prolog ; Sarah, as everyone knows.
everyone knows her name. but not everyone knows her.
Nama lengkapnya Sarah Kaelina Ardene. Lahir di Jakarta, dua puluh satu tahun yang lalu, di keluarga yang—kalau dilihat dari luar—cukup sempurna.
Dulu.
Anak ketiga dari tiga bersaudara. Memiliki kakak laki-laki dan kakak perempuan yang sama-sama… lebih tenang dari Sarah.
Sarah beda sendiri.
Dari kecil, ia tidak pernah bisa diam.
Kalau ada suara, atau tawa paling keras di ruangan, kemungkinan besar ialah sumbernya.
Dan kebiasaan itu… tidakpernah benar-benar hilang.
Ibunya, Marissa Adeline, seorang model. Selalu terlihat rapi, terkontrol, dan tahu harus bersikap seperti apa di hadapan orang lain.
Ayahnya—
orang-orang juga tahu dia.
Or at least, pernah.
Ada masa di mana nama keluarganya cukup dikenal. Bukan yang terlalu besar, tapi cukup untuk membuat beberapa orang melirik dua kali ke arahnya.
Dan cukup untuk bikin beberapa hal… menjadi lebih sulit dilupakan.
Selebihnya berjalan seperti biasa.
Sekolah. Teman. Kegiatan sana-sini.
Sarah selalu punya sesuatu untuk dilakukan. Selalu memiliki seseorang untuk diajak bicara.
Dan seiring berjalannya waktu, itu jadi menjadi bagian dari dirinya.
Bukan dibuat-buat. Hanya—terbiasa.
Sampai akhirnya, semuanya berubah.
Tanpa perlu dijelaskan bagaimana. Karena hampir seluruh masyarakat yang melihat berita di televisi saat pada saat itu pasti tahu.
Dan itu cukup untuk membuat sebuah rumah yang tadinya utuh, menjadi sesuatu yang berbeda.
Sejak itu, Sarah tinggal bersama ibunya.
Dengan kakak-kakaknya yang juga ikut tumbuh— dengan caranya masing-masing.
Dan Sarah?
Dia tetap sama.
Atau setidaknya… terlihat sama.
Masuk kuliah di ITB, jurusan FSRD. Tahun demi tahun ia lewati.
Lingkungan berubah, orang-orang datang dan pergi— namun ada satu hal yang tetap:
Sarah selalu ada.
Bukan lagi karena Sarah adalah anak dari pasangan selebriti yang sempat membuat geger masyarakat pada masanya.
Namun karena Sarah sudah memiliki namanya sendiri.
Yang lebih baik, setidaknya di kampus.
Namanya sering disebut. Wajahnya familiar di banyak tempat.
Sarah gak perlu mencoba terlalu keras.
Itu sudah terjadi sejak awal masa perkuliahan.
Dan Sarah tahu cara menjaganya.
Karena kalau diperhatikan sedikit lebih lama—
gak perlu dalam-dalam, cukup lebih lama saja—
ada beberapa hal yang Sarah pilih untuk tidak disentuh.
Beberapa topik yang ia lewatkan dengan bercanda. Beberapa pertanyaan yang ia jawab terlalu cepat.
Dan beberapa orang—
yang ia pilih untuk tidak lagi didekati.
Bukan karena tidak bisa.
Tapi karena… Sarah sudah pernah mencoba.
Dan itu cukup.
Jadi sekarang,
Sarah tetap tertawa. Tetap bergerak cepat. Tetap jadi orang yang semua orang kenal.
Dengan cara yang terasa sama—
meskipun alasannya… sudah berbeda.













