Disaat Allah mulai menaikkan derajat kita secara perlahan, dengan ibarat kincir angin yang berhasil berada diatas. Disitu pula terpaan angin berhembus layaknya sebuah cobaan diberikan ketika disana.
Layaknya berhasil menjadi orang sukses secara terpandang, adapula tanggungan semakin banyak seperti gaya yang meninggi dan mengikuti ego maka kebutuhan makin tinggi. Padahal itu hanya hal fana belaka.
Adapun cara agar menghindar dari hal yang tidak mengenakan hati maupun tidak disukai. Berpura-pura layaknya orang biasa, memang layaknya menjadi orang biasa ketika sukses secara terpandang.
Agar apa? Menghindari adanya dalih dengan embel-embel "balas budi" & "menolong sesama".
Ada kalanya tulus menjadi dermawan, tetapi ada batasan ketika melakukan itu, sambil berkaca kepada diri sendiri apakah diri ini sudah bahagia?
Ada pula rasa cemas bahwa ketika diperlukan mereka datang, bukan sepenuhnya atas dasar kekeluargaan, pertemanan, maupun persahabatan. Tulus kah?
Akhir dari ini memang perlu rasa ikhlas rela dan bersyukur atas apa yang dicapai, agar apapun yang terjadi bisa dilewati meskipun banyak rintangannya.
Jangan lupa menurunkan ego disaat naik daun kawan. Tidak terbayangkan jika engkau ceroboh maupun lalai bukan?, hanya bisa berdiam diri panik dan tidak bisa berkata-kata
Ketika cek whatsapp dan memandangi fotomu. Teringat atas tanggung jawab untuk menyelesaikan momen ini secepatnya. Terima kasih, meski hanya gambar dari jauh bisa membuat semangat dan keberanian ini kembali lagi.
Jangan memaksakan diri disaat belum siap ataupun mampu. Jikalau memaksakan diri atas ambisi maupun tekanan, maka akan merasa runtuh maupun hancur disaat tidak sesuai dengan ambisi.
Jika telah memiliki hak istimewa, apakah masih tetap berdiri diatas ego pribadinya ketika masih bermasalah dengan seseorang?, atau menurunkannya agar merakyat demi kemajuan bersama?
Banyak harapan baik serta akan mendukung jika telah menjadi rendah hati dan tidak menjadi merasa sombong kepada yang telah menyakitinya maupun tidak suka atas perilakunya.
Mungkin dari beberapa sebagai orang biasa yang hanya bisa melihat dan enggan berkomentar banyak, dengan alasan takut menjatuhkan semangatnya disaat sedang berapi-api memimpin.
Bukan berarti takut, tapi berharap bahwasannya pemimpin harus menjadi pendengar yang siap entah atas dukungan dari sekitarnya. Karena sama-sama belajar atas diberinya ‘Hak Istimewa’ tersebut.
Terakhir... Tetaplah semangat atas pencapaiannya maupun ambisinya ketika berkampanye di khalayak banyak pada saat itu.
Hey how are you? Long time no see bro, can we meet up and share about something then discuss it together as usually again?. I don't know, when at here make me remember a moment meet and sharing about interesting topic then I feel interested to join your comunity for change my life more better, but.. always prohibited by permission for a reason too far and too night when back to home. Alright, just this I want to share. I'm sorry for grammar error for this words✌️. (at Stasiun Bekasi Timur) https://www.instagram.com/p/CPvNLFuFoqJ/?utm_medium=tumblr
Halo!, disini gue mau bahas persoalan sesuai judul.. yakni “Berubah sikap, perlu kah?”. Disini gue bahas berdasarkan perspektif gue pribadi dan berdasarkan pengalaman yang sudah berlalu. Lanjut!
Baiklah, disini gue bahas dengan latar belakang sikap yang dilihat orang kesannya bodoh dan merasa segalanya/merasa jagoan. Mengapa demikian? karena gue pernah merasakan hal tersebut.
Karena pada saat itu gue bangga melakukan hal yang menurut gue itu keren, tapi kesannya sok jagoan dan ikut-ikutan selain tulus karena ingin tau dan menambah pengalaman nanti.
Gue dulu orangnya gugup, pemalu (sampai sekarang), engga jago public speaking, tapi sekarang? I can do that some of that, so proud!.
Sempet juga gue dulu perilakunya engga tau diri dikampus, sampai beberapa temen angkatan ospek gue by deeptalk, dan gue masih inget sampai sekarang. Never forget! untuk kebaikan kedepannya. Terima kasih 2 sobatku, meski caranya keras. Kalau engga... ya engga bakal bisa berubah lebih baik, iya kan?
Lanjut!
Berubah sikap disini ada sedikit kasar pembahasannya untuk orang yang merasa jagoan dan ingin dibela terus oleh sekitarnya, ingin dipuji dan sebagainya. Emang kamu siapa? Bukan Tuhan maupun Nabi kan? hahaha. Engga deng, tapi serius ini..
Lalu.. gue berharap berubah menjadi lebih baik misalnya.. Lu dikenal buruk oleh berbagai pihak entah di lingkungan pendidikan maupun forum besar (iya beberapa yang sebel kayaknya).
Tolong, intropeksi diri, berkaca bahwa bagaimana bisa diterima oleh lingkungan yang ingin lu masuk, engga se-enak jidat dengan kelakuan lu yang mungkin orang risih. Jadilah pribadi yang rendah hati meski saat ini kawan belum seberapa banyak meskipun kenalan yang di miliki banyak.
Jadilah juga pribadi yang bisa menerima candaan kawan baru meskipun tidak mengenakkan hati, kurangi hal apapun yang dimaksud dengan baper atau bawa perasaan. Karena nanti sosok pemimpin nanti akan merangkul dan pasti harus mendengarkan keluh kesah dari para anak buahnya nanti.
Jika lu anak pertama dan seorang kakak, pasti bisa kan mengatur dan mengayomi adiknya?, tentu saja pasti bisa, gue yakin kok.. Karena gue anak pertama dan gue bisa mengayomi adik-adik gue, meski sering bertengkar karena berbeda prinsip, pendapat, maupun ego yang tinggi.
Terakhir.. turunkanlah ego yang dimiliki jika kelak menjadi pemimpin, entah pemimpin penting disuatu tempat, pemimpin pasangan lu, maupun pemimpin kedua setelah Ayah dilingkungan inti lu.. Dengarkanlah, dan resapi sejenak keluhan dari mereka.
Lalu yang terpenting sekali, belajar mengalah untuk menerima keadaan atau kritik, karena salah satu kawan pernah bilang “Pemikiran setiap orang tidak bisa disamaratakan”, iya. Kembali ke point sebelumnya ya, dengan berubah sikap, menjadi pendengar yang baik, dan bisa merangkul satu sama lain.
Sekian pesan dari gue pribadi atas pengalaman pribadi juga. Belum tentu 100% benar, karena sama-sama belajar untuk menjadi pemimpin, karena seorang pria akan menjadi pemimpin kelak. Oke? Terima kasih! :).
Koleksi lama (Juli 2020), lokasi dekat rumah nenek. #sumbarrancak #sumbar_rancak #tripsumbar #exploresumbar. (at Desa Terindah Dunia Pariangan, Tanah Datar, Sumbar) https://www.instagram.com/p/CHxof4gFiWB/?igshid=1q7k3ect31pt5
Namun, dibalik nenek meninggal ada kabar bahagia juga dari sepupu gue, tau-tau dia tunangan. Jiahahaha, budhe seneng banget ngasih cincin ke mantunya. Gue juga seneng akhirnya bakal nikah juga nih anak.
Gue kasih ucapan selamat setelah nenek dikuburkan karena gue super sibuk nerima tamu, urus sana sini (heleh). Whatsapp aja engga gue baca sampai ada yang ngambek engga dibalas. (Tolong yang begini kasih pengertian lah).
Lalu sepupu gue yang di kampung bapak telp gue kalau lupa password akun googlenya, yaudah gue kasih arahan lewat telepon, pas udah selesai baru bergosip pas soal kemarin kayak gini
I : “Kak, kemarin kan Pakde yang di Semarang cerita kalau Mas ini udah tunangan, terus Mas (anaknya Pakde) ditanyain kapan mau nyusul, koyok ngono to kak”.
Z : “Terus gimana katanya dah?”
I : “Nanti to pak, ndang lulus S2 baru nyusul”
Z : “wkwkwkw, tak bilang ke pacarnya piye?”
Lalu ada lagi pas pembahasan ini dua orang udah kelar :
I : “Yowis rapopo kak”.
I : “Masa iya ini udah nikah yang satu lagi udah tapi engga dirayain”
Z : “Ya gimana, orang kondisinya lagi begini gimana..”
SIsanya lupa, ya setidaknya batal untuk sementara dan gue dapet info dari Budhe gue kalau yang dideket rumah udah pasang dp buat acaranya dan engga bisa di batalin. Gue bilang “Lah kalau misalnya masih engga bisa ya gimana dong budhe?, soalnya kondisinya makin parah disana, katanya orang-orang sana begitu”. Yaudah cuma pasrah doang.
Setidaknya yang disana pengen banget ngadain hajatan disini, disana juga iya. Mungkin pengen main kesini pengen ngerasain ibukota gimana rasanya, sampe cerita sama adek sepupu gue yang lainnya
T : “Mas, saiki aku hampir ikut kesana tapi aku lagi PKL to”
Z : “Iya sih, kamu D3 kan ya?”
T: “Inggih mas, tapi ya nanti aku mau main, penasaran gimana rasanya”.
Z: “Ya, kabari aja. Ntar kamu dirumahku aja, biar engga rebutan kalau mau mandi, wkwkwk”.
Akhirnya yaudah, tinggal nunggu waktu yang tepat kapan itu hajatan / resepsi itu bakal diadain, gue engga tau bakal ikut apa engga. Maunya bulan Februari 2021 ke kampung bapak lagi, tapi sampe ibukotanya dulu, mau balas dendam main sama sepupu, kerumah bulek, ketemu temen, dan mampir ke kampus orang. Syukur-syukur bisa balik, hahaha.
Yaudah yak, setelah cerita panjang yang dari bulan Maret 2020 sampai Oktober 2020 kemarin pembahasannya.
Nah.. Ini part selanjutnya, karena menurut gue panjang banget, hehehe.
Lanjutt!!.👇.
Setelah urusan pembatalan selesai entah bulan maret atau april. Bulan Juni Nenek gue (dari ibu) sakit keras, gue sempet galau juga harus ikut ke Padang, dan persyaratannya pada saat itu ribet banget. Harus rapid test lah, buat surat SIKM. Dateng 4 jam sebelum penerbangan, yang dimana biasanya cuma 1 setengah jam penerbangan harus udah di bandara dulu.
Pas udah sampe Bandara Soekarno Hatta. Jeng jeng....✨✨. Ya ampun, malah kaga macem-macem syaratnya.
Yaitu :
Hasil Rapid Test / Hasil Swab Test (PCR)
Tiket Penerbangan
ID Card (KTP/SIM/Paspor)
Mana posisinya udah kelaperan coba disana saking lamanya.
Lalu setelah semua urusan selesai check-in, nunggu dan terbang lah ke ‘kampuang halaman nan jauh di mato’, alah lama indak bajumpa jo adiak bungsu. Aligg, bahasa minanng gue jadi keluar kan?, wkwkwk.
Sedihnya emang gue kaga boleh di drop disana dan lupa ngabarin temen buat jemput, trus kabur kerumah om yang di deket sana🤦♂️😑. Sedih? banget, yaudah nurut aja sama orang tua.
Nah, pas udah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Harus isi surat izin masuk lah, SIKM, E-HAC (dari handphone dan wajib punya kalau mau naik pesawat terbang yak!). Tapi konon kabarnya lebih mudah pake E-HAC, nanti gue tanya Bapak kalau udah balik dari proyek bagaimana sistem yang sekarang.
Ngisinya lama banget asli, ada kali kayak ditahan di imigrasi kesannya, setelah satu jam selesai dan cuss pulang kampung. Sedih banget engga bisa misah dulu dari suasana beracun ini.
Sampai di kampung ya pada kaget dengan gue sekarang bagaimana, lalu melihat kondisi nenek. Asli, gue bodoh banget jarang lihat nenek sama gaek waktu kelar TWNAS 2018, 2 tahun lalu. Mau nangis karena nyesel.
Lalu, nenek dimanja dan diurus sama ibu, standby sambil jagain, ya ibu jarang kemana-mana. Paling mantengin socmed, youtube, main game. Mak tuo mah jadi juru masak, wkwkwk.
Namun.. yang namanya umur engga ada yang tau, hanya Allah yang maha mengetahui berbagai hal. 35 hari gue disana, kenapa nenek makin turun kondisinya. Tetapi, beliau kasih senyum ke gue dan adek gue yang tengah pas lagi di mandiin, dan gue seneng banget bantuin ibu keramasin rambut nenek pada saat itu. Siang hari ibu bilang kalau mau pergi sebentar ke Padang Panjang buat beli barang dan makanan kesukaan kami, martabak kubang deket ISI Padang Panjang.
Pas sore hari lagi di dapur gue gabut mau ngapain, akhirnya belajar toefl lagi kan buat ngasah grammar gue biar bener dikit. Lalu om gue dateng dan mau bantu ngajarin, lumayan lah dapet ilmu sekelas mahasiswa kampus swasta itu, hehe.
Tiba-tiba ibu dateng bilang kalau nenek agak berat nafasnya, gue panik kan. Kayak orang pingsan atau engga, ya sudah lah.. sambil menuntun dan mengucapkan kalimat tauhid. Nenek meninggal di tanggal 18 Juli 2020, 18;30 WIB.
Oke. Udah lama engga nge-blog lagi nih, cuma bingung apa yang akan dibahas...
Nah, yang dibahas kali ini adalah..... jeng jeng...✨
NEXT👇
Jadi begini, mungkin sekitar tahun lalu sepupu gue melangsungkan akad nikah dirumahnya. Ya kondisinya mendadak juga kan,tamunya keluarga besar yang tinggal di satu kota aja lah, kayak gue dan keluarga lainnya.
Gue spechless (terpukau) gitu dong ketika sodara gue mau dipersunting sama pujaan hatinya (btw dia cewek), udah selesai di makeup, pada akhirnya.. tiba lah akad tersebut..
Gue seneng juga akhirnya setelah bacaan ijab tersebut selesai diucapkan dan.. “SAHH!!”. Alhamdulillah kelar dah tuh. Sekaligus perayaan syukuran kecil-kecilan kayak makan bersama begitu, selesai dan pulang kerumah.
Setelah beberapa bulan (mungkin, karena gue lupa dan engga begitu tau), baru dah mau ngadain resepsi belum tentu pada saat itu kapan. Setelah tanggal udah tetap tanggal sekian, tibalah keluarga besar dari kampung beli tiket kereta yang dimana beli hampir 1 gerbong di booking.
Engga salah tuh satu gerbong?, iya beneran cuy, kan keluarga besar dan bangga aja ketika yang disini udah nikah. Otomatis gue pasti dateng untuk ‘menyambut aja’, hehehe. Kecuali yang spesial baru gue prioritaskan😆😎.
Tapi.. tiba-tiba batal karena pandemik trs gue nge-tweet dan bodohnya gue lupa kalau akun gue difollow sama Om gue yg disana, terus tweet gue di like sama beliau.... Dibenak ini “Mampus nih gue *tiba2 parno takut diaduin ke Bapak😐“.
Akhirnya dengan berat hati... Mohon maaf ya om, block trs di unblock, maaf ya om... wkwkwk. Tapi om gue cukup santuy kok, udah deket dari lama pasti tau kenakalan ‘remaja’ ini dan gue yang berani ngomelin anaknya kalau bandel.
Berakhir dengan dibatalkan satu gerbong dan konon kabarnya dibatalkan semua karena pandemik ini, gue juga baru tau-tau ini. Lalu gue beri pengertian kepada Budhe gue yang cukup dekat dengan ‘yang ini’, bahwa zona tempat tinggal mereka sudah memasuki zona hitam dari sebelumnya zona merah, mau masuk rumahnya aja yang cuma lewat portal harus muter dulu, huft.
Gue sempet nge-tweet persoalan setia ini, dia setianya bagaimana, kayak begini..
“Gue engga begitu terobsesi sama seseorang, tapi kesannya kayak terobsesi karena kesetiaannya memulai bersama dari nol hingga saat ini mampu dilihat baik disekitarnya. “
LANJUT!👇
Iya, gue mau membahas orang yang menurut gue udah dianggap sebagai kakak sendiri, sebagai pendengar yang baik untuk adik-adiknya. Maklum sama-sama sebagai anak pertama saling berbagi pengalaman dengan hal yang terjadi, Hehe.
Sempet sedih juga waktu lagi ke Semarang engga ketemu buat melepas rindu sama Kakak sepupu dan orang ini, sampai di DM begini karena cepet banget disana, posisi gue bukan di Semarang sih.. lebih tepatnya di Boyolali.
“Cepet bgt cuy”, iya.. dengan berat hati gue nurut aja engga mampir-mampir, apalagi kondisi lingkungan sedang dilanda musibah yang begitu menyeramkan. Ditambah ada yang ngikut juga karena suatu hal, hitung-hitung nyenengin orang lain. Tapi malam sebelum pulang gue malah curhat sama adeknya dia yang seumuran, Hehehe.
Nah.. orang yang gue bahas ini sebenernya pacarnya kakak sepupu gue, impresi pertama gue cuma flat biasa aja, tapi lama-lama asik juga, sekalinya royal ya royal, tapi tau tempat yang cocok.
Lalu setianya menurut gue adalah, dia udah jadi pacarnya kakak sepupu gue selama 5 tahun, memulai dari kakak sepupu gue putus trus dihina sama mantannya lah.. Tau-tau kakak sepupu gue sekarang yang lebih sukses daripada kondisi sang mantan saat itu.
Balik lagi ke Pacarnya sepupu gue, menurut gue dia cukup setia lalu lebih tau seluk beluk kakak sepupu gue ini 😄. Keluarga inti kayak Pakdhe-Budhe malah fine-fine aja dan santai.. Mungkin karena udah cocok cuy.
Lalu memulai juga dari zamannya penampilan mereka masih...... *no comment, menjadi good looking than before. Setidaknya mereka berjuang dari nol, hingga sampai menjadi sukses saat ini. Itu point utamanya.
Mungkin gue terinspirasi lagi dari pasangan Arief Muhammad & Tiara Pangestika.
Kak Tipang termasuk wanita yang tersusun ketika membuat suatu rencana, setia, dan mandiri. Ketika Bang Arief sedang naik daun pada masanya sama Bang Omen, hura-hura sana sini lah, lalu ada kalanya Bang Arief hampir bangkut pengen jualan pulsa, trus akhirnya Kak Tipang masih setia membantu mereka dalam masalah keuangan dan bangkit lagi hingga sukses saat ini, apalagi mereka sudah dikasih amanah lagi, yaitu Baby Ibrahim atau dipanggil Baim.
Semoga sehat-sehat dan sukses terus wahai kalian yang saya sebut ditulisan kali ini. Kali aja gue ikutan sukses juga kayak Kakak Sepupu gue - Pacarnya & Bang Arief - Kak Tipang, hehe.
Baiklah sampai di tulisan selanjutnya, yang akhirnya bisa diungkapkan juga.
Hari terakhir disini dan Selamat Idul Adha semuanya!. Difoto pagi-pagi setelah sholat. Baru ingin diunggah sekarang. (at Kubu Kerambil Batipuh) https://www.instagram.com/p/CDTZqw2lkTB/?igshid=1cuf9u62t2xef
Random Stories @zhafarulharids - Tumblr Blog | Tumgag