Perasaan Ikut 30 Hari Nulis
Ternyata bisa. Ternyata selesai juga. Padahal sempat ragu di awal, "Mampu nggak ya nulis tiap hari?" Tapi waktu terus jalan, dan tulisan demi tulisan pelan-pelan tumbuh jadi jejak.
Nggak semua hari sempat nulis panjang, nggak semua tema bikin klik di hati. Beberapa tulisan datang belakangan, di hari yang sudah lewat, tapi niat untuk tetap menyelesaikan tak ikut terlambat. Dan kupikir, itu juga bentuk lain dari bertahan.
Ramadan kali ini, aku enggak cuma menahan lapar. Tapi juga belajar menahan ego, membiasakan mikir lebih dalam, dan menyusun kata sebagai bentuk syukur, tafakur, bahkan semacam pelarian yang menenangkan.
Menulis selama 30 hari ini jadi semacam ruang kecil—buat jujur, buat melihat ulang, dan buat merayakan hal-hal sederhana yang kadang terlewat.
Aku nggak tahu siapa yang baca. Nggak tahu juga apakah tulisan ini akan bertahan lama di jagat maya. Tapi satu hal yang pasti, aku menulis untuk ingat. Bahwa pernah ada Ramadan yang ditenun dengan kata-kata.
Terima kasih untuk yang memulai challenge ini, untuk yang sesekali mampir baca, untuk teman-teman yang menulis di hari yang sama, yang saling sapa di kolom komentar, yang walau tak saling kenal, tapi rasanya bareng-bareng bertumbuh lewat kata.
Dan terutama:
terima kasih untuk diri sendiri yang tetap nulis, meski kadang nyicil, meski sempat tertunda, tapi tetap ingin menuntaskan.
- Yulan 🖤









