Without Jakarta You're Nothing adalah sebuah pesan tentang mimpi akan Jakarta. Jakarta yang lebih memanusiakan manusianya.
ojovivo

tannertan36
★

Origami Around
occasionally subtle
noise dept.

roma★

Kiana Khansmith
Mike Driver

izzy's playlists!
Keni
The Bowery Presents
Monterey Bay Aquarium

titsay
Cosmic Funnies

Jimmy Eat World
Doug Jones

PR's Tumblrdome
RMH
I'd rather be in outer space 🛸

seen from Türkiye
seen from United States
seen from France

seen from United States
seen from Brazil
seen from Venezuela

seen from Brazil
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Saudi Arabia

seen from United States
seen from Senegal

seen from United States
seen from Myanmar (Burma)

seen from United States
seen from Venezuela
seen from Canada

seen from Türkiye
@whatsthestorymerseyside-blo-blog
Without Jakarta You're Nothing adalah sebuah pesan tentang mimpi akan Jakarta. Jakarta yang lebih memanusiakan manusianya.
Jakarta...
Jakarta…
Kota ini tidak akan pernah habis dibicarakan dalam waktu semalam. Semua orang berlomba mencari emas dan berlian di kota ini. Inilah kota yang dipuji sekaligus dihina oleh kalian yang tidak menghargainya. Karena tanpa Jakarta, kalian bukan siapa-siapa.
Tersentak Aku akan keluhan teman-teman di Social Media, mengeluhkan panasnya, macetnya, polusinya, banjirnya, dan bla-bla-bla. Dan tak sedikit yang berucap tak sopan terhadap kota ini. Padahal mereka tinggal disini, makan disini, hidup disini, menikah disini, beranak-pinak disini, dan akan mati disini.
Bukannya Aku sok suci untuk membela kota ini, tapi disinilah tempat Aku besar dan hidup. Dan belum pernah kota ini mengecewakan Aku. Kenapa? Karena disini Aku belajar bagaimana menjadi pribadi yang keras dan tegas. Disini Aku belajar untuk mandiri baik dalam pekerjaan maupun persahabatan. Dan semua itu terbentuk selama 25 tahun Aku tinggal di Kota ini.
Apa yang Aku miliki sekarang adalah berkat kemurahan-hati Jakarta yang selalu mengucapkan Selamat Datang keseluruh pendatang dan enggan mengucapkan Selamat Tinggal. Membuka tempat yang luas untuk kamu beraktifitas dan enggan menolakmu keras-keras. Memberikanmu tempat berlindung dari panas dan enggan memaksamu berbuat yang tidak pantas.
Sebelum kamu memutuskan untuk hidup disini, belajarlah untuk menerima sedikit kekurangan Jakarta sebelum kamu meminta banyak darinya. Belajar untuk menerima macetnya, panasnya, polusinya, dan banjirnya sebelum kamu meminta nafkah darinya. Belajar untuk bersyukur akan apa yang kamu terima, bukan dari apa yang tidak kamu punya.
Dan aku ingatkan, Jakarta tidak pernah meminta kamu untuk datang menemuinya. Melainkan kamu yang mengemis kemurahan hatinya. Karena tanpa Jakarta, kamu bukan siapa-siapa.
@tataadinda
@StnlyB
@dion_arizona
"Banjir itu juga lahir bersama Jakarta, bawaan oroklah," -JJ Rizal
Emang kalo rejeki kagak kemane, tapi kalo lu kaga kemane-mane. Mane mau dapat rejeki-Benyamin S
Kerja Terus Sampai Mati-@13troops
Merseyside-Urban
Jakarta More Story- P. Ramadhan @ndisst
Urban
kadang memang terdengar naïf jika kita tidak terbebani dengan segala ketidaknyamanan di Jakarta yang semakin menyedihkan, bohong besar jika tidak berucap kasar melihat disetiap persimpangan orang mengendarai kendaraannya dengan seenaknya, dusta jika kita tidak berasap melihat semua orang yang dengan seenaknya menyerobot antrian kita, dan masih banyak hal lain baik kecil maupun besar di kota ini yang kadang membuat kita menjadi masyarakat reaktif nanti nya.
Banyak yang datang tp sedikit yang mau pergi, banyak yang hinggap namun tak mau berdiri bersandar kasih bersama sang ibukota yang sedang menangis di ludahi setiap hari, perkaranya hanya ada didalam diri kita masing masing, yaitu karakter sebagai pendatang, sudikah kalian rumah kalian di serakahi tanpa ampun sampai sampai kalian juga tidak mengerti harus berbuat apa, mimpikah kita jika semua yang datang membawa asa tentang keindahan ramah tamah sehingga kita pun santun menyambutnya.
Mungkin kita pernah terdengar nafas berucap, leluhur tanah minang yang berkata, Dimano bumi dipijak, disinan langik dijunjuang, yang arti nya dimana kita bertempat selagi jauh dari kampung kita, hendaklah kita bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar yang kita gauli. Maksudnya mungkin dimana pun kita berada tentu pasti ada cerita nenek moyang tempat tersebut yang sudah melekat dengan penduduk sebelum nya, norma norma kehidupan, jalan hidup, pola pikir yang tentu berbeda dengan yang lain nya, pertanyaannya apakah kita menyadari nya? Pernah menyadarinya dan perlahan melupakannya? Atau tidak mau menyadarinya?
Jakarta seperti sudah terpinggirkan akarnya, semua cerita cerita mereka yang magis dan melegenda, petarung Jakarta yang terkenal hingga negeri kincir angin, perlawanan warga pelabuhan dan perpaduan budaya cina dan arab yang sangat kaya di tanah ini hanya tercerita kalau tidak di tv lokal Jakarta, museum, ulangtahun Jakarta dan sedikit relawan yang masih mau bercerita. Kemana identitas ini? Dan menurut kami Sekarang Jakarta melebihi pulau bertabur emas di timur sana, Jakarta melebihi pulau wisata yang mendunia itu, karena receh pun diperebutkan tanah rapuh ini.
Kami menyadari kami pun pendatang di tanah ini, kami mengais rejeki tengah oksigen kota bernama Jakarta, kami di besarkan di kota ini pula, dan kami di kenal sebagai manusia di kota ini, kami mengenal dunia di kota ini apapun berawal dari sini, apa salah kami yang ingin berkembang maju di kota kami,? Yaaaa.., banyak yang bertujuan sama tapi banyak pula yang jalan nya nya malah menyedihkan adanya. kekerasan, kemunafikan, rasa paling benar dan kuat, menjadikan kota ini menjadi kota si baik dan si jahat, namun si nampaknya si jahat yang akan menang. Dan Lama lama si baik mulai terpengaruh dan mengerti bahwa hidup di Jakarta memang harus jahat sepertinya”mudah-mudahan tidak”. Lalu..dan begitulah seterusnya.. tapi coba lah melihat sejenak si jahat nampak nya sudah mulai tergambarkan kemana mereka akan berjalan, contoh kecil nya mereka ormas dan kaum urban socialita, . kekerasan ala kampung dan kekerasan modern, monopoli gaya orang gunung dengan monopoli kaum elite yang semakin kesini semakin berkesinambungan dan saling memanfaatkan. Sementara warga bersih yang hanya ingin bahagia dengan penuh cinta tergerus dan tertekan di tekan si jahat.
Dan yang mengharukan orang baik itu adalah warga dengan tanah tumpah darah mereka Jakarta dan orang jahatnya adalah pendatang . Urban bercerita jeritan warta asli yang semakin tidak di hargai, itu saja, tidak ada niat untuk membenci siapa pun, namun urban ingin seperti memanifestokan bahwa seperti ini lah keadaan nya, hargai kalian bertempat, hargai nafas kalian dengan saling menghargai satu sama lain dengan menjabat perbedaan dengan langkah ikhlas dan senyuman, kami hanya ingin melihat anak cucu kami juga besar di kota yang sama seperti orang tua nya, besar di tempat yang besar dengan watak yang kuat, kami rasa kami sama seperti kalian, #regard #positive
Ini kotaku sedari dulu… Kujaga selalu… Jangan kau hina ini kotaku terserah orang berkata apa… Sudah cukup sabar ku melihat, banyak yang terjebak :”)
@anggaltsng
@ahwazisaputra
@pncgope
Jakarta, Derap Langkah Tiada Henti
Deru ombak mungkin masih terdengar keras menghantam pesisir hingga ke kota ketika JP Coen menuliskan surat yang dituliskannya untuk Raja Belanda. Surat yang berisi permohonan untuk segera mendatangkan orang-orang ke tanah jajahannya ini. Sebuah daerah yang waktu itu bernama Jaccatara, ya di tahun 1619. ***
Pada 1623, Gubernur Jenderal Jan Pietersz Coen menulis bahwa membangun tanah jajahan di Hindia Timur (Asia) hanya dapat dilakukan apabila secepatnya didatangkan kapal-kapal yang berisi penuh orang dari Belanda. JP Coen tidak sabar karena empat tahun sesudah menaklukan Jaccatra, pertumbuhan penduduk dan kota terasa sangat lambat. Ia mulai membangun kota diatas puing-puing Jayakarta, Coen banyak memerlukan budak untuk membangun kota tersebut. Batavia dibangun dekat dengan muara sungai Ciliwung, desain kota yang akan dibangun Coen menyerupai kota-kota yang berada di Netherland dengan kanal-kanal yang membelah kota dan pohon-pohon rindang di samping kanan dan kirinya. Awalnya sebelum diberi nama Batavia, kota yang di bangun Coen ini bernama New-Hoorn, kemudian diganti menjadi Batavia.
Jakarta bukan kota yang dibangun dalam semalam, namun sebuah proses berkesinambungan beberapa ratus tahun yang entah terintegrasi atau tidak. Di eranya konon kemasyuran kota ini disamakan dengan Amsterdam dari Timur karena keindahannya, begitu banyak orang eropa datang berkunjung untuk melihat tempat ini. Sisa-sisa kejayaan Batavia dan Landmark Jakarta tempo dulu masih berdiri hingga saat ini di sudut-sudut kota dan sisanya harus berakhir menjadi bangunan atas dasar fasilitas umum, entah pihak mana yang disebut umum, mungkin cukong-cukong properti.
Salah satu landmark yang berakhir tragis adalah Stadion Menteng, Lapangan ini mungkin salah satu di antara lapangan sepakbola tertua di Jakarta. Dibangun pada 1920-an oleh Voetbalbond Indische Omstreken Sport (VIOS). VIOS adalah nama klub sepakbola Belanda di Batavia, hingga lapangan ini pada masa penjajahan Belanda dinamakan Viosveld atau lapangan Vios. Dibangunnya lapangan ini saat banyak berdatangan warga Belanda ke Indonesia disertai keluarga. Di Indonesia, orang Belanda baik indo maupun totok, dikenal gila bola. Sejak abad ke-19 bangsa Indonesia sudah mengenal sepakbola. Pramudya Ananta Toer dalam buku ‘Bumi Manusia’ menceritakan kisah para pelajar HBS (SMA sekarang) di Surabaya saat memperingati pelantikan Ratu Wilhelmina dengan pertandingan sepakbola.
Menilik ketragisan Stadion Menteng, hal yang sama mungkin sedang ditunggu oleh Stadion Lebak bulus. Memang Stadion Lebak Bulus dibangun puluhan tahun sesudah Viosveld dan jauh dari kata kuno, logikanya sederhana, jika yang bersejarah saja diratakan maka jangan berharap banyak dengan yang baru dibangun “kemarin sore”. Satu hal yang perlu dicermati adalah tidak adakah blue print jangka panjang kota ini? Sama seperti kisruhnya galian lubang pinggir jalan mungkin. Kota ini mungkin terus memodernisasi dirinya, segala hal berkembang dan maju. Tapi alangkah pandirnya warga kota ini jika gedung-gedung bersejarah diratakan atau minimal teronggok tumpukan sampah di depannya. sense of belonging bukan sesempit menonton bola dan berteriak “gue the real jakartans” tetapi lebih dari itu, rasa itu memiliki dan menjaga setiap hal di dalamnya termasuk STADION!
Sejarawan Henk Niemeijer yang tahunan berkecimpung dalam lautan arsip VOC mengisahkan bagaimana orang-orang belanda dalam waktu panjang secara gigih mengelola ragam etnis bangsa dan aneka agama dan kepercayaan, serta perilaku juga gaya hidup penghuni Batavia dengan suatu sistem pengendalian sosal agar Batavia terkendali.
Jika dikaitkan kepandiran berpikir dan keliaran tindakan sebagian warga kota Jelas bahwa ternyata kita adalah repetitif masa lalu. Penguasa yang hanya mementingkan kekuasaan dan warga yang sulit diatur, dan sejarah menuliskan itu. @veranto
*tulisan dimuat website @jakonline
@ariffalfanto
@roysalakory29
Without Jakarta You’re Nothing
Without Jakarta You’re Nothing
Jakarta Kontrasmu bisu
Jakarta, sebuah kota megapolitan dengan segala kompleksitas masalahnya. Derap langkahnya tiada henti, berputar selama 24 jam non stop, berdenyut seiring harapan dan mimpi yang tergantungkan. Dan melangkah seiring ketamakan penguasa dan kepandiran masyakarat individualis.
Jakarta adalah tungku raksasa peleburan budaya, akulturasi dan asimilasi adalah proses panjang yang terjadi di tanah yang dulunya berupa rawa-rawa dan hutan ini. Lihat bagaimana bangsa moor, China, dan eropa turut memberikan warna budaya di kota ini. Lihat pula bagaimana seorang gubernur Jenderal Batavia mendatangkan budak-budak untuk menggerakan kota agar terus berputar laju ekonominya.
Jakarta adalah tempat mimpi-mimpi digantungkan, jutaan orang beradu nasib mengejar mimpinya di tanah harapan ini. Terselip di gang-gang sempit, termarjinalkan di kolong jembatan, ataupun tersimpan nyaman di gedung-gedung pencakar langit di segitiga emas Jakarta, semua mengejar mimpi disana.
Jakarta adalah beda, tempat dimana jurang-jurang perbedaan menganga dalam, kaya dan miskin beradu rejeki, tempat dimana kendaraan harga milyaran harus berbagi tempat dengan gerobak pengais barang bekas.
Jakarta adalah mental! Tempat penduduknya beradu keras tentang mentalitas, berpikir tentang hidup dan membicarakan bagaimana bertahan hidup. Jakarta adalah Cinta, seprogresiv apapun manusia akan nilai-nilai material di Jakarta, tetap saja membutuhkan cinta. Dan Jakarta adalah cinta dalam spectrum yang beda.
Jakarta adalah emosi tersulut. Sumpah serapah terucap di jalan-jalannya, terdengar lumrah kelamaan. Anjing dan Babi adalah penghuni jalan-jalan Ibukota, “dasar Anjing’! Jakarta adalah kemungkinan tempat menutup mata dan mungkin terkubur di bekas lubang galian kubur orang lain. Dari semuanya satu hal yang pasti adalah, tanpa Jakarta kalian adalah ketiadaan. Demi Jakarta yang memanusiakan manusianya.
*without Jakarta You're Nothing-Jakarta 22 Juni 2014