@thepresidents-blog1Ā @ninespasamarinda-blogĀ @a-atikalarasatidewi-blogĀ @lovepurwokerto-blogĀ @zakkazulfanaĀ @oemahdaunĀ @andidili-blogĀ @reina-floreciendoĀ @penyihirhatiĀ @pink-cotton-blogĀ
Ray-Ban Sunglasses

ellievsbear
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
occasionally subtle

Janaina Medeiros

JBB: An Artblog!
sheepfilms
šŖ¼
will byers stan first human second
Aqua Utopiaļ½ęµ·ć®åŗć§čØę¶ćē“”ć

pixel skylines
Claire Keane
Sade Olutola
No title available
styofa doing anything

Origami Around

ā
YOU ARE THE REASON
No title available

titsay
Three Goblin Art
seen from Malaysia

seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Hungary
seen from Norway

seen from United States
seen from United States
seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Italy

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Philippines

seen from Switzerland
@wenderisnoway
@thepresidents-blog1Ā @ninespasamarinda-blogĀ @a-atikalarasatidewi-blogĀ @lovepurwokerto-blogĀ @zakkazulfanaĀ @oemahdaunĀ @andidili-blogĀ @reina-floreciendoĀ @penyihirhatiĀ @pink-cotton-blogĀ
Ray-Ban Sunglasses
Kronik Perjalanan Sulawesi 3 (Bone-Sengkang)
Kronik perjalanan yang sering ngalor-ngidul tidak kronologis ini, saya tulis selagi dan setelah perjalanan saya dan teman asal Jerman, Lars, di Sulawesi. Kami berangkat dari Jogja ke Surabaya untuk terbang ke Makasar. Dari Makasar, awalnya kami tidak punya rencana yang pasti akan kemana, tapi akhirnya toh berakhir di ujung timur laut pulau Sulawesi, Manado. Dari ujung barat daya ke timur laut kami singgah di Tanjung Bira, Tanah Lemo, Bulukumba, Watampone (Bone), Sengkang, Palopo, Rantepao, Poso, Ampana, Pulau Kadidiri, Pulau Una-una, Pulau Selaka, Wakai dan akhirnya sebelum Manado, Gorontalo. Ā Perjalanan yang mengesankan bagi kami berdua. Kami berangkat dengan banyak pertanyaan dan pulang dengan lebih banyak pertanyaan lagi.
Wanita dan Guru Honorer
Setelah berpamitan dengan Ibu Elis dan keluarga, kami melanjutkan perjalanan ke arah utara. Sepertinya Bone (Watampone) atau mungkin Sengkang (270 km dari rumah Ibu Elis) adalah tujuan yang bisa dicapai hari itu juga jika kami naik angkutan umum, tidak menebeng secara acak lagi. Jalan lintas Bulukumba-Bone yang cenderung beraspal mulus bukan berarti lancar dan cepat, karena kerap ada pekerjaan jalan untuk menjaga kemulusan aspal. Diperparah, minibus Colt pra-reformasi ini, di jalan yang lurus dan mulus, ternyata tidak lebih cepat daripada Honda Astrea dari jaman yang sama.
Selalu ada cara buatku untuk membunuh waktu di kendaraan umum, secara introvert seperti: membaca buku, mendengar musik, menulis, atau yang paling sering, duduk melorot sambil menatap tolol ke langit yang berkocak senada guncang mobil. Juga secara extrovert, seperti: bercakap dengan penumpang lain, berdiskusi dengan Lars atau mengasah bahasa Inggris dan Indonesiaku dengan cara mendefinisikan jenis sungutan Lars yang bhineka tunggal ika. Yang mana yang termasuk whine, groan, lament, grumble, atau bemoan; dan membedakan antara ngeluh, bersungut, nggerundel, ngerengut atau nggerutu. Berbeda-beda tapi tetap satu raison dāetre*, seperti Indonesia menurut Bung Karno.
(*Dari bahasa Perancis kurang lebih berarti alasan utama menjadi/untuk ada)
Alasannya, setiap kali kami naik kendaraan umum, Lars selalu mendapat tempat duduk yang terlalu sempit. Dia selalu mewanti-wantiku untuk memastikan kami dapat tempat duduk yang paling lega. Suatu hal yang tentu saja tidak dapat aku pastikan mengingat proporsinya yang tidak normal. Terlalu sering selama perjalanan, Lars me-(pilih dari kata-kata di atas) karena hal ini. Bisa dengan ucapan bahasa Inggris atau Jerman dan kadang Indonesia, atau juga bahasa tubuh. Bahkan di sedikit waktu dia bisa tidur pun, aku masih mendengar sayup-sayup keluhan dalam mimpi.
Keantusiasanku untuk bermain psycho-linguist wannabe berakhir ketika aku rasa sudah dapat menyematkan semua kosakata yang kutahu ke jenis sungutannya.
āI told you once that it is essential for us to be small and somewhat short stature in this tropical archipelago,didnāt I? Itās a matter of adaptability and evolution, āinsular dwarfismā is the scientific term,ā mangkeku ke Lars suatu hari. āI mean, look at this minibus itās too small for a 180-190cm human, right?ā
āSo, you evolve to be small and short because of your minibuses are small?ā Lars sarkas membalas.
āRiiigghht⦠And our minibuses are small because our roads are narrow and small. So, either file your complain to our government and the law of evolution or zip it and enjoy the road,ā sedikit pseudo-nyaris-absurd-sains dan menyalahkan pemerintah ternyata berhasil membuatnya diam. Atau mungkin karena intonasiku yang tiranis.
Sejujurnya, minibus Colt ini cukup luas buat orang Indonesia umumnya ā dan ternaknya, dan kardus oleh-olehnya, dan stok sebulan sembakonya, dan lain sebagainya. Tapi buat Lars selama lima-enam jam perjalanan ke Boneā¦
Saat kami baru tiba di Bone, angkutan ke Sengkang sudah berangkat semua. Padahal alangkah baiknya jika cepat keluar dari kota karena kota bukan tempat yang pas untuk pasang tenda dan matahari hendak ditelan bumi. Lars bertanya tentang rencana selanjutnya, bagaimana caranya ke Sengkang ataukah harus menumpang lagi atau bermalam di Bone. Aku hanya meninggikan pundak, membuka telapak tangan sambil cuek melenggang ke toko roti yang sudah aku incar sejak masih berada di minibus. Tidak lama Lars juga mengekor bergabung memilih roti. Mudah lapar mata yang nyaris serakah, salah satu dari sedikit kecocokan kami.
Di hampir setiap perjalananku, aku memang tidak pernah punya rencana yang pasti. Jangankan disuruh memaparkan itin (bahasa gaulnya rencana perjalanan), riset tentang kendaraan umum, penginapan atau tempat-tempat wisata juga tidak pernah sama sekali. Jika ada riset, lebih tentang sejarah dan data-data statistik (populasi, tingkat pendapatan, luas wilayah dsb) tempat yang aku pijak. Rencana perjalanan tergantung situasi angin dan kondisi air, sering juga ihwal perut.
Di perjalanan Sulawesi ini, sepasti-pastinya rencana kami adalah perjalanan berakhir ketika kami tiba di salah satu dari tiga tempat ini dalam empat minggu: Buton, Tomohon-Manado, atau Ternate.
Kami memilih tiga tempat tujuan akhir ini bukan hanya karena letaknya yang di āujungā. Dari semenjak Lars masih di Jerman, aku sudah mengiming-iminginya dengan dongeng-dongeng tiga tujuan akhir tersebut dimana, mengutip Axl Rose, āthe grass is green and the girls are pretty.ā
Duo bersaudara petualang Inggris yang pernah aku sebut sebelumnya menulis ini tentang wanita Buton: āOur crewmates warned us about the Butonese girlsā reputation as practitioners of a dangerous form of magic which could trap a man on their island forever; then they disappeared ashore into the backstreets. Going ashore ourselves, we soon realized that the girlsā magic was of a very straightforward kind. Almost without exception, they were breathtakingly beautiful; their every movement a languid dance, and their smiles open and confident āā
Sedangkan Manado, terutama Tomohon, semua orang Indonesia sudah tahu tentang kecantikan wanita-wanitanya. Aku sudah beberapa kali ke pasar tradisional Tomohon karena kebetulan ibuku berdarah Tomohon. Bukan di mall kelas atas di Jakarta atau Surabaya, tapi lagi-lagi ini di pasar tradisional; dan meminjam kata-kata teman kami asal Brasil, āI went to that market because Lonely Planet said it supposed to be a macabre market. But, what I found was exactly that⦠And a whole other experience, for some reason, Lonely Planet failed to mention. I never saw so many attractive females from all age in one single place. The density of beauty was unreal.ā
Alfred Russell Wallace lebih dulu memuji keindahan kota Manado dan kemolekan wanita Tomohon ketika ia tinggal di sana untuk beberapa waktu, 150 tahun yang lampau.
āThe little town of Menado is one of the prettiest in the East. It has the appearance of a large garden containing rows of rustic villas with broad paths between, forming streets generally at right angles with each other⦠In some of the inland villages where they may be supposed to be of the purest race, both men and women are remarkably handsome.ā
Selain suka jajan dan selera wanita yang mirip-mirip (kata ādanā jangan dilongkap), aku dan Lars juga sama-sama tertarik dengan keping-keping puzzle peradaban dunia. Ternate adalah salah satu kepingan yang krusial, tempat dengan dongeng-dongeng the grass is green atau lebih tepatnya, the grass is green and gold. Ternate dan tiga kerajaan kecil di sekitarnya (Bacan, Jailolo, Tidore) sempat menjadi pusat globalisasi dunia ketika uang dan emas dari hasil kebun (cengkeh) menghidupi (dan menyengsarakan) kerajaan-kerajaan ini.
Menurut Sir Francis Drake, di Ternate the grass is green and gold bahkan bukan hanya metafor ketika ia melihat sendiri pohon berkobar cahaya keemasan jutaan kunang-kunang, tulisnya, āevery twig on every tree had been a lighted candle, or as if that place had been the starry sphere.ā
Ketika Lars bertanya siapa Sir Francis Drake, aku hanya menjawab bahwa dia adalah seorang pengembara terkenal sampai-sampai diberi gelar oleh Ratu Elizabeth. Tidak salah sebenarnya, cuman Sir Francis Drake mengembarai dunia sambil merompak - sempat mampir di Halmahera, Ternate dan Surabaya - kemudian dianugerahi gelar oleh Ratu Elizabeth, 400 tahun silam. Oia, Ratu Elizabeth yang pertama. Tentu aku ragu apakah populasi kunang-kunang masih sama di Ternate dan Halmahera di jaman Elizabeth ke-dua hampir pensiun.
Di pinggir perempatan, di seberang toko roti ada dua polisi sedang menikmati bakso dan minuman di meja taman berpayung. Kami datang mendekati dan memesan kopi hitam dari gadis penjual minuman yang selalu hanya menyengir malu tanpa bisa mengeluarkan satu kata solid pun ketika diajak bicara, walaupun aku sudah berjuang sehebatku untuk berbicara dengan dialek Sulsel.
Aku mendekati kedua polisi ini untuk mendapatkan info tentang angkutan, tempat kemping atau gosip-gosip daerah sekitar. Polisi biasanya sumber gosip yang Cek dan Ricek. Sayang, aku bukannya mendapatkan anekdot atau gosip menarik tentang daerah sekitar, melainkan malah mendengarkan perdebatan kedua polisi tentang gosip yang baru mereka buat sendiri: Aminah, gadis berjilbab penjual minuman yang masih saja nyengar-nyengir, mungkin suka ke salah satu dari kami.
Salah satu polisi malah kemudian menanyakan pendapatku tentang delapan sabda Sultan Hamengkubuwono X. Sedangkan yang satunya lebih tertarik ke melatih bahasa Inggrisnya dengan Lars, memakai cara yang mirip-mirip seperti Arsan di Tana Beru, minus buku 3 Bencana.
Aku agak merasa ganjil. Kami di sini, ribuan kilometer dari Jogja, empat orang yang tiada setitikpun darah Jawa di nadi, membahas tentang sebuah sistem monarki terbatas pura-pura nun jauh di sana, secara spesifik tentang sabda buatan kemarin sore dan kekuatan hukumnya di negara demokratis yang modern. Entah ini karena gravitasi Jawa yang belum hilang paska orba - terutama di korps berseragam - atau bawaan genetis kami yang masih feodalistik. Apakah teman-teman di Jogja pernah memikirkan tentang Bone kini, yang pada jaman Arung Palakka pernah demikian signifikan di peta sejarah?
Untungnya, si polisi-sabda-Sultan akhirnya menanyakan kami mau kemana.
āNah, enaknya kemana pak kalau sudah hampir malam begini? Ke Palopo lalu Toraja atau Kolaka lalu Kendari?ā tanyaku balik.
Mendengar ini pak polisi sempat bingung juga. Pak polisi-latihan-Inggris ternyata selama ini menyangka aku adalah pramuwisatanya Lars yang tentu sudah punya rencana dan jadwal perjalanan seperti pramuwisata sungguhan lainnya. Belum sempat aku sanggah, si polisi-sabda-Sultan sudah setengah berteriak, āhush, dia bukan gaitā ke temannya, lalu mencoba menganalisis aku dan Lars. Dan dari sini, bukannya menjawab pertanyaanku, percakapan malah bergulir lagi ke arah sabda Sultan dan dana istimewa untuk provinsi istimewa. Sampai turunlah satu pria dengan celana jingkrang dan jenggot panjang terkriwil-kriwil, kopiah putihnya kontras dengan warna jidatnya, dari Avanza yang terlihat kinyis.
Tidak peduli dengan streotip pada umumnya, aku langsung bertanya tentang tujuan akhir pria ini. Dia menyebut satu nama desa di antara Bone dan Sengkang kemudian menawarkan kami untuk ikut bersamanya. Tanpa pikir panjang aku langsung menjawab: āiya, mau ikut Pak!ā Sedetik kemudian aku baru sadar bahwa kespontananku kurang sensitif. Aku menanyakan pendapat rekan perjalananku tentang ide ini. Sekedar formalitas, tentu Lars setuju. Dia harus setuju. Keselamatannya di tanganku. Ahah!
Pak Amin adalah seorang guru honorer yang mengajar Agama Islam dan Bahasa Inggris di SDN setempat. Selain guru dia juga punya usaha kedai bakso, juga bekerja di kota Bone sebagai supir pejabat Pemda dan ternyata juga supir angkutan bebas tidak resmi dengan trayek sebebas-bebasnya. Avanza anyar ini dibeli dengan bantuan bos-nya, si pejabat Pemda, untuk memungut penumpang dari sekitaran Bone dan Sengkang demi pemasukan tambahan keluarganya. Pak Amin melunasi uang muka dengan mengantar jemput si pejabat sambil membayar kredit mobil tiap bulannya.
Seperti nasib ribuan guru honorer lain yang harus tambal sini-tambal sana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar keluarga, begitupun Pak Amin. Konsekuensinya tentu adalah Pak Amin tidak bisa betul-betul fokus ke tugasnya sebagai guru. Aku tidak tahu tentang kompetensinya sebagai guru Agama Islam, di luar dari penampilannya yang mungkin terlihat menjanjikan, tapi kemampuan berbahasa Inggrisnya (secara verbal) hanya sedikit lebih baik daripada Pak Polisi-latihan-Inggris atau Arsan sekalipun.
Profesi guru demikian menggiurkan untuk banyak orang di daerah karena banyak alasan. Salah satu alasan yang paling biasa didengar adalah dengan menjadi guru mereka dapat menjadi PNS dengan pemasukan yang stabil dan tunjangan yang stabil pula. Menjadi guru, secara historis juga memiliki keuntungan ekonomis dan strata sosial. Permasalahan muncul ketika kuantitas guru tidak sebanding dengan kualitas guru.
Indonesia, menurut World Bank, mempunyai 10 guru per 190 murid (0,052/murid) selama beberapa tahun terakhir, tidak termasuk guru honorer. Angka yang sangat bagus, menyamai negara-negara maju seperti Prancis, Jepang dan Inggris (sekitar 0,05/murid). Tapi angka ini tentu tidak berarti jika tidak sejalan dengan perbaikan kualitas yang bisa dimulai dari perubahan mental birokrat tipikal PNS para guru, dibarengi peningkatan kesejahteraan bagi guru yang mempunyai keinginan untuk mengajar dan belajar.
Lagi, statistik itu, seperti rok mini dan belahan dada, memperlihatkan ide dan imaji yang bagus tapi sama sekali bukan gambaran sesungguhnya. Dalam hal ini, statistik di atas hanya menunjukkan berapa jumlah guru yang membebani anggaran negara bukan berapa guru yang betul-betul datang ke kelas setiap hari untuk mengajar dan belajar, boro-boro soal kualitas. Kita yang pernah bersekolah di sekolah negeri pasti paham kalau banyak guru yang korupsi waktu belajar, terutama di daerah-daerah rural. Dalam perihal yang dasar seperti ini saja, sekolah negeri sudah jauh tertinggal dengan sekolah-sekolah swasta. Seperti yang nanti kutemukan dalam diri Peppy, seorang guru seni dan budaya di suatu sekolah swasta di Tana Toraja.
Di dalam mobil, pak Amin menawarkan makan malam di kedai Baksonya. Tentu tidak kutolak. Kami lahap makan bakso campur mie, mumpung gratis! Lalu datang tawaran berikutnya ketika kami sedang makan, yaitu mengantarkan kami langsung sampai ke Sengkang atau Palopo. Kali ini tidak cuma-cuma lagi seperti dua tawaran sebelumnya, tapi dengan harga diskon katanya ā meski sebetulnya masih lebih mahal daripada harga angkutan pada umumnya. Lars bersikeras bahwa sebaiknya jangan berpaling dari rencana awal, yaitu, tetap berkemping di sekitaran desa Pak Amin supaya bisa menjelajah lingkungan desa di pagi hari. Aku setuju. Tapi yang di kepalaku bukan masalah tidur dimana, setia ke rencana awal ataupun seberapa mahal harga ādiskonā yang ditawarkan, melainkan tentang kesopanan dan kepantasan. Tidak sopan apalagi pantas bagiku untuk menolak tawaran jasa seorang guru honorer, setelah aku menerima dua tawaran cuma-cuma, juga setelah ia curhat panjang diiringi Marley dan Buju Banton mengayun-temayun reggae di tape mobilnya.
Bagiku dan banyak orang Indonesia lainnya, segala macam interaksi sosial menyimpan banyak hal-hal yang subtil, yang sulit dilihat di permukaan tapi ada di dalam relung rasa. Komunikasi di Indonesia banyak menyembunyikan nilai-nilai kesopanan dan kepantasan - dan lain sebagainya ā yang implisit. Apapun sikap atau feedback kita selanjutnya tergantung seberapa peka perabaan kita terhadap semua yang implisit ini.
Bahasa selalu dapat menjadi jendela untuk melihat budaya dan kultur. Menurut filsuf abad ke-20, Ludwig Wittgenstein, dalam berkomunikasi dengan bahasa, kata-kata tidak pernah punya arti baku apalagi kaku. Ini terutama sangat relevan di Indonesia yang begitu puspawarna akan tradisi, budaya, dan bahasa.
Coba lihat bahasa dan cara kita berbahasa. Salah satunya, Bahasa Indonesia relatif tidak memiliki banyak kata sifat, dan kita hanya memakai kata sifat yang itu-itu saja untuk menjelaskan banyak hal, setidaknya dalam tradisi lisan. Contohnya kata āsuramā yang bisa dipakai untuk menjelaskan raut muka seseorang sampai ke kondisi penerangan kurang cahaya, dari ingatan yang kurang tajam sampai kondisi di masa lalu yang penuh kesulitan.
Contoh lain adalah kata-kata penanda kala yang sangat lentur. Ketika seseorang menyebut kata ābesokā bisa berarti hari setelah hari ini atauĀ berbulan-bulan setelah hari ini atau kadang juga berarti nanti setelah kiamat,Ā tapi toh biasanya kita bisa meraba-raba kapan sebetulnya ābesokā yang dimaksud si pengucap.
Wajar, menilik sejarah bahasa Melayu yang sudah menjadi lingua franca di nusantara sejak ribuan tahun lampau, dipakai oleh bermacam jenis etnik dan suku bangsa dengan bahasa ibu yang berbeda-beda. Sesuai kegunaannya untuk alasan praktis dan nilai efisiensinya maka kita tidak terbiasa untuk mengetahui dan memakai kata-kata spesifik untuk menjelaskan hal-hal spesifik. Bahasa Melayu saat itu diharuskan untuk fleksibel agar bisa memenuhi kebutuhan komunikasi mosaik perbedaan tradisi, adat istiadat, disposisi politik, dan pandangan moral pada saat itu. Terbawa sampai saat ini. Sprachspiel*, kata Wittgenstein.
(*Bahasa Jerman, sprache=bahasa; spiel=permainan, permainan bahasa)
Ya, dengan bantuan kemampuan sprachspiel Melayu yang terlatih ribuan tahun, sampai pada akhirnya dikristalkan sebagai bahasa persatuan di sila ke-tiga Sumpah Pemuda sebagai Bahasa Indonesia, 17 ribu pulau yang merentang sejauh Inggris ke Tajikistan, kumpulan manusia dari yang masih hidup di jaman kayu sampai urbanites paska-modernitas, yang mempunyai koleksi bahasa lebih kaya dari seluruh benua Eropa ini masih bisa bekerja sama relatif dengan baik dan tetap eksis sampai detik ini; berpegangan pada ideologi yang juga adalah hasil sprachspiel, Pancasila.
Pancasila yang begitu elastis, sebuah permainan bahasa pada tingkatan yang tertinggi mampu memberikan kekayaan tafsir, yang pada satu sisi tentu berguna bukan hanya bagi dan demi, tapi juga karena kekayaan kultural yang kita miliki. Di sisi lain: apapun makanannya, Pancasila minumnya, tidak sehat untuk sebuah negara yang dari awal sudah rentan. Represi dan totalitarian Soeharto dasarnya? Pancasila. Partai Buruh yang cenderung sosialis kekirian berdasarkan? Pancasila. Pegangan FPI? Pancasila, terutama sila pertama dong. Pro LGBT? Pancasila. Kontra LGBT? Pancasila juga. Demo anak-anak SD yang menuntut mundurnya kepsek berlandaskan? Pancasila. DPR yang korup? Pancasila. Ā Koperasi? Pancasila. Kapitalis barat? Pancasila.
Bagi Lars, orang Jerman saklek itu, hal ini terlalu membingungkan untuk dimengerti. Bagi orang Indonesia, hal ini tidak perlu dimengerti, cukup dirasa-rasa. Pantas, tulisan di tikungan tadi itu āHati-hati! Ada pekerjaan jalanā ketimbang āOtak-otak! Ada pekerjaan jalan.ā
NB: Perhatian! Paragraf tentang bahasa adalah contoh simplisitas akut. Tapi ini kan hanya travelogue :p. Untuk lebih lanjut bisa baca karya pemerhati bahasa dan babon-babon linguistik seperti Humboldt, Chomsky, Pinker, P.J. Zoetmulder, Poerbatjaraka, dll.
Kronik Perjalanan Sulawesi 2 (Bira-Bulukumba)
Kronik perjalanan yang sering tidak kronologis ini saya tulis selagi dan setelah perjalanan saya dan teman asal Jerman, Lars, di Sulawesi. Kami berangkat dari Jogja ke Surabaya untuk terbang ke Makasar. Dari Makasar, awalnya kami tidak punya rencana yang pasti akan kemana, tapi akhirnya toh berakhir di ujung timur laut pulau Sulawesi, Manado. Dari ujung barat daya ke timur laut kami singgah di Tanjung Bira, Tanah Lemo, Bulukumba, Watampone (Bone), Sengkang, Palopo, Rantepao, Poso, Ampana, Pulau Kadidiri, Pulau Una-una, Pulau Selaka, Wakai dan akhirnya sebelum Manado, Gorontalo. Ā Perjalanan yang mengesankan bagi kami berdua. Kami berangkat dengan banyak pertanyaan dan pulang dengan lebih banyak pertanyaan lagi.
Phinisi dan Penyelam Kompressor
Legenda, mitos dan sejarah berkelindan setiap kali kita berusaha bercerita tentang Phinisi. Menurut naskah lontar La Galigo, salah satu sastra klasik terpanjang di dunia, Phinisi sudah ada semenjak abad 14 Masehi. Legenda mengatakan bahwa Sawerigading, putra Kerajaan Luwu (Kab. Luwuk sekarang), dibantu oleh sesepuhnya membuat perahu secara magis di dalam perut Bumi. Sawerigading membuat perahu ini demi perjalanan ke negeri Tiongkok untuk mempersunting Puteri Tiongkok yang cantik jelita, We Cudai.
āWhy stories about great man travelling far away always involve a beautiful woman?ā Lars memotong ceritaku. Aku tetap lanjut bercerita tanpa menjawab.
Setelah berhasil mempersunting We Cudai, Sawerigading berlayar kembali ke Luwu. Pelabuhan sudah di cakrawala ketika gelombang besar datang menghantam, tidak membuatnya karam tapi membelahnya menjadi tiga bagian. Bagian-bagian kapal tersebut lalu terombang-ambing lautan menuju selatan. Di Pantai Ara terdampar badan perahu, tali temali dan layar di Tanjung Bira, dan sotting perahu terdampar di Tanah Lemo. Oleh seorang bernama Phinisi, sisa-sisa kapal ini disusun kembali dengan bantuan ketiga desa. Phinisi jugalah yang katanya mendesain tujuh layar: tiga yang kecil di ujung depan, dan dua tiang besar (tiang soko guru) di tengah-tengah masing-masing dengan dua layar. Semenjak itu, di tiga desa orang Konjo (sub etnik Bugis) inilah perahu-perahu Phinisi terbaik dibuat.
Sedangkan menurut banyak sejarawan dan pakar maritim, kemungkinan besar bentuk Phinisi selalu berubah mengikuti jaman. Berkaitan juga dengan sifat bangsa ini, terutama yang di bagian pesisir, yang cenderung eklektik, desain perahu Phinisi terpengaruhi oleh Jong Jawa, perahu-perahu Cina, Dhows Arab sampai ke kapal-kapal dagang-militer Portugis dan VOC abad 16 Masehi.
Orang Bugis dan Makasar mempunyai banyak jenis kapal dan perahu lainnya tapi mengapa Phinisilah yang selalu terdepan di lidah anak Nusantara. Bisa dibilang pengarungan pelaut-pelaut ini dengan perahu jenis Soppe* sampai ke timur jauh lebih sinting jika dilihat dari begitu sederhananya perahu ini. Atau Paādewakang-nya orang Makasar yang pada abad 16-17 Masehi sudah mencapai pesisir utara benua Australia untuk berburu tripang dan timun laut. Mereka membangun rumah temporer, menjalin hubungan dagang dengan suku-suku Aborigin. Beberapa suku Aborigin Australia utara sampai sekarang masih mempercayai bahwa nenek moyang mereka datang dari laut dengan perahu magis yang tidak menyentuh air ketika berlayar.
Satu yang sudah pasti jadi alasan kenapa Phinisi lebih terkenal dibanding model-model kapal lainnya adalah daya jelajahnya yang paling jauh. Sejarah mencatat, Phinisi berlayar sejauh India bahkan kemungkinan sampai ke Madagaskar. Dari sinilah bergulir banyak torehan āprestasiā Phinisi lainnya dalam mengarungi lautan Hindia-Pasifik. Termasuk āprestasiā merompak yang legendaris.
Melihat Phinisi secara langsung, baik yang masih dalam penggarapan ataupun yang sudah melaut, aku merasa ada alasan lain kenapa Phinisi begitu populer. Bayangkan di abad-abad lampau, ketika denyut nadi Nusantara ini adalah perdagangan maritim. Dimana pusat-pusat peradaban mayoritas berada di pesisir, di kota-kota pelabuhan. Di Banten, Makasar, Batavia, atau Malaka berjejer ratusan kapal dari macam-macam jenis dan daerah sejauh Arab, Cina dan Eropa.
Lalu bayangkan beberapa perahu Phinisi datang ke pelabuhan ramai ini. Dengan gagah tapi lembut pelan berselancar di permukaan, layar-layarnya bagai menyayat langit biru, Phinisi dengan rupanya yang melankolis, tapi siapapun tahu bahwa perahu gagah kokoh ini berbobot 50-100 ton, mencari sandar di pelabuhan, di tengah-tengah perahu dan kapal lain yang kuncup layar tanda malu. Aku merasa bahwa pamor Phinisi salah satunya dikarenakan gatranya yang estetik, simbol keperkasaan di laut sekaligus juga kelenturan dalam berdagang.
Dengan kata lain Phinisi adalah magnum opus-nya manusia Bugis-Makasar dalam berbudaya dari segi guna dan juga citra, sebuah perpaduan efisiensi fungsional dan elegansia bentuk. Wujud pengekspresian roh dan jiwa manusia Bugis-Makasar atas tubuh dan perpanjangan tubuhnya. Salah satu bukti Pulchrum Splendor est Veritatis*.
Lars mengangguk-angguk mendengar ceritaku sambil meracik sarapan kami, bubur gandum yang ia padukan dengan air, sereal dan susu kental manis. Dia sangat detil dan presisi dalam meracik sesuatu yang bagiku tidak begitu penting. Hampir terlihat seperti sebuah ritual yang sering kali menuntut kesabaran ekstra dariku.
Dari hasil pembicaraan dengan beberapa pemuda Konjo selepas sarapan pagi, ritual jugalah yang membuat Phinisi, Phinisi. Ritual yang dimulai dari proses pemilihan kayu sampai ke proses peluncuran ke laut. Aku sudah tidak ingat lagi semua proses-proses ini karena terlalu ngejelimet. Ujung balok kayu jenis ini harus menghadap mata angin itu karena melambangkan kewanitaan atau kepriaan, pemotongan bagian ini harus di bawah jam sekian karena sebab yang aku lupa, kapal dengan berat sekian berarti kurbannya adalah kerbau bukannya kambing, dan sebagainyaādan seterusnya.
Terlalu banyak untuk kuingat, bahkan aku berhenti menerjemahkan proses-proses ini ke Lars setelah beberapa kalimat. Jika ada satu yang aku ingat adalah: ketika proses pemilihan kayu, orang Konjo dan Bugis hanya memilih pohon yang dengan sukarela ingin ditebang untuk kayu perahu. Seperti halnya sumbangan sukarela di lingkungan RT, sukarela tidak berarti betul-betul sukarela bagi pohon-pohon ini, upacara dan kurban harus dilakukan untuk membujuk pohon-pohon agar ingin ditebang. Dalam esensi, agar pohon-pohon ini mau diubah bentuknya, dipindah tempat hidupnya, dan yang terpenting siap menjadi ruh kebudayaan orang Bugis.
Pemuda-pemuda Konjo ini lalu membawa kami ke calon kapal pesiar yang sudah 95% kelar. Jelas bukan kapal Phinisi asli karena layarnya hanya kosmetik yang diragukan oleh salah satu krunya sendiri dalam kemantapannya mengarungi rute Labuan Bajo-Raja Ampat nanti. Rute ini berarti melewati laut Banda yang terkenal ganas, tidak mungkin jika mengandalkan layar kosmetik dan kru tidak berpengalaman. Bentuknya juga dirubah untuk mengakomodir 9 kamar untuk dua orang lengkap dengan AC, kamar mandi dan spring bed. Sejajar dengan dek kemudi juga disediakan ruang karaoke yang bisa menampung 20-an orang. Di buritan perahu tersedia platform untuk menyelam berikut dengan alat-alatnya.
Walau tidak lagi asli Phinisi dan lebih mengandalkan mesin motor ketimbang layar, kapal ini tetap cantik luar biasa. Bahenol di bagian buritan, hidung mancung dan pilar-pilar layar yang untuk alasan tidak aku ketahui terasa berada tepat di tempatnya, tulang dari kayu Besi dan Welengreng, otot dari kayu Bitti dan juga kulit dari kayu Jati, kapal yang bernama Seamore Papua* ini siap memikat hati para tamu-tamu asing.
Sekarang memang tidak banyak perahu yang dibangun untuk keperluan melaut mencari ikan, mengirim kargo atau sekali-kali merompak. Bahkan menurut Horst Liebner, seorang ahli maritim yang sudah puluhan tahun tinggal di Sulawesi, sudah tidak ada lagi Phinisi yang betul-betul asli berlayar tanpa mesin. Kebanyakan perahu-perahu Phinisi yang besar dibangun untuk keperluan pesiar kaum-kaum jetset asing dan dalam negeri.
Dengan biaya pembuatan 3-4 miliar untuk perahu seberat 150 ton, tentu hitungan bisnisnya lebih menguntungkan jika Phinisi dipakai untuk keperluan parawisata. Tugas Phinisi sekarang ini ternyata cukup berhasil untuk sekedar tetap menjaga tradisi dan ritual-ritual membangun perahu Phinisi dan tradisi hidup dari laut bagi orang Konjo*. Hampir semua pemuda Konjo yang aku temui ājuga saudara dan teman pemuda-pemuda yang aku temui - entah bekerja sebagai pembangun kapal, anak buah kapal (ABK) di kapal apa saja bagian apa saja, nelayan atau yang paling menantang dari semuanya, penyelam kompresor.
Jika suami Ibu Elis sudah lumayan nyaman bekerja sebagai kepala mesin di sebuah kapal ekspedisi rute Bitung-Banggai, berbeda dengan sepupunya yang bekerja sebagai penyelam kompresor di Flores dan Buton. Penyelam kompresor mungkin adalah cara mengumpulkan hasil laut paling berbahaya. Tidak main-main, penyelam kompresor bisa menyelam sampai kedalaman 40 meter di bawah laut untuk mengambil timun laut, tripang, lobster, kadang mutiara atau apa saja yang bisa dijual hanya dengan bantuan pernapasan selang lentur yang terpasang ke kompresor setengah karatan di atas kapal. Sering kali belasan orang bisa menyelam dalam waktu yang bersamaan, dengan menaruh nyawa di kompresor yang sama terhubung ke mulut para penyelam lewat belasan selang yang kusut. Jika sirkulasi udara yang dihasilkan kompresor mengalami gangguan ketika penyelam-penyelam ini berada di bawah kedalaman 20 meter saja, fatal akibatnya. Karena semakin dalam penyelaman semakin banyak nitrogen yang diperlukan tubuh.
Sebagai seseorang yang juga menyelam (bebas atau scuba) aku tahu betul resiko terbesar menyelam dalam waktu lama, The Bends. The Bends adalah penyakit dekompresi karena terekspos terlalu lama oleh nitrogen dan/atau bisa juga terjadi ketika kembali ke permukaan terlalu cepat. Nitrogen yang terlarut setelah penyelaman membentuk gelembung udara yang menyumbat aliran darah dan mengganggu sistem syaraf pada tubuh. Semakin sering terkena The Bends, semakin kecil kemungkinannya untuk sembuh total. Dan nyeri yang diakibatkan The Bends sangat menyakitkan sehingga dapat membuat banyak laki-laki pemberani ini menangis ngeri di malam hari.
Sepupu Ibu Elis juga sepertinya sudah terkena The Bends beberapa kali. Walau setiap terkena The Bends dia berusaha menyembuhkannya dengan kembali ke dasar laut dan lalu salah satu teman memijatnya di permukaan, tetap saja di malam-malam tertentu kaki, punggung dan tulang belakangnya terasa nyeri-perih, yang harus dihilangkan dengan berjalan kaki ratusan meter sambil merenggangkan otot dan tulangnya. Sayangnya, ini hanya sementara. Esok, lusa atau satu minggu ke depan nyeri-perih ini akan datang menghantui lagi. Pemuda ini baru 27 tahun.
Kami kembali ke ruko panggung Ibu Elis untuk berpamitan dan melanjutkan perjalanan tapi ternyata Ibu Elis belum pulang dari pasar. Usut punya usut, Mona, anak bungsu Ibu Elis berumur 3 tahun merengek minta dibelikan batu akik. Akan aku ketahui nanti bahwa demam batu akik di Sulawesi jauh lebih panas daripada di Jawa. Sepanjang Makasar sampai Manado, penjual batu akik dapat ditemukan dimana saja dengan pembeli dari kakek-kakek sampai balita, nelayan kecil sampai Wakil Presiden negara ini.
Sembari menunggu Ibu Elis kami lanjut bercakap-cakap dengan pemuda-pemuda setempat yang lain. Aku terkadang menerjemahkan bagian-bagian penting dari percakapan ke Lars. Maklum, kemampuan berbahasa Indonesianya masih jauh untuk bisa bercakap-cakap lebih dari sekedar menawar barang atau membeli makan. Dengan kemampuan berbahasa Indonesiaku saja, jika aku dapat menelan 80-90% dari percakapan ini, karena adanya rentang dialek dan aksen di antara aku dan orang lokal, itu sudah bagus.
Dari percakapan kami, aku mendapati bahwa sekarang-sekarang ini jabatan kapten kapal sudah sangat jarang diemban orang-orang Bugis atau Makasar. Orang Jawa, Madura, Melayu dan yang paling unik adalah orang Manado (Minahasa) mulai memadati pasar kerja kapten kapal di nusantara. Lebih jarang lagi adalah kapten-kapten kapal yang masih memakai ilmu-ilmu navigasi tradisi turun temurun orang Bugis.
Tidak seperti ritual dan tradisi pembuatan perahu yang sampai kini aman dibilang masih terjaga, ilmu navigasi orang Bugis-Konjo sudah hampir hilang. Dulu, orang-orang Bugis adalah navigator laut nomor satu di Nusantara. Mampu membaca ombak, langit bahkan gerakan ikan, kotoran burung sampai ke petunjuk-petunjuk di rumput laut pun bisa mereka pakai untuk bantuan navigasi. Dengan ilmu ini mereka menyebarkan diri seantero pesisir Nusantara. Di semua pesisir Sulawesi, Maluku dan Kalimantan, pasti ada orang Bugis.
Sekarang kebanyakan dari mereka sudah memakai alat-alat modern yang sebetulnya juga bermasalah jika disebut modern, karena kebanyakan alat-alat ini diproduksi puluhan tahun lampau dan sudah nyaris obsolit. Sepertinya, apa yang dua bersaudara petualang asal Inggris, Lawrence dan Lorne Blair, tulis 30 tahun silam masih terjadi saat ini di pelaut-pelaut Bugis.
āThe Bugis had fallen between two sciences, forgetting the old before they had mastered the new.ā
Tapi selalu ada secercah harapan tersisa, seperti cerita tentang seorang Haji (yang dengan sesal aku lupa namanya) dari desa sebelah yang terakhir pergi naik Haji ke Mekah pada tahun 1980-an dengan mengarungi laut memakai perahu Phinisi tanpa mesin diesel. Pemuda yang satu bilang Haji ini pergi sampai ke Arab, sedangkan pemuda yang lain buru-buru mengoreksi mengatakan bahwa si pak Haji hanya melaut sampai India lalu melanjutkan perjalanan lewat darat, karena kesehatan istrinya semakin menurun selama di laut. Banyak yang bilang istri pak Haji sakit karena melanggar tradisi yang melarang perempuan turut pergi melaut.
Sebagian besar kru perahu itu kini sudah tua dan bercucu, sedangkan pak Haji sendiri sudah meninggal. Anak sulungnya, yang juga sudah Haji, kini menjadi pengusaha pembangun kapal Phinisi di desa yang sama dan menurut cerita, pak Haji menurunkan semua ilmu lautnya kepada si anak. Akankah ilmu ini dipakai oleh sang anak lalu diturunkan lagi ke generasi berikutnya? Ataukah ilmu ini akan hilang sejalan majunya bisnis konstruksi perahu Phinisi wisata pesiar miliknya? Pertanyaan-pertanyaan yang agak depresif namun menarik.
Modernitas dengan bermacam-macam senjatanya sedikit demi sedikit mengikis tradisi dan kultur lokal lalu menukarnya dengan nilai-nilai dan cara-cara yang sedikit banyak lebih homogen. Seperti sebuah imperium dengan kaisar kasat mata, cara hidup manusia Indonesia yang katanya heterogen penuh diversitas ini sudah terlihat sama satu dengan yang lainnya jika kita menengok kehidupan di lingkungan urban dan semi-urban. For better or worse.
Pada kondisi apakah ini demi sesuatu yang lebih baik dan kapan juga untuk yang lebih buruk? Ketika tradisi dihadapkan oleh imperium modernitas dengan cara apakah ia bisa menang? Atau bisakah keduanya hidup saling berdampingan dan sama-sama mengalah? Jika bisa, aspek-aspek apa dari tradisi yang ditinggalkan dan nilai-nilai apa dari modernitas yang dipungut? Pertanyaan-pertanyaan ini hidup terus sepanjang perjalananku dari ujung selatan Sulawesi sampai ujung utara. Pertanyaan-pertanyaan ini juga hidup terus dalam keseharianku, bahkan bisa dibilang, sadar atau tidak sadar, hidup terus dalam keseharian setiap manusia Indonesia kontemporer.
*Soppe dan varian namanya dipakai hampir semua etnik-etnik pesisir Nusantara. Dengan perahu sederhana inilah kebanyakan perdagangan, penaklukan, mencari ikan dan pada akhirnya penyebaran manusia dilakukan. Dari semenjak dua millennium lampau, nenek moyang bangsa ini sudah mengarungi laut dengan perahu bercadik ini.
*Pulchrum splendor est veritatis diambil dari filsuf dan teologis abad pertengahan, Thomas Aquinas, yang berarti: Keindahan adalah cerlang kebenaran.
*Seamore Papua akan dipergunakan sebagai Live on Board type of cruise ship. Aktifitas utamanya adalah diving. Setelah mengetahui kisaran harga per orangnya selama 9 hari, aku dan Lars melakukan hitung-hitungan kasar dan ternyata, tanpa maksud promosi, harganya cukup masuk akal.
*Bahkan sekarang di Tanah Beru kulihat juga ada satu-dua kapal-kapal tipe schooner Eropa atau Dhows Arab yang sedang dibangun.
Kronik Perjalanan Sulawesi 1 (Bira-Tana Lemo)
Kronik perjalanan yang sering tidak kronologis ini saya tulis selagi dan setelah perjalanan saya dan teman asal Jerman di Sulawesi. Kami berangkat dari Jogja ke Surabaya untuk terbang ke Makasar. Dari Makasar, awalnya kami tidak punya rencana yang pasti akan kemana, tapi akhirnya toh berakhir di ujung timur laut pulau Sulawesi, Manado. Dari ujung barat daya ke timur laut kami singgah di Tanjung Bira, Tanah Lemo, Bulukumba, Watampone (Bone), Sengkang, Palopo, Rantepao, Poso, Ampana, Pulau Kadidiri, Pulau Una-una, Pulau Selaka, Wakai dan akhirnya sebelum Manado, Gorontalo. Ā Perjalanan yang mengesankan bagi kami berdua. Kami berangkat dengan banyak pertanyaan dan pulang dengan lebih banyak pertanyaan lagi.
Nenek Metal dan Supir Truk
Kami menunggu dua mie goreng pesananku di depan ruko panggung, begitu aku perlu menyebut rumah panggung yang bagian bawahnya dijadikan toko kelontong, di Tanah Lemo, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Awalnya kami hanya berhenti untuk membeli air mineral dan bertanya tempat baik untuk kemping. Ibu Elis, si pemilik toko berbaik hati menawarkan pos bisa dibilang, atau semacam gardu, di depan ruko panggungnya untuk bermalam setelah seharian penuh berjalan kaki mengelilingi daerah pantai Bira dan Tanah Lemo, atau sering juga dikenal sebagai Tanah Beru.
Ruko panggung Ibu Elis terletak 5 meter dari garis pantai. Pantai yang sama dimana orang-orang suku Konjo membangun kapal Phinisi yang terkenal seantero Asia bahkan dunia itu. Kapal yang membawa nama Bugis disegani karena keulungannya dalam melaut, ditakuti karena reputasinya sebagai perompak lihai. Begitu ditakutinya orang Bugis sampai-sampai ada yang bilang bahwa kata boogeyman berasal dari kata Bugis. Begitu lihainya orang-orang Bugis merompak kapal-kapal dagang abad-abad lampau, mereka dapat masuk ke dalam kapal di tengah malam, mengambil muatan kapal di tengah laut tanpa disadari oleh kru kapal yang sedang tidur. Seperti mahluk alam mimpi yang bergerak dalam batas nyata dan ilusi.
Peran mereka tidak sedikit dalam sejarah Indonesia dan juga misalnya sejarah sains modern. Alfred R. Wallace menumpang kapal Phinisi ketika ia ke Aru untuk mencari Cendrawasih untuk dijual ke Eropa dan lalu ke Ternate tempat dimana ia menuangkan sebagian besar pemikirannya tentang evolusi flora dan fauna khususnya seleksi alam.
Tapi sebentar, cerita mengenai orang Bugis dan Konjo juga perahunya harus berhenti sejenak. Ada sejumlah anak-anak mengerubungi kami. Momen seperti ini akan sering terjadi sepanjang perjalanan kami dari Makassar ke Manado karena kali ini aku berkelana bersama temanku dari Jerman, Lars. Pirang, 194 cm, putih pucat, penuh brewok dan kumis, sudah pasti dia terlihat seperti alien bagi anak-anak ini. Apalagi kami kerap keluar ājalur turisā pada umumnya dan bertandang ke daerah-daerah yang jarang atau bahkan mungkin tidak pernah dilalui turis asing. Aku melihat momen-momen ini layaknya seperti kebun binatang. Anak-anak mengamati, meneliti si Jerapah Albino dan aku pawangnya.
Arsan, salah satu dari mereka, membawa serta buku pelajaran bahasa inggrisnya, atau untuk lebih tepat dan sesuai dengan apa yang tertulis di sampul buku ini, Buku 3 Bahasa: Indonesia, Inggris dan Arab. Arsan berusaha menghapal dan dengan malu-malu merapal kalimat perkenalan bahasa inggris. Beberapa menit ditunggu, Arsan juga masih belum berani mengutarakan kalimat-kalimat yang sedari tadi sudah dirapalnya tanpa bersuara. Aku mencoba menyikut sedikit keberaniannya dengan mencontohkan dan membiarkannya menyelesaikan sendiri satu-dua kalimat. Setelah itu, Arsan akhirnya dapat mengucapkan beberapa kalimat bahasa Inggris yang lalu dijawab oleh Lars. Ada kebanggaan di simpul mata Arsan, yang kuharap akan dapat membantunya di kemudian hari dalam belajar bahasa asing.
Aku yakin kebanggaan dan kepercayaan diri yang Arsan dapatkan malam ini setidaknya akan lebih membantu daripada buku 3 Bahasa ini. Buku penuh eror yang dijejali oleh hal-hal tidak penting juga tidak konstruktif ini. Contohnya: ada bab khusus kalimat-kalimat percintaan seperti: āYou are the only one for meā, āI found someone elseā, atau āIām not jealous.ā Bayangkan anak umur 10 tahun berlagak seperti Barney Stintson di serial How I Met Your Mother mengucapkan I found someone else ke gadis seumurannya. Lucu, tapi juga mengkhawatirkan.
Contoh yang lain adalah banyak istilah-istilah konseptual abstrak yang terlalu berat untuk anak seumuran itu. Dari fate, ecclesiastic, sin, apocalypse sampai ke adultery yang diterjemahkan ngawur ke āharamā. Seandainya adultery itu artinya haram maka aku kasihan ke anjing. Sudah diharamkan, dituduh berselingkuh pula.
Dan untuk remedy kecapekan kami di malam yang indah ini, ada si nenek metal. Semoga gambar nenek metal di bawah ini menghibur anda sebagaimana menghibur kami di malam itu. Seandainya salah satu nenekku semetal nenek di gambar ini sudah pasti keluarga kami jadi keluarga selebritis.
Setelah selesai tertawa tersedak mie goreng, aku menemani teman-teman cilik baruku ini bermain bola. Karena kami hanya berlima, aku ajarkan mereka el rondo dalam bahasa Spanyol, atau bola kucing, istilah yang kami sepakati bersama malam itu. Rondo sangat mudah dimainkan dan sangat membantu dalam mengusai dasar-dasar sepakbola. Mengoper, menjaga bola, merebut bola dan koordinasi posisi diasah dalam permainan rondo. Pemain-pemain Barcelona dikenal kerap bermain rondo dengan kecepatan luar biasa di kala sesi latihan.
Buatku, lumayan juga untuk cari keringat senang di malam hari. Padahal sepanjang hari sudah panen keringat dari berenang, menyelam dan berjalan berkilo-kilo di terik matahari. Untungnya tadi sore kami tidak perlu berjalan 30 km seutuhnya dari pantai Bira ke Tanah Beru karena kami menemukan tumpangan dalam bentuk pickup pembawa furnitur dan juga truk pasir. Oh, truk pasir! Jangan pernah menumpang truk pasir!
Aku tetap tidak akan menarik kata āuntungnyaā di atas karena jika bukan karena kebaikan pak supir truk pasir, kami harus menghabiskan malam di tengah hutan atau berjalan berkilo-kilo ke rumah terdekat.Ā
Ceritanya, setelah berjalan kaki dan berusaha mencari tumpangan macam apapun selama satu jam, kami tidak dapat menemukan satupun kendaraan sampai datang pickup bermuatan furniture-furnitur bekas dan baru. Karena Lars butuh ruang yang lebih besar daripada manusia normal dan pickup ini miskin ruang kosong, maka aku harus duduk berhimpitan dengan tasku sendiri di dalam satu lemari baju. Pickup tidak mengantar kami sampai jauh. Masih ada puluhan kilometer lagi ke Tanah Beru dari pertigaan dimana kami diturunkan.Ā
Ketika berada di pertigaan itu kami sejujurnya tidak ada rencana hendak bermalam dimana. Kami hanya menunggu kendaraan apapun yang lewat dan ikut kemanapun mereka pergi. Jika ke utara, mungkin Appalarang akan jadi tempat singgah kami. Jika ke barat maka Tanah Beru lah tempat bermalam kami. Hari sudah semakin gelap, berulang kali Lars menengok ke arahku dengan muka penuh tanda tanya. Berulang kali jugalah aku menunjukkan muka āIām not the master of universe, dude!ā Sampai sebuah truk pasir datang dengan kencang menuju arah utara. Di pertigaan, dengan kepala dan badan truk sudah menghadap ke utara, truk itu berhenti.
āPak, kami numpang boleh pak?ā ujarku kepada kenek truk. āBoleh, loncat saja ke belakang. Kita* mau kemana?ā tanya balik bapak itu.
(*kamu dalam bahasa Indonesia dialek Sulsel)
Tiba-tiba aku lupa nama tempat di sebelah utara itu. Dan yang teringat hanya Tanah Beru.
āTanah Beru Pak!ā jawabku setengah tidak yakin.
Truk kemudian setengah memutar arah dan menuju arah barat. Ketika itu aku baru betul-betul sadar kalau aku baru saja mengubah trayek truk pasir ini dari utara ke arah barat. Ke arah Tanah Beru.
Dan mungkin karena sebab ini juga si supir merasa harus tancap gas di jalanan bertanjakan-turunan yang berkelok-kelok. Kami di belakang kesulitan untuk menyeimbangkan diri. Duduk atau jongkok memang sangat membantu tapi itu berarti kami menaruh muka kami lebih dekat ke pasir-pasir yang ikut naik-turun-kelak-kelok di udara. Setelah mencoba berbagai kombinasi gerakan termasuk merapat ke bagian depan truk sambil menutup muka dengan topi tapi tetap gagal pewe, aku berimprovisasi untuk memasukkan kepala ke dalam tas keril dan menutupnya kencang-kencang sambil berpegangan ke besi badan truk bak seekor burung onta yang ketakutan.
āSudah sampai kita. Ini Tanah Beru,ā kata Pak Supir bertepatan dengan berhentinya truk.
Aku mengeluarkan kepala dari tas keril dan mendapati ternyata Lars juga memakai jurus burung onta yang sama. Kami turun dari truk dengan baju yang seperti dirajut oleh pasir, kulit dan setengah rambut terlihat seperti diberi efek grayscale dan jangan tanya tentang kondisi tas keril kami.
Sebelumnya, dalam perjalanan dari Makasar ke Bira kami juga menumpang beberapa kendaraan. Tidak mudah mencari tumpangan gratis jika kami mulai memberhentikan kendaraan dari dalam kota Makasar jadi kami sengaja berjalan dulu ke arah luar kota. Ketika sudah di luar kota pun masih tidak mudah karena masih banyak pete-pete (sebutan angkutan umum di Sulsel) dan angkutan umum lainnya. Mobil-mobil pribadi tentu mengira kami berusaha memberhentikan pete-pete di belakang mereka ketika kami menjulurkan, melambaikan tangan sampai kadang kami harus loncat-loncat. Seandainya salah satu dari kami adalah seorang wanita cantik, tentu dengan sekali loncat kami sudah dapat menghentikan total segala macam trafik di jalan mana saja.
Kendaraan pun mayoritas berlari lebih cepat di jalur luar kota jadi waktu respon mereka sangat pendek dari melihat kami, menangkap maksud kami, memutuskan untuk memberi tumpangan dan lalu pada akhirnya berhenti. Kesempatan terbaik selalu adalah truk. Truk pada umumnya berjalan lebih lambat dan para supir truk sudah lebih terbiasa di jalanan, jadi lebih cepat mengambil keputusan. Dari beberapa kali menumpang sepanjang perjalanan Sulawesi ini, lebih dari setengah kendaraan tumpangan adalah truk.
Kendaraan tumpangan kami pertama kali juga adalah truk. Truk pengangkut solar dengan tulisan besar-besar āDilarang Menumpangā di badan pintunya. Kabin truk ini luar biasa luas dengan tempat tidur kenek di belakang kursi supir. Tetap sangat cukup untuk empat orang beserta dua tas keril super besar berikut tenda. Si supir merancang dan mendekorasi kabin menjadi ruang yang sangat personal baginya. Berbagai macam boneka, stiker dan barang-barang pribadi terlihat di dalam kabin ini. Aku rasa ini adalah caranya untuk tidak dimakan jalanan dengan menjadikannya rumah kedua sepanjang 20 tahun dilakoninya pekerjaan ini.
āKita harus kenal dengan truk sendiri Mas. Kenal dengan jalanan juga, tapi lebih penting kenal dengan truk sendiri dan akrab dengannya,ā kata si supir kepadaku ketika ditanya cara paling efektif menghindari sesuatu yang tidak diinginkan di jalanan.
Kami masih harus menumpang dua mobil pribadi lagi dari tempat truk ini menurunkan kami untuk sampai ke pantai Bira. Sesampai di Bira kemarin malam, kami langsung pasang tenda di bibir pantai pasir putih dan setelah menenggak satu botol bir, kami pergi tidur.
Sekarang juga sudah waktunya tidur untuk anak-anak yang lelah setelah bermain rondo. Di gardu, Lars sedang repot dengan bermacam-macam perlengkapan tidurnya. Aku yang bermandi keringat untuk kesekian kalinya, duduk menulis telanjang dada di pantai yang cukup terang menerima basuhan sinar bulan. Melihat sinar rembulan membentuk gradasi warna yang seperti saling iri satu dengan lainnya, di hadapan awan-awan yang sembarang lewat di depan cahaya, aku teringat seseorang.
Spelling Mee
Kebetulan saya punya nama yang agak libet di lidah dan asing di kuping orang Indonesia. Satu kejadian kemarin ketika menelpon CS perusahaan ekspedisi.
CS: Atas nama siapa mas?
Saya: Adolf Sinaga
CS: A!)$%&@ Sinaga?
Saya: Iya mba. Adolf!
A, Alpha.
D, Doggy.
O, Orang.
L, Lewat.
F, Fan....(berhenti sejenak)
ngikik-ngikik sendiri. Sedangkan si Mba------zonk-------
Queen (the band) is the only group that has had all of its members compose multiple #1 hits, so in addition to the band being inducted into the Rock and Roll Hall of Fame, all four members have been individually inducted into the Songwriters Hall of Fame.
Circus
Our body just ask us to not die, indeed Our body just want to be touched And touch With sparkling morning, a flutter of male bird Scorching coffee fume, and listen to a very light precept, like: Life is a stop for beer along the way -adapted from Sirkus by Goenawan Mohamad
MAAF
Ia tidak bisa hadir di penjara-penjara dendam,
tanpa pintu masa depan dan jendela-jendela masa lalu
Cahaya menerpanya hidup,
Membawa keadilan ke depan pintu
Ā bukan untuk hapus dosa
bukan untuk penerimaan kembali tapi,
justru menebalkan dosa
menegaskan kembali dosa-dosa yang lalu
jika dosa adalah teriakan, maaf adalah gua
Ā Maaf,
dengannya hidup berangkat lagi, berjalan lagi walau,
berjejalan dengan luka dan trauma,
bergandeng erat dengan harapan dan ingatan
hadir dalam ucapan, hidup dalam tindakan
Stupid Japanese Translation Ad
Okay, I found this in Quora and it put me in tears.
Apparently some guy ask about translating some Japanese Manual for CD player. Here it goes.
Apakah pendidikan kita ini ingin mendidik manusia seperti jaman orde baru, mendidik taat pada kekuasaan tetapi tidak pada akalnya sendiri -Ignas Kleden
Photosets: Medan-Sidikalang-Simarlopuk-Samosir
"don't let your happiness depend on something you may lose"
-C.S. Lewis
Petrarch's Sonnet 227
Breeze, blowing that blonde curling hair, stirring it, and being softly stirred in turn, scattering that sweet gold about, then gathering it, in a lovely knot of curls again, you linger around bright eyes whose loving sting pierces me so, till I feel it and weep, and I wander searching for my treasure, like a creature that often shies and kicks: now I seem to find her, now I realise sheās far away, now Iām comforted, now despair, now longing for her, now truly seeing her. Happy air, remain here with your living rays: and you, clear running stream, why canāt I exchange my path for yours?
-Translated by A.S. Kline
Demon
That demon, The one that dancin within you That demon, The one that singin within me We invited him in when we meet We worshipped him even in our sleep We casted him out during love overtime Now he come, uninvited, making it a game This demon, Is the same one as before This demon, Could stay even longer
How do you develop 21st Century Critical Thinking? Awesome infographic to share with staff and discuss via Mentoring Minds.
(via Developing 21st Century Critical Thinkers | Teaching Strategies | Mentoring Minds)
Design Crush
Perhaps, the problem is not the intensity of your love, but the quality of the people you are loving.
Pertanyaan Teknologi Terpenting Abad Silam. Apa gunanya meniup kaset Nintendo?
Di tulisan berikut, saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang sudah ada dalam benak pembaca belasan atau bahkan puluhan tahun silam. Pertanyaan belum terjawab paling berpengaruh dalam hidup saya sendiri. Beberapa filsuf teknologi bahkan menyebut ini adalah pertanyaan terpenting di abad silam. Apakah meniup kaset Nintendo menolongnya?
glitch di mario bros
Pernah dong, lagi asyik main Mario Bros tiba-tiba hal di atas terjadi? Glitch, sebutannya kini. Dulu, āerror kasetnya nih Sobirin.ā Lalu apa yang kita lakukan? Mengeluarkannya, meniupnya dengan (harus) satu hembusan nafas, memasukannya kembali ke konsol Nintendo, terkadang dengan rapalan. Tidak berhasil? Dilakukan lima sampai sepuluh kali lagi sampai berhasil atau terpaksa ganti kaset.
Nintendo, kala itu menjadi satu-satunya gadget yang saya punyai, selain pianika. Satu saja hampir bikin gagal kelas. Tapi bukan hanya jaman Nintendo (NES), ketika SEGA, Super Nintendo (SNES) muncul sampai ke NES64 ritual ini tidak pernah hilang. Bahkan sampai sekarang saya masih sering lihat orang meniup cakram Bluray. Terpaksa dibilang ritual, karena walaupun terkadang berhasil sering juga tidak berhasil, dan tidak ada yang dapat memberikan penjelasan ilmiah hasil dari percobaan-percobaan empiris.
Penasaran, saya coba keliling mayantara ditemani kuncen Google. Ternyata tidak mudah. Sama sulitnya dengan mencari artikel konsol jaman 80-90an di Kompasiana.
Jadi, para ahli berpendapat bahwa meniup kaset Nintendo (atau konsol lainnya) tidak membantu membenarkan glitch, malahan dalam jangka panjang dapat memperparah. Karena dapat menyebabkan korosi dan patina pada tembaga di pin kaset.
Coba saya elaborasikan. Tiupan kita tidak hanya mengandung angin (yang lembab, apalagi di tropis) tapi juga ludah. Cipratan ludah ini mengandung ribuan bakteri dan tentunya ludah itu sendiri. Yang mengandung air. Air lalu menempel di pin tembaga. Air nempel di pin tembaga (sengaja diulang). Jangankan air, tembaga yang terlalu lama terekspos di udara terbuka saja bisa menyebabkan patina. Patina dan korosi inilah yang akan menyebabkan kaset kita betul-betul selesai masa tugasnya. Sehingga untuk menghemat di kemudian hari, kita lebih gemar membeli kaset gim 10 inwan, atau bahkan 1111 inwan.
Saya yakin para pembaca semua masih perjaka ketika itu, demikian juga saya. Sayangnya di ritual yang ini, kepolosan hati (dan pengalaman sexual) tidak berpengaruh.
Ritual ini terkadang berhasil bukan disebabkan oleh proses meniup. Debu yang dalam imajinasi kita ada dan menempel di pin kaset, besar kemungkinannya sudah terbang dengan sendirinya tanpa ditiup. Justru menambahkan lembab dan air membuatnya jadi menempel. Ritual ini terkadang berhasil ternyata karena perilaku menyopot kaset lalu memasukannya lagi secara berulang-ulang kali. Perilaku ini menimbulkan kesempatan baru secara acak akan terjadinya hubungan yang lebih baik antar kaset dan konsol. Weleh, tuh seandainya dulu kita sudah tidak perjaka, pasti bisa mengambil pelajaran dari hubungan sexual lalu diaplikasikan ke kesayangan kita ini.
Michio Kaku dan Einstein memang benar. Jawaban pertanyaan-pertanyaan sulit di dunia ini harus dapat disederhanakan. Seperti halnya E=MC2 dan Teori Dawai, jawaban dari pertanyaan ini juga dapat kita sederhanakan lagi.
T.I.D.A.K.
Etapi, sebuah jawaban yang baik juga harus dapat menelurkan sebuah pertanyaan yang baru lagi. Pertanyaan yang bisa jadi baru terjawab di generasi yang akan datang. Sebelumnya saya akan bercerita sedikit.
Sebagai anak yang religius, saya selalu mendahului aksi tiup kaset Nintendo dengan berdoa kepada Tuhan Yesus agar sekiranya Ia mau memberkati tiupan saya ini untuk menyembuhkan si kaset. Cerita selesai.
Jadi akhir kata, pertanyaan besar berikutnya adalah: Apakah meniup kaset Nintendo dapat menolongnya jika disertai dengan doa?