"Pilihan-pilihan itu terekam di dalam kepala kita dalam bentuk fragmen-fragmen momen yang pernah kita alami, tersimpan rapi di dalam sel-sel otak kita, kadang malah terbenam di situ sekian lama, sampai ada sesuatu yang mengusik kita akan momen itu." Begitu yang kukutip dari salah satu novel yang baru kubaca, Saat ini aku sedang dalam perjalanan pulang di mobil, jalanan Ibukota selalu padat. Seperti biasa. Tidak, kali ini ada yang berbeda. Aku tidak berkonsentrasi pada jalanan malam itu. Pikiranku kembali pada satu Rabu Malam, ketika aku dan kamu menghabiskan sisa Malam itu menatap mobil dan motor berlalu-lalang dari pinggir jalan raya sambil kamu menghisap rokok dan aku hanya duduk menemanimu. "Aku rindu seperti ini," katamu. Aku tidak tahu arti senyummu. Bisa sedih atau bahagia, aku tidak tahu. "Aku suka..." Kamu menatapku, lama. namun tidak kamu teruskan perkataanmu. Aku akhirnya menatapmu, berharap kamu melanjutkan kalimatmu. "Aku suka... Kita yang seperti ini. Aku dan kamu. Kita yang sempurna." Kamu kembali menghisap rokokmu lalu membuangnya menjadi asap yang panjang. Kamu tersenyum lagi. Aku menangkap sedikit kegetiran dari senyummu. Sedikit. "Tapi itu dulu ya?" Katamu buru-buru menambahkan. Aku masih ingat, kita menghabiskan malam itu seperti kita pertama kali memutuskan untuk meresmikan hubungan kita. Aku masih ingat, kamu mengenggam tanganku sepanjang malam itu. "Aku ngga mau kamu pergi lagi." Aku masih ingat, malam itu aku menggeleng lemah, melepas genggamanmu lalu aku berdiri. "Aku mau pulang," kataku berusaha berkata setegas mungkin. Tapi mungkin usahaku gagal. Mengingat perih yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhku. Aku masih ingat tatapanmu, tatapan yang dulu menjadi candu dan kesukaanku. Kamu menatapku, seperti tidak akan bertemu denganku lagi. Kita diam. "Boleh ketemu kamu lagi?" Aku masih ingat, jika pada saat itu posisiku adalah aku yang 2 tahun lalu, aku akan langsung mengangguk dengan mataku yang berbinar, tapi tidak dengan aku pada malam itu. Aku masih ingat, aku menggeleng lagi, "kita udah beda." Hanya kalimat itu yang bisa aku katakan. Aku masih ingat, sepanjang kamu mengantarku pulang kamu tidak berbicara apa-apa lagi. Hanya terus menggenggam tanganku. Dan aku sibuk berperang dengan diriku sendiri. Aku masih ingat, setelah itu, kita bertengkar dan berdebat seperti yang selalu kita lakukan. Aku masih ingat, saat airmata yang telah kupendam selama perjalanan akhirnya tumpah di hadapanmu. Aku masih ingat, lalu kamu memelukku. Airmata kita lalu bersatu. Aku masih ingat, aku menghirup dalam-dalam cologne yang menempel di bajumu, karena aku tahu itu terakhir kalinya aku bisa sedekat itu denganmu. Aku juga masih ingat, saat akhirnya, aku yang memilih untuk menyerah lebih dahulu. Dan akhirnya, di sini lah aku, terjebak di dalam kemacetan, mengingat malam itu.