Dioromaku turned 5 today!
Claire Keane
🪼
tumblr dot com
we're not kids anymore.

JVL

JBB: An Artblog!

if i look back, i am lost

⁂
TVSTRANGERTHINGS
No title available
DEAR READER

No title available
No title available

pixel skylines
he wasn't even looking at me and he found me

Kaledo Art
AnasAbdin

ellievsbear
RMH
Xuebing Du

seen from Singapore

seen from Syria

seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Mexico

seen from Türkiye
seen from Australia

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Finland
seen from China
seen from Argentina
@wildananugraha
Dioromaku turned 5 today!
Untuk apa sebenarnya kita
Kita menghirup udara zaman yang serba bergegas dan kita menjadi satu-satunya spesies yang dengan senang hati untuk selalu bergegas, bersicepat dengan tenggat dan bersitungkin dengan aneka agenda. Di hadapan target dan cita-cita, kita dengan penuh khidmat nan takzim memasang posisi tangan mengapurancang.
Jemur aku di taman nirwana
[I] Hendak kutitipkan kepadamu sebelanga harapan melalui tirta-tirta netra yang kupupuk dan kutanam setiap harinya di Kebun Eden; berharap sayap-sayap satin serafim akan bernyanyi di sampingnya selagi candra menidurkannya. Biarlah tunasnya tumbuh mencari sulur, sulur menjadi batang; batang menjadi tangkai, dan tangkai menjadi daun dan bunga. Sebab angin beringin akan mengantarkannya menuju balairung kalismu, tempatmu bersemayam. [II] Hendak kutitipkan padamu selarik asa lewat semilir angin yang bertiup dari arah timur; membawa kesejukan bak harmoni yang kudapat dari jernih manik netramu—mengalunkan melodi kehampaan yang sukar dipungkiri. Berharap angin dapat membawanya menujumu yang lelap tertidur sembari bermimpi tentang harap-harapmu yang menggema di cakrawala, melingkar pada tiang-tiang singgasana sang pencipta, dan mengawang pada raut-raut senja yang purnamakna. [III] Kubangunkan kau kuil megah di dalam hatiku; dan penyembahnya adalah perasaan-perasaan yang bertakhta dalam bisu. Sajennya adalah anak-anak tirta netra yang menjaga kestabilan apimu. Kualirkan sungai sukacita yang naik menuju ulu hatimu. Maka simpanlah tangismu untukku, sebab kesuaman jenjam dalam pelita sukma akan membasi, nirgizi, dan terpungkasi. Ke mana pun kau pergi, kupercayakan angin untuk membawakan pesanku padamu. Kupercayakan padanya untuk mengantarkan bahuku padamu; untuk bersandar jika kau lelah. Lelah dengan sengatan karatan dari dunia dan seisinya. [IV] Jangan lupa menangis jika kauingin, Sayang. Mungkin kau terlalu penat dengan memasang topeng penuh kepalsuan pada wajahmu. Mungkin juga kau letih dengan tawa renyah yang kaubunyikan untuk menutupi pilu dalam kalbumu. Ingat, air mata bukan penanda atas lemahnya jiwa—melainkan obat atas guratan luka; diakibatkan oleh sembilu yang menyayat jiwa. Berbaringlah di sampingku, di atas hamparan hening yang hijau dan dingin. Rehatlah, pejamkan matamu dan bayangkan bintang-bintang di lingkar semesta tersenyum dan menari untukmu. [V] Berat rasanya ketika kau hendak melanglang jagat buana menuju tanah seberang; seketika aku gamang. Semburat gurat di surat berurat yang tak tergantikan ini akan menjadi halilintar dan hujanmu kelak; saat anak-anak tirta netra sudah mengering menjadi dandelion dan pohon ara; kala kukila mengangkasa di kubah dirgantara; di sanalah kita akan bertemu lagi. Dentang jam tua sangkala dan jarak di atas kerak tak lagi mampu mempermainkan kita. Kasih, biarkan lullabi ini menelusmu dengan lembut, mengisi kalbumu dengan jenjam dan katarsis. Jangan menangis, maka buah-buah apel di Elisian tidak akan dihinggapi ulat-ulat yang menebar kemalasan dan kelemahan. Sauhku sudah kujangkarkan pada konstelasimu; maka tenanglah sudah dalam peraduanmu. [VI] Ingatlah aku selalu mencintaimu di antara lembayung fajar. (Karena fajar selalu terbit, dan senja tenggelam. Aku tak ingin cintaku tenggelam begitu saja layaknya senja.) Jangan lupakan juga bahwa aku ingin kau selalu ada di sisiku. Klise memang, tetapi yakinilah berada di sisimu, bagiku merupakan adiksi yang lebih kuat efeknya dibanding candu jenis manapun.
Penghujung malam, dirumah bibi, Menteng 02:31. Aku memikirkanmu
Memori lama yang pernah kita tata rapi, Di antara jilid-jilid fantasi mencintai dan histori patah hati. Malam itu langit cerah dan sedang purnama. Setelah bab aku mencintai nona dan nona pergi; Aku mulai kehilangan cahaya sang purnama. /2/ Mendung yang tiba-tiba menyapa halaman setelahnya Membawa rintik kata berbalut luka Yang kemudian tertulis, merangkai Sebuah halaman; aku mencintai patah hati /3/ Sebab nona aku mengerti bahwasanya; Hati tak pernah benar-benar patah, Ia hanya terluka; Dengan percaya yang dibuat oleh pemiliknya /4/ Aku mulai mencintai patah hati. Rak-rak luka itu kemudian terpenuhi beribu diksi Yang sengaja ditulis dengan rima mencintai. Dan tersusun rapi, kembali. /5/ Gerimis yang nona buat membasihi paragraf aku rindu itu Perlahan mengering; aku merelakan itu Di sisi itu nona lebih baik pergi untukku Atau di sisi lainnya aku pergi untuk aku sendiri /6/ Untukmu nona; Jika rindumu perihalku menyapa sudut sempit fikirmu Mungkin dapat nona baca ribuan jilid patah hatiku; Sebabmu. /7/ Mungkin nona akan tersenyum, Membayangkan betapa bodohnya aku Menulis berjuta kata sebab mencinta; Yang tak mencintainya.
Prung
Memang haru keluar dari zona myaman, mau apapun komsekuensinya.
Mulai egois itu harus menurutku. Karena kita tidak melulu membicarakan itu, tidak melulu ada di tempat itu. Kita punya tujuan masing-masing.
Prung !
Gestur mukanya nampak lelah tidak terdengar keluhan dari mulutnya Bukan tuli Tapi sudah tak percaya lagi pada siapa bercerita. Teman sejati hanyalah piranti serta media sosial yg nampak banyak penggemarnya. Sangat menarik perhatian, bahkan tanggung jawabnya dicapai oleh popularitas, Bukan menyoal apa yang ada diisi kepalanya. Pagi tiba, kali ini ia mengenakan muka 50% bahagia dan siasanya di isi dengan keseriusan. Kemeja merah dengan aksen di dada serta sepatu vans birunya tak lupa ia kenakan. Sampai pada tepat, dimaikan skrenario pentasnya. Kali ini (lagi) keseriusan kosongnya di balut dengan humor, dan untuk kesekian kalinya orang disekitarnya terjerat, hebat dasar bangsat!
ya kamar gelap. tiga dua bulan kebelakang rasanya kamar ini begitu gelap, mungkin hanya menyala sampai jam 11, itu pun paing malam dan semakin sering ditinggalkan, namun harus di bayar. bukan, bukan karena harus membayar parak nestapa ini atau kuliah dan organisasi yang membuat bengal ini sibuk. mungkin sangat senang ketika saya harus melakukan itu. tapi kali ini adalah tingkatan ingin mencapai lewel berikutnya harus coba sedikit dicicipi. rasanya mual 10 jam berkutat dengan komputer dan kegiatan yang dimulai lagi dengan orang-orang asing macam robot yang tidak mempunyai dunia luarnya. memang mau-tidak-mau nantinya saya akan menjadi robot seperti mereka, tapi tidak untuk saat ini. masih banyak tanggung jawab yang saya akan tinggalkan ketika menjalani pekerjaan macam itu. mungkin nanti saya lebih siap menjadi robot, bertemu robot baru dan akrab dengan bahasa-bahasa robotnya. ya seperti saat ini, senin pagi dengan robot-robot berdasi.
bingung, semoga bisa melakukan yang terbaik. amin.
kalau, jika, mungkin dan apabila
Berapa purnama lagi aku menunggu, hingga jurang kebodohan ini semakin jauh dan hilang dari lensa. Hanya menerka, tanpa mengetahui dengan pasti. Hanya menebak, tanpa tahu alasan yang tepat. Hanya mengira, tanpa tahu pemikiran yang nyata. Hanya berandai, karena ragu untuk mewujudkan. Aku ini apa? Kamu itu siapa? Kita itu bagaimana? Pertanyaan sederhana, tapi tak pernah kita berani untuk menjawabnya. Terlalu takut; katamu, kataku, katanya. Mungkin masih ragu. Mungkin juga tak ingin melukai. Mungkin enggan melangkah. Hanya sebatas mungkin, mungkin, dan mungkin. Karena tak pernah berani berucap, karena tak pernah berani memulai. Terkadang sedih, karena tak tahu apa yang harus dilakukan atau hanya bisa memendam saat takut kehilangan. Gundah, ketika langkah dirasa mulai bersebrangan dan menjauh. Kerap juga getir, ketika ingin berteriak agar didengar tapi kamu malah menutup telinga. Kisah ini, entah untuk selamanya atau sekedarnya.
kamu “pancoranku”
pancoran tengah malam ini kian pekat, berkecepatan 90/jam tempat itu hanya terhilaht 3 detik. derik pun menyeruat, tak ada message balasan darimu.. pancoran, suatu tempat ditengah malam adalah realisasi keadaanmu saat ini.. ada apa dengan perempuanku, apa dengan kejadian ahad kemarin ? saya mohon maafkanlah. saya hanya pribadi langit yang ingin belajar bagaimana menjadi daratan.
album ini mantap. entah kenapa diri ini selalu independen tak punya sahabat.
Entah, dalam album ini, ananda badudu dan riri sekar seolah bercerita bagaimana id, ego dan super ego bermain dalam fikiran manusia dari kacamatanya.
Silahkan nyonya, ekspolitasi hati ini. lakukan sesukamu, bawalah ke antah berantah sekalipun, karna aku tak memerlukanya lagi !!
Cobalah sejenak menatap langit sore dan berfikir segalanya. Ingat ! hanya langit sore.
poiseidon kembali keluar dari perukaan air, mengelukarkan obak yang bergulung sehingga membuat posisinya kini sejajar dengan zeus, dikelurkanya garputala lalu di arahkanya, sontak zeuspun terhempas dari udara.tak mau kalah dengan poseidon,dipanggilnya petir untuk menghajar si raja air ini.
kali ini keduanya mencapai klimaks puncah dari emosinya, di sisi lain, hera, hestia, hades,demeter dan si bungsu aprodite melihat dengan tenang kedua sauaranya itu.