We need more images like these i think
Telling mom about what you did at school today

if i look back, i am lost
NASA
Show & Tell
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Color Me Curious
No title available
š
KIROKAZE
No title available

No title available
No title available
EXPECTATIONS

gracie abrams

romaā
RMH
Noah Kahan
Cookie Run:Kingdom Official!
Cosmic Funnies
𩵠avery cochrane š©µ
Monterey Bay Aquarium

seen from Vietnam
seen from Vietnam
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from Ecuador
seen from Ecuador
seen from Thailand
seen from United States

seen from France
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Argentina
seen from Colombia
seen from Malaysia

seen from France

seen from Venezuela
seen from Brazil
seen from Russia
@1-317-7bd-lnds
We need more images like these i think
Telling mom about what you did at school today
IN. TE. GE. RA. SIā¦: Sebuah Refleksi Akhir Tahun 2017
Sebentar lagi, kita akan merayakan akhir tahun 2017 dan akan memasuki tahun 2018. Banyak sekali beragam peristiwa yang kita lewati selama setahun ini. Dari peristiwa yang membahagiakan, mencengangkan, menyedihkan, bahkan berbahaya. Kasus-kasus akhir ini banyak yang mengancam integrasi bangsa.
Konflik antar suku, agama, ras, dan kelompok minoritas yang berlarut-larut merupakan suatu pelanggaran HAM dan merupakan bencana bagi negara. Hal ini merupakan salah ancaman dan tantangan bagi terciptanya integrasi nasional di Indonesia. Mengapa hal ini menjadi tantangan dan ancaman? Pertama-tama kita harus memahami, apa makna dari integrasi itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, āintegrasiā bermakna sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan. Kata ākesatuanā mengisyaratkan berbagai macam elemen yang berbeda satu sama lain mengalami proses pembauran. Jika pembaruan telah mencapai suatu perhimpunan, maka gejala perubahan ini dinamai integrasi.
Dalam sosiologi, integrasi sosial berarti proses penyesuaian unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi. Dengan demikian, ada dua unsur pokok integrasi sosial. Unsur pertama adalah pembauran atau penyesuaian, sedangkan unsur kedua adalah unsur fungsional. Jika kemajemukan sosial gagal mencapai pembauran atau penyesuaian satu sama lain, maka kemajemukan sosial berarti disentegrasi sosial.
Dari penjelasan diatas dapat kita sekilas mengerti apa itu integerasi. Nah, apa saja sih kasus di Indonesia yang menyinggung keutuhan dan integerasi bangsaā¦
1. Ā Ā Ā Konflik dengan Masyarakat Hukum Adat dan Penghayat Kepercayaan.
Sebuah bangsa terdiri atas berbagai macam etnis atau suku yang hidup bersama dalam suatu daerah dan saling berinteraksi satu sama lain. Fakta tersebut disajikan di Negara Indonesia yang menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki tingkat kemajemukan etnis yang sangat beraneka ragam. Yang harus diketahui dari fakta lapangan yang terjadi di Indonesia, baik dengan cara melihat secara langsung maupun dengan berbagai pemberitaan di media massa, dapat kita diketahui dengan nyata bahwasannya pluralitas yang terjadi di Indonesia bisa menjadi keuntungan, tantangan, bahkan ancaman yang berupa ākonflikā. Konflik ini sering terjadi dikarenakan terdapat cara pandang tertentu dalam suatu etnis yaitu primordialisme dan juga etnosentrisme, yang diwujudkan dalam bentuk stereotip terhadap suku bangsa lain, ini merupakan bentuk sikap egois dan ingin menang sendiri yang dapat mengarahkan masyarakat yang hidup dalam suatu etnis untuk terus berprasangka buruk terhadap suku bangsa/etnis lain sehingga mudah terprovokasi dan memunculkan konflik adat.
Selama ini, para penghayat kepercayaan seperti Sunda Wiwitan, Kejawen, Parmalim, dan lainnya mengalami diskriminasi dalam mengakses layanan publik. Pasalnya, kolom agama dalam KK dan KTP mereka dikosongkan. Hal itu berdampak pada sulitnya mengurus hak-hak sipil politik, seperti melamar pekerjaan, menikah dan mengakses layanan publik lainnya.
Dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan permohonan uji materi sejumlah pasal dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk), penganut aliran kepercayaan memiliki kedudukan hukum sama dengan pemeluk enam agama yang telah diakui oleh pemerintah dalam memperoleh hak terkait administrasi kependudukan. Putusan MK tersebut menimbulkan berbagai respon. Banyak yang mendukung, tapi tak sedikit yang merasa khawatir, seperti ormas-ormas keagamaan di Indonesia.
2. Ā Ā Ā Diskriminasi Kaum Minoritas Agama, dan Etnis, dan Identitas
Diskriminasi kaum minoritas memang sudah terjadi dari lama. Namun, akhir-akhir ini, kasus tersebut kembali mencuat setelah Basuki Tjahaya Purnama atau yang sering kita kenal sebagai Ahok dikenai tuduhan penistaan setelah sebuah video menjadi viral yang tampaknya menunjukkan bahwa dia menghina Alquran. Ahok berkata bahwa "Sudah jelas apa yang saya katakan di Kepulauan Seribu tidak dimaksudkan untuk menafsirkan (Quran), apalagi menghina Islam atau ulama.ā Retorika demonstran di luar pengadilan sudah tidak asing lagi, yang dalam beberapa bulan terakhir mereka melabelinya sebagai babi, psikopat dan anti-Islam, dan juga menyerukan "satu juta tombak" untuk dibawa ke demonstrasi anti-Ahok.
Human Rights Watch telah lama meminta agar Indonesia mencabut undang-undang yang diskriminatif seperti Undang-undang Penistaan Agama tahun 1965, yang menurutnya memberikan kekebalan hukum atas penganiayaan dan serangan terhadap kelompok minoritas. Undang-undang "kerukunan agama" yang diperkenalkan di bawah mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - yang anaknya melawan Ahok dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 yang lalu sebenarnya mengakar kepada diskriminasi agama, misalnya dengan membuatnya lebih sulit bagi kelompok agama minoritas untuk mendirikan tempat ibadah. Menteri kabinet SBY juga mengeluarkan pernyataan provokatif terhadap kelompok minoritas, termasuk bahkan menteri agama Suryadharma Ali, yang menyatakan pada tahun 2011 bahwa "kita harus melarang Ahmadiyah. Jelas bahwa Ahmadiyah menentang Islam. "
3. Ā Ā Ā Diskriminasi Minoritas Gender dan Seksualitas
Gerakan LGBTQIA+ (lesbian, gay, biseksual, transgender,queer, interseksual, aliansi/aseksual) memasuki babak baru. Mereka sedang dihadapkan pada banyak peluang dan tantangan terhadap perjuangan untuk kesetaraan dan keadilan bagi orang-orang dengan keragaman orientasi seksual, maupun identitas dan ekspresi gender sebagai minoritas - yang populer atau sedang kita populerkan dengan terminologi āLGBTQIA+ā Kita patut sedih melihat betapa opresi terhadap kelompok LGBT menjadi begitu kuat. Dari upaya advokasi, kampanye, edukasi, hingga pengorganisasian yang dilakukan oleh aktivis, tak disangka dan belum pernah terjadi sebelumnya, ternyata berujung pada upaya kriminalisasi kelompok LGBT maupun orang-orang yang diduga LGBT. Kekerasan yang terjadi pada kelompok minoritas lesbian, gay, biseksual, dan transgender beberapa pekan ini pun merupakan sinyal Indonesia semakin tidak ramah terhadap kelompok minoritas.
Putusan MK, yang diwarnai adanya perbedaan pendapat atau dissenting opionion dari sebagian hakim, itu ini sebenarnya menuai pujian dari banyak pihak. Kriminalisasi LGBTQIA+ dan hubungan di luar nikah bisa memicu pemidanaan pada aktivitas privat sekaligus membuka pintu pelanggaran Hak Asasi Manusia serta persekusi terhadap minoritas gender. Apabila permohonan AILA dikabulkan, MK juga bisa menjadi lembaga yang memainkan kewenangan positif legislator dan bukan lagi negatif legislator. Artinya, jika permohonan AILA dikabulkan, MK bisa berposisi menjadi lembaga pembuat hukum. Namun, putusan MK yang menghasilkan beberapa hakim memiliki dissenting opionion juga merupakan suatu pertanda buruk bagi minoritas gender di Indonesia karena dari pendapat mereka kita bisa lihat bahwa masih ada kemungkinan kriminalisasi terhadap LGBTQIA+
Isu-isu dari hilangnya toleransi hingga kekerasan seksual yang semakin darurat Indonesia membuat seluruh orang yang mempunyai perhatian mengenai isu ini bersatu di Women's March 2017. Diprakarsai oleh 33 organisasi yang berbeda, pawai tersebut bertujuan untuk mengingat Hari Perempuan Sedunia 2017 dan menangani delapan isu, termasuk toleransi, keragaman dan hak kesehatan bagi perempuan, menghapuskan kekerasan terhadap perempuan, melindungi lingkungan hidup dan pekerja wanita, memperbaiki keterwakilan perempuan di arena politik dan menghilangkan diskriminasi dan kekerasan terhadap komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).
Banyak orang yang merasa bahwa kelompok minoritaslah yang merupakan pemicu utama disintegerasi bangsa. Tapi apakah kita merasa bahwa kita sendirilah yang memicu disintegerasi tersebut? Hal-hal yang harusnya tidak sebuah masalah besar menjadi sebuah masalah yang memicu konflik penimbul disintegerasi. Kaum minoritas hanya ingin hak-hak mereka terpenuhi dan tidak meminta lebih. Seseorang yang pernah menjadi pembicara dalam diskusi tentang seksualitas pernah berkata bahwa kaum minoriras harus juga berusaha mempertahankan dan memanfaatkan status quo. Kita tidak boleh gegabah untuk melakukan tindakan. Pintar-pintarlah membuat strategi secerdik mungkin agar kita tidak kalah dari mayoritas yang sewenang-wenang. Untuk menjaga integrasi nasional, yuk kita jaga keharmonian antar umat dan menghormati sesama kita.
So go and have your holiday in peace, but donāt forget to come back with your battle flag raised, because, 2018, we must all be ready to fight.
Sumber...
http://magdalene.co/news-1054-indonesias-blasphemy-laws-and-the-oppression-of-minorities.html
https://www.kompasiana.com/yntwlndr/problematika-integrasi-nasional-dan-masyarakat-adat-di-indonesia_5620363534937380048b4567
https://tirto.id/mui-pertanyakan-putusan-mk-yang-tolak-kriminalisasi-lgbt-cBMh
http://www.thejakartapost.com/life/2017/03/06/the-many-voices-of-womens-march-jakarta-2017.html
https://tirto.id/muhammadiyah-khawatir-penghayat-kepercayaan-masuk-kolom-agama-ktp-czQt
Feminis Interseksional
Interseksionalitas (atau interseksionalisme) adalah kajian tentang titik temu atau hubungan antara segala sistem atau bentuk penindasan, dominasi atau diskriminasi.
 Teori sosiologi feminis ini pertama kali disebut oleh Kimberlé Crenshaw pada tahun 1989, meskipun konsepnya jika ditelusuri telah ada sejak abad ke-19. Teori ini menunjukkan bahwa (dan juga ditujukan untuk mengkaji bagaimana) berbagai kategori biologis, sosial dan budaya seperti gender, ras, kelas, kemampuan, orientasi seksual, agama, kasta, dan sumbu lainnya terkait identitas saling berinteraksi, memberikan kontribusi terhadap kesenjangan sosial dan ketidakadilan yang sistematis. Interseksionalitas menyatakan bahwa konseptualisasi klasik penindasan dalam masyarakat, seperti rasisme, seksisme, bifobia, homofobia, transfobia, dan juga kefanatikan terhadap kepercayaan, tidak bertindak secara independen satu sama lain, melainkan bentuk-bentuk penindasan tersebut saling berhubungan, menciptakan sistem penindasan yang mencerminkan "persimpangan" dari berbagai bentuk diskriminasi.
Ā Mengapa kita butuh feminisme interseksionalisme? Mengapa kita tidak memakai feminisme radikal, sosialis ataupun yang lain? Yang kita sudah ketahu bahwa masih banyak akan diskriminasi akan ras, etnis, suku, agama, bahkan orientasi seksual masih terjadi di dunia ini tak terkecuali di Indonesia.
Ā Dalam mempelajari gender dan ras, feminisme interseksional, dengan pendekatan interseksionalnya melihat bahwa hubungan antara kelas, ras dan gender itu sebagai sesuatu yang dinamis, yang tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarah, latarbelakang sosial dan praktek kekuasaan. Pemahaman kita terhadap kelas, ras dan gender merupakan hasil konstruksi sosial. Terutama bagi feminis interseksional, tuntutan kesetaraan atas perempuan terhadap laki-laki tidak cukup hanya sebagai satu hal yang global (umum), tetapi harus lebih jauh ke tingkat-tingkat yang lebih mikro (bukan hanya makro). Misalnya, soal kesetaraan gender bagi perempuan kulit hitam, yang berada di bawah tekanan pihak kulit putih, memiliki konktes yang berbeda, dan tidak sesederhana bagaimana kita menyoalkan tuntutan perempuan kulit putih yang meminta kesetaraan terhadap laki-laki di ranah hukum, sosial dan politik. Dengan kata lain, pendekatan interseksional yang diusung oleh feminis interseksional ini melihat lebih jauh dan lebih luas (beyond dominance approach), serta lebih lengkap, tentang persoalan-persoalan mendasar dari kesetaraan perempuan terkait dengan gender, kelas dan ras.
Ā Pendekatan ini kemudian mendorong munculnya gagasan pemikiran teoritis yang terintegrasi dalam kajian kriminologi, yang mulai melihat bahwa kejahatan tidak lagi dipelajari secara mandiri dalam hal-hal tertentu (ras, gender, orientasi seksual dan kelas), melainkan saling silang (berkaitan) dan memiliki titik temu. Teori integrasi dalam kriminologi feminis mempertimbangkan seluruh aspek yang dapat memungkinkan terjadinya kejahatan, atau segala hal yang dapat terkait dengan terjadinya ketidaksetaraan dalam sistem peradilan pidana, di antaranya latar belakang sosial, lokasi (wilayah tertentu), praktek kekuasaan, kesetaraan ras, gender, orientasi seksual, kelas, serta bentuk sosialisasi dan kesempatan.
Ā Menurut pandangan saya, pemikiran dari feminisme interseksional ini merupakan satu bentuk perkembangan pemikiran yang lebih bijak, tetapi lebih ānendangā. Femnisme interseksional mengusung pendekatan yang melebihi pendekatan dominan (dominance approach). Pandangan ini menjadi satu cara bagaimana perjuangan atas kesetaraan perempuan dan laki-laki itu dilakukan secara menyeluruh dalam berbagai aspek. Berbeda dengan feminisme radikal yang secara ekstrem menuntut dihilangkannya budaya dan pola pikir patriarki, feminisme interseksional lebih mengarah pada jalan tengah untuk memecahkan persoalan dengan melihat keterkaitan konteksnya.
Ā Pendekatan interseksional dalam kajian kriminologi feminis, tentang teori yang terintegrasi itu, fokus pada bagaimana perjuangan perempuan tersebut dapat memajukan dan memperbaiki sistem keadilan sosial dengan memberi wawasan atau pemahaman atas hubungan-hubungan berbagai aspek dalam kehidupan sosial dan politik. Ini lah harapan akan arah pemikiran kriminologi feminis di masa depan (sebagaimana disebut dalam jurnal ini), yang mana kriminologi feminis mengamini feminisme interseksional. Pada titik ini, feminisme interseksional lebih mengedepankan perjuangan bersama atau gerak bersama (koalisi) dari seluruh elemen (baik perspektif yang mempersoalak ras, gender maupun kelas) dalam usaha utuk mengungkap proses-proses yang menyebabkan ketidaksetaraan dalam sistem hierarki.
Ā Masih banyak yang berteriak āGENDER EQUALITYā atau āSAMAKAN GAJI PRIA DAN WANITAā. Dan untuk informasi kalian bahwa, Gaji wanita kulit putih masih lebih tinggi daripada gaji lelaki ras berwarna. Hampir semua orang di Indonesia termasuk ras berwarna. Menurut saya. Feminisme itu harus lebih spesifik. Bukan hanya fokus soal gender.
Ā Seperti yang pernah saya alami. Saya sendiri termasuk dalam etnis Tionghoa yang saat itu sedang menaiki sekolah. Lalu, ada kumpulan anak SMA lain (yang sepertinya pribumi). Mereka terlihat seperti mengejek saya dari jauh. Namun, akhirnya saya abaikan. Saat saya sudah sampai ke tujuan saya. Saya ingin keluar dari bus itu. Lalu, mereka meneriaki saya āWoi awas Ah*k mau turunā Disitu saya merasa dihina. Saya merasa bahwa rasisme memang masih ada dan terjadi di Indonesia.
Ā Selain itu, diskriminasi sangat dirasakan oleh kaum LGBTQIA+ di Indonesia. Mulai dari ejekan, hinaan, hingga bully yang menyebabkan melayangnya nyawa. Bahkan, pemerintah pun sangat tidak peduli akan hidup matinya kaum LGBTQIA+. Pemerintah memblock halaman yang berisi tentang keseharian kaum LGBTQIA+ di Indonesia. Padahal itu hanya tentang keseharian mereka. Tidak sampai ada porno atau sesuatu yang tidak senonoh.
Ā Disini, mereka tidak meminta melegalkan hubungan mereka. Tetapi, mereka hanya memintaiperhatikan dan mereka itu 'ADA'
Ā Seharusnya, jika anda merasa diri anda 'religius' dan anda merasa pilihan mereka itu ''''''salah''''''. Anda sebagai orang religius harusnya tau bahwa agama anda mengajarkan kasih sayang dan tidak ada dendam di dalam hati kalian. Ajarkan mereka kasih sayang bukan dengan cara main hakim sendiri.
Ā Disini, kita harus turut prihatin akan masih adanya diskriminasi di Indonesia dari ras sampai orientasi seksual. Jika menjadi religius akhirnya membuat anda pemarah, acuh tak acuh, dan main hakim sendiri. Anda harus cek apakah anda menyembah Tuhan atau ego anda sendiri?
Budaya Patriarki
Budaya patriarki sebelumnya pernah dibahas, namun kali ini saya akan menerjemahkan pembahasan budaya patriarki ke dalam bahasa Indonesia.
Apa sih patriarki itu?
Patriarki adalah sistem sosial yang dimana lelaki memegang kendali/kekuatan utama, mendominasi semua jabatan kepemimpinan di segala aspek, dan memegang otoritas yang lebih tinggi dibanding kaum lainnya.
Dengan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa laki-laki memegang kuasa utama. Dimana posisi kaum selain laki-laki? Di bawah mereka, tentu saja.
Semua manusia, terutama selain laki-laki, tidaklah lebih rendah apalagi dibanding laki-laki. Kita setara, lho!
Sedihnya, kita masih saja berpegang pada budaya patriarki ini. Ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa kebanyakan orang sadari. Namun, ketahui sesuatu: patriarki hanyalah omong kosong! Patriarki hanyalah sebuah konstruksi sosial yang diciptakan untuk mendiskriminasi dan menekan semua orang. (Ulangi lagi: SEMUA ORANG. Ini berarti termasuk pria juga)
Dampak Negatif Bagi Wanita
Ooooh, ini sangat mudah. Mari kita lihat; dimana-mana, pria mendominasi. Wanita masih mendapat bayaran lebih rendah daripada pria, wanita yang mendapat jabatan tinggi di managemen perusahaan hanya sebesar 15%, dan hanya 4% yang dapat menjadi CEO di 500 perusahaan. Ketika wanita berada di tempat kerja, mereka sangat diremehkan; dilihat sebagai mahluk yang lemah, sensitif, perasa, tidak logis, emosional dan tidak kompeten yang kecil kemungkinannya untuk dipromosi. Ketika wanita mengutarakan opininya, opininya tidak akan didengar karena dianggap terlalu emosional, tidak relevan dan tidak rasional/logis.
Yang lebih menyedihkan, tidak semua wanita dapat bekerja, mengejar mimpi dan ambisi dan meniti karier dengan tenang tanpa didikte banyak orang, "kamu kan cewek! ngapain kerja!" "dirumah aja ngurusin keluarga!" "kalo kamu kerja, suami dan keluarga siapa yang ngurus?"
Apakah wanita HARUS melakukan semua pekerjaan domestik, mengurus rumah dan meninggalkan semua mimpi-mimpinya, hanya karena ia seorang WANITA? Apakah karena ia seorang wanita, ia tidak mampu menghasilkan opini dan ide yang kuat dan brilian?
Anehnya, ketika wanita ternyata bisa mengeluarkan ide dan opini, ketika wanita bisa memegang kendali dan mengatur dengan rapih, ketika wanita bisa memimpin, mereka malah dicemooh ābossyā dan didikte untuk bersantai sedikit dan untuk tidak terlalu ambisius!
Dampak Negatif Bagi Pria
Patriarki memiliki dampak negatif termasuk untuk kalian semua para pria. Patriarki adalah sistem sosial dimana laki-laki memegang kuasa dan kendali. Untuk menjadi penguasa dan pengendali, laki-laki diharapkan untuk bersifat dan bersikap tertentu, dan justru inilah yang terkadang sangat negatif untuk pria sendiri. Mereka diharapkan untuk menjadi agresif, dominan, dan mengontrol; maka dari itu menunjukkan emosi dianggap suatu kelemahan yang tidak boleh dimiliki oleh pria. Laki-laki tidak boleh ālemah seperti wanitaā, seakan-akan jika bertingkah āseperti wanitaā sangatlah rendah, karena wanita berada di bawah pria. Pria diharapkan untuk menjadi maskulin, dan ini sangatlah tidak baik.
Pernah dengar ājadi laki-laki dong!ā āLaki dikit kenapa???ā ? Ini adalah perkataan yang sangat tidak baik, karena ketika orang-orang berbicara seperti itu, mereka mengindikasikan bahwa pria tidak boleh menunjukkan kelemahan, harus menjadi tangguh, dominan, dan tidak boleh mundur pada āperlombaan kekuatanā dan konflik yang tak jarang melibatkan kekerasan. Padahal, laki-laki juga manusia yang punya perasaan dan punya kelemahan. Menunjukkan emosi bukan berarti lemah, namun itu berarti seseorang itu masihlah manusia yang punya hati, bukanlah robot yang tak bernyawa. Manusia tidak bisa kuat sepanjang waktu, manusia bisa merasa sedih dan lelah. Merasa sedih, kecewa, lelah, itu semua manusiawi. Menghindari konflik dan kekerasan juga bukan berarti lemah, namun itu berarti sudah cukup dewasa untuk menghindari konflik dan masalah yang tidak perlu.
Ekspektasi-ekspektasi seperti ini yang membuat pria melakukan kekerasan lebih sering; karena kekerasan dan kekuatan membuktikan kejantanan mereka. Dan yang lebih parah, masyarakat memaklumkan dan mewajarkan tindakan ini, karena mereka berpikir bahwa itu memang sifat mutlak laki-laki. Karena konsep kekuatan dan kekerasan yang membentuk maskulinitas dan kejantanan, maka pria juga harus menjauhkan diri dari hal-hal feminin untuk menghindarkan diri sendiri dari cemoohan sesama laki-laki (dan lagi, untuk membuktikan kejantanan).
Kalian para pria tidak perlu melakukan kekerasan. Tidak perlu dominan, tidak perlu mengontrol, tidak perlu agresif. Tidak perlu menjauhkan diri dari hal-hal feminin. Mengapa? Karena: hanya kalianlah yang berhak mendefinisi diri kalian sendiri. Tidak ada orang lain yang berhak untuk mendefinisi diri kalian sendiri. Kalau kalian mendengar orang lain berkata, "jadi laki dong!!!" kalian bisa membalasnya dengan, "siapa lu bilang-bilangin gua apa yang harus gua lakuin? "
Patriarki juga menyebabkan laki-laki diremehkan dalam berbagai bidang. Karena laki-laki diharapkan untuk menjauhkan diri dari hal-hal feminin yang berkaitan dengan wanita, pria dianggap tidak mampu untuk melakukan pekerjaan domestik, seperti mengurus rumah, memasak, mengurus diri sendiri dan anak. Pria digambarkan sangat tidak berdaya mengurus berbagai hal sendiri. Padahal, banyak sekali laki-laki hebat yang sangat pandai dalam pekerjaan domestik tersebut. Pria juga bisa, kok, mengurus diri sendiri secara mandiri tanpa bantuan wanita. Ya, kan?
Hey, kalian para pria. Kalian itu lebih dari sekedar sosok yang digambarkan patriarki. Kalian adalah sosok yang mandiri. Kalian lebih dari sekedar mahluk agresif dan kasar.
Dampak Negatif Bagi Kaum āQueerāĀ
Pada dasarnya, orang-orang yang tidak maskulin dianggap dibawah (laki-laki yang) maskulin. āQueerā adalah orang yang paling teropresi dibawah budaya patriarki, karena mereka tidak cocok dalam kotak stereotip heteronormatif. Ketika wanita dianggap tidak mampu dan lemah, āqueerā bahkan tidak dianggap seperti manusia sama sekali, mereka tidak ada, atau bahkan dianggap harus dihapus eksistensinya dari dunia; hanya karena mereka tidak cocok dalam kotak stereotip heteronormatif yang dibentuk patriarki.
Kaum āqueerā yang tidak membiarkan dirinya untuk mengeksplor dirinya sendiri melampaui sistem patriarki dan stereotip peran-peran gender akan mendapatkan dirinya sendiri hanya dapat menjadi bayangan dari seseorang yang mereka ingin dan dapat menjadi. Dalam proses mengeksplor diri, mereka juga menemui kesulitan yang datang dari lingkungan (teman, keluarga, masyarakat) yang biasanya berupa tekanan untuk masuk kedalam kotak stereotip heteronormatif.
Dalam suatu hubungan, pasangan juga diharuskan untuk berpatok pada peran gender: harus ada yang maskulin dan yang feminin. Padahal, suatu hubungan adalah tentang perasaan dan cinta satu sama lain, bukanlah tentang peran maskulin dan peran feminin.
Patriarki adalah sistem sosial yang penuh dampak negatif bagi semua orang, dan ini hanyalah sedikit dari sekian dampak negatif patriarki bagi semua kalangan. Budaya patriarki inilah yang dilawan oleh feminis, karena patriarki ini menghalangi adanya kesetaraan gender. So everyone, lets pick your hammer and lets smash patriarchy together!
celebrating 200th post and 40 years of star wars! favorite space opera franchise of all time š«ā
Carrie & Harrison Ā BTS Empire Strikes Back (1980)
the breakfast club isnt even about breakfastĀ
you could have at least said spoiler alert
Happy 33rd birthday, Jack!
memes are evolving
male nonsense has no boundary
no fucking way
Isthis fucking reallife
Man this sports Anime has a really good budget
āHE ASCENDED THROUGH THE AIR LIKE A DEFENSIVE ANGELLL!!!!!1!1!1!1ā
i died when they put him back on the floor and started cheeringĀ
You took our peoples as slaves but arenāt taking refugees.Ā
mulan dont give a shit
mulan has run out of fucks to give
Mulan no curr
Mulan: āGurl had it coming.ā
Mulan: ā One less bitch, to worry about ā
Mulan: āWhoās next?ā
Mulan: āLook at all that dishonorā
IāM LAUGHING TO HARD AT THIS OMG
MULAN NO CURR
Mulan: Are you fucking serious Snow
Mulan: I fought in a motherfucking war
Mulan: I saved motherfucking China
Mulan: And you get taken down by a motherfucking apple
DISHONOUR ON YOU! DISHONOUR ON YOUR COW!
If one day I no longer reblog this itās because Iām no longer in this world.