Jouska ini financial adviser yang sering kasih ilmu-ilmu keuangan di medsos dengan gaya bahasa yang simple dan mudah dimengerti orang awam kaya saya. Jadi dia sering ceritain kasus-kasus keuangan + bahas ragam solusinya. Sayangnya hari ini, 24 Juli 2020, jouska dan semua akunnya harus ditutup karena terbukti melakukan pelanggaran penyalahgunaan izin pengelolaan keuangan. Bisnis yang harusnya fokus ke finansial advising melebar sampai ke tahap mengelola dana nasabah tanpa izin, dan parahnya lagi menyebabkan kerugian puluhan juta buat nasabahnya.
Kaget. Karena sekelas jouska, yang suka membongkar investasi-investasi bodong, yang suka bahas kasus supaya kita lebih berhati-hati dalam memilih instrumen investasi, yang membedah polis asuransi supaya kita ngga terjebak, yang mewanti-wanti untuk mengelola keuangan dengan baik, yang mretelin masalah-masalah sandwhich generation, ternyata itu semua personal branding untuk menarik kepercayaan calon pelanggan.
Okey, jouska salah. Tapi disini saya ngga mau bahas kesalahannya. Karena akun medsosnya mau tutup, saya jadi sedih karena banyak sekali pembelajaran yang saya dapat dari postingan-postingan yang di share minjou. Mau saya titip disini sebelum akunnya tutup.
Saya kenal Jouska pada akhir tahun 2018 melalui seorang teman. Bermula dari gaji saya yang mulai naik dan keinginan saya buat mengelola keuangan dengan lebih baik dan akhirnya klop banget ketemu jouska.
Setelah kenal jouska, hal pertama yang saya lakukan adalah evaluasi aset & kewajiban, evaluasi cashflow, dan rencana investasi.
Evaluasi Aset & Kewajiban
Aset lancar: tabungan, deposito, piutang lancar, emas
Aset Guna: tempat tinggal, kendaraan
Aset investasi: saham obligasi, hasil sewa properti
Setelah evaluasi aset, ternyata saya punya aset lancar, tapi ngga punya aset lainnya. Untungnya, kewajiban masih bisa dicukupi dengan aset lancar. Tapi belum jadi patokan, karena saya harus cek cashflow bulanan.
Evaluasi Cashflow Bulanan
Cara hitung cashflow bulanan itu gampang, cuma saya memang ngga pernah catat sebelumnya, jadi ngga pernah mikirin. Cashflow terdiri dari:
Income (pemasukan): Gaji, THR, Tunjangan
Expenses (pengeluaran): Primer, kewajiban, sekunder, investasi
Setelah dianalisis cashflow saya, memang posisinya income masih lebih besar dari expenses sih, jadi level keuangan saya financially stable tapiii sisanya tuh mepet banget. Jadi sisa saldo tiap bulan itu terlalu dikit buat jadi dana darurat. Sedangkan minimal kita punya dana darurat sebesar 25% x penghasilan tahunan x 3 buat jaga-jaga (angka 3 itu kovarian risk profile saya).
Nah ternyata setelah dianalisis, kebanyakan expenses saya tuh abis buat hal-hal konsumtif, kaya makan di mall min 2x tiap minggu, ngego-food, belanja baju lucu-lucu online, pengeluaran jalan-jalan sama temen, jajan-jajan yang keliatannya kecil tapi ternyata setelah dicatet itu cukup besar juga loh, dan bisa banget dikurangi. Emang sayanya aja yang hedon. Malah pengeluaran primer dan kewajiban ternyata kalah dibanding buat ber-hedon.
Dari hasil review laporan cashflow dan laporan aset, barulah saya buat financial blueprint. Step-stepnya:
Tentukan tujuan finansialnya apa. Income cukup tapi tabungan segitu-gitu aja udah indikator kalo spending kita beemasalah. Ada yang ngga suka jalan, tapi hobinya mahal. Ada yang ngga doyan beli baju, tapi ngga tahan kulineran. Ada yang ngga suka jajan, tapi skincarenya mahal. Klo saya sendiri, tujuan di tahun 2019 itu supaya punya dana darurat yang ideal, punya instrumen investasi, tapi tetep bisa kulineran dan ada dana jalan-jalan.
Kenali Risk Profile. Indikator risk profile tuh dilihat dari status pernikahan, penghasilan, pola pikir keuangan, pengalaman investasi, jumlah tanggungan, jenis pekerjaan, dan usia. Karena saya di usia puncak dan belum nikah jadi resikonya rendah.
Nah, setelah menetapkan tujuan dan risk profile mulailah saya hitung-hitung, dana darurat saya harusnya berapa, pasang target mau investasi dimana dan berapa, dana jalan-jalan minimal berapa, dan bagian mana dari expenses yang bisa saya cut buat dialokasikan ke tujuan tersebut. Impact-nya ke lifestyle saya, jadi harus kurangin budaya konsumtif dan jangan gampang iyain temen klo ngajak jalan. Jalan sama temen sebulan sekali aja jangan sering-sering. Makan di mall boleh 1 x seminggu tapi go-food big no. Belajar belanja dan masak sendiri. Untuk investasi, saya pilih yang aman dulu, yaitu Obligasi dari Pemerintah. Trus bikin alokasi budget buat sedekah juga di awal, biar ngga keabisan jatah.
Percaya ngga percaya. Di akhir tahun 2019, saya mengalami pertumbuhan asset 4x lipat. Investasi di obligasi dan saham senilai dana darurat ideal, dan sisa tabungan bahkan bisa saya pake buat daftar haji. Udah kaya ngepet pokoknya, ngga percaya klo bisa segitu tabungan saya. Padahal kulineran dan jalan-jalan tetep, cuma frekuensinya dikurangi. Kuncinya ya cuma evaluasi aset, evaluasi cashflow bulanan, sama investasi. Banyak-banyak baca buku, follow akun finansial lain biar jangan membabi-buta ke satu sumber, dan belajar dari kasus-kasus yang dibahas minjou. Sesederhana itu.
Itulah besarnya peran jouska di hidup saya. Dalam setahun, progress finansial saya melesat cepat. Dari yang awalnya ngga pernah ngitung-ngitung masalah keuangan, alergi sama kata-kata pajak, investasi, finansial, dsb. Sekarang malah pengen belajar lebih banyak karena menurut saya ini sektor riil yang langsung menyentuh kehidupan manusia. Beda dengan fisika yang ilmunya dipake buat masa depan, ilmu finansial ini dipake buat bertahan hidup.
Waktu jouska buka seminar, acara talkshow, layanan asuransi, honestly cukup tergiur dan pengen ikut, ditambah udah percaya banget kan sama minjounya. Untungnya saya fokus ke tujuan saya, inget yang penting dana darurat dulu, investasi dulu, asuransi dan ikut acara-acara jouska yang mahal ditahan dulu, karena bukan kesitu prioritasnya. Inget banget, saya banyak menahan diri dari pengeluaran yang ngga perlu. Saya tanya dulu diri saya sebelum mengeluarkan uang, ini mendesak ngga ya? Bermanfaat ngga ya? Bisa dipending dulu ngga ya?
Memang saya ada penyesalan kenapa saya taro uang saya di saham. Mula-mula memang untung, tapi kena lah itu pandemi corona, IHSG berdarah-darah, dan porto saya memerah sampe sekarang. Baru saya sadar, kalo saham itu bukan buat semua orang. Kita harus mau rajin analisis laporan keuangan, peka sama situasi global, dan tergabung dalam komunitas, klo mau survive main saham. Dan saya ngga ngerasa klop dengan dunia saham ini setelah melihat porto saya berdarah. Untungnya (masih ada untungnya), saham saya kelola sendiri, saya pilih dan saya beli berdasarkan analisa saya sendiri, jadi ngga terlalu nyesek lah ya. Saya belinya perusahaan bagus yang masih punya fundamental bagus, bukan saham gorengan, cuma memang gara-gara covid ini aja ancur-ancuran performanya. Sabarin aja. Klopun rugi ya cuma minus ratusan ribu, ngga nyampe minus puluhan juta kaya orang-orang. Tapi ratusan ribu itu duit yang mesti saya pertahankan. Nyarinya susah soalnya. Mending buat sedekah daripada abis di saham. Wkwkwk
Balik lagi, financial literacy itu penting. Walaupun kita belajar dari orang lain, tapi tetep harus punya pendirian, pake itu critical thinking biar ngga gampang dibodohin orang. Ngga ada yang namanya too big to fall, jadi jangan terlalu percy pada orang, even orang tersebut kompeten sekalipun. Believe in yourself. Caranya gimana, ya belajar sendiri, cari-cari info sendiri, jangan males, jangan main iya-iya aja.
Anyway, thank you Jouska for being part of my life.