#NightTought
Malam ini saya bersyukur atas semua rezeki yang diberikan Allah.
Kegagalan, penolakan, kekalahan atau pun pengabaian, yakinlah pasti ada hikmah dibalik semua itu.
RMH
d e v o n
noise dept.

Janaina Medeiros
Lint Roller? I Barely Know Her

titsay

shark vs the universe

pixel skylines
occasionally subtle
we're not kids anymore.

No title available

ellievsbear

No title available
DEAR READER
Stranger Things

Discoholic 🪩
h

JBB: An Artblog!
Alisa U Zemlji Chuda

Andulka

seen from Qatar
seen from Ireland
seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Canada
seen from Benin
seen from France

seen from Malaysia
seen from Austria

seen from Palestinian Territories

seen from United Kingdom

seen from China

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from Argentina
seen from United States
seen from United States
@zapufaa
#NightTought
Malam ini saya bersyukur atas semua rezeki yang diberikan Allah.
Kegagalan, penolakan, kekalahan atau pun pengabaian, yakinlah pasti ada hikmah dibalik semua itu.
#MorningThought
Saya selalu berdoa semoga dikelilingi orang-orang baik. Hingga akhirnya saya melupakan mereka-mereka yang sering menyakiti atau pun membuat saya patah dan tidak enak hati.Â
It about two years ago. And actually i still cant move on from this. Really miss my grandpa, he's like my father :( Selamat 19 zahra. Tahun terakhir berkarya di kepala satu. Jangan mudah mengeluh.
Saya mendapatkan pertanyaan menarik. Ada beberapa teman terbaik yang menjadi penyimak perjalanan saya dari sebelum menikah hingga menjadi ayah. Mereka pasti tahu bagaimana perjalanan itu begitu berliku, tidak selurus cerita-cerita di buku-buku yang saya tulis sendiri.
LifeCrisis seperti apa yang menjadi titik balik?
Saya akan berbagi beberapa hal yang bisa dibagi.
1. Terkait Menikah
Tahun 2014 akhir hingga 2016 pertengahan adalah fase dimana saya mengusahakan diri untuk menikah. Semua berjalan dibawah bayang-bayang, alias diam-diam. Saya pernah berdoa sambil memaksa, bahwa harus orang ini, atau dengan orang ini. Saya kekeuh karena saya percaya bahwa segala sesuatu pasti bisa diwujudkan, asal jangan menyerah. Ini adalah salah satu sifat keperfeksionisan saya dalam hal lain.
Ternyata rumusnya tidak begitu dalam hal takdir pasangan hidup. Allah menjatuhkan saya berkali-kali. Dan saya mengulangi lagi dengan cara yang sama, dijatuhkan lagi. Sampai titik akhirnya, saya pasrah. Tidak sampai sebulan saya berpasrah, Allah datangkan seseorang yang kini menjadi istri saya.
2. Fase Stagnan
Pernah tidak, merasa bahwa dalam rentang waktu cukup lama, kita merasa seperti tidak kemana-mana, diam ditempat. Tidak bertumbuh baik secara ilmu, secara fisik, secara apapun.
Saya mengalami itu. Aktivitas usaha saya, alhamdulillah memberikan kecukupan yang menurut saya amat sangat cukup untuk ukuran baru lulus belum lama. Saya pernah sampai dititik, tidak tahu mau apa lagi di dunia ini. Ini mengerikan, seperti depresi. Saat kita benar-benar tidak punya keinginan, analoginya seperti kamu tidak ingin beli apapun karena seolah-olah semuanya telah terbeli, sementara kamu memiliki uang untuk membelinya. Sampai kamu sumbangkan-sumbangkanpun, uangmu justru bertambah.
Saya pernah dititik, tidak ada hal lain yang saya inginkan di dunia ini. Saya seringkali mengendarai mobil tanpa tujuan, berkeliling kemana saja sampai lelah. Menyendiri, sangat introvert padahal saya ENTJ. Itu adalah seperti fase kehilangan tujuan hidup. Saya tahu ada yang keliru dalam hidup saya.
Dan saya terus menerus mencarinya sampai saya menemukannya. Dan yang keliru adalah berkaitan sama poin pertama. Saya pernah membuat dreamlist/dreamboard di tahun 2012 dan semuanya tercapai di tahun 2015, dan semua hal yang saya tulis tersebut bersifat materi :) Disitulah saya mengerti, hidup ini bukan untuk mengejar materi karena itu berisi kehampaan. 3. Restu
Hal yang paling bisa membuatmu tenang dalam menjalani hidup adalah ridha orang tua.
Saya sering berbagi kisah ini ketika mengisi acara bedah buku ketika berbicara tentang perjalanan kepenulisan. Saya tidak linier dengan jurusan-jurusan yang saya ambil, SMA di IPA, kuliah di SeniRupa, dan berkarya di Kepenulisan Fiksi. Dan orang tua, pada waktu itu masih punya harapan sejak lama sekali; anaknya berkarya di instansi, jadi PNS :)
Jalan yang saya tempuh sekarang ini adalah jalan paling menenangkan karena semuanya sudah mendapatkan ridho. Rasanya masih mengganjal, saat kita ingin bekerja, berkarir, berkarya dalam suatu bidang, tapi orang paling dekat dengan kita justru berharap yang lain. Saya khawatir, ibu berdoa berbeda dengan isi doa saya XD
Akhir 2014 saya melakukan diskusi, memediasi impian-impian saya dengan presentasi ke kedua orang tua. Saya membeberkan recana hidup dari waktu itu (2014) hingga beberapa tahun mendatang. Semuanya saya katakan, detail terkait waktunya, mau jadi apa, bisnis apa, berapa potensi ekonominya, mau menikah, kapan menikahnya, dan kesiapan saya sejauh mana (termasuk kesiapan ekonomi karena waktu itu saya ingin memodali nikahan sendiri), tinggal dimana, dsb. Sampai orang tua tidak lagi ada pertanyaan apapun tentang anaknya ini. Hingga lahirnya kalimat ajaib yang intinya; Kami sebagai orang tua ridha sama rencanamu, Nak.
Selepas restu itu turun, semuanya berjalan dengan di luar dugaan, sekaligus saya tenang menjalaninya.
Ada tiga hal yang mungkin bisa saya sampaikan karena yang lainnya rahasia. Life Crisis akan menjadi pengalaman eksklusif masing-masing orang. Tidak sama satu dengan yang lain kasusnya. Dan saya percaya, kita pasti bisa melewatinya. InsyaAllah.Â
Jangan berhenti melangkah :)
Salam hangat,
Kurniawan Gunadi
Saya berada di nomor dua, tapi saya paham, masih banyak yang harus diperjuangkan
Jangan sekali kali mengkalkulasikan amalan kita dengan kalkulator duniawi
Ust. Hilman Rosyad
“Bapaknya Baro bang,”
Persis sebelum dzuhur, sebuah pesan masuk ke Direct Message Instagram. Sebuah pesan dari salah seorang adik kelas di kampus. Pesan yang ternyata diawali dengan sebuah broadcast-an.
“Innalillahi wainna lillahi Roji’un… Telah meninggal dunia Ustadz Hilman Rosyad pagi ini jam 10… Mudah2an Husnul Khatimah… Aamiin”
Seketika langsung gemetarlah membacanya.. Langsung mengingat ketika terakhir menyaksikan beliau.. Ust. Hilman Rosyad
Jujur, sebelumnya tidak banyak tahu mengenai beliau. Hanya pernah sekilas melihat kultwit-kultwitnya di media sosial.
Jujur, mulai banyak mencari tahu tentang Ust. Hilman Rosyad adalah ketika salah seorang anak beliau, yaitu Baro bergabung ke dalam organisasi yang sama di kampus. Mencari tahu yang harapannya bisa menjadi sarana untuk mengakrabkan diri. Mengerat ukhuwah.
Dan setelah dicari tahu, barulah ngeh.. Ternyata Ust. Hilman ialah da’i yang akrab dan telah cukup dikenal masyarakat. Di tengah kesibukan beliau menjadi anggota dewan, beliau masih menyempatkan diri untuk mengisi pengajian dari masjid ke masjid. Spesialisasinya ialah Aqidah, hadits tafsir Qur’an, dan tadzkiyatun nafs.
Pernah kami mendapat kabar dari Baro bahwa beberapa tahun terakhir ini penyakit menyerang Ust. Hilman Rosyad. Namun, penyakit yang menghinggapi tidak mengurangi semangat dan kecintaan beliau terhadap dakwah Islam.
Ketika itu saya sendiri menyaksikan, dalam acara World Qur’an Hour di masjid Pusdai Jawa Barat, kaget melihat Ust. Hilman Rosyad berada di sana. Hal yang mengagetkan adalah karena sebelumnya Baro mengabari bahwa Ust. Hilman sedang sakit bahkan keluar masuk rumah sakit. “Apa sudah sembuh?” Begitu gumam saya dalam hati.
Dan ketika Ust. Hilman dipersilahkan untuk naik ke panggung, ternyata Ust. Hilman masih sakit. Namun masyaAllah, beliau menutupi hal tersebut dengan sebuah senyuman ikhlas. Dan saat beliau memulai taujih, beliau menyampaikannya dengan lantang, lugas, dan penuh penghayatan..
Sungguh banyak sumbangsih yang telah Ust. Hilman dedikasikan untuk umat. Termasuk nasyid-nasyid beliau bersama grupnya - Shoutul Harokah yang seringkali menyuntik ghirah dakwah, terkhusus bagi anak-anak kampus macam kami.
Sungguh, syair pada nasyid-nasyid beliau amat menggugah semangat. Mengajarkan kita untuk tulus berjuang dalam membangun umat.
Lagi-lagi, kita berduka kehilangan sosok da’i yang paripurna. Dan sudah sepatutnya kita ikut berduka atas diri kita sendiri. Karena entah telah sejauh mana khidmat kita untuk umat.
Karena senang rasanya bisa meninggal dalam kondisi seperti beliau. Telah banyak yang diberikan, sehingga banyak yang mendoakan.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki..
..mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(QS. Ali Imran: 169-170)
999999x
Semalam lagi lagi aku bermimpi tentangmu. Tentang kita yang dipertemukan di sebuah pertunjukan lucu. Tidak berbubah, sikapmu tetap sama dinginnya.
Kamu tau? Hampir tiap purnama aku selalu memimpikanmu, dan hanya kamu satu satunya yang pernah ku mimpikan.
Setidaknya, bermimpi tentangmu membuatku dapat terbangun dengan perasaan sedikit senang, meski tidak sepenuhnya.
Hei, kamu apa kabar?
Melankolis
Akhir akhir ini saya sering bingung bagaimana menghadapi manusia. Ketika bertemu yang pendiam, kami hanyut dalam hening tanpa ada kata terucap. Merasa kosong. Tak tau apa yang harus dibicarakan atau pun menjadi bahas diskusian. Pun ketika saya dihadapkan dengan ia yang periang. Lebih banyak mendengarkan dengan senyum tipis di tiap akhir ceritanya
Entahlah. Mungkin saya sekarang sedang enggan berbicara dengan siapa pun baik langsung mau pun tidak. Saya pun tidak tau apa yang harus dibicarakan. Kesepian? Ya. Tapi saya tidak merasa merana. Saya menikmati keheningan dan kesendirian saya. Tanpa ucap dan kata.
Saya sekarang merasa bingung dimana letak dunia saya, yang ketika saya berada disana, saya mampu dan berhasil menjadi diri saya yang sesungguhnya, yang saya cintai, yang saya banggakan, sanguinis.
Kesepian Mama
saya pulang. 30 menit sebelum adzan magrib. rumah terkunci. tidak ada siapa-siapa. pintu sebelah juga terkunci dari dalam. saya duduk di bale-bale yang mama buat sendiri.
kemudian ada yang berkelebat di sekitar saya. mengagetkan saya. tapi tidak ada siapa-siapa. kelebat itu muncul lagi, lebih terasa. seperti menusuk. ketika saya masuk ke rumah, menghidupkan lampu, melewati tempat tidur mama, membuka pintu belakang, memeriksa bak mandi, dan menyapu rumah, semua bayangan menjadi satu. semuanya menjadi adegan-adegan keseharian mama.
mama yang sendiri.
mama yang baru saya sadari betapa hening dan sepinya. rumah yang lembab dan jika hujan gemuruh dinginnya sampai pada tulang-tulang kaki mama.
tapi tidak ada kami. tidak ada saya. yang mencarikan kaus kaki tebalnya. yang seringkali tak lagi berpasangan sebab terlalu sering kelupaan menyimpannya. tidak ada saya yang membuatkannya kopi. atau sekadar memberikannya pelukan.
tidak ada.
mama yang kesepian dan selalu bertanya “kamu ke mana sabtu atau minggu besok?” tapi selalu saya jawab “belum tahu, ma.” saya yang terlambat menyadari bahwa itu bukanlah pertanyaan tapi pernyataan “mama bosan, mari kita jalan bersama.” atau di lain waktu ketika saya pamit untuk lembur, mama kan tanya “kamu pulang tidak?” mungkin saja dengan seluruh sisa kekuatannya mama akan bersiap kesepian lagi malam itu.
adegan-adegan mama menjahit. menunduk memasukkan jarum. menarik sekoci. memotong ujung benang. tanpa teman bicara. hanya ada radio yang 24 jam menyala. mama yang memperbaiki atap, mematikan air, menanam bunga, membakar sampah. mama yang mengantarkan pisang bakar ke kamar. mama yang menunjukkan pola baju saya. mama yang begitu bahagia ketika diundang di perpisahan SMA.
kesepian yang tidak bisa saya pahami. atau yang tidak mau saya pahami.
sekarang saya menangis. merasa tidak bisa melakukan apa-apa. saya tahu bahwa kesepian dapat membunuh. hening yang tidak disukai orang-orang tapi saya membiarkannya terbiasa di tubuh mama.
saya bersalah. dan begitu tertekan.
sebagai anak aku sering alpa sebagai ibu kau tabah melulu
Bengkulu, 2017.
:(
Beberapa waktu lagi mungkin saya akan mencapai masa masa inu
2018
Rumit.
Ayah kerja di Jakarta, mama akhir januari harus pindah diluar Semarang, sedangkan adek tahun ini kelas 6. Ditambah mbak ART yang akhir Juni mau menikah, otomatis tidak lagi kerja. Dan saya, yang mulai tertarik berbagai kegiatan ormawa juga melirik kampus luar kota.
Semoga, ke khawatiran saya tidak terjadi. Saya percaya setiap langkah yang diambil pasti ada risiko, dan pengorbanan. Dan semoga, bukan mimpi saya yang dikorbankan.
❤❤❤❤
Islam tidak menyukai sebuah perdebatan.
Terlebih perdebatan akan pemahaman yang sudah mendarah daging dan sulit untuk diubah. Juga perdebatan dengan sahabat, orang orang tersayang. Tahan. Simpan argumen dan rasa egoismu!
Katalisator Sukses
Berjuang tanpa berdoa itu perilaku sombong. Berdoa tanpa berjuang nggak lebih cuma omong kosong -Sintesa Voice
Kurang lebih seperti itu penggalan lirik nasyid yang saya suka. Ibarat perjuangan adalah sebuah proses, maka doa adalah katalisator. Pendukung, juga pemercepat.
Tidak ada istilah sia sia dari sebuah usaha. Keringat yang mengalir di tiap langkah perjuangan, pastilah menuai hasil. Maksimal atau tidak, menjadi sebuah rahasia pemilik langit.
Hidup adalah tentang perjuangan. Entah memperjuangkan kesuksesan dunia, mau pun akhirat. Tugas kita tetap adalah berusaha. Mengupayakan segala mimpi, juga tuntutan hidup yang mau tidak mau harus dilewati dengan jerih payah.
Dan perjuangan bukan hanya sekadar perkara perbuatan duniawi. Tetapi juga ibadah ibadah. Yang terlaksana dengan sebuah perjuangan
Berhentilah bicara hasil. Karena itu urusan Sang Pencipta.
Selagi sudah berjuang, dan memohon. Mengapa masih harus ragu?
Lirih
Pada tiap rantingnya
Yang selalu pasrah terbawa angin, terombang ambing
Mengikuti iklim alam raya
Yang kering pada kemarau, berguguran pada semi
Bukan tidak mau mengelak
Bukan bertahan diri
Tetapi memang seperti itu adanya
Tidak ada alasan
Apalagi gugatan
Semua memang seperti itu jalannya
Pada akhirnya memang ada hal hal yang harus kita terima dengan apa adanya, juga lapang dada.
Tidak ada orang yang setuju dengan LGBT. Hanya cara mereka yang menanggapi yang berbeda
Kamu : kamu kenapa?
Aku : aku cemburu
Kamu : apa?
Aku : aku cemburu
Antara aku dan kamu, perasaan dan kenyataan
#Aksi
Baca sampai akhir ya, agar tidak salah paham
Berbicara soal aksi, berbicara tentang bagaimana turun ke jalan. Meneriakkan kalimat kalimat dengan penuh semangat, berjalan longmarch, aksi teater, membagi bagi makanan, juga terkadang terselip aksi reuni dan sosialisasi politik.
Dulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah, saya suka sekali jika diajak guru saya untuk aksi. Memakai ikat di kepala, mengepalkan tangan sambil berteriak jargon, juga menyaksikan pertunjukan pembacaan puisi. Bangga rasanya ketika sudah ikut aksi, merasa seperti sudah berkontribusi.
Tapi semakin kesini, semakin saya memahami apa dan untuk apa sebuah aksi dilakukan. Entah kenapa saya menjadi semakin tidak tertarik. Bukan, bukan karena alasan fisik seperti panas dan keringat. Tetapi terlebih tentang tujuan manfaat dan strategi. Disini saya tidak mengatakan bahwa aksi tidak memiliki manfaat. Tidak. Tetapi saya merasa masih ada cara lain yang lebih efektif untuk saya lakukan, berdoa pada sepertiga malam misalnya.
Semakin kesini, saya menyadari bahwa aksi seharusnya hanya menjadi jalan terakhir ketika semua cara sudah tidak dapat di lakukan. Pun juga harus dengan strategi agar aksi tidak hanya sekadar kumpul bersama, meneriakkan permintaan, membacakan puisi dan kalimat bijak, kemudian masuk media, lalu selesai. Pihak yang dituju seakan abai, tidak peduli dan tidak mau dengar dengan kalimat kalimat penuh makna yang sudah disiapkan para peserta aksi. Bukan percuma, hanya saja kurang efektif.
Semakin kesini, saya juga semakin menyadari bahwa hanya satu persekian dari peserta aksi yang murni benar benar untuk aksi. Disini saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak ikhlas, tidak. Saya berkata seperti ini karena kemarin saya tidak habis pikir, ketika ada jarkoman aksi solidaritas, yang kemudian menyuruh pesertanya membawa bendera partai dan memakai seragam partai. Jadi, maksud dan niatnya apa? Saya tidak tau ini salah atau benar karena ilmu saya masih rendah.
Katanya, suara wanita adalah aurat. Lalu bagaimana dengan mereka yang berteriak teriak di lapangan? Katanya, bercampur antara wanita dan lelaki adalah ikhtilat. Lalu bagaimana dengan mereka yang menjadi satu padu tumpah ruah di sebuah lapangan? Katanya, wanita lebih baik di rumah kecuali pergi dengan mahramnya. Lalu bagaimana dengan? Ah sudahlah, ini hanya opini dan pertanyaan pertanyaan kecil saya yang sepetinya asyik untuk di diskusikan karena ilmu saya yang masih begitu cetek.
Saya tidak menolak aksi. Saya berani menulis seperti ini bukan karena saya belum pernah merasakan aksi. Saya tidak menolak aksi, ada pihak pihak yang memang menjadi bagian untuk harus turun ke jalan menyuarakkan kebenaran.
Dari opini ini saya hanya berpesan, jangan mencibir mereka yang tidak aksi dengan mengatakan tidak turut berkontribusi :)
Saya sedang belajar bahagia sesederhana mungkin, agar kelak ketika saya sedih, tidak terlalu banyak air mata yang tumpah