Sedang berada dalam titik paling jenuh.

izzy's playlists!

#extradirty
tumblr dot com

Discoholic 🪩
🪼
Claire Keane
I'd rather be in outer space 🛸

Product Placement

PR's Tumblrdome
wallacepolsom
dirt enthusiast

@theartofmadeline
d e v o n
art blog(derogatory)

⁂
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
RMH
One Nice Bug Per Day
DEAR READER
almost home

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from Thailand

seen from India
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from India
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@penainside
Sedang berada dalam titik paling jenuh.
Sekarang aku semakin takut... Bahkan untuk mengucapkan sesuatu pun...
Senja saat itu sangat indah. Tapi seindah-indahnya senja, akhirnya hilang juga. Sambil melihat senja, aku malah semakin tak percaya diri. Semakin aku takut. Akhirnya.... ku pasrahkan semuanya. Berharap senja itu akan selalu ada. Tanpa memilih kapan waktunya ia munculkan keindahan.
Aku tak pernah tahu ada siapa saja di ruang itu. Aku pun tak bisa menjamin apakah aku satu-satunya di ruang itu. Sama seperti sebelumnya, ruang yang entah ada siapa di dalamnya. Ruang yang semakin sulit untuk mencapainya. Ruang yang penuh teka teki.
Tak pernah terlintas untuk menyerah, tapi keadaan sepertinya mengisyaratkan untuk menyerah.
Seperti tak ingin lagi merasakan “selamat tinggal”.
Jakarta, Mei 2018
Dahsyatnya Shalat Istikharah
Tulisan kali ini lebih ingin berbagi pengalaman. Karena beberapa waktu terakhir, lumayan banyak teman-teman yang bertanya tentang ini.
Jadi, pertama kali aku ngelakuin shalat ini dulu waktu SMK, tapi belum terasa ada petunjuk, atau memang akunya masih polos sampai gak sadar. Itu pun shalatnya cuman sekali dua kali hehe pantes aja gada jawaban, bolong-bolong gitu. Tapi meski gak ada jawaban, pilhan jurusan saat ku kuliah kemarin sama sekali tidak membuatku menyesal, malah sangat bersyukur :)
Aku mulai rutin melaksanakan kembali, akhir tahun 2017. Jika boleh jujur, saat itu adalah masa runtuhnya dua orang yang sudah berkomitmen bertahun-tahun, dan menjalin persahabatan tujuh tahun, ya sebut saja dia mantan pacarku. Saat itu, baru pertama mendapat kerja yang seharunya berbahagia, tapi harus sudah bermasalah dengannya. Meskipun berawal dari sahabatan sejak SMK, lalu berpacaran dua tahunan, tetap saja aku pun bukan dukun yang tahu dia kenapa, jika tidak ada komunikasi terjalin, akhirnya aku merasa lelah.
Setiap malam terasa kelabu, hanya Allah yang bisa mengerti perasaanku saat itu. Air mata yang jatuh disetiap sepertiga malam, rasanya aku sesali sekarang “Kau bodoh Intan! menangisi laki-laki yang tak pantas ditangisi”.
Ketika lelah itu, aku mulai pasrahkan semuanya kepada-Nya. Hampir setiap hari aku shalat istikharah dan tahajud, meminta petunjuk dan diberikan jalan yang terbaik. Padahal rasanya tak pantas untuk meminta itu, Allah mungkin bilang gini: “Suruh siapa pacaran, udah tau dilarang, sakit hati kan? kalau udah gini baru mau berdialog denganKu” Ya Allah betapa malunya aku saat itu.
Berminggu-minggu mulai muncul yang ku anggap tanda-tanda, entah mengapa hal-hal buruk diperlihatkan kepada ku waktu itu, hampir satu bulan setelah rutin shalat istikharah, akhirnya kami pun berpisah. Terimakasih Ya Allah, Kau jauhkan hambamu ini dari orang yang salah dengan cara-Mu yang sangat indah”, begitu kira-kira kalimat pertama yang kuucap.
Selang beberapa minggu, tiba-tiba saja jadi banyak pria mendekat. Entah firasat darimana, padahal aku tak pernah mengumumnkan kandasnya hubunganku ini. Mulai dari teman sendiri, kenal dari kajian Ust Setia Furqon Khalid, sampai kenal dari Facebook karena sama-sama follow kajian Ust Hanan Attaki. Bahkan, sempat ada yang mengajak serius. Aku tak langsung percaya, ku serahkan lagi ke Allah.
Mulai saat itu, disepertiga malam yang tiap hari kujalanin, ku sebut nama-nama pria yang dekat denganku, khususnya yang sudah mengajakku serius. Pada awalnya aku selalu berpikiran bahwa tanda-tanda istikharah itu dari mimpi, padahal bukan. Allah akan menunjukkan dengan cara memperlihatkan kebaikan atau keburukannya, lalu menuntun hati kita. Jika terasa lapang berarti memang itu orangnya, kalau sebaliknya ya kita harus lebih berikhtiar.
Baru-baru ini ternyata aku mendapatkan yang aku sebut petunjuk, ada saja hal-hal yang tak terduga. Jadi benar untuk siapapun “Jangan dulu baper, siapa tahu bukan cuman kamu yang ia dekati” dan entah sejak itu, dia pun perlahan seperti jauh. Lalu aku meyakini ini jawaban dari doa-doa yang ku panjatkan selama istikharah. Meski awalnya kecewa karena sudah senang duluan ada yang berani serius, tapi memang rencana Allah itu selalu indah.
Ku coba tuk mengikhlaskan kembali orang yang memang belum tepat saat ini. SeSampai saat ini, shalat istikharah dan Tahajud tidak pernah terputus, selain bentuk syukur, hidup kita akan lebih terjamin kedepannya menurutku jika segala sesuatunya melibatkan Allah.
Maaf kalau kepanjangan :)
Januari, 2018.
insideintan
Aku yakin bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah takdir dari-Nya. Seperti pertemuan, pasti ada maksud dari pertemuan itu, pun dengan perpisahan :)
Selamat Hari Ayah!
Selamat untuk para ayah di manapun kau berada. Dulu tak pernah terlintas mengucapkan kalimat ini. Teruntuk almarhum ayahku yang semoga sudah tenang di sana.
Pah, memang sangat singkat kebersamaan kita. Hanya masa kecilkulah, hari-hari penuh bersamamu. Semakin beranjak dewasa, semakin sedikit waktumu, jarak kota untuk bekerja membuatku tak bisa lagi menghabiskan waktu denganmu.
Kini, aku lupa bagaimana rasanya memiliki seorang ayah. Tak pernah lagi ku rasakan, cerewet, banyak larangannya, perhatiannya, dan.. ah sudahlah aku tak kuasa menyebutkannya.
Tiba-tiba ku teringat, saat usiaku 5 tahun, kau berikan pesta kecil dengan kue dan topi lucu untukku, Aku yang sekarang sudah beranjak dewasa, mencari uang sendiri, apa-apa sendiri, ternyata tak bisa sekuat itu.
Tangerang,
Intan S.Dewi
Pernah terpikir bagaimana kerasnya dunia kerja? Sewaktu kuliah dulu, saya sangat menganggap enteng pernyataan ini. Dengan angkuhnya selalu ada celotehan "Kerja ma gampang, dulu sering ngalamin kerja apalagi jebolan SMK", betapa penyesalan datang atas keangkuhan itu. Itu dulu statusnya yang masih magang atau usia kita masih di bawah 20 makanya mungkin diperlakukan beda. Lulus dari kuliah, saya termasuk orang yang sangat beruntung. Diberikan jalan oleh Tuhan untuk menjemput rezeki dengan waktu yang singkat. Hanya 1 bulan menganggur, saya langsung dapat kerja. Tentu, dibalik itu semua pernah merasakan penolakan, gagal test, dan bahkan pernah gagal di interview terakhir. Selama sebulan itu juga ada beberapa panggilan yang saya tolak. Bukan karena menolak rezeki, tapi tidak mengantongi restu dari sang ibu :) Lalu ada panggilan dari tempat kerja saya sekarang, yang awalnya saya hanya iseng mengirim, tanpa tahu nanti kerja sebagai apa, bahkan sampai saat ada panggilan saya masih bertanya "Emang tempat kerjanya di mana?". Saat itu, namanya freshgradute, ketika ada kualifikasi yang memenuhi pasti langsung kirim ke banyak perusahaan, dengan harapan ada satu atau dua yang 'nyantol'. Oke, mari kita lupakan perjuangan saya dalam mencari kerja. Karena setiap orang punya jalan dan ceritanya masing-masing. Singkat cerita, hampir sebulan saya bekerja banyak hal tak terduga. Selama ini, saya memang dikelilingi oleh orang-orang yang telah masuk dunia kerja terlebih dahulu. Banyak yang saya dapatkan dari mereka yang bercerita. Lalu saat ini saya merasakannya sendiri :) Menurut saya, sikut menyikut dalam dunia kerja benar-benar ada. Terlepas dari terjalinnya keakraban pertemanan dengan rekan kerja di luar persaingan. Saling ingin dipuji atasan, memperlihatkan kualitas kerja kita, dan hal-hal lainnya. Karena kerjaan saya sekarang sebagai Event Organizer yang sering berkolaborasi sebagai seorang Marketing, saya hampir menyerah dengan ini. Jawabannya sama, ini bukan zona nyaman saya. Zona nyaman saya ada di dunia tulis-menulis jurnalistik, atau mengurusi prosedural ihwal administrasi. Namun, saya masih ingat di salah satu Workshop NLP seharga 15 juta, karena saya panitianya jadi saya gratis ikut kelasnya join dengan para peserta dari kalangan atas, menurut saya. Di sana disebutkan jika "Zona nyaman itu hanya akan memproteksi diri kita, agar tidak adanya perubahan untuk berkembang". Jadi apa hubungannya? ya jelas sekeras apapun kerja kalian, ambil sisi positifnya :) Ada yang pernah bilang "Cintai kerjaanmu, bukan perusahannya" Meskipun hingga saat ini, saya masih belum bisa jatuh cinta dengan pekerjaan saya. Tentu, karena impian saya bukanlah ini, atau mungkin zona nyaman saya bukan ini. Tangerang, Intan Silvia Dewi
Getaran yang ditemani oleh derasnya hujan setiap harinya.
Kadang, rindu itu hanya butuh disampaikan. Tapi nyatanya, dibalik semua ego, tetap saja rindu itu butuh dipertemukan hehe
Maaf jika ku terlalu banyak drama.
Sadis… Malam ini rinduku semakin sadis
penghujung maretku.
(via kelilingbumi)
Pada akhirnya mereka takan punya waktu lagi untuk kita. Prioritas mereka bukanlah kita lagi.
Rindu itu adalah candu
Aku hanya butuh teman bercerita, tak lebih.