berbagai versi cerita dengan intisari yg identik, didasarkan jaman baheula dipercaya bahwa hanya mereka yg beribadah dengan baik dan benar yg bisa berjalan diatas air.
ORANG YANG BERJALAN DI ATAS AIR
dikutip dari 'K I S A H - K I S A H S U F I'
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau oleh Idries Shah
(terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984
Cerita ini disadur dari cerita tradisi lisan kaum asaseen yg katanya beredar sejak sekitar abad 16an, yg di jaman baheula mungkin di Asia pecahan Soviet (uzbekista, dageshtan, kazakhstan, ketan), tapi beberapa sumber mengatakan bersumber dari daerah sekitar perbatasan iran dan turki. ah darimanapun, baca sajalah, iqra...
Seorang darwis yang suka berpegang pada kaidah, yang berasal dari mazhab sangat saleh, pada suatu hari berjalan menyusur tepi sungai. Ia memusatkan perhatian pada pelbagai masalah moral dan ajaran, sebab itulah yang menjadi pokok perhatian pengajaran Sufi dalam mazhabnya. Ia menyamakan agama perasaan dengan pencarian Kebenaran mutlak.
Tiba-tiba renungannya terganggu oleh teriakan keras: seseorang terdengar mengulang-ngulang suatu ungkapan darwis. "Tak ada gunanya itu," katanya kepada diri sendiri, "sebab orang itu telah salah mengucapkannya. Seharusnya diucapkannya YA-HU, tapi dia mengucapkannya U-YA-HU."
Kemudian ia menyadari bahwa, sebagai Darwis yang lebih teliti, ia mempunyai kewajiban untuk meluruskan ucapan orang itu. Mungkin orang itu tidak pernah mempunyai kesempatan mendapat bimbingan yang baik, dan karenanya telah berbuat sebaik-baiknya untuk menyesuaikan diri dengan gagasan yang ada di balik suara yang diucapkannya itu. Demikianlah Darwis yang pertama itu menyewa perahu dan pergi ke pulau di tengah-tengah arus sungai, tempat asal suara yang didengarnya tadi.
Didapatinya orang itu duduk disebuah gubuk alang-alang, bergerak-gerak sangat sukar teratur mengikuti ungkapan yang diucapkannya itu. "Sahabat," kata darwis pertama, "Anda keliru mengucapkan ungkapan itu. Saya berkewajiban memberitahukan hal ini kepada Anda, sebab ada pahala bagi orang yang memberi dan menerima nasehat. Inilah ucapan yang benar." Lalu di beritahukannya ucapan itu.
"Terima kasih," kata darwis yang lain itu dengan rendah hati. Darwis pertama turun ke perahunya lagi, sangat puas, sebab baru saja berbuat amal. Bagaimanapun, kalau orang bisa mengulang-ngulang ungkapan rahasia itu dengan benar, ada kemungkinan bisa berjalan diatas air. Hal itu memang belum pernah disaksikannya sendiri tetapi --berdasarkan alasan tertentu-- darwis pertama itu ingin sekali bisa melakukannya. Kini ia tak mendengar lagi suara gubuk alang-alang itu, namun ia yakin bahwa nasehatnya telah dilaksanakan sebaik-baiknya.
Kemudian didengarnya kembali ucapan U-YA yang keliru itu ketika darwis yang di pulau tersebut mulai mengulang-ngulang ungkapannya.
Ketika darwis pertama merenungkan hal itu, memikirkan betapa manusia memang suka bersikeras mempertahankan kekeliruan, tiba-tiba disaksikannya pandangan yang menakjubkan. Dari arah pulau itu, darwis kedua tadi tampak menuju perahunya, berjalan diatas air.
Karena takjubnya, ia pun berhenti mendayung. Darwis keduapun mendekatinya, katanya,
"Saudara, maaf saya mengganggu Anda. Saya datang untuk menanyakan cara yang benar untuk mengucapkan ungkapan yang Anda beritahukan kepada saya tadi; sulit benar rasanya mengingat-ingatnya."
Dalam Bahasa Indonesia, hanya satu arti yang bisa diungkapkan oleh kisah ini. Dalam versi Arab sering dipergunakan kata-kata yang bunyinya sama tetapi berbeda arti (homonim) untuk menyatakan bahwa kata itu bisa dipergunakan untuk memperdalam kesadaran, disamping juga menunjukkan sesuatu yang nilainya dangkal.
Di samping terdapat dalam sastra masa kini yang populer di Timur, kisah ini juga didapati dalam naskah-naskah pelajaran darwis, beberapa diantaranya sangat penting.
Versi ini berasal dan Kaum Asaaseen ('hakiki,' 'asli'), di Timur Dekat dan Tengah.
------------------------------------------------------------
Oleh : Leo Tolstoy (Terjemahan oleh Atta Verin)
Dari Buku Kumpulan Cerpen Leo Tolstoy "Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada" (terjemahan)
SEORANG uskup berlayar menuju sebuah biara yang jauh. Pada kapal yang sama terdapat sejumlah peziarah. Mereka juga hendak mengunjungi tempat suci. Perjalanan itu berjalan lancar. Angin begitu kencang dan cuaca cerah.
Para peziarah di geledak kapal menatap hamparan air laut atau duduk berkelompok seraya bercakap-cakap. Lalu, sang uskup pun ikut bergabung di gelagak kapal. Saat ia melihat-lihat keadaan, ia melihat sekelompok lelaki tengah berdiri di buritan kapal. Mereka sedang mendengarkan seorang nelayan yang tengah menunjuk-nunjuk ke arah laut dan menceritakan sesuatu pada mereka. Uskup itu berhenti dan mencoba melihat ke arah yang ditunjuk oleh nelayan itu. Ia tak bisa melihat apa pun, kecuali laut yang berkilauan di bawah cahaya matahari. Uskup itu mendekat dan ikut menyimak. Namun, nelayan itu melihatnya. Dilepasnya topinya dan ia berhenti bicara. Orang-orang lainnya juga melepas topi mereka dan membungkuk hormat.
“Jangan biarkan aku mengganggu kalian,” ujar uskup itu dengan ramah. “Aku ingin mendengar apa yang dikatakan oleh orang baik ini.”
“Nelayan ini sedang bercerita pada kami tentang para pertapa,” jawab salah seorang di antara para lelaki itu, seorang saudagar. Ia lebih berani bicara dibanding yang lainnya.
“Pertapa apa?” tanya sang uskup. Ia bergerak ke sisi gelagak dan duduk di atas sebuah kotak. “Ceritakan padaku tentang mereka. Aku ingin mendengarnya. Apakah yang tadi kamu tunjuk?”
“Pulau mungil itu. Anda bisa melihatnya dari sini, “sahut lelaki itu. Ia menunjuk sebuah titik di depan agak ke kanan. “Di pulau itulah para pertapa itu tinggal. Hanya mereka yang menghuni pulau itu. Mereka ingin menyelamatkan jiwa mereka.”
“Pulau manakah?” tanya uskup itu. “Aku tidak melihat apapun.”
“Di sana di kejauhan—jika Anda mengikuti arah tangan saya. Apakah Anda melihat awan mungil itu? Lihatlah tepat di bawahnya, sedikit ke kiri. Ada sebuah gugus kecil. Itulah pulau yang dimaksud.”
Uskup itu menajamkan pandangan matanya dengan saksama. Tapi matanya tak terbiasa melihat ke lautan. Yang bisa dilihatnya hanyalah air yang berkilauan diterpa cahaya matahari.
“Aku tak bisa melihatnya,” ujarnya. “Tapi siapakah para pertapa yang tinggal di sana?”
“Mereka orang-orang suci,” sahut si nelayan. “Sudah lama saya mendengar kabar tentang mereka. Tapi saya belum pernah melihatnya sendiri hingga akhir tahun kemarin.”
Lalu nelayan itu bercerita tentang saat ia terdampar pada suatu malam di pulau itu. Ia baru saja hendak pergi menangkap ikan saat badai datang. Dalam kegelapan ia terseret arus hingga ke pantai. Ia tak tahu berada di mana saat itu.
Pada pagi harinya ia berkeliling dan sampai di sebuah pondok. Ada seorang lelaki tua tengah berdiri di dekat pondok itu. Sejenak kemudian, dua orang lainnya muncul. Lalu ketiga lelaki tua itu memberinya makan, mengeringkan bajunya yang basah, dan membantunya memperbaiki perahu.
“Seperti apakah mereka?” tanya sang uskup.
“Yang satu bertubuh mungil dan punggungya bungkuk,” sahut nelayan itu. “Ia memakai jubah pendeta dan tampak sangat tua. Mungkin umurnya lebih dari seratus tahun.Begitu tuanya sehingga janggut putihnya mulai berganti warna menjadi kehijau-hijauan. Tapi, ia selalu tersenyum—dan wajahnya secerah wajah malaikat.
“Yang kedua lebih tinggi, tapi juga sudah amat tua,” lanjut nelayan itu. “Ia memakai mantel petani. Janggutnya lebat dan berwarna kuning kelabu. Ia amat kuat. Sebelum saya sempat membantunya, ia telah membalikkan perahu sendirian seolah-olah itu hanyalah sebuah ember. Ia juga amat baik dan ramah.
“Yang ketiga bertubuh tinggi. Janggutnya seputih salju dan panjangnya hingga mencapai lutut. Ia orang yang tegas dengan alis tebal seperti semak belukar. Dan ia hanya memakai semacam kain melingkari pinggangnya.”
“Apakah mereka berbicara padamu?” tanya uskup.
“Sebagian besar mereka melakukan segala sesuatu sambil berdiam diri,” sahut nelayan itu. “Mereka bahkan tidak berbicara satu sama lain. Salah seorang dari mereka mengganggukan kepala dan yang lainnya tampak mengerrti apa yang dimaksud. Saya bertanya pada yang paling tinggi berapa lama mereka telah hidup di sana. Ia malah bermuka masam dan bergumam seakan-akan ia marah. Tapi yang paling tua menggamit lengannya dan tersenyum. Entah bagaimana itu membuat yang tinggi menjadi tenang. Yang tertua itu hanya bilang, ‘Kasihilah kami,’ dan kemudian ia tersenyum.”
Ketika nelayan itu tengah berbicara, kapal mereka mendekat ke pulau yang tengah mereka percakapkan.
“Itu! Kini Anda bisa melihatnya dengan jelas,” ujar si saudagar pada uskup. Ia menunjuk dengan jarinya.
“Uskup itu melihat gugusan gelap yang merupakan sebuah pulau. Sejenak ia hanya menatapnya. Lalu ia beranjak dari bagian depan kapal dan beralih ke tepi.
“Pulau apakah itu?” tanya uskup.
“Pulau itu tidak bernama,” ujar yang ditanya. “Ada banyak pulau kecil seperti itu di laut ini.”
“Benarkah ada pertapa yang tinggal di sana?” tanya uskup itu. “Benarkah mereka tinggal di sana untuk menyelamatkan jiwa mereka?”
“Begitulah kabarnya,” sahut yang ditanya. “Tapi saya tak tahu soal kebenarannya. Banyak nelayan mengatakan bahwa mereka pernah melihat para pertapa itu. Tapi, tentu saja mereka mungkin hanya tahu dari desas-desus belaka.”
“Sebaiknya aku mendarat di sana untuk membuktikannya,” kata uskup. “Bagaimanakah caranya?”
“Kapal ini tidak bisa mendekat ke pulau itu,” sahut seseorang. “Kita bisa karam. Tapi Anda bisa naik perahu kecil ke sana. Sebaiknya Anda berbicara dengan kapten kapal.”
Kapten kapal dipanggil dan kini berdiri di hadapan sang uskup.
“Aku ingin bertemu para pertapa itu,” Kata uskup. “Bisakah aku berdayung ke tepi pantai?”
Kapten mencoba mencegah niat sang uskup. “Tentu saja itu bisa dilakukan,” ujarnya. “Tapi kita akan kehilangan banyak waktu. Dan jika saya boleh mengatakan satu hal lagi. Para orangtua itu tak cukup layak membuat Anda sedemikian bersusah payah. Kabarnya mereka hanyalah orang-orang bodoh yang tak memahami apapun. Mereka tak pernah bicara—lebih pendiam daripada ikan-ikan di lautan.”
“Aku tetap ingin menjumpai mereka,” kata uskup. “Aku akan membayar semua jerih payah dan waktumu yang hilang. Tolong beri aku sebuah perahu.”
Tak ada lagi alasan, maka permintaan itu pun diluluskan. Para awak kapal mengembangkan layar. Juru mudi membelokkan arah kapal menuju pulau itu.
Sebuah kursi diletakkan di haluan untuk tempat duduk sang uskup. Para penumpang berkumpul di sisi kapal dan memandang pulau itu. Yang memiliki pandangan paling tajam segera bisa melihat batu karang di sekitar pulau itu. Lalu terlihat sebuah pondok yang terbuat dari lumpur. Akhirnya seseorang melihat ketiga pertapa itu. Kapten kapal mengeluarkan teleskopnya. Setelah melihat melalui teleskop, ia menyodorkan benda itu pada sang uskup.
“Memang benar,” ujar kapten itu. “Ada tiga lelaki berdiri di pantai. Di sebelah sana—sedikit di sebelah kanan batu karang besar itu.”
Uskup mengambil teleskop dan memastikan arahnya. Lalu ia melihat ketiga orangtua itu. Ada yang bertubuh tinggi, yang bertubuh lebih pendek dengan punggung bungkuk. Mereka berdiri di tepi pantai, saling berpegangan tangan.
Kapten menoleh ke arah uskup. “Kapal ini tak bisa lebih dekat lagi ke pulau itu. Jika Anda ingin menepi, Anda sebaiknya menggunakan perahu kecil. Kami akan membuang jangkar di sini dan menunggu Anda.”
Jangkar pun diturunkan dan layar digulung. Kapal itu bergoncang saat ia berhenti. Lalu sebuah perahu dayung diturunkan dan juru dayung meloncat masuk. Akhirnya uskup itu turun dengan sebuah tangga dan duduk di perahu dayung.
Para juru dayung mulai mengayuh dan perahu itu pun bergerak dengan cepat menuju pulau itu. Saat jarak mereka tinggal sepelemparan batu, mereka melihat ketiga orangtua itu dengan sangat jelas. Yang paling tinggi hanya mengenakan semacam kain melingkari pinggangnya. Di sampingnya adalah lelaki yang lebih pendek yang memakai mantel petani. Di dekatnya tampak seorang lelaki amat tua, punggungnya bungkuk oleh usia dan ia mengenakan jubah pendeta. Ketiganya berdiri mematung, saling berpegangan tangan.
Para juru dayung mengayuh ke arah pantai. Mereka menambatkan perahu, lalu sang uskup beranjak turun.
Orang-orang tua itu membungkuk padanya. Uskup memberi salam pada mereka dan mereka membungkuk lebih dalam. Lalu uskup angkat bicara.
“Aku telah mendengar kabar bahwa kalian adalah orang-orang suci. Mereka bilang kalian tinggal di sini untuk menyelamatkan jiwa kalian dan berdoa pada Tuhan,” ujarnya. “Aku, seorang pelayan Tuhan yang hina, terpanggil oleh kasih Tuhan untuk menjaga dan mengajari domba-dombanya. Aku berharap bisa bertemu dengan kalian yang juga merupakan pelayan Tuhan sehingga aku pun bisa mengajari kalian.“
Para orangtua itu saling melempar senyum, tapi tetap berdiam diri.
“Katakan kepadaku, apakah yang kalian lakukan untuk menyelamatkan jiwa kalian?” tanya uskup. “Dan bagaimana kalian melayani Tuhan di pulau ini?”
Pertapa yang kedua menarik nafas dan menatap yang tertua—yang usianya telah amat sangat tua. Orang ini tersenyum dan berkata, “Kami tidak tahu bagaimana cara melayani Tuhan. Kami hanya melayani dan membantu diri kami, wahai pelayan Tuhan.”
“Tapi bagaimana cara kalian berdoa kepada Tuhan?” tanya uskup.
“Kami berdoa seperti ini,” pertapa tua itu menjawab. “Engkau ada tiga, kami ada tiga, maka kasihanilah kami.”
“Tampaknya kalian pernah mendengar tentang Trinitas Suci,” ujar uskup. “Tapi cara kalian berdoa tidak benar. Kalian membuatku iba. Kulihat kalian ingin berbakti pada Tuhan. Tapi kalian tak tahu bagaimana caranya. Bukan begitu cara berdoa. Dengarkan aku dan akan kuajari kalian. Yang kuajarkan ini bukan sesuatu yang mengada-ada, melainkan menurut apa yang diajarkan Tuhan melalui Kitab Suci kepada seluruh umat manusia.”
Lalu uskup itu mulai bercerita pada para pertapa bagaimana Tuhan memberi wahyu kepada manusia. Ia bercerita kepada mereka tentang Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.
“Tuhan Anak turun ke bumi untuk menyelamatkan kita,” ujar uskup. “Dan seperti inilah berdoa yang diajarkan Tuhan pada kita. Dengarkan dan ikuti sesudahnya. “Bapak kami…”
Orang yang pertama lalu mengikutinya, “Bapak kami.” Yang kedua berkata, “Bapak kami.” Begitu pula yang ketiga.
“Yang ada di surga…” lanjut sang uskup.
Pertapa pertama mencoba mengulangi, “Yang ada di surga.” Tapi yang kedua tak mampu melafalkannya dengan benar. Begitu pula pertama yang bertubuh tinggi. Rambut di kepala dan wajahnya telah menutupi mulutnya sehingga ia tak bisa berbicara dengan jelas. Pertapa paling tua, yang sudah ompong, juga mengalami kesulitan dengan kata-kata itu.
Uskup mengulangi kata-kata itu lagi dan para orangtua itu mengikutinya. Lalu uskup duduk di atas sebuah batu dan para pertapa itu berdiri di hadapannya. Mereka menatap mulut uskup itu dengan saksama. Setiap kata yang diucapkan uskup itu mereka ulangi. Sepanjang hari uskup itu bekerja. Ia mengucapkan tiap-tiap kata hingga 20, 30, bahkan 100 kali. Lalu para pertapa tua itu menirunya. Saat mereka membuat kesalahan, ia membetulkannya, lalu mereka mulai lagi dari awal.
Uskup itu tidak berhenti hingga ia selesai mengajarkan seluruh doa itu. Ia mengajari mereka hingga mereka mampu mengucapkannya tanpa dibimbing lagi, bukan sekadar menirukan kata-katanya. Pertapa yang kedualah yang pertama kali berhasil mempelajarinya. Tak lama, yang lainnya berhasil pula mengucapkannya dengan baik.
Kini sudah mulai gelap. Bulan muncul di atas permukaan air. Uskup itu akhirnya bangkit untuk kembali ke kapal. Saat ia beranjak, ketiga lelaki itu bersujud di atas bumi di hadapannya. Ia membangunkan mereka dan mencium mereka satu persatu. Ia berpesan kepada mereka agar berdoa sesuai cara yang tadi telah diajarkannya. Lalu ia masuk ke perahu dayung dan kembali ke kapal.
Ketika uskup itu mendekat ke kapal, ia dapat mendengar suara ketiga pertapa itu. Mereka berdoa dengan suara nyaring. Saat perahu mencapai kapal, suara mereka tak lagi terdengar. Tapi ketiga lelaki tua itu masih bisa terlihat di bawah cahaya bulan. Mereka masih berdiri di tempat semula saat uskup meninggalkan mereka di tepi pantai.
Saat sang uskup telah masuk ke dalam kapal, jangkar dinaikkan dan layar kembali dikembangkan. Angin dengan cepat mendorong kapal layar itu dan mereka pun kembali berlayar ke laut lepas. Sang uskup duduk dan menatap ke arah pulau yang baru saja mereka tinggalkan. Sejenak ia bisa melihat para pertapa itu. Tapi segera mereka lenyap. Akhirnya, pulau itu juga hilang dari pandangan dan hanya laut belaka yang terlihat beriak di bawah sinar bulan.
Para peziarah membaringkan diri, bersiap untuk tidur. Segalanya terasa sepi di atas geladak. Tapi uskup itu tidak ingin tidur. Ia duduk sendirian memandang lautan, ke arah pulau yang tak lagi terlihat. Ia berpikir tentang para orangtua yang baik itu. Ia berpikir tentang betapa semangatnya mereka belajar berdoa. Dan ia berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirimnya untuk mengajari dan membantu orang-orang sebaik itu.
Lalu tiba-tiba uskup itu melihat sesuatu yang putih dan bersinar-sinar. Secercah cahaya aneh bergerak di atas permukaan laut yang diterangi sinar bulan. Apakah itu seekor anjing laut? Atau hanyalah kilauan layar sebuah perahu kecil? Sang uskup berusaha menajamkan penglihatannya bertanya-tanya dalam hati.
“Pasti tu perahu yang berlayar di belakang kami,” pikirnya. “Tapi ia membututi kami begitu cepat. Beberapa saat yang lalu ia masih jauh. Kini ia makin mendekat. Tapi tampaknya itu bukan perahu—kini aku bisa melihat bahwa benda itu tak memiliki layar.”
Uskup tak tahu benda apakah itu sesungguhnya. Itu bukan perahu, juga bukan burung dan bukan pula ikan! Terlalu besar bila itu adalah orang. Lagi pula, mana mungkin orang berenang secepat itu di laut lepas?
Uskup itu bangkit dan bicara kepada juri mudi. “Lihatlah! Apakah itu?” teriaknya. “Apa itu?” ulangnya. Tapi kini ia bisa melihat benda itu dengan jelas. Ketiga pertapa itu berlari di atas air! Mereka memburu ke arah kapal seolah-olah perahu itu tidak bergerak sama sekali.”
Juri mudi melihatnya dan melepaskan kemudi dengan ketakutan. “Ya, Tuhan!” pekiknya. “Para pertapa itu berlari di atas air seolah-olah sedang berada di daratan.”
Para penumpang mendengarnya. Mereka melompat dan bergegas ke arah bagian belakang perahu. Mereka juga melihat para pertapa itu datang bersama-sama, saling berpegangan tangan. Dua lelaki tua di bagian samping melambaikan tangan, meminta agar kapal berhenti. Mereka bertiga meluncur di atas permukaan air laut tanpa menggerakkan kaki. Sebelum kapal berhenti, para pertapa itu telah lebih dulu mencapainya. Mereka menegakkan kepala dan berkata seolah-olah dengan satu suara.
“Kami lupa apa yang tadi kau ajarkan, wahai pelayan Tuhan, “kata mereka kepada sang uskup. “Saat kami terus menerus mengulanginya, kami ingat. Tapi saat kami berhenti mengatakannya suatu kali, satu kata terlupa. Kini doa itu tak bisa kami ingat lagi sedikit pun. Ajarilah kami sekali lagi.”
Uskup itu membuat tanda salib di dadanya. Lalu ia bersandar ke tepi kapal. “Doa kalian akan didengar Tuhan. Bukan aku yang harus mengajari kalian. Berdoalah untuk kami, para pendosa ini.”
Sang uskup lalu membungkuk dalam-dalam di hadapan ketiga orang tua itu. Mereka berbalik dan kembali melintasi laut. Hingga terbit fajar, secercah cahaya bersinar-sinar di titik mereka lenyap dari pandangan.
SENO GUMIRA AJIDARMA (SGA)
catatan dari SGA : *) Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.
Kiplik sungguh mengerti, betapaun semua itu tentunya hanya dongeng.
“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.
Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.
”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”
Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.
Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.
Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.
”Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”
Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.
Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.
Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.
Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.
”Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.
Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.
”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”
Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.
Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.
Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.
”Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.
Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”
Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.
Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.
”Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.
Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!
”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.”
Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.
Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.
Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!
”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.
Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.
”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.
Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.
Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.
”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.
Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.
Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.
Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!
Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?
Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.
”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”
Kampung Utan, Agustus 2010.
KAMI BERTIGA, KAMU BERTIGA.
Dari buku kumpulan cerpen "Burung Berkicau" Karya Anthony J. Mello
Ketika kapal seorang Uskup berlabuh untuk satu hari di sebuah pulau yang terpencil, ia bermaksud menggunakan hari itu sebaik-baiknya. Ia berjalan-jalan menyusur pantai dan menjumpai tiga orang nelayan sedang memperbaiki pukat. Dalam bahasa Inggeris pasaran mereka menerangkan, bahwa berabad-abad sebelumnya mereka telah dibaptis oleh para misionaris. 'Kami orang Kristen,' kata mereka sambil dengan bangga menunjuk dada.
Uskup amat terkesan. Apakah mereka tahu doa Bapa Kami? Ternyata mereka belum pernah mendengarnya. Uskup terkejut sekali. Bagaimana orang-orang ini dapat menyebut diri mereka Kristen, kalau mereka tidak mengenal sesuatu yang begitu dasariah seperti doa Bapa Kami?
'Lantas, apa yang kamu ucapkan bila berdoa?'
'Kami memandang ke langit. Kami berdoa: 'Kami bertiga, kamu bertiga, kasihanilah kami.' Uskup heran akan doa mereka yang primitif dan jelas bersifat bid'ah ini. Maka sepanjang hari ia mengajar mereka berdoa Bapa Kami. Nelayan-nelayan itu sulit sekali menghafal, tetapi mereka berusaha sebisa-bisanya. Sebelum berangkat lagi pada pagi hari berikutnya, Uskup merasa puas. Sebab, mereka dapat mengucapkan doa Bapa Kami dengan lengkap tanpa satu kesalahan pun.
Beberapa bulan kemudian kapal Uskup kebetulan melewati kepulauan itu lagi. Uskup mondar-mandir di geladak sambil berdoa malam. Dengan rasa senang ia mengenang, bahwa di salah satu pulau yang terpencil itu ada tiga orang yang mampu berdoa Bapa Kami dengan lengkap berkat usahanya yang penuh kesabaran. Sedang ia termenung, secara kebetulan ia, melihat seberkas cahaya di arah Timur. Cahaya itu bergerak mendekati kapal. Sambil memandang keheran-heranan, Uskup melihat tiga sosok tubuh manusia berjalan di atas air, menuju ke kapal. Kapten kapal menghentikan kapalnya dan semua pelaut berjejal-jejal di pinggir geladak untuk melihat pemandangan ajaib ini.
Ketika mereka sudah dekat, barulah Uskup mengenali tiga sahabatnya, para nelayan dulu. 'Bapak Uskup', seru mereka, 'Kami sangat senang bertemu dengan Bapak lagi. Kami dengar kapal Bapak melewati pulau kami, maka cepat-cepat kami datang.'
'Apa yang kamu inginkan?' tanya Uskup tercengang-cengang.
'Bapak Uskup,' jawab mereka, 'kami sungguh-sungguh amat menyesal. Kami lupa akan doa yang bagus itu. Kami berkata: Bapa kami Yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu; datanglah kerajaanMu ... lantas kami lupa. Ajarilah kami sekali lagi seluruh doa itu!'
Uskup merasa rendah diri: 'Sudahlah, pulang saja, saudara-saudaraku yang baik, dan setiap kali kamu berdoa, katakanlah saja: Kami bertiga, kamu bertiga, kasihanilah kami.'
Aku kadang-kadang melihat wanita-wanita tua berdoa rosario tak habis-habisnya di gereja. Bagaimana mungkin Tuhan dimuliakan dengan suara bergumam yang tidak keruan itu? Tetapi setiap kali aku melihat mata mereka atau memandang wajah mereka menengadah, di dalam hati aku tahu, bahwa mereka lebih dekat dengan Tuhan daripada banyak orang terpelajar.