Rambut
👩🏻 Duh kepalaku makin berat, pengen potong rambut aja
👨🏻 mau potong kapan? Dimana?
👩🏻 besok mungkin, dengan mamah salon
👨🏻 tar aja pas mas pulang lagi, mas temenin ke salon
👩🏻 ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
01112020

★
Misplaced Lens Cap
One Nice Bug Per Day
Game of Thrones Daily
AnasAbdin
Monterey Bay Aquarium

izzy's playlists!

titsay

No title available
Jules of Nature

pixel skylines

❣ Chile in a Photography ❣
we're not kids anymore.
🪼
occasionally subtle
YOU ARE THE REASON
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
wallacepolsom

Andulka

Love Begins

seen from United States

seen from Hungary
seen from United States

seen from France
seen from Austria

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from France
seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
@zikrinas
Rambut
👩🏻 Duh kepalaku makin berat, pengen potong rambut aja
👨🏻 mau potong kapan? Dimana?
👩🏻 besok mungkin, dengan mamah salon
👨🏻 tar aja pas mas pulang lagi, mas temenin ke salon
👩🏻 ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
01112020
ya Allah..
Disaat aku berhusnuzon kepadamu, mensyukuri apa yang aku miliki, dan berbahagia dengan yang kumiliki.
Mengapa perkataannya membuatku bersedih. Ampunilah Hamba ya Allah.
😭😭😭😭
Kuatkan batin hamba ya Allah
Mengapa perkataannya membuatku bersedih.
Apakah iri ini muncul ya Allah?
Ampunilah hamba ya Allah 😭😭😭
Padahal banyak nikmat yang telah engkau berikan kepadaku.
Resign aja!!
Sudah ke10 kali ya orang bilang kek gini ke aku.
Sampe ada yang bilang gini “mungkin karna kecapekan kerja jadinya belum punya baby, udah resign aja”
Hmm bukan gimana ada orang tua yang masih saya harus nafkahin. Masih ada yang aku tanggung.
“Ga mau ikut suami na?”
- siapa sih yang mau pisah-pisah terus sama suami, pengen kok, tapi gimana keadaan begitu. Mohon doanya aja ya
“Ya pantes aja belom ada baby, wong suaminya dimana”
- mohon doanya ya semoga lekas pindah suami ke jakarta, bukan aku ga mau pindah. Ayah ibuku siapa yang jagain :(
“Cari jodoh kok jauh betul”
- Saya berterima kasih sekali udah mendapatkan jodoh yang baik, walaupun jauh dan tidak terbayang sebelumnya, tapi masyaAllah cara Allah mempertemukan kami.
“Karir mulu, gimana mau fokus punya anak”
-saya ga kerja karir kok, saya cuma cari nafkah untuk keluarga saya.. saya ga mau bebanin suami saya, saya mau nafkahin ayah ibu saya.
Semua jawaban sebenernya hanya senyum dan diakhiri, doain aja semoga yang terbaik yang diberikan
10 bulan Pernikahan
Alhamdulillah sudah 10 bulan usia pernikahan kami, dan kalau di itung waktu yang kita habiskan bersama itu 4 bulan lamanya, 6 bulan LDR.
Semakin kesini jujur semakin sering orang lain menanyakan “udah isi belum?” , “udah hamil belum?” dan lain sebagainya. Awalnya biasa aja namun makin ke sini jujur aku makin insecure dengan diri. Semakin takut dan ga pede. Melihat kabar orang lain yang umur penikahannya lebih muda sudah sudah hamil sedang aku belum.
Pikiran carut marut, ditambah kondisi pandemi seperti ini, semakin sulit kami bertemu :”) .
Namun suamiku berkata “ya mungkin belum dikasih dan akan diberikan ketika waktu yang tepat” , “ya mungkin Allah pengennya mas pindah dulu biar bisa jagain kamu, kalau isi sekarang posisi mas kan jauh sama kamu”. “Ya mungkin Allah sayang sama kamu, di pandemi gini kan banyak yang OTG, takut-takut malah kena kasian dedek bayi nya”. “Ya mungkin karna pandemi ini juga nanti kamu susah kontrol nya ke dokter” dan banyakk lagi cara suamiku menenangkanku. Terima kasih ya mas :”)
Tapi apalah dayaku, yang masih saja sedih dan iri pada orang lain.
Hari ini aku menulis disini karna sudah tertumpuk pikiranku dan ingin menumpahkannya disini.
Teruntuk kamu yang posisinya sama seperti aku, tetap sabar yaaa untuk kita :””) InsyaAllah Allah akan memberikannya di waktu yang tepat. InsyaAllah
Jakarta, 28 Juni 2020
Ramadhan pertama bareng setelah berkeluarga
Dulu setelah menikah sempet wonder, bisa ga ya nanti saur, puasa, teraweh sama suami? Karna sebagai salah satu pasangan LDM. Hal ini menjadi pertimbangan apakah ambil cuti untuk saling mengunjungi.
Siapa sangka, adanya pandemi ini membawa keberuntungan kepadaku. Suami di WFH kan, keputusan suamiku untuk ke jakarta pertama kali di WFH kan adalah keputusan yang tepat. Sejak 19 Maret 2020 sampai saat ini yang InsyaAllah sampe tanggal 13 Mei 2020. Kami bisa bersama, bisa saur bareng, bisa taraweh bareng, bisa buka puasa bareng. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah Terima Kasih Ya Allah... atas skenario yang tak pernah terfikir oleh ku sedikitpun 😢.
Alhamdulillah
Pernikahan
Akhirnya aku menikah, dengan pria baik yang telah Allah titipkan.
Alhamdulillah semua berjalan lancar.
Hasil tabungan bertahun-tahun terbayar sudah dengan resminya aku bersama nya :) suamiku davit arganiawan.
07092019
Menuju hari H
Tidak terasa 5 hari lagi aku akan menikah..
Berganti status menjadi istri orang lain..
Ya Allah bimbing hamba, dalam perjalanan terbesar dalam hidupku.
Bimbing hamba menjadi istri yang layak untuknya.
Semoga kami dapat menuju surgaMu.
Dan ia suami yang terbaik untukku.
Kadang, Allah begitu cepat menjawab keresahan kita. Melalui begitu banyak perantara yang kita temui.
Atau jangan-jangan, aku menduga. Selama ini jawaban itu sudah terbentang luas di depan mata tapi akulah yang tidak mengenalinya. Hanya karena aku sibuk memikirkan diriku sendiri, sibuk berasumsi, dan tidak percaya bahwa Dia akan menolong. Bahkan aku lupa berdoa, meminta kepadaNya.
Semua masalah besar ini tidak ada artinya di hadapan Allah Yang Maha Besar.
©kurniawangunadi
Alasanku mau diajak menikah denganmu..
Karna kamu orang baik..
Dan aku ga mau menyia-nyiakan dia..
17072019
Klo lagi rindu..
Yha pejuang jarak jauh bisa apa..
Klo aku, pegang hp. Buka Line, liat album fotomu..
😕
Alasanku
Seseorang bertanya padaku “kok mau sama mas itu, kenapa?”
“Karna dia orang baik”
:)
Yang ulang tahun siapa, yang doain siapa.. semua doanya untuk aku 🤣🤣🤣🤗🤗🤗🤗
Jalan menujuku..
Perjalananmu kepadaku memerlukan biaya yang besar.
Perjalananmu kepadaku memerlukan waktu yang banyak.
Perjalananmu kepadaku akan menemukan kesulitan dalam hal perijinan.
Perjalananmu bersamaku memiliki waktu yang terbatas.
Lalu mengapa kamu masih mau bertahan?
Aku hanya bisa meminta maaf dan berterima kasih
Maaf jika aku banyak kekurangan.
Maaf perjuanganku tidak sebanding dengan perjuanganku kepadaku.
Maaf jika waktu tenagamu terkuras banyak.
Terima kasih sudah mau berjuang.
Terima kasih sudah mengajakku berumah tangga denganmu.
Terima kasih ya Allah, engkau telah mempertemukanku dengannya.
Mohon diberikan kelancaran menuju niat baik tersebut. Aamiin Aamiin ya Rabbal Alamin
25052019
Media sosial?
Semakin ke sini semakin menyadari bahwa kita benar-benar teralihkan dunia nyata ke dunia maya. Inilah yang membuat kita lebih percaya diri di depan layar ketimbang berbicara antar mata ke mata. Padahal sudah kita ketahui melalui mata masuk ke dalam hati.
Bahkan untuk menghibur anak saja, dengan menyodorkan tontonan youtube dll, ya walau education juga. Sehingga kontak mata dan kontak batin antar keluarga pun mungkin dapat dikatakan berkurang.
Ada kekhawatiran bagi diriku sendiri, apalagi saat ini aku menuju proses membuat keluarga sendiri dan mungkin suatu saat akan memiliki anak sendiri. Apakah aku mampu menjadi orang tua yang baik, yang lebih sering menatap dan berbicara dan mengajarkan anak sendiri suatu nilai lebih lama ketimbang menatap layar smartphone.
Dewasanya saat inipun semakin banyak para pengajar yang menggunakan media sosial sebagai media informasi. Kenapa ga offline aja, anak kecil jaman sekarang tu tingkat kepo nya tinggi lho.
Jadi mohon laah kepada para pengajar, bagikan ilmu secara offline, bagikan bahan pun secara offline, yang dimana sudah kamu filter, kamu rangkum, kamu bagikan ke murid muridmu. Bukan disuruh cari sendiri.
10052019
Ide
Semakin lama aku semakin “peduli” dengan kantorku. Karna aku merasa, hidupku habis dikantor, dan interaksiku ya dikantor. Bahkan sudah menjadi rumah sendiri.
Kamu kalau dirumahmu sendiri bagaimana? Ketika ada yang ga bagus, ya di rapikan bukan?
Kalau ada yang bisa di tingkatkan secara visual dan fungsional ya pasti akan di tingkatkan.
Ya begitulah aku.
Sampai suatu ketika, demi meningkatkan kinerja dan “semangat” untuk berkerja mencapai target. Aku membuat sebuah cetusan/ide bagaimana dengan sedikit menebar kebaikan di bulan suci ini dengan membagikan jadwal imsakiyah yang diselipkan brosur di halaman belakangnya. Seraya bagikan takjil lah.
Respon yang saya dapat
“Wah bagus sekali inovasinya”
“Cerdas”
“Keren”
Respon lainnya
“Ah elu na, bikin kerjaan aja bagi-bagiin beginian”
“Ah cari muka aja lu na, akhirnya capek sendiri kan”
“Ah nambah kerjaan aja aturan bisa buru-buru pulang jadi ga bisa”
“Lu yang idein , lu yang capek sendiri na”
Kesal mendengar hal tersebut dan bahkan dalam hati sempat terbersit “ah elah gue lagi yang capek”
Lalu aku diam sejenak dan kembali ke niat awal
“Aku ingin bermanfaat, aku tidak tau dosa apa yang mungkin aku pernah kerjaan selama bekerja, dan ini salah satu cara untuk aku berbuat baik, dengan memaksimalkan brosur dan pembelian takjil”
Lillahi taa’la
Bismillah
Luruskan niatmu, niatkan hanya untuk Allah, itu yang dapat kamu lakukan ketika orang lain mulai mencemooh dirimu.
09052019
Baca ini aja aku guling-guling seneng 🤗
Alhamdulillah aku bisa kenal kamu mas :)
08052019
Ramadhan Hari Pertama
Pada sebuah waktu, saya pernah bergumam; “Andai saya hidup di zaman rasululloh, tentu saya akan sangat bahagia karena bisa bertemu langsung dengannya dan pasti akan mengikuti ajarannya. Betapa beruntungnya orang-orang yang hidup semasa beliau.”
Gumaman itu tak lama kemudian menemukan sebuah titik kesadaran dan logika yang membuatku berpikir ulang, termasuk bertanya-tanya. Apakah kadar keberuntungan itu benar? Jangan-jangan, justru saya adalah orang yang teramat beruntung lahir 14 abad setelahnya. Zaman dimana ajarannya telah sempurna, lahir di lingkungan yang agamis, lahir dari bapak dan ibu yang sudah beriman.
Saya membayangkan diri saya, jika berada di zaman kenabian beliau. Apakah benar ucapan saya tadi, bahwa saya akan mengikuti ajarannya? Jangan-jangan, saya termasuk dalam gerombolan orang-orang yang mengatakannya gila, tukang sihir, dsb. Bagaimana tidak, saat ini saja ketika ajarannya sudah sempurna. Tinggal mengamalkan Al Quran yang telah paripurna dan sunnahnya, saya masih pilih-pilih. Disuruh meninggalkan riba, masih mikir-mikir. Di suruh menjauhi zina, masih aja mencari pembenaran. Dan sebagainya.
Apa benar, kalau kita hidup di zaman kenabian beliau. Kita akan berpikir sama dengan hari ini? Bukankah konstruksi pikiran ini lahir karena kita telah belajar, kita telah menyaksikan, semua hal yang dulu beliau perjuangkan 14 abad yang lalu?
Jangan-jangan, memang ini adalah keberuntungan kita. Kita “selamat” karena kita lahir 14 abad setelahnya, zaman ketika kita bisa beribadah dengan leluasa tanpa perlu rasa takut. Dan tatkala semua kemudahan ini ada pun, kita masih sulit untuk berbuat baik dan beribadah dengan ibadah yang terbaik
©kurniawangunadi | tulisan ramadhan #1