Apa iya, semua orang bisa jadi guru?
Pertanyaan “apakah semua orang bisa jadi guru?” kelihatannya simpel, tapi jawabannya nggak sesederhana itu. Di satu sisi, ada metode pembelajaran keren bernama "Everyone is a Teacher Here" (ETH) yang membebaskan siapa pun buat ambil peran sebagai guru. Tapi di sisi lain, menjadi guru profesional tetap butuh kualifikasi dan keterampilan khusus.
Metode ETH ini terbukti efektif, lho. Banyak riset nunjukin kalau siswa yang terlibat dalam metode ini jadi lebih aktif, pede ngomong di depan orang, dan lebih terlibat dalam pembelajaran (Purnama & Rahmawati, 2019; Zuriyah, 2012; Firdaus, 2018). Bahkan, kemampuan berpikir kritis mereka juga meningkat, apalagi di pelajaran seperti sejarah yang butuh banyak analisis (Ariska et al., 2023). Menariknya, metode ini bisa diterapkan di semua jenjang—dari SD sampai kuliah—dan hasilnya positif (Faizah & Berutu, 2023; Rodi et al., 2024).
Tapi, kalau bicara soal “guru” dalam arti profesional, tentu nggak bisa asal ambil papan tulis dan langsung ngajar. Menurut Serat Wirid Hidayat Jati, jadi guru itu ada syaratnya: harus paham materi, punya kepribadian yang baik, dan bisa jadi panutan (Permadi & Wahyudi, 2022). Jadi bukan cuma soal pintar, tapi juga soal karakter.
Menariknya, motivasi orang untuk jadi guru juga beragam. Ada yang karena panggilan hati, ada yang ingin bantu orang lain, dan ada juga yang terdorong faktor eksternal seperti status sosial atau stabilitas kerja (See et al., 2022). Semua itu sah-sah aja, karena jadi guru memang peran penting dalam masyarakat.
Nah, kalau kita tarik ke konteks yang lebih luas: guru itu nggak harus selalu di kelas. Di komunitas, keluarga, bahkan di media sosial pun, banyak orang yang secara nggak langsung jadi “guru” buat orang lain. Selama ada semangat belajar dan berbagi, selama ada usaha untuk menyalakan cahaya dalam kegelapan, seseorang bisa aja disebut guru.
Jadi, bisa dibilang, semua orang berpotensi jadi guru. Asal mau terus belajar, nggak pelit ilmu, dan punya niat baik untuk bantu orang lain tumbuh. Karena pada akhirnya, mengajar itu bukan soal gelar, tapi soal dampak.













