penunggu istri penghulu adat yang berasal dari lapisan sosial lebih rendah, bertugas mengurus rumah tangga selama belum ada bini ratu;
Ayam berkokok tanda tubuh yang baru saja berbaring pukul dua ini harus segera bangun dan bersiap, telat sedikit alamat ketinggalan bis kota yang tersedia 30 menit sekali. Setelah mandi besar, ya sejak kecil ayah ibuku mengajari untuk selalu mandi besar terlebih diusiaku yang beranjak dewasa, wajib. Aku bergegas menyambar sragam SMP dan pakai krudung instan yang bertuliskan SMAN baru ku, sebagai calon siswa aku harus mengikuti ospek.
Masih pada kebiasaan lama, ospek di sekolah ku tak beda dengan sekolah pada umumnya. Banyak kegiatan yang terlihat konyol padahal ku tau esensinya adalah sebuah kedisiplinan. Tapi tetap saja seringkali menyebalkan. Setelah mengecek barang bawaan berupa ikan goreng, susu sapi, omlette, buah melon iris seper-36, aku diantar bapak ke jalan besar menunggu bis. Ku tengok jam tangan yang sejak tadi tak ku anggap keberadaannya, sial, jarum jam menunjukan pukul 04.00, aku ketinggalan bis.
Ketentuan yang ada mengharuskan ku tiba disekolah pukul 5.00 wib, dengan wajah memelas ku menengok bapak yang sejak tadi sudah mengingatkan ku pasal jam. Baiklah kali ini bapak benar, setelah meminta maaf ku rayu bapak untuk mengantarku. Maafkan anak perempuan sulung yang tak tau diri dan selalu merepotkan mu ini pak.
Jalanan masih sepi bapak meluncur dengan kecepatan tinggi, demi anaknya tidak dihukum karena telat. Ditengah perjalanan kami dikejutkan dengan suara melengking yang sangat keras, disusul motor ninja yang meluncur tepat dari depan dan melalui kami. Tepat setelah tikungan, bersyukur karena hanya hampir mengenai motor kami, kalau saja kena entah apa yang terjadi pada kami. Pemilik motor mabuk dan menaiki motornya dengan kecepatan tinggi alhasil iya lepas kendali dan motornya “lari” dari kendalinya.
Masih belum selesai deg degan melihat motor racing macam tadi. Cerita bapak selalu berhasil memcah lamanya waktu. Sampai disekolah, bapak memastikan sekali lagi barang bawaan ku tak ada yang tertinggal. Setelah itu kami shalat subuh di masjid depan sekolah. “Jadilah baik, walau dihadapan musuh mu sekalipun”, pesan terakhir bapak sebelum lepas landas kembali kerumah. “Oke aku sendirian semoga hari ini tak merepotkan” gumamku melihat kakak tingkat berpita merah yang memang ditugaskan berwajah sangar bin menakutkan.
Benar saja, baru memasuki gerbang untuk antri masuk, sudah ada saja anak yang dibentak sebab salah pakai dasi. “Yha wajarlah masih jam lima, mana kelihatan bedanya Biru dan Hitam”, aku memang anak yang sedikit tak suka dengan senioritas tapi hanya bisa “ngobrol” sendiri dalam hati.
Kini giliranku diperiksa, “Kenapa dek senyum- senyum nantang panitia?” suaranya membuat kaget. “Selamat Malam Kak, Maaf kak saya salah” jawabku tanpa menjelaskan. Hukum pertama selama Ospek adalah meladeni panitia sama dengan cari perhatian, bukan tipe anak dibalik layar sepertiku.
“Eh Kamu ngigau ya? Malam Malam, ini udah pagi. Makanya mandiri, bangun sendiri berangkat sendiri jangan minta diantar orang tua”. jawabnya keras hingga kami jadi pusat perhatian. Matilah aku, sebab hari masih gelap mulutku otomatis “nyablak” malam. Parahnya lagi ku lupa penjelasan kating saban hari yang bilang ada peraturan tak boleh diantar orang tua. Sial, kali ini aku kalah telak. Tanpa dinyana ada senior menghampiri. “Rumahnya diluar kota, toh hari pertama dan peraturan tambahan belum dibacakan, maklumilah Tin” tubuh tinggi dengan kacamata dan topi juga kamera itu akan selalu ku ingat. ”Kok bisa tau ya” gumamku.
“Oke kali ini kamu lolos, tapi dalam pengawasan ya Iz”, Kakak yang kalau ku tak salah bernama Attina menjawab. “Oke selamat menjalani Ospek, hati- hati ya dek gendut” tubuh tinggi tadi merendah lalu membisikan sesuatu pada ku. Ku tak menjawab karena tau sudah banyak mata yang melihat kami. Pyuh lega satu rintangan telah terlewati.
Apel pagi dimulai, seperti biasa, barisan paling belakang menunggu, tinggi ku 153cm dengan tubuh gempal, berdiri selama itu membuat ku bekeringat seperti habis marathon jadilah medis dibelakangku bertanya ribuan kali tentang keadaan ku, Itu juga yang jadi sebab orang- orang melihat kebelakang. Termasuk mas kamera juga ikutan kebelakang, bukan untuk bertanya tapi untuk memfoto wajahku yang lecek ini.
Setelah apel dan mendapat sindiran terkait diantar orang tua, kami diarahkan keliling gedung sekolah, high school tour. Kak Rivaldy dan Mba Tiara jadi Pembimbing Kelompok kami menjelaskan bagian- bagian sekolah kami yang hanya sepetak. Saya jadi tahu kekurangan kelaslah yang menjadikan sekolah ini menerapkan rolling system, siswa yang menghampiri guru bukan sebaliknya. Tapi menurutku disitu menariknya sekolah ini, seolah tau hukum takdzim murid pada guru.
Waktu makan siang pun tiba, eits belum belum. Pemeriksaan kedua harus kami lalui. Gubrakk, suara Sie K2 (Ketertiban dan Kedisiplinan) membanting pintu, isyarat kami harus bersiap. “Keluarkan barang bawaan, taruh semua diatas meja” Jantung ku berhenti karena yang memeriksaku adalah yang memarahiku tadi pagi “Mampus” gumamku dalam hati. Tapi ada yang sedikit melegakan, Mas Kamera ikut, ya mungkin memang tugasnya. “Semoga nanti ada yang beliau selamatkan lagi” gumamku.
“Angkat susu sapi yang kalian bawa, cek ada gambar sapinya. Siapa yang tau kalau yang kalian bawa susu sapi kalau ga ada gambar sapinya” K2 menjelaskan “Allahuakbarr!” geram dalam hati ku. Dari awal saja sudah banyak dari kawanku yang salah dan harus dicatat namanya dalam daftar pelanggar. Selanjutnya kami disuruh mengangkat telur mata sapi, “Kalian tau jumlah mata sapi berapa? Kuningnya HARUS DUA” Ka Attina berkata lantang. Sial lagi- lagi senyumku tertangkap lagi olehnya, masih selamat kali ini tak ada celah padaku untuk bentakannya.
“Terakhir angkat ikan goreng kalian, UTUH dengan buntut” Ka Attina yang masih disampingku kali ini menang. Yap ikanku kehilangan buntut, Sial. Jadilah nama ku tertulis dalam daftar dan wajahku dipotret “lagi” olehnya dalam keadaan yang memalukan. Nampaknya hari ini banyak betul kesialan padaku.
Setelah pemeriksaan kami diberi waktu setengah jam untuk ishoma. Aku langsung cus kekantin mencari bau bakso yang sudah sejak tadi merangsek masuk kehidung dan perutku. “bapak tumbas bakso minimal pinten njih (beli bakso minimal berapa pak)?” dengan wajah lapar ku bertanya. “oalah nduk, sampean seng digetak i mau ya, piro piro o we gawe sampean (oalah nak, kamu yang tadi dibentak bentak ya, berapa aja terserah sudah? dengan wajah terkekeh pak kabul mempersilahkan ku untuk mengambil sendiri.
Pak Kabul bercerita banyak tentang keluarga dan anak-anaknya. Kebanggaan terpancar dari wajahnya. Mulai dari yang sudah berkeluarga, anak kedua baru saja wisuda di Univ Ternama di Jakarta dengan predikat Mahasiswa Berprestasi IP 4 dan anak terakhirnya yang saat ini sedang menempuh pendidikan menjadi pilot. “Nduk nduk belajar seng pinter, masio bapak ngerti masuk SMADA iki yo mesti wong pinter (nak nak belajar seng pinter, walaupun bapak mengerti masuk smada ini pasti orang pinter”. Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, tanda harus bergegas. “Maturnuwun pak kabul, semoga sehat selalu jadi saya bisa makan enak terus setiap hari” hanya ucapan terimakasih yang dapat kusampaikan karena beliaunya menolak mati- matian uang yang kuberi.
Setelah ISHOMA, kami para “tersangka” diarahkan menuju ruang lab biologi, didalam pengap juga gelap. Sudah tau yang akan terjadi, karena haus ku minum fanta sebelum masuk ruang “sidang” yang hal tersebut ternyata jadi kesalahan fatal. Dinilai tidak sopan panitia membentaku dan menyuruhku memasukan fanta dalam tas. Merahnya fanta tak sepadam ronaku yang malu ketika mas kamera berkata “Kecewa, Bapak sama anak beda jauh etikanya” mas kamera kembali memotretku sambil menggelengkan kepala, seolah gambaran kecewanya padaku. “lho kok tau lagi sih hhhhhh?” gumamku dalam hati
Hari Rabu sepertinya jarang berpihak padaku. Diruang sidang ku terdiam, marah pada diri sendiri yang kurang tau tempat. Bentakan dan teriakan panitia tak terhiraukan oleh ku ditelingaku hanya terngiang suaranya dan wajah bapaku, “kok bawa bawa bapak sih?”. Satu persatu butir air mata membasahi ku. Bapak Ibuk maafkan aku, bangun tengah malam mu tercoreng oleh kesalahanku. Setelah selesai sidang kami diarahkan ke lapangan untuk melihat pameran ekskul.
“Dek tas mu basah” kak Rivaldy memberitahu. “Waduh, krudungku merah, alamat fanta ku tumpah” panik. Benar saja, fanta botol besar yang memang ditugaskan untuk dibawa dan diminum bersama waktu pameran tumpah seluruhnya dikrudung putih baruku. “ya Allah gusti kok yo apes pol to dino iki (ya Allah kok apes banget ya hari ini” jadilah jadi bahan ejekan satu kelompok, “Kamu halangan kok sampe krudung, malu maluin?” cletuk ketua kelompok ku. “mak deg, Am i a Joke” batin ku perih, mungkin diluar aku terlihat gembira dan ketawa haha hihi pada dasarnya aku malu besar. Pameran selesai dan krudungku masih basah, maluku tak jua kering.
Apel sore pun dimulai, pembicaraan tentangku masih terdengar. Wajahku terasa berat, malu. ku tertunduk masih terngiang dan tak mendengar materi. “Kalian masih calon siswa, yang serius ikut mos nya, jangan main main” ada yang berkata demikian dari barisan K2 dibelakang. Walau hari itu terasa berat, perjalanan masih panjang. Diri ini ingin cepat pulang agar segera bisa meluapkannya. Perjalanan pulang seperti biasa naik bis Ladju yang sudah biasa mengantarkan daku sejak SMP, ya SMA ku sekolah terpadu yang SD, SMP, SMA-nya jadi satu.
“Kenapa kok murung dek” tanya kernet padaku. “pasti mau nangis ya?” sahut pak sopir yang sudah mengagapku sebagai anak sendiri. Mereka orang tua ke sekian bagiku. “Kulo dikerjain ik Pak sama senior disekolah hihh” sambil sok kuat. “Yo ditantang ganti to kok repot, gitu itu lo pura- pura” sambil narik uang dari para penumpang lain pak kernet menambahi. “Lha ya, anake Ladju ki kudu TATAK (harus kuat) kok cupu banget”. Air mata yang hampir jatuh jadi masuk lagi karena dengar seisi bis ikut memberi dukungan padaku.
Tak terasa sampai terminal dekat rumah hari sudah malam. Ku kira bapak agak telat menyusul, mungkin masih harus merawat kebun jeruk yang kami punya. Seperti biasa, duduk samping tempat satpam masjid jadi tempat paling aman. “Pak Eko bisa main catur to? sautku setelah dipersilahkan duduk disamping beliau. “iyo iso to nduk aku juaranya” balasnya. “lo nyapo kok balik sampek bengi lan wajahe lencu ngono?” tanyanya sampil menggerakan bishopnya. “ospek pak” balasku yang sudah lelah. “Bapak kok suwe yo pak?” tanyaku. “he lah dalah bapak mu wes ket mau, kae lo, sepurane aku fokus maen” jawabnya sambil menunjuk kearah bapak. “Kok baru omong lo pak sakno pak ku lak an, wkwk, yawes maturnuwun”
Kulihat bapak didekat masjid sudah bersiap dengan motor supranya. Ya bapak memang tak pernah telat soal menjemputku. Walau tugas ladang menumpuk dan membuat lelah, baginya menyusulku adalah insvestasi. Selepas Shalat maghrib, sepanjang jalan aku bercerita tentang semua kejadian konyol hari ini.
Sampai pada pembicaraan “mas kamera” tadi. Ternyata beliau tau daku karena jadi makmum bapak ketika shalat subuh dimasjid. Luput dari penglihatanku karena kami terhalang satir, masjidnya pun tergolong masjid besar. Bagi bapak setelah melihatnya dimasjid, mas kamera adalah sosok sopan dan pintar yang patut dicontoh. “Kalau bisa berteman atau punya kating yang kaya beliau nduk, sopan tapi pandai bergaul” beliau bercerita mas kamera sudah mengingatkan bapak karena dompet dan kacamata bapak ketinggalan dikamar mandi. Tidak hanya mengembalikan tapi beliau juga bercerita tentang bahayanya jika ada barang ketinggalan dimasjid dengan gayanya yang menurut bapak lucu. “Oalah ketemu njenengan to pak” sahutku dengan pipi memerah.
Kami tiga bersaudara dan sejak kecil sudah dilatih untuk bercerita panjang lebar, mulai dari keuangan rumah, hal hal kecil terkait mimpi mimpi kami ketika menjadi dewasa, bahkan soal lawan jenis pun pada keluarga.
Dari beliau aku belajar, “Walau Air tak pernah lebih kental dari Darah setidaknya Darah mengandung Air”. Sesampainya dirumah ibu sudah sibuk meyiapkan makan malam dan menyuruhku mandi. Selepas maghrib berjamaah, kami terbiasa makan malam dalam satu meja. Piring milik masing- masing anggota keluarga juga sudah disiapkan ibu. Tujuannya agar terbiasa punya adab pada orang tua. Hal tersebut jadi pembentuk karakter bagi kami untuk tidak mudah memakai barang yang bukan miliknya.
Sebelum tidur bapak slalu bercerita tentang bagaimana hidup seperti seorang Penunggu dengan prinsip selalu menganggap orang- orang disekitar kita sebagai keluarga, dimanapun kita berada akan selalu ada tempat untuk singgah, karena sesungguhnya tempatmu pulang tak harus terkotakan jadi definisi rumah.