Kenapa ya pantai sangat identik dengan sunrise atau sunset? Dan orang berbondong-bondong menikmati waktu tersebut. Mungkin orang ramai menikmati momen transisi yang berubah sangat cepat. Mulai dari langit yang gelap, menjadi kuning, lalu berubah merah, dan menjadi biru cerah, dan sebaliknya. Mulai dari lingkaran matahari yang muncul sebagian hingga muncul sempurna, dan sebaliknya. Aku juga merasakan waktu tersebut sangat magical meskipun hanya bisa dinikmati sesaat.
Hari ini ada agenda buka bersama sambil farewell salah satu team member. ((Well, sebisanya mungkin aku menghindari bertemu rekan kerja di tanggal merah dan akhir pekan. Karena jemu sekali, lihat mereka ingat pekerjaan.)) Seperti biasa sebagai anak 'gunung' biasanya aku punya agenda mampir-mampir saat turun 'ke bawah'. Maklum di Ubud agak gak ada apa-apa. Malam ini ada sebuah pemutaran video seorang seniman bersama Nostress yang ingin aku hadiri. Tapi berhubung waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam dan takutnya sudah selesai, maka aku ganti tujuan: Pantai Sanur.
Rencanaku hanya cari cafe yang punya kopi (I need caffeine selama puasa tolooong), lalu duduk manis sambil membaca buku. Melanjutkan "They Call It Love", aku sedang membaca "Radical Intimacy". Ini epub pertama yg aku beli resmi di Amazon karena saking pengin bacanya tapi kehabisan di Post Santa. Maklum biasanya setiap akhir pekan aku membajak buku-buku Post Santa di-libgen wkwkw. Btw sejak punya kindle aku jadi lumayan rajin baca buku, at least dalam satu bulan aku bisa selesai 1 buku. Sangat progressive dibandingkan sebelumnya wkwkw (baseline yg sangat dangkal).
Tapi tadi malam (yes, sekarang sudah besoknya), semua cafe by the beach isinya bule-bule saja. Maklum (udah ada berapa maklum sampe sini??), Sanur adalah lokasi tinggal dan berkumpulnya bule-bule lansia nan mapan. Jadi ya banyak dari mereka yang masih nongkrong sambil ngobrol tadi jam 9 malam di cafe cafe. Kebanyakan cafe sudah tutup sih. Karena aku malas dengan bule-bule (entahlah kenapa), aku memilih duduk di sebuah bangku di area milik cafe yang sudah tutup. Di sebelahku ada sepasang bule yang sepertinya pesan di situ sebelum tutup. Tidak berpikir panjang aku duduk di samping mereka (di bangku rotan berbeda tentunya).
Bangku rotan itu putih, tidak begitu nyaman karena sandarannya 90 derajat. Jadi aku yakin sebenarnya ada cushion yang mungkin sudah dimasukkan ke dalam cafe. Bangku itulebarnya sama dengan panjang kakiku. Sehingga aku bisa duduk melebar dengan posisi kaki lurus sempurna. Bangku itu tepat di bawah lampu, jadi cukup terang. Di atas sana ada bulan yang sedang purnama, bulat sempurna, warnanya kuning cerah. Di depanku ada beberapa kapal yang bersandar terikat di pasak. Beberapa maju dan mundur terkendali. Senyap nan jauuuh di sebelah selatan ada live music, musiknya cukup 'keras' mereka memainkan Sweet Child O’Mine. Tapi tetap nyaman pada volumen yang ramah di telinga.
Tadi aku membaca beberapa halaman saja. Karena malam tadi ada sesuatu yang ingin aku bagikan pada the boys. Sayangnya seperti biasa, mereka tidak pernah one call a way, mereka selalu ada tapi by text. Gemas sekali, apa sih susahnya ditelpon wkwk sebel. Terpaksa karena memory hpku juga terbatas, aku tidak bisa kirim voice note yg paanjang sepanjang durasi lagu. Aku text panjaaaaaaang tentang apa yg belakangn aku sedang rasakan. Yes, mereka hadir memberikan respon immediately. Things have been going up and down lately, dan malam tadi rasanya plong bisa cerita dengan mereka.
Suasana malam tadi damaaai sekali. Jarang-jarang aku menikmati pantai di malam hari (menjelang tengah malam). Tinggal di Ubub membuatku tidak gila pantai. Tapi suara debur ombak yang pelan, dengan angin pantai yang dingin, berhasil mengambil hatiku. Susana malam tadi adalah kebalikan dari apa yang aku tidak suka dari pantai; panas, terik, basah, dan ramai.
Aku habiskan 2.5 jam duduk sambil diskusi dengan teman-temanku, lalu membaca buku, lalu melamun, lalu memikirkan banyak hal sendirian. Tentu rasanya lebih enak kalau teman-temankuku hadir di situ. Berulangkali aku sampaikan kepada mereka, “I wish you guys were here. But it’s okay, I am more than grateful that you are always available whenever I need someone to talk to.”
Mungkin itulah pertemanan orang dewasa. Susah sekali mencari teman baru di Ubud kecuali teman kerja. Ya faktor aku yang tidak supel dan tidak punya hal yg bisa ditawarkan untuk berteman. Jadi, belakangan aku sangat vokal mengungkapkan bahwa pertemanan ini sangat berharga untukku and I want it to last forever despite any of them sudah menikah.
Begitulahhhh, Sanur menjelang tengah malam sangat menenangkan. Aku pulang jam 11 malam.
Oya belakangan aku baru punya proyektor (mungkin harusnya aku sudah punya sejak pandemi). Rasanya ingin malam hariku jauh lebih panjang dari pada siang. Aku suka suasanya yang tercipta di kamar. Dengan cahaya temaram, musik yang sayup, begini 24 jam juga tidak masalah hehe. Tergantung mood, menjelang malam biasanya aku play live concert artist favoritku. Tengah malam dan dini hari seperti ini, aku play musik sayup atau video burung untuk si Kukuc.
Kutipan ngobrol dengan kolega kerja seumuran (93 babes!) di pantry after office hour minggu lalu, “Aku di tahap sudah tahu apa yang nyaman untukku.” Ya, akupun, aku rasa pantai di tengah malam dan proyektor di kamar adalah cara ternyaman menghabiskan malam.