Kalian tau, dulu ketika mamaku sering mulai sakit-sakitan hingga kondisinya semakin memburuk pun aku tidak pernah sekali pun menangis. Tak sedikit pun tersirat kesedihan apalagi keinginan untuk mengeluh. Bukan karena aku tidak peduli pada mama. Bukan sama sekali.
Waktu pertama kali mama sakit itu sekitar tahun 2006 dan itu aku ingat sekali ketika minggu-minggu terakhir di bulan Ramadhan. Awalnya setelah makan sahur tiba-tiba mama ambruk karena rasa pusing luar biasa yang beliau rasakan dikepala. Hingga akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit dan dirawat. Bahkan sehari menjelang Idul Fitri mama masih di rumah sakit, tapi karena beliau tidak ingin merayakan hari besar itu di rumah sakit, akhirnya mama memaksakan diri ingin pulang. Selama menjaga mama di rumah sakit aku tak pernah terpikir bahwa kondisi ini adalah kondisi yang menyedihkan, entah kenapa aku selalu menjalani semua dengan riang dan tanpa pikiran jelek sedikit pun soal kondisi mama. Justru aku tetap bersikap seperti biasa seolah kita berada di rumah bersama mama. Kita bercanda dan tertawa. Tentu aku sesekali juga meringis disaat-saat ketika pusing mama kambuh. Lalu setelah keluar dari rumah sakit kondisi mama memang tidak bisa dibilang normal atau pulih tapi paling tidak pusing itu tidak begitu terasa berat buat mama walaupun memang mama tidak bisa lagi beraktifitas seperti biasanya.
Lalu ke dua kali beliau “kambuh” dan harus masuk rumah sakit lagi, itu saat aku duduk di kelas IX SMP. Karena kebetulan sekolahku bersebelahan dengan rumah sakitnya, jadi aku berangkat sekolah dari rumah sakit. Pulang sekolah ke rumah sakit lagi. Terus seperti itu beberapa hari selama mama dirawat. Itu sekitar pertengahan tahun 2007. Namun pada tahun berikutnya mama seperti sembuh total. Tak ada lagi sakit itu menghampiri mama. Bahkan ketika aku masuk SMK (sekitar pertengahan tahun 2008), dan mengharuskan orangtua datang untuk wawancara, mama yang datang. Selama satu tahun pertama aku duduk di bangku SMK, aku tak pernah lagi harus tidur di rumah sakit. Mama tidak menunjukan gejala apapun lagi. Beliau beraktifitas normal lagi dan aku kira semua akan terus begitu seterusnya.
Namun tiba-tiba di tahun ke dua aku duduk dibangku SMK, “sakit” itu mulai datang lagi. Kemudian terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya hingga aku mulai masuk kuliah. Memang belum bisa dikatakan parah, karena mama masih bisa untuk sekedar berdiri dan berjalan sendiri. Tapi tetap setiap tahun itu pasti ada waktunya mama harus masuk rumah sakit (seperti sudah menjadi jadwal rutin setiap tahun). Bahkan selama tiga tahun itu, setiap kali lebaran, mama hanya bisa duduk dikursi saja dan tidak bisa berkeliling seperti biasanya. Lalu pada pertengahan tahun 2012 (waktu itu aku sudah kuliah), untuk pertama kali semenjak rutinitas tahunan "keluar-masuk RS” itu, beliau bisa merayakan hari raya Idul Fitri dengan kondisi yang betul-betul sehat. Tak lagi hanya duduk di kursi saat harus bersalaman dengan orang-orang tapi mama bisa ikut berkeliling lagi berkunjung ke rumah-rumah saudara. Tahun itu adalah Idul Fitri paling membahagiakan dan aku tidak pernah membayangkan bahwa itu ternyata akan menjadi idul fitri terakhirku bersama mama karena takdir Allah memang tak bisa kita tebak akan seperti apa.
Pada akhir tahun 2012 mama hamil, kondisinya masih sehat dan baik. Namun pada awal 2013 (saat usia kandungan mama juga mulai masuk bulan-bulan tua) sakit itu kembali menghampiri. Seolah tak pernah lelah datang dan pergi. Seolah tak ada lagi tubuh lain yang ingin ia hinggapi. Kondisi mama semakin memburuk menjelang bulan kelahiran calon adikku. Badannya mulai berkurang beratnya, harus keluar-masuk rumah sakit dengan kondisi perut yang sudah membesar. Berbagai pengobatan alternative sudah kita coba, dan hasilnya nihil. Bahkan sekarang jadi dua orang yang harus diperhatikan, mama dan calon bayinya. Aku dan Bapak (yang memang harus bekerja diluar kota) semakin harus sering pulang mendadak. Izin kuliah dan kerja pun semakin sering. Lalu tepat pada bulan Februari 2013, kondisi mama berada pada puncak terburuknya dan harus terpaksa melahirkan meski belum pada waktunya. Kondisi saat itu adalah kondisi paling mengerikan untuk dibayangkan. Dokter pun berkata tak sanggup dan mama harus dibawa ke rumah sakit yang lebih baik, di Bandung. Namun entah bagaimana, Kuasa Tuhan selalu nyata. Kondisi mama yang tidak memungkinkan melahirkan secara normal, namun ternyata mama mampu melahirkan secara normal dan bayinya lahir selamat. Meski memang harus diberi perawatan ekstra karena kondisi tubuhnya yang kurang stabil. Mama semakin memburuk. Lalu ambulance membawanya kerumah sakit yg dirujukan oleh dokter.
Hari itu hari Rabu, tanggal 20 Februari 2013. Hari yang tak akan pernah terlupakan. Aku tiba-tiba mendapat telpon bahwa mama akan melahirkan namun dengan kondisinya yang semakin memburuk. Esoknya aku pulang dan menyusul ke bandung hari jumatnya kalau tidak salah. Sesampainya di ruangan tempat mama dirawat, aku akhirnya melihat sendiri betapa menyedihkan dan mengkhawatirkannya kondisi mama saat itu. Anak mana pun tak akan tega melihatnya. Tapi aku tak ingin menangis di depannya. Karena mama harus melihat bahwa anaknya adalah anak yg kuat dan hebat. Aku hanya bisa menahan semua perasaan campur aduk itu didalam hati hingga kakiku terasa lemas dan tertunduk disebelah ranjang mama. Beberapa hari aku merawat mama. Tak lagi aku pedulikan seperti apa rupaku selama beberapa hari itu yang terpenting adalah aku selalu percaya mama pasti sembuh. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, dokter memutuskan mama harus operasi karena ternyata ada penyumbatan di pembuluh darah yang menuju otak (biasa disebut radang selaput otak). Itulah yang menyebabkan mama selalu merasa pusing yang hebat hingga tak mampu untuk sekedar bangun dan sering tak sadarkan diri.
Tentu operasi membutuhkan biaya dan kita selalu ingin yang terbaik untuk kesembuhan mama. Meski kondisi keuangan saat itu semakin sulit tapi Bapak tak pernah berhenti berusaha, kita selalu punya harapan dan doa. Setelah uang untuk operasi ada, cobaan lain datang ketika menjelang operasi, darah yang sesuai dengan golongan darah mama habis dan stok di PMI pun kosong. Kita sempat kesulitan mencari pendonor. Jika sama denganku, mungkin sudah dengan sukarela aku donorkan dan mama tak perlu terbengkalai. Hingga kondisi mama semakin memburuk, siang itu ia tak sadarkan diri dan dokter menjelaskan jika mama sudah tak lagi mempunyai harapan. Aku tak bisa menerima kenyataan itu begitu saja. Tangis pun seketika pecah dari mataku. Lalu dengan semua usaha yg dilakukan oleh sang dokter, mama kembali sadar dan tubuhnya memberikan reaksi tanda kehidupan. It’s really a miracle dan keajaiban selanjutnya datang tengah malam, dokter tiba-tiba datang dan memberitahu bahwa mama sudah bisa menjalankan operasi karena tadi ada pendonor yang golongan darahnya sama. Thanks God, Alhamdulillah. Pagi nya kami menunggu di ruang tunggu operasi. Selama menunggu didepan ruang operasi aku dan Bapak sudah pasrah dengan takdir seperti apapun yang akan Allah berikan pada kami selanjutnya. Kemudian menjelang siang mama keluar ruang operasi, wajahnya terlihat lebih sehat namun ingatanya menjadi sedikit terganggu. But it’s okay kata dokter perlahan akan pulih asal kita terus bantu latih dengan diajak berbicara karena itu hanya efek sementara operasi pada kepalanya. Aku bahagia, mama bisa tersenyum untuk pertama kalinya. Bisa aku ajak bicara dan bercanda lagi. Aku kembali percaya kalau mama pasti bisa sembuh. Tapi seperti sebelumnya, takdir selalu memberi kita kejutan.
Beberapa hari setelah operasi itu, mama akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Lalu setiap aku pulang ke rumah, selalu ada tawa kembali. Meski mama harus terus berada di tempat tidur dan memakai kursi roda jika ingin keluar rumah. Tak lama, kondisi mama ternyata semakin memburuk (lagi). Badanya semakin kurus. Bahkan terlihat jelas lekukan-lekukan tulang di tubuhnya. Tapi aku abaikan semua itu, aku terus berusaha membuatnya selalu bahagia dan tersenyum. Mengajaknya bercanda. Memeluknya. Aku selalu berpikir bahwa tak mengapa kondisinya seperti ini, bahkan jika harus lebih buruk pun. Karena yang terpenting bagiku adalah beliau masih ada, masih bisa aku lihat, masih bisa aku peluk, masih bisa aku dengar suaranya dan aku masih bisa membahagiakanya. Dan itulah yang membuatku selalu tidak pernah mengeluh apalagi bersedih (tapi kalau aku pikir lagi, aku egois hanya memikirkan mauku tapi bukan sakit yang mama rasakan). Setidaknya mama masih diberi kesempatan untuk hidup hingga detik itu dan aku tak sepantasnya bersedih untuk kesempatan berharga itu dan kesempatan yang Allah berikan selalu indah.
Namun 4 bulan setelah mama pulang dari rumah sakit pasca operasi, kabar itu akhirnya datang. Kabar yang menjemput mama untuk selamanya. Mama akhirnya pergi, setelah lelah menanggung semuanya. Aku menangis, aku hancur sehancur-hancurnya saat itu. Kesedihan yang selama ini selalu aku tahan karena yakin jika mama akan sembuh, hari itu tak lagi mampu aku tahan. Mama telah pergi. Kesempatanya telah habis. Kesempatanku tidak ada lagi. Satu hal yang aku pelajari dari kehilangan yang amat sangat ini adalah aku pernah diberi kesempatan untuk mengurus mama selama sakit, menjaga mama, dan aku bahagia karena mama pergi setelah semua usaha telah kami lakukan dengan maksimal tanpa ada satu pun yang menjadi penyesalan karena tak kami coba untuk membuat mama sembuh.
Sekali lagi, selamat jalan mama, hari ini tepat delapan tahun enam bulan mama pergi. Dan aku selalu bahagia sekarang karena mama pun pergi dengan bahagia dan aku ingin di surga mama juga tersenyum bahagia. Jadi buat kalian yang mungkin orangtuanya sekarang sedang tidak sehat semoga lekas sembuh dan kamu jangan bersedih. Tunjukan kebahagiaan untuknya dan bersyukurlah karena kita masih diberi kesempatan untuk masih bisa merawatnya, memaksimalkan berbagai cara agar beliau sembuh dan bersyukur mereka masih ada di dunia ini. Apapun itu bentuk cobaanya, selalu ada kesempatan dimana kita tidak harus mengeluh apalagi bersedih. Berbahagialah.