“… Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.”
(QS. Hud : 88)

oozey mess
todays bird
cherry valley forever
occasionally subtle
NASA
Cosmic Funnies
I'd rather be in outer space 🛸
noise dept.
Mike Driver

gracie abrams
Keni

Jar Jar Binks Fan Club
No title available
EXPECTATIONS

if i look back, i am lost
🩵 avery cochrane 🩵

shark vs the universe
official daine visual archive
YOU ARE THE REASON
ojovivo
seen from United Arab Emirates

seen from Mexico
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Jordan
seen from Malaysia
seen from Mexico
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Singapore
seen from Netherlands
seen from Italy

seen from Malaysia
seen from Argentina
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Vietnam
seen from Brazil

seen from Singapore
@wannabeshalihah
“… Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.”
(QS. Hud : 88)
Allah, ampuni segala prasangka buruk yang pernah terlintas tersebab aku belum mengerti maksud atas setiap rencana indah-Mu.
Update Your Friends
Setelah hampir seperempat abad jadi makhluk bumi, aku sadar bahwa hidup setidaknya mengubah 3 hal besar, yakni nilai hidup (apa yang penting dan kita hargai), prioritas (apa yang mesti kita dahulukan), dan kapasitas emosional-intelektual.
Dengan ketiga hal itu, kutipan "setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya" itu rasanya relevan. Artinya, ada beberapa perpisahan yang disebabkan nilai-nilai hidup yang bergeser ke arah berlawanan, maupun prioritas hidup dan kapasitas emosional-intelektual yang berbeda.
Tapi kamu punya nggak sih orang-orang yang sengaja terus kamu perbarui pengenalannya karena kamu pengen di setiap masa/stage kehidupanmu, mereka tetep jadi "orangnya"?
Orang-orang ini, bakal terus kamu synchronize supaya nilai-nilai hidupnya atau lebih jauhnya framework-nya, nggak berbeda terlalu jauh denganmu secara prinsip. Kamu ingin terus pelajari orang-orang ini karena pengen tau, "kita masih di halaman yang sama nggak sih?" Sudut pandang mereka juga matter buatmu, kamu menghargai itu.
Ada seorang temen yang pernah kubilang padanya, "meski kita tau manusia itu bertumbuh kembang, please jangan berubah terlalu banyak/cepat ya, atau jika iya, izinin aku tau dan perbarui setiap ∆ improvement-mu. Kamu manusia yang seru buat dipelajari. Jadi aku ingin dilibatkan di setiap fase hidupmu, dan aku melakukan itu juga padamu. I will keep you updated."
Kedengarannya kayak posesif hahaha. Tapi jujur maksudnya nggak ke sana. Untuk alasan pribadi, aku suka aja ngeliat bagaimana kuasa Allah bekerja di growth-nya orang-orang. Seru tau, liat orang bertumbuh kembang tuh, apalagi merekanya bersedia kupelajari. Bener sih, kalimat "rabbana maa khalaqta haadzaa baathila" bahwa nggak ada entitas sekecil apapun yang sia-sia, termasuk pertumbuhan seseorang, perubahan kecil dalam pikirannya, caranya melihat hidup, dan caranya berdamai dengan diri sendiri.
Dengan kata lain, alih-alih posesif atau ingin gatekeeping temenku, aku ingin mempelajari tanda-tanda Tuhan di perjalanan hidupnya. Pasti ada banyak hikmah yang ga mungkin bisa aku tangkep kalau aku yang jadi dia. Pasti pengalaman personalnya, cuma dia yang bisa ambil hikmahnya. Terus kenapa aku nggak belajar aja sama dia? Kenapa aku nggak mempelajari dia?
Nggak banyak orang yang mengizinkan aku masuk ke dalam hidupnya. Sebagai orang yang introvert, aku nggak mudah diterima bertamu ke hidup orang. First impression orang-orang terhadapku rata-rata nggak begitu bagus. Makanya, sebuah kehormatan ketika ada orang ngizinin aku mempelajari hidupnya dan mempercayakan sudut pandangku untuk mencerminkan dirinya. Meski aku nggak selalu jadi cermin yang baik, aku bakal berusaha dengan baik sebisaku. Aku nggak bakalan sia-siain kesempatan belajar itu.
Updating friends is how we make sure we don't slowly turn into strangers with memories. We update each other to let our friends meet the new versions of us. Updates help friendships stay relevant, not stuck in who we used to be years ago. Sharing our lives with friends is a quiet way of saying, "I trust you with who I’m becoming."
It's a love language your friends shouldn't guess where you are. They shouldn't wonder what you're doing. It says, "You matter. I want you to know." Cause I like to actually know everything. Once I'm missing information and updates, I assume you don't want me in your life anymore.
Terima kasih untuk teman-teman yang mengizinkanku memperbarui pengenalanku terhadap kalian, yang mengizinkanku tahu kalian sedang "di mana", "sibuk apa", dan "sudah sejauh mana" (dapat ditafsirkan secara konotatif maupun denotatif). Dan terima kasih juga buat teman-teman yang bersedia menerima pembaruanku atau menanyakan kabarku. May we never stop becoming better, and never stop recognizing each other in the process. May we never become strangers while becoming better.
Not "see you on top", but "let’s climb together."
Let’s stay in each other’s lives as we become better versions of ourselves. Let’s grow in ways that bring us closer to God, and closer to who we’re meant to be — together.
— Giza, menghargai rahmat Allah di pertemanannya
Tambahan:
Kebutuhan Memperbarui Pengenalan
Perjalanan Nafs Bagian I : Nafs Ammarah
Jamuan yang Mengungkap Diriku
Dunia selalu punya cerita yang membuat orang merasa lebih baik tentang dirinya sendiri. Biasanya cerita itu datang dalam bentuk jatuhnya orang lain. Orang-orang sibuk menilai dari jarak aman dan merasa lega karena skandal sang influencer itu bukan milik mereka. Sementara cerita itu terus berputar, mereka lupa bahwa dorongan yang sama juga tinggal di dalam dirinya.
"Suaminya sudah tampan, mapan, orang luar negeri pula. Kok masih selingkuh juga? Sama pulu-pulu lagi?"
Tapi kalimat itu bukan barang baru. Dulu, perempuan-perempuan kota juga berkata begitu lincah tentang Zulaikha. (*sebenarnya di Qur'an tidak disebutkan namanya, tapi mari kita namai Zulaikha untuk mempermudah proses membaca).
"Suaminya penguasa dan kaya raya. Kok merayu pelayannya sendiri?"
Banyak orang berhenti di level cerita (gibah) yang dibungkus moral dan dinyatakan sebagai keprihatinan. Mereka mendengar sedikit-banyak di jalan dan pasar, lalu pulang dengan rasa, paling tidak aku bukan dia. Lalu suatu hari undangan makan siang datang. Sedang mereka belum tahu bahwa yang akan disuguhkan adalah cermin untuk melihat diri mereka sendiri.
Aku yakin, setiap dari kita, pernah menjadi "perempuan-perempuan kota" seperti di surat Yusuf (12) : 30. Contoh kecilnya, orang-orang yang tidak pernah pacaran dari kecil pasti pernah merasa lebih baik dari orang yang bermudah-mudahan dengan lawan jenis. Atau rakyat kecil yang tidak pernah korupsi, pasti pernah merasa lebih baik dari segelintir manusia yang duduk di kursi dewan. Dipikir-pikir, mudah sekali menjadi suci ketika yang diuji bukan kita.
Namun lihat betapa "cerdas" Zulaikha. Dia mengetahui bahwa dorongan itu ada di setiap diri, sehingga dia bermaksud menyulap moral publik menjadi ujian pribadi untuk setiap perempuan kota yang datang ke jamuan itu. Yusuf pun didatangkan sebagai pemicu. Alhasil pisau mengiris jari tangan perempuan-perempuan itu. Bahasa anak gen Z sekarang mungkin seperti, "ngomong itu gampang sebelum cermin berbalik ke arahmu, sini tukar posisi."
Mereka tidak pernah membayangkan bahwa di ruangan itu, mereka akan berhenti membicarakan Zulaikha dan mulai berhadapan dengan diri mereka sendiri. Rasa perih di ujung jari mereka mengiris perasaan suci dan memantulkan bayangan akan sebuah dorongan yang tidak ada satupun diri yang terbebas darinya. Nafs ammarah, kelak istilah itu diperkenalkan di Al-Qur'an.
Dari sini, pemikiran Carl Gustav Jung tentang shadow terasa relevan. Kutipannya berbunyi, "manusia akan melakukan apa saja, betapapun absurdnya, untuk menghindari menghadapi jiwa mereka sendiri. Seseorang tidak menjadi tercerahkan dengan membayangkan sosok-sosok cahaya, tetapi dengan menyadari kegelapan."
Saat menulis ini, aku membayangkan bahwa shadow itu suatu wilayah batin dan nafs ammarah adalah mode yang beroperasi di dalamnya. Ciri khasnya adalah bekerja dengan cepat, otomatis, dan unconsciously. Sangat masuk akal Allah menyebutnya sebagai "suatu dorongan" (ammarah = dorongan/menyuruh) karena sejalan dengan kerja sistem limbik.
Kembali ke cerita tadi, Zulaikha, Yusuf, dan perempuan-perempuan kota menggambarkan 3 kelompok manusia dalam menghadapi Nafs Ammarah (dorongan-dorongan tidak disadari di sistem limbiknya):
Seseorang yang diuji dan gagal.
Seseorang yang diuji dan berhasil melewatinya.
Seseorang yang belum diuji, dan karenanya, belum gagal.
Dalam ketiga posisi tersebut, seseorang harus mengakui kerentanannya terhadap kejahatan. Surat Yusuf (12) : 53, berbunyi:
"Dan aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan, karena sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Dalam bahasa neurosains:
"Di dalam diriku ada arus yang lebih cepat dari kesadaranku dan lebih tua dari akalku. Ia bangkit dari kedalaman limbik sebelum pikiranku sempat memberi nama. Aku tidak membebaskan diriku sendiri. Diriku cenderung kepada kejahatan. Aku menyadari bahwa sistem limbik manusia cenderung mendorong perilaku impulsif dan maladaptif, sementara korteks prefrontal belum selalu mampu menahan atau menilai tindakan tersebut. Tetapi rahmat-Nya turun menembus "jalur panjang" yang memberi daya untuk korteks prefrontal terlibat, sehingga arus itu melemah. Tanpanya, aku akan terseret. Dengan rahmat-Nya, aku terselamatkan."
Pak Senai Demirci mengatakan, kata ganti "aku" di ayat itu menjadi cermin bagi "aku" lain, diri-diri lain. Setiap kalimat yang dimulai dengan "aku" membuka pintu untuk mengidentifikasi diri dengan pengalaman orang lain.
Apa yang dilakukan Zulaikha, Yusuf bisa saja melakukannya. Apa yang dilakukan Yusuf, Zulaikha mungkin saja melakukannya. Perempuan-perempuan kota yang menyaksikan kejatuhan Zulaikha—dan hampir jatuhnya Yusuf—pun seharusnya dapat menyadari bahwa mereka pun mampu jatuh.
Meskipun terdapat kerapuhan dari ketiga posisi tersebut, ayat itu juga menawarkan pesan harapan bahwa kesadaran dapat muncul di ketiganya. Yang dengan kesadaran itu, seseorang dapat membebaskan diri dari mode kehidupan yang unconsciously.
Menariknya, kalimat, "aku tidak menyatakan diriku bebas" pun bahkan keluar dari mulut orang yang diuji dan berhasil. Lihatlah betapa rendah hatinya dia. Maka apa haknya mereka yang gagal, bahkan yang belum diuji sama sekali, untuk merasa diri bersih apalagi menghakimi orang lain?
Kalimat pertama dan kedua ayat tersebut, secara terbuka mengakui keberadaan shadow. Pak Senai bilang, yang pertama (Zulaikha) mengetahui kebenaran ini dengan kejelasan yang menyakitkan, karena telah gagal. Mereka telah berhadapan langsung dengan bayangan mereka sendiri. Yang kedua (Yusuf) berjuang selama ujian dan memahami bahwa kemenangan atas kejahatan tidak pernah mudah. Tetapi yang ketiga, (mereka yang belum diuji) berada dalam posisi yang paling genting. Hanya karena mereka belum menghadapi ujian, mereka belum melihat bayangan mereka. Dan karena mereka belum melihatnya, mereka tidak menyadari apa yang mungkin mampu mereka lakukan sebagai manusia.
Sobekan pada baju Yusuf adalah bukti bahwa bahkan laki-laki dan perempuan yang paling berbudi luhur pun memiliki bagian dalam diri mereka yang rentan terhadap "sobekan". Setiap orang rentan terhadap naluri dasar mereka dan tidak terbebas dari keinginan ego/nafs.
Dalam tulisannya yang lain, Pak Senai Demirci mengatakan:
"Setiap orang memiliki "pakaian" yang bisa robek dari belakang, atau bahkan dari depan, atau akhirnya, terlepas sama sekali. Bukanlah hak orang yang pakaiannya utuh untuk menghakimi orang yang pakaiannya robek dari belakang. Bukanlah hak orang yang pakaiannya robek dari belakang untuk menghakimi orang yang pakaiannya robek dari depan. Dan bukanlah hak orang yang pakaiannya robek dari depan untuk menghakimi orang yang tidak mengenakan pakaian sama sekali.
Kita masing-masing berisiko tergelincir, terseret ke bawah lereng yang tak tertahankan itu. Kita tidak dapat mengklaim tidak bersalah di hadapan dosa-dosa yang belum kita uji. Ketika kita melihat orang lain jatuh, kita tidak dapat menggunakan ketidakbersalahan kita yang belum teruji sebagai alasan untuk menghakimi mereka. Jika tidak, kita mungkin akan mendapati diri kita mencoba mendaki lereng kesombongan diri kita sendiri yang tak teratasi."
Kajian-kajian pada umumnya jarang membahas sisi gelap atau ego ini sebagai realitas. Sekali terjadi satu perilaku kejahatan, langsung ditarik ke "idealnya harus bagaimana?" tanpa pemahaman yang komprehensif soal subjek itu. Padahal seluruh kehidupan ini berada pada dua jangkar tersebut yaitu realitas dan idealitas. Pak Senai melanjutkan pemahamannya bahwa ego, yang buta terhadap kecenderungannya sendiri menuju kegelapan, akan mulai melihat keinginan jahatnya sebagai kebaikan dan bertindak sesuai dengan keinginan tersebut.
Maka kita harus memperhatikan kebijaksanaan Said Nursi: "Jika kamu ingin membebaskan egomu, kamu harus terlebih dahulu menerima bahwa ego tidak dapat dibebaskan. Jika kamu ingin melindunginya dari dosa, kamu harus mengakui kecenderungannya yang terus-menerus terhadap dosa. Menganggap ego tidak bersalah berarti terbuai dalam rasa puas diri, tersandung ke dalam perangkap yang justru dipasangnya untukmu."
Sedangkan kalimat ketiga di 12 : 53, menurut Pak Senai Demirci, menunjuk pada jenis rahmat yang muncul setelah kita berdamai dengan shadow kita. Pantulan dari cermin itu kemudian melahirkan pengakuan di kalimat keempat, "sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun dan Maha Penyayang."
Rahmat Allah bekerja dengan cara yang berbeda pada setiap posisi manusia. Bagi Zulaikha, rahmat itu berupa penundaan hukuman dan ruang untuk kembali, lalu menyadari bahwa Allah menutup tabir antara dosa dan balasan, agar penyesalan dapat tumbuh. Bagi Yusuf, rahmat itu hadir sebagai pertolongan agar tidak jatuh, sebab mereka tahu bahwa jika hanya mengandalkan diri, mereka pun akan gagal. Dan bagi perempuan-perempuan kota, rahmat itu berupa penjagaan dari ujian yang belum datang, disertai kesadaran bahwa diri yang mampu berbuat salah juga tinggal dalam dirinya. Dalam tiga kondisi itu, keadaan Allah tetap sama, yakni Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Implikasi dari pemahaman ini sangatlah banyak, umumnya bagi orang-orang di ketiga posisi tersebut (hikmahnya ambil mandiri saja). Pun, aku yakin, bahasan ini akan membuka celah pertanyaan-pertanyaan lanjutan, contohnya:
Kalau begitu, apa yang membedakan nafs ammarah dengan nafs lawwamah secara fundamental?
Jika nafs ammarah = limbic system, apakah itu artinya hewan juga punya nafs ammarah?
Lalu apa poin penting dari seluruh perkembangan nafs sebenarnya?
Jung mengatakan soal individuasi, di mana shadow telah integral dengan bagian self yang lain. Apa korelasinya dengan perkembangan nafs ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab separagraf-dua paragraf. Jadi, untuk selanjutnya, kita akan memperkaya "pohon framework" ini. Mudah-mudahan tidak terlalu sulit untuk diikuti.
Pembahasan tadi kiranya akan menjadi pembuka untuk memahami cara kerja manusia serta perkembangan jiwa manusia mulai dari ammarah - lawwamah - mulhimmah - muthmainnah - radhiyah - mardhiyyah, tentu melalui sedikit pendekatan neurosains. Sebagai catatan, 2/3 bagian dari tulisan ini dikutip langsung dari tulisan Pak Senai Demirci, dan 1/3-nya elaborasi mandiri dikaitkan dengan peminatan yang sedang dan akan kugeluti di magister.
Sumber:
Kisah Yusuf, Tiga Mimpi, dan Tiga Pakaian
Garis Pemikiran Jung dan Lacan dalam Adegan Paling Penting dari Kisah Yusuf
http://e-jungian.com/jungs-theory-of-complexes-and-the-neurosciences/
— Giza, kayaknya masih banyak isi shadow dalam dirinya yang belum berani dihadapi. Feel free to further discuss!
akan ada satu bagian dari diri kita yang akan terus dikenang oleh seseorang, meskipun kita bukan lagi orang yang sama.
akan ada satu bagian dari diri seseorang yang akan terus kita ingat, meskipun mungkin dia telah berubah begitu banyak.
setiap bagian dari diri kita masing-masing akan terus disimpan. sebab kenangan menetap, namun tidak dengan kepribadian.
oleh karenanya, mungkin yang selama ini kita rindukan bukanlah mereka, tetapi diri kita yang pernah begitu bahagia bertemu mereka versi yang lama.
kamu, apa kabar?
“Retak yang Tak Kunjung Sembuh”
Aku kerap merasa seperti perahu bocor yang terus menenggelamkan dirinya sendiri. Setiap kali berjanji untuk berlayar lurus, justru aku sendiri yang menusuk lambung perahu ku dengan kebodohan² yang berulang atau bahkan yang baru. Ada amarah yang membara bukan pada dunia, melainkan pada diri sendiri yang berulangkali berkhianat pada tekad dan janji yang dibuat di hadapan Tuhan
Aku berjalan seolah tidak gentar oleh badai balasan, padahal setiap langkah maksiat, keburukan yang ku ambil selalu berujung pada rasa ngeri yang merayap ke seluruh tubuh. Seolah aku ini makhluk yang enggan belajar, yang hanya sadar setelah tercebur ke dalam lumpur berulang-ulang kali lantas menyesal, gemetar, mengutuk kebodohan sendiri
Padahal hati seperti kaca retak: tampak utuh dari jauh, tapi penuh serpihan yang menusuk dari dalam. Setiap dosa meninggalkan bayangan gelap yang terus mengikuti, membuat bertanya—sampai kapan akan mengulang keburukan yang berulang?, sampai kapan benar² takut sebelum perbuatan bukan setelahnya begini?, sampai kapan membiarkan pola ini terjadi?, Lelah tapi aku enggan tenggelam dalam kubangan dosa terus-menerus, meski harus berulang, aku enggan menyerah. Musuh seumur hidup ku adalah aku dengan diriku sendiri.
“Mungkin benar pada akhirnya, yang diharapkan dari seorang hamba adalah sebuah keberanian untuk terus kembali, meski retaknya tak pernah benar² hilang.”
Jangan berharap apa pun dari siapa pun
Kalimat yang mungkin sedikit kejam, tapi justru di situlah keselamatanmu bersembunyi. Sebab setiap kali kamu menaruh harapan pada manusia, kamu sedang diam-diam menyerahkan pisau yang suatu hari bisa mereka gunakan untuk melukaimu.
Dan kau sadar? dunia sudah cukup penuh dengan luka tanpa perlu ditambah dari tangan yang sama-sama rapuh. Jadi belajarlah menutup pintu pelan-pelan: bukan karena membenci, tapi karena terlalu sering dibiarkan menunggu di depan rumah yang bahkan tidak menyalakan lampu untukmu.
Lalu suatu hari kamu berhenti, berhenti meminta, berhenti menagih, dan anehnya—itulah hari ketika kamu memilih untuk berhenti hancur. Kamu mungkin mulai menyadari bahwa orang-orang hanya datang sejauh yang mereka mau, bukan sejauh yang kau butuhkan.
Dan tidak ada yang lebih menusuk daripada mengetahui bahwa selama ini kamu menaruh jantungmu di tempat yang bahkan tak peduli apakah ia masih berdetak. Jadi kamu terpaksa menariknya kembali, menyimpannya erat, dan akhirnya kamu mengerti: ketenangan tidak datang dari dicintai, tetapi dari berhenti menagih cinta dari siapa pun selain dari dirimu sendiri.
Af.
kalau ada sembilan nyawa, aku tetep pengen hidup diatur oleh Engkau. bukan oleh diri, apalagi nafsu diri yang tidak membawa pada keselamatan. atau oleh ekspektasi diri yang bersifat keduniawian. atau oleh standar orang-orang kebanyakan yang berujung pada kehancuran. aku ingin tetep punya Engkau sebagai Tuhanku. karena, tak ada cinta sefasih Dia. mencintai hamba meski bermiliar jaraknya—panji sakti, said.
kalau ada sembilan nyawa, aku tetap pengen tinggal di sini. dilahirkan oleh orang tua yang begini. bersama kakak adik yang ada saat ini. bersama teman-teman baik yang radar kebaikannya menyala sampai ke ujung negeri.
Doa Tanpa Kata
Tuhan, aku datang bukan untuk bicara, tapi untuk duduk diam dalam ruang yang hanya Kau dan aku tahu, ruang antara tangis dan terdiam.
Mulutku kelu, bukan karena tak tahu cara berdoa, tapi karena terlalu banyak yang ingin kusampaikan, hingga akhirnya tak satu pun bisa kubentuk, semuanya saling berebut keluar.
Kepalaku riuh, seperti pasar yang tak pernah tutup, penuh kekhawatiran, penuh kenangan, penuh hal-hal yang tak pernah selesai.
Mataku basah tanpa sebab, hujan dalam diriku tak punya musim, ia datang sesukanya, dan aku hanya bisa menengadah, seolah hujan bisa menyampaikan keluhku padamu.
Tuhan, terimalah diamku sebagai doa, karena mungkin dalam diam inilah aku paling jujur, dan Kau paling dekat.
"Aku adalah manusia yang peka terhadap pendengaran dan penglihatan; aku tahu ketika sedang disindir, dijatuhkan, dibicarakan. Aku hanya memilih diam; namun diam-diam juga aku blacklist orang-orang tersebut dalam hidupku."
-
Ferliana Harman
Karena tujuan dari hidup adalah mencari rida Allah, maka seumpama kamu hendak memilih teman hidup pilihlah seseorang yang akan memudahkan dirimu untuk meraihnya; ia yang paham agama.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari & Muslim).
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Seringkali mata kita begitu awas melihat kesalahan orang lain, tapi ketika dihadapkan pada kesalahan-kesalahan diri sendiri seolah rabun bahkan mendadak menjadi buta.
Seringkali ingatan kita begitu tajam ketika mendengar cacian dan makian yang orang lain tujukan kepada kita, sampai-sampai kita pandai sekali berperan sebagai si paling terdzolimi di muka bumi, tapi mendadak amnesia ketika diri sendiri yang sering melempari cacian dan makian untuk orang lain.
Seringkali telinga kita begitu tajam mendengar ketika yang dibahas adalah keburukan, tapi mendadak tuli ketika diperdengarkan kebaikan oleh orang lain.
Seringkali lisan kita begitu fasih ketika membicarakan keburukan orang lain, tapi mendadak kelu bahkan bisu ketika diperintahkan menyeru kebaikan.
Bukan kita, saya lebih tepatnya!
—Kota Segaris, saat bunyi kenalpot motor menyaingi suara jangkrik yang asyik bercengkrama dengan kawannya.
Kita seringkali ingin memiliki, tapi lalai untuk menjadi.
Ingin memiliki teman, keluarga serta lingkungan yang shalih, tapi lalai untuk menshalihkan diri.
Ingin memiliki teman, keluarga serta lingkungan yang dapat mengingatkan diri dalam kebaikan, tapi lalai menjadikan diri sebagai pelaku serta penyeru kebaikan.
Aneh, tapi itu kita, ah mungkin saya lebih tepatnya.
—Kota Segaris, saat jangkrik bercengkrama dengan kawannya.
Dalam meniti perjalanan lebih baik tak dilakukan seorang diri, karena kita sebagai manusia sering salah dalam mengambil langkah. Teman perjalanan bukan hanya menemani disaat perjalanan itu menyenangkan, atau menghibur saat perjalanan penuh bebatuan. Lebih dari itu, juga membantu meluruskan saat perjalanan itu sudah berbeda arah dari cita-cita mulia yang sejak pertama diupayakan.
Untuk semua ketidak beruntungan yang lalu, aku putuskan untuk tetap berterimakasih karena dalam perjalanan penuh liku itu di sanalah aku sedang merasa sedekat-dekatnya denganmu Allah.
Puncak dari segala kecewa itu adalah ketika kau memilih berserah, dan saat itulah kau benar-benar menjadi manusia dan saat itu pula satu-satunya yang kau punya hanya Allah.
Tidak semua takdir akan selalu sama, karena perbedaan jalan hidup adalah bentuk salah satu ujian juga, apa kau akan bersyukur atau akan menyalahkan tuhan atas semuanya, dan apa kau tau siapa yang sedang mengujimu? Allah.
Untuk hidup ini aku persembahkan duniaku yang kadang aku sendiripun tak mengerti mengapa? Selama ragaku akan terus sanggup menghamba kepadamu serumit apapun jalan hidupku aku tidak akan pernah kenapa-kenapa ya Allah.
Untuk sesuatu yang baik-baik semoga lekas menemukanku, cukup dekatkanku selalu dengan apa-apa yang tuhanku menyukainya, karna bahagia manalagi bisa disebut bahagia jika tampa ada terselip namamu, Allah.
Sungguh aku ingin mencintaimu sedalam engkau mengetahui isi hatiku yang terdalam, aku mencintaimu aku mencintaimu dan aku mencintaimu, Allah.
Aku menulis ini dengan sedikit airmataku terjatuh, sebagai saksi betapa hati dan jiwaku membutuhkanmu, Allah.
SUDUT PANDANG JILID 2
Empat.
“Kadang ya kadang, ada rasa ingin pergi yang jauuuh. Cuma pengen tau, siapa yang benar-benar peduli,
.. dan siapa yang cuma basa-basi.”
(smile)
Enam.
Aku tahu rasanya bagaimana dipuji banyak teman. Menjadi harapan bagi beberapa orang. Juga menjadi orang spesial yang sering dibanggakan.
Di lain waktu, aku tahu bagaimana rasanya menjadi yang terendah. Kehadiranku tak begitu disadari. Bahkan hadirku tak sedikit pun memberi arti.
Aku ingin menjadi murid bagi pengalaman. Saat semua mata tertuju padaku, bukan berarti aku berhak semena-mena. Dan saat semua mata buta akan aku, bukan berarti aku boleh merasa rendah.
Kebanyakan manusia lupa, mereka lebih suka mengatakan apa yang mereka ingin katakan, bukan mengatakan apa yang seharusnya mereka katakan. Kata-kata yang keluar dari lisan mereka, mereka pikir adalah sebuah motivasi dan dukungan, nyatanya begitu lihai menyakiti hati orang.