what if ; bluessy honeymoon in PARIS
what if : bluessy honeymoon in paris
Honeymoon yang sudah direncanakan mulanya berjalan dengan lancar, Mereka akhirnya memutuskan untuk ke Paris tepatnya di annecy. Keduanya berencana stay di Italia dengan bermalam di sebuah mansion milik keluarga Jeno lalu akan ke Paris selama 7 hari. Setidaknya itu lah rencana awal keduanya, sebelum akhirnya pupus begitu saja saat Jeno mengatakan bahwa, “Kayaknya kita gabisa lama di Paris, Babe. aku ada syuting dadakan buat project baru. Jadi kita disini 3 hari aja, Gimana?”
Karina yang saat itu sedang membereskan pakaian mereka yang ada di koper dengan gembira langsung berhenti begitu saja. Senyumnya yang lebar sudah tidak terlihat lagi, memang betul seharusnya jangan berharap apapun pada manusia pikirnya. Tidak mendengar jawaban dari Istrinya, Jeno menoleh kearah Karina dan berjalan menghampiri.
” oke.” Jawab Karina pelan, Jaehyun berjongkok disebelah istrinya itu seraya mengelus rambutnya perlahan, “Maaf ya sayang, aku gagalin lagi rencana honeymoon kita. Aku selesain project yang akan datang dulu baru nanti aku ambil cuti yang banyak buat kita bisa liburan panjang sekaligus honeymoon part 2 ya.” ucapnya lembut sambil sesekali mengecup pelipis Karina.
Karina mengangguk, tidak mengeluarkan suara apapun membuat Jeno dirudung rasa bersalah yang teramat besar. Ini benar-benar di luar dari perkiraannya, Jeno sudah mengajukan cuti selama 2 minggu dan pihak agensi juga sudah mengkonfirmasi bahwa tidak ada jadwal apapun untuk Jeno selama itu, tetapi saat baru saja tiba di Paris dia langsung mendapatkan panggilan bahwa akan ada project baru dalam waktu dekat di luar dari schedulenya, dimana project ini teramat penting dan tidak bisa dicancel sehingga membuat Jaehyun mau tidak mau mengiyakan dan memupuskan harapan dirinya terutama istrinya untuk liburan panjang dan honeymoon di Amerika dan Paris seperti rencana awal.
Awalnya Karina baik-baik saja, begitu pikir Jeno. Tapi selama Mereka disini, Karina jadi lebih pendiem dan terkesan menghindarinya. Membuatnya semakin merasa bersalah dan tidak enak secara bersamaan, lagi-lagi Ia memupuskan kebahagiaan istrinya itu setelah beberapa kali gagal pergi honeymoon dikarenakan kesibukannya.
Jeno menghampiri Karina yang sedang duduk di sofa besar ruang tv dengan selimut menutupi kaki dan segelas cokelat panas di cangkir yang dipegangnya.
Sambil dalam hatinya menguatkan diri untuk mencoba membujuk atau sekiranya mengobrol tentang rencana liburan Mereka ini.
“Kamu hari ini ada planning mau kemana? Ayo siap-siap kalo mau pergi,” Jeno duduk disebelah Karina yang sedang fokus dengan tontonan dihadapannya
“Ga kemana-mana, aku mau disini aja.” jawabnya singkat tanpa melihat Jeno, Jeno menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Karina lalu memeluk tubuh wanita itu dari samping. “Kita dari kemarin di rumah terus ga jalan-jalan, sayang. Emang kamu gamau keliling? Sayang banget kalo gitu, kita juga cuma punya 3 hari disini,”
Karina mengedikkan bahunya acuh, “Yaudah mau gimana lagi, aku masih punya waktu nanti di Paris buat jalan-jalan,”
Jeno mendongak, melihat wajah sang istri yang menatap datar kearah tv.
“Kamu beneran mau ke Paris sendiri? Nanti aja sama aku ya, sayang.”
“Sayang Jen tiketnya, Udah gapapa, aku punya temen ko disana nanti janjian aja sama Dia,”
“Bisa dibatalin semuanya kan? Nanti aku beliin lagi ya, pas kita udah ada planning baru,”
“Aku juga tau ko, kamu bisa beliin tiket dan semua-muanya berpuluh kali lipat, tapi bukan masalah bisa atau engga nya, Jen. Tapi aku emang yang mau kesana, kalo kamu gabisa yaudah gapapa aku sendiri.”
Jeno diam, istrinya itu tidak berekspresi apapun membuat Jeno dilema, antara membiarkan istrinya pergi sendiri atau pulang duluan. Tapi sepertinya kemauan istrinya itu sudah bulat, Dia tetap akan ke Paris walau tanpa dirinya.
“Aku di korea Cuma 2 hari, nanti setelah selesai aku langsung nyusul kamu ya,”
“Iya, oke. Kamu atur aja gimana baiknya,”
“Kamu ga lagi marah sama aku, kan? Dari kemarin aku didiemin, sayang…”
“Menurut kamu aja.”
“Iyaa maaf aku salah, meskipun diluar dari prediksi aku tapi aku akuin ini salah aku. Harusnya aku ga angkat telpon dari manajer hyung aja ya kalo gitu. Maaf yaa, Cintaku.”
Jeno mengeratkan pelukannya pada Karina sementara Wanita itu diam saja. Beberapa kali gagal pergi untuk berlibur pasca menikah, membuatKarina memaklumi jadwal kegiatan suaminya itu yang suka di luar ekspektasi. Maka dari itu, untuk sisa liburan Mereka yang harusnya ke Paris, Karina putuskan untuk berangkat sendiri saja, memang ada opsi untuk dibatalkan saja tapi ya sayang juga uangnya, meskipun penghasilannya dan Jeno bisa lebih dari cukup tapi tetap saja mubazir buang-buang uang, lagipula Karina disana juga bisa bertemu teman-temannya selama Jeno di Korea, jadi tidak ada masalah dan juga ini keinginannya dari setelah menikah untuk bisa pergi liburan bersama suaminya ke Paris.
“Kamu tuh… kan tau… aku mau banget spend time yang lama sama kamu.. bisa ga sih… kasih waktu buat aku.. dikit aja…” Tiba-tiba Karina bersuara diiringi isak tangis yang menyayat hati, membuat Jeno segera melepas pelukannya dan menatap istrinya itu terkejut.
“Sayang.. sedih banget ya sampe nangis gini? Maaf yaa, aku bilang manajer hyung buat di undur dulu project annya, ya. Cup cup… kita jadi pergi ko sayang.” Jeno kembali memeluk erat Karina sambil mengelus rambutnya.
“Gausah aja… gapapa… project kamu juga penting… aku sendiri aja,”
“Gapapa, bisa di cancel ko. Udah ya jangan kebanyakan nangisnya, itu udah gabisa nafas gitu nanti sesak, sayang. Kita jadi pergi yaa, yuk kita honeymoon ke Paris yuk. Kamu jangan khawatir nanti baby nya pasti made in Paris.”
Karina tertawa dibalik tangisannya, lalu mengangguk seraya mengeratkan pelukannya, “Makasih, sayang. I love you,”
“Sama-sama. I love you more, baby.”














