24 on the 24th
Semoga menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Selamat ulang tahun yang ke -24 di tanggal 24. 💜

★
taylor price

#extradirty
Claire Keane
we're not kids anymore.
KIROKAZE
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

No title available
I'd rather be in outer space 🛸
Sweet Seals For You, Always
will byers stan first human second
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Misplaced Lens Cap
Jules of Nature
No title available

⁂

Discoholic 🪩
🩵 avery cochrane 🩵
Peter Solarz

Andulka
seen from France
seen from United Arab Emirates

seen from South Korea
seen from Ecuador

seen from United States
seen from Kenya

seen from United States
seen from United States
seen from Pakistan
seen from Ecuador
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Poland

seen from Malaysia
seen from Brazil

seen from Bangladesh
seen from United States
seen from Argentina
@windazizty
24 on the 24th
Semoga menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Selamat ulang tahun yang ke -24 di tanggal 24. 💜
Sesederhana Itu Pintaku
Andai tahu, pintaku hanya sederhana. . . Baru saja, saat aku membuka instagramku, melihat instastory salah satu teman, aku tercengang. Pasalnya ia membagikan foto buku yang judulnya ingin aku pinjam dari seorang teman. Ya, sebut saja lelaki itu A, sedangkan temanku yang memposting foto buku tersebut adalah A2. Beberapa bulan yang lalu, aku hendak meminjam buku dengan A. Namun hingga waktu berlalu, saat aku menagih, si A beralasan bukunya tidak ia bawa ke kota ini. Ia bekerja di kabupaten lain di provinsi yang masih sama. Kemudian aku pun tahu, dia tengah dekat dengan A2. Bisa menarik garis merahnya? Ya, buku yang aku ingin pinjam, ternyata ia pinjamkan ke A2. Sakit hati? Tentu tidak. Tidak sama sekali. Justru aku tersenyum, hatiku tersentil. Andai lelaki yang dulu dekat denganku juga berlaku demikian. Ya, andai .... Pintaku sederhana, ingin ia menjaga jarak dengan lawan jenis. Lebih menghargai perasaanku dengan sikapnya di belakang. . . Lalu, cerita pun berpindah ke B. Salah satu teman lelakiku dari SMA. Memasang foto profil dengan wanita yang tengah dekat dengannya. Ah, bahkan A pun memasang fotonya berdua dengan A2 untuk profilnya. . Cemburu? Tentu saja. Namun bukan karena aku menyukai A ataupun B. Melainkan karena aku juga ingin lelakiku dulu berlaku demikian. Tanpa aku suruh. Inisiatif dari dirinya sendiri. . Sebenarnya, pintaku terlalu sederhana. Pengakuan. Ah, tapi, pengakuan apa yang aku mau jika tidak ada status apa pun? . . Bahkan saat notifikasi di ponsel kembali memperlihatkan hasil screenshot percakapan kami setahun silam, pintaku terlalu sederhana. Amat sederhana. Aku hanya ingin diakui sebagai orang yang tengah dekat dengannya di depan banyak orang. Aku ingin status yang pasti agar aku bisa merasa tenang. . Pintaku terlalu sederhana. Namun tidak baginya. . Bahkan meski terlalu sering pertengkaran di antara kami, sebelum akhirnya kami berpisah, dia tetap tidak mengerti. . Selalu aku coba untuk berpikir positif. Mungkin bagiku ini terlalu sederhana, tetapi tidak baginya. . . Palembang, 23 April 2020
Senin, 24 Februari 1997, pukul 18:48 WIB, aku terlahir ke dunia ini. Hari ini, di hari dan tanggal yang sama, umurku genap bertambah menjadi 23. Banyak yang sudah terlewati, tentu saja. Ada duka, tawa, sedih, haru, bahagia, senyum, juga tangis yang selama ini aku alami. Tak terhitung berapa banyak rezeki yang aku terima, pun syukur yang tak henti aku ucapkan. Semakin dewasa. Tanggung jawab yang bertambah. Impian-impian yang tidak seluruhnya bisa terealisasi. Termasuk menggenapkan hati demi menjalankan ibadah seumur hidup. Ah, kamu pasti tahu apa maksudnya. 23 tahun, semoga tetap menjadi Winda yang baik, berpikiran positif, membawa keceriaan bagi sekitar. Jangan biarkan amarah dan kebencian menguasai. Karena aku tahu, kamu tidak setega itu terhadap seseorang. Selamat ulang tahun, Winda. Barakallah fii umrik. Kusiapkan sebuah hadiah untukmu yang masih dalam perjalanan menuju rumah. Semoga kamu menyukainya. Jangan lagi beranggapan aku tidak menyayangimu. Jika bukan aku, siapa lagi yang akan menyayangimu? Dari aku, dirimu sendiri. 💜
Terluka lagi. Tertuduh lagi. Menangis lagi. Patah lagi. Disalahkan kembali. Lagi dan lagi. Datang hanya untuk menyalahkan, tanpa memikirkan perasaan. Manusia punya hati, terlebih wanita yang lebih sensitif. Terima kasih untuk menyakiti kembali.
Winda Zizty
Memang, sejauh apa pun pergi, sebaik-baiknya tempat adalah rumah. Lalu, apakah aku adalah rumahmu?
Winda Zizty
2019
Saat aku mulai menulis ini, di layar ponselku tertera pukul 17:00. Tidak kurang, tidak lebih. Tepat begitu adanya. Kurang dari 7 jam lagi 2019 akan berganti. Tahun baru dan semoga awal yang baru. Tahun ini tentu banyak cerita, suka, duka, bahagia, depresi, sakit, patah hati, dan sebagainya. Namun dari semua itu aku kembali belajar, bangkit dari keterpurukan meski sampai saat ini terasa amat sulit. Namun bukankah Allah memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya? Kalimat itulah yang menguatkanku. Aku mampu! Aku bisa melewati semua ini! Air mata yang menetes, dada yang terasa sesak, harapan yang musnah, hubungan yang mesti kandas, pun doa-doa yang tak henti dipanjatkan, agar Ia meridhoi hidup ini. Tentu di balik itu semua aku kembali menemukan arti, bahwa selama ini aku hanya melihat dari satu sisi yang aku anggap benar, tanpa melihat dari sisi yang lain. Penyesalan tentu ada, tetapi hidup harus terus berjalan. Jadikan semua itu pelajaran dan harus diubah agar kita menjalani hidup lebih baik lagi. Berjanji pada diri sendiri untuk lebih menghargai apa pun yang ada di dalam hidup, pun memaafkan diri sendiri dan semua yang telah terjadi. Kembali aku katakan, itu semua tidak mudah. Amat berat, tetapi aku tahu, aku sanggup menghadapinya. Bukankah bertahun-tahun sebelumnya, hal yang mirip pernah terjadi? Kembali diuji karena menurut Allah di ujian sebelumnya aku belum lulus. Kali ini, aku pastikan lulus agar tidak kembali diuji dengan soal yang sama. Aku percaya akan ada pelangi setelah hujan. Ada harapan baru di pintu yang harus aku buka. Percaya akan janji Allah dan menggantungkan harap hanya padaNya. 2019, terima kasih atas semua luka dan pembelajarannya. Aku pastikan di tahun berikutnya tidak lagi aku temui soal ujian yang sama. Aku yakin, aku akan lulus kali ini! Palembang, 31 Desember 2019
Aku memang mencintaimu. Namun saat takdir Allah bermain, aku tidak bisa apa-apa. Hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu.
Winda Zizty
Mungkin aku sudah tidak mampu lagi menulis seperti sediakala. Trauma ini ternyata lebih dalam dari yang ku kira. Namun aku berterima kasih atas hari yang pernah dilalui bersama. Doakan aku bisa sembuh, itu sudah jauh lebih membahagiakan.
Winda Zizty
Puncak tertinggi dari mencintai seseorang adalah saat kamu bisa tersenyum melihat dia bahagia. Meski tanpa kamu. Berbahagialah selalu.
Winda Zizty
Sangat tidak adil, kamu menuntutku berubah sesuai yang kamu ingin, sedangkan kamu tidak berubah sesuai apa yang aku inginkan. Kamu mungkin lupa, menerima kekurangan dan lebihnya lebih bisa membuat bersyukur dan bahagia ketimbang menuntut ini-itu.
Winda Zizty
Aku merindumu. Namun di mimpimu saja kamu enggan menatap wajahku.
Winda Zizty
Tidak perlu tahu bagaimana proses penyembuhannya. Kamu hanya perlu tahu, aku tidak mau lagi seperti dulu. Perubahan bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri.
Winda Zizty
Kamu selalu berhasil membuat aku merasa tidak diinginkan. Merasa tidak dicintai. Apa sedari awal aku tidak seberharga itu di matamu?
Winda Zizty
Aku ingin sembuh. Agar saat kita bertemu kelak, kau tidak perlu kesusahan meraihku, pun aku tidak akan menyusahkanmu. Kita akan saling mengejar, berlari mendekat, dan berpegang erat, tanpa berniat melepaskan.
Winda Zizty
Terima kasih. Kepergianmu membuatku sadar jika hubungan ini tidak melulu tentang aku dan ketakutanku, tetapi juga ada kamu. Bukan tentang aku dan kamu, tetapi kita.
Winda Zizty
Akhir Tahun
“Aku pergi,” katamu beberapa Minggu silam. Jantungku bertalu hebat, sesak itu tidak dapat dibendung lagi. Berbagai spekulasi memenuhi kepala, hingga berujung pada satu kesimpulan: kamu benar-benar pergi dari hidupku. Apa kamu mau kembali? Jawabmu, tidak. Membacanya hatiku begitu patah. Hancur berkeping-keping. Meski sekuat tenaga aku menahan, memintamu untuk tetap tinggal, kamu tetap memilih pergi. Seolah lupa dengan apa yang telah kita bangun selama ini. Mengabaikan pintaku untuk menemui waliku akhir tahun ini. Ada kalanya aku memang ingin kamu pergi, terlalu sakit setiap mengingat apa-apa kesalahan yang kamu lakukan. Mulai dari masih mencari tahu tentang mantanmu, masih berkomunikasi dengan lawan jenis di luar batas wajar, memberi hadiah pada orang lain saat ia sidang skripsi, hingga menggunakan aplikasi pencari jodoh di belakangku. Namun saat kamu memilih pergi, semua kesalahan itu seolah raib, tak teringat lagi. Di kepalaku hanya ada pikiran untuk menahanmu lebih lama di sisiku. Aku buta, bodoh, karena menahan orang yang ingin pergi. Terlalu cintakah? Atau buta? Namun hingga detik ini, air mata masih mengalir. Aku masih cengeng. Sesak masih terasa setiap kali mengingat jalan itu tidak lagi kita lalui berdua. Sedih mengingat jika raga yang semula berkata ingin berjuang sampai akhir malah meninggalkan aku sendirian. Aku kira kamu seserius itu saat mengatakan ingin meraih ridho-Nya bersamaku. Aku kira kamu benar-benar menyayangiku, hingga akhirnya kamu memilih untuk pergi, menyudahi semua. Jadi memang benar adanya, selama ini aku sendirian. Berjuang sendirian untuk sebuah ikatan yang berharap diridhoi-Nya. Seringnya denial menghampiri. Berharap semua ini mimpi, atau prank yang biasa kamu tonton di internet. Selalu aku berharap kamu kembali, mendatangi rumahku dan meminta izin untuk melangkah lebih jauh denganku. Namun nampaknya, semua hanya khayalanku karena aku yang terlalu berharap. Begitu bodoh karena menganggap serius semua yang kamu katakan. Jika memang kaca itu sudah retak, kenapa tidak disatukan kembali? Kenapa tidak berusaha menjaganya dengan baik agar ia tidak retak lagi? Kenapa malah memilih pergi tanpa berjuang? Apa memang sebercanda itu perasaanku? Apa hanya angin lalu pintaku ingin hidup bersama? Apa memang terlalu cepat aku meminta ikatan yang suci itu? Salahkah aku jika ingin menghindari dosa dan murka-Nya? Maaf, biarkan saja seperti ini dulu. Belum bisa sepenuhnya menerima. Luka itu butuh waktu untuk sembuh. Tidak perlu berkata apa-apa, karena tidak sepenuhnya itu bisa menyembuhkan. Jika memang sayang dan serius, harusnya membuktikan, bukan malah lari dari kenyataan. Memilih pergi bukan keputusan yang bijaksana, meski menurutmu itu yang terbaik. Katamu dulu, tolaklah di akhir jika ingin menolak. Namun kini, aku bukan menolak, justru kamu yang menolak. Aku tidak pernah menolak, tidak pernah berusaha khianat, menutup pintu agar yang lain tidak masuk. Kini, kamu yang memilih pergi. Tidak ada penyesalan, seperti katamu. Ya, tidak ada penyesalan. Karena di hari aku mengiyakan rasa sukamu, di saat yang sama aku harus menerima risikonya. Termasuk jika suatu saat kamu pergi, menjauh, seperti kala ini. Tidak pernah meminta kamu memetik bintang, atau menyembunyikan bulan dari malam. Hanya meminta kamu setia, jujur, dan tetap memegang tanganku, sekuat apa pun badai yang akan datang. Namun percuma, kamu memilih berhenti berjuang. Aku harus sadar kamu sudah pergi. Tidak lagi menoleh atau menginginkan kabar dariku. Silakan tertawa, aku memang sebodoh ini.
Aku tidak menjanjikan karyaku terbaik. Tapi aku berusaha melakukan yang terbaik untuk karyaku.
Winda Zizty