anak korban perang seperti di Yugoslavia, Afganistan dan wilayah-wilayah rawan konflik lainnya di dunia. lagu ini dirilis dalam album kemanusiaan, The Help Album bersama artis lainnya (1998).
“negeri ini pernah takut dengan kata-kata” diambil dari Istirahatlah Kata-Kata, rekapitulasi film semi-autobiografi Wiji Thukul yang premiere pada 19 Januari 2017.
“who sided who, who betrays who” pledoi Donquixote Doflamingo dalam perjalanan menuju Impel Down, One Piece, Eichiro Oda.
PS : tulisan ini sekiranya donasi karya untuk acara Happink Project ; Humanity for Aleppo, dan lettering artwork diatas akan disumbangkan sebagai sampul merchandise notebook dalam acara amal tersebut. terimakasih telah membaca keresahan ini semoga kita bukan bagian dari hidup yang dengan kejamnya memilih untuk mendiamkan diri anak-anak suriah yang berjuang hidup mati mempertahankan cita-cita melanjutkan hidup.