Haruskah Bertahan?
Dimana arti sebuah kesetiaan
Bila hanya dalam kata-kata
Ku coba untuk bertahan namun aku tak sanggup
Sungguh tak mampu sayangku
Ada sebuah problematika yang sekarang sedang ngetren di kalangan remaja. Long distance relathionship.Tidak selamanya dalam menjalani hubungan dengan seseorang berjalan sangat mulus. Seperti yang dialami beberapa orang saat ini. Hal ini juga menimpaku saat ini.
Aku adalah seorang gadis yang diberi kesempatan Tuhan untuk merantau di sebuah kota besar. Kota yang benar-benar berbeda dengan daerah asal dan jaraknya ratusan kilometer dari rumah. Aku beruntung bisa masuk di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan mudahnya. Aku sangat bahagia bisa masuk di jurusan yang telah aku inginkan sejak lama dan aku bersyukur bisa menjadi putri kebanggaan orang tua.
Di balik semua kebahagiaan dan rahmat yang diberikan Tuhan, ada seorang lelaki yang rasanya enggan untuk kutinggalkan. Ya, dia adalah orang yang setahun lebih menemani keseharianku. Tuhan mentakdirkan dia untuk tak beranjak dari kota kami yang sejuk ini. Aku tau meski dia masih di kota kecil ini, tapi dia bisa masuk di jurusan terbaik di universitas itu.
Aku bertahan karena ku yakin cintaku kepadamu
Sesering kau coba tuk mematikan hatiku
Takkan terjadi karena ku tahu kau hanya untukku
aku bertahan ku akan tetap pada pendirianku
Sekeras kau coba tuk membunuh cintaku
Yang aku tahu kau hanya untukku
Masa transisi adalah masa yang terberat. Saat ini, kami sulit berkomunikasi karena kesibukan masing-masing. Waktu selah-olah tak mengizinkan kami untuk bersama. Ketika aku sibuk dengan urusanku, dia punya waktu luang tetapi ketika aku ingin sekedar mendengar suaranya, dia sangat sibuk dengan aktivitasnya.
Aku wanita biasa, aku punya rasa jenuh dan seringkali rasa kecewa berlebihan itu muncul. Sempat terbersit untuk mengakhiri siksa ini tapi aku sangat mencintainya. Namun, logika juga bicara bahwa aku tidak bisa terus begini. Aku terlalu menyiksa batin tapi hati berkata bahwa aku harus memperjuangkan apa yang aku sayang. Tuhan, aku sangat menyayanginya. Dia satu-satunya lelaki yang bisa membuatku jatuh hati.
Beberapa bulan disini, aku makin sulit untuk mendapatkan kabarnya. Aku merasa tidak enak hati jika terus menghubunginya. Aku takut jika aku mengganggu kegiatannya. Aku takut jika dianggap sebagai pengganjal aktivitasnya. Aku memilih untuk diam dan menanyakan kabar dia lewat teman-teman kampusnya.
Sekitar sebulan terakhir ini, kamu benar-benar sibuk bahkan hampir tidak pernah menghubungiku. Ya, aku tau saat ini kita jauh. Butuh berjam-jam naik kereta untuk menamuimu. Tidak munafik jika lelaki memang butuh kebebasan dan butuh angin segar dan aku mencoba mengerti. Namun, aku wanita juga butuh diperhatikan dan butuh komunikasi. Entah karena aku egois atau apapun, jarak yang sekarang ada di depan kita seakan membuat aku menjadi seseorang yang lebih cemburu. Aku mendapat kabar dari teman-temanmu bahwa kamu ke sana dan kesini. Aku mencoba mengerti asalkan kamu selalu sehat dan baik-baik saja. Sebenarnya aku ingin kamu yang memberiku kabar itu tapi aku justru tahu dari orang lain. Ya sudahlah. Namun, lebih menyakitkan lagi setelah aku tahu bahwa kamu pergi bersama wanita lain. Wanita yang dari dulu selalu mebuatku cemburu. Tapi apa daya, aku tidak cukup bukti jika ingin protes. Aku sadar kita jauh dan aku memang tidak pernah ada disampingmu ketika kamu ingin ada seorang wanita yang menemanimu. Saat ini aku juga tidak mengerti harus berbuat apa. Hanya tangis yang menemaniku setiap malam.
Apa semua lelaki memang seperti itu? Apa masih pantas aku mempertahankan hubungan ini? Kamu bersenang-senang bersama orang lain tapi saat bersamaku kamu menjadi sangat dingin dan berbeda padaku, pasanganmu sendiri. Masih pantaskah aku berjuang sendirian bahkan untuk orang yang tidak pernah memperjuangkan aku. Ya, aku memang sangat mencintaimu dan aku akan menjadi orang selalu mengerti kamu. Namun, aku yakin aku punya batas kesabaran yang entah kapan kadaluarsanya.
Jika kamu sibuk dengan urusanmu, aku akan mngerti
Jika kamu belum bisa membagi waktumu untukku, aku mnegrti
Jika kamu masih ingat masa lalumu, aku mengeti
Jika kamu masih terus bersama masa lalumu saat kita jauh, aku mengerti
Jika kamu belum bisa memahami semua isyarat yang kuberikan, aku mengerti
Namun, jika aku mulai lelah dan ingin berhenti, saat itulah kamu harus mengerti aku
Salatiga, 9 November 2014











