Anang Saptoto | Aprilia Apsari | Ardi Gunawan | Dito Yuwono | Elia Nurvista | Ika Vantiani | Leonardiansyah Allenda | Salleh Hussein | Syafiatudina | Yaya Sung | Yudha Sandy | Zulhiczar Arie Curator Mitha Budhyarto Proyek Pameran Pemenang Forum Kurator Muda An Exhibition Project by the Winner of the Young Curators' Forum Proses Berkarya / Working Process 1 - 25 February 2014 Pameran Kelompok / Group Exhibition 25 - 28 February 2014 | 09.00 - 17.00 Diskusi / Discussion 28 February 2014 | 19.30
Ardi Gunawan menjadi seniman terakhir di pameran ini dan mengambil tema Cemeti di masa depan sebagai gagasan karyanya. Dengan menimbang lokasi Rumah Seni Cemeti yang strategis, sangat mungkin bahwa gentrifikasi adalah masalah yang akan dihadapi Cemeti di masa depan. Disini, Ardi Gunawan bermitra dengan dua orang arsitek untuk membangun hipotesa atas posisi Cemeti yang dibayangkan toleran dan tidak menentang pendekatan real estate developer yang agresif. Teks yang terdapat pada gambar-gambar ini adalah transkrip dari wawancara yang Ardi lakukan dengan seorang peramal, yang dalam konsultasinya membuat beberapa prediksi atas prospek bisnis dan komersil di daerah sekitar Cemeti.
Ardi Gunawan is the last artist creating works for this exhibition. He took the theme about Cemeti in the future as the idea for his works. Considering Cemeti Art House's strategic location, it may not be a farfetched contention that gentrification could be a problem that Cemeti will face in the future. Here, Ardi Gunawan has hired two architects to hypothesize Cemeti's position as lenient towards rather than reacting against the aggresive approach of real estate developers. The accompanying text in the images are transcripts from an interview that Ardi conducted with a fortune teller, whom he consulted to forecast the prospect of Cemeti's surrounding area in terms of business and commercial likelihood.
Aprilia Apsari membuat karya seri gambar yang berasal dari sejumlah foto dokumentasi program residensi yang pernah diselenggarakan Cemeti, khususnya "Landing Soon" dan "HotWave". Ide ini muncul sebagai respon terhadap tema di babak VI: pendidikan informal dalam ruang alternatif dimana Rumah Seni Cemeti sebagai sebuah ruang yang memfasilitasi sebuah bentuk pendidikan informal melalui berbagai program residensi, baik untuk seniman, kurator, peneliti, maupun mereka yang tertarik pada aspek manajemen seni.
Aprilia Apsari created a series of drawings based on a number of photo documentation of past residency programs that Cemeti have organized, especially "Landing Soon" and "HotWave". The idea came up as a response to the theme in chapter VI: informal education in alternative art spaces where Cemeti Art House as a space which facilitate a form of informal education through their various residency programs for artists, curators, researchers and those interested in arts management.
Dalam serangkaian kelas yang berlangsung selama 17 jam pada 20 Februari 2014, Sekolah Seni Salah Didikan merumuskan gagasan mengenai fungsi ruang seni seperti Rumah Seni Cemeti dalam pendidikan seni alternatif di Yogyakarta. Kursi-kursi ini merupakan rekam jejak atas pembicaraan tersebut. Sekolah Seni Salah Didikan adalah sebuah tempat yang dibentuk oleh berbagai upaya mendidik diri sendiri, termasuk di dalamnya praktik mencipta, membagi, memperbaiki, mengganti dan menerima pengetahuan, secara bersama-sama dan dalam hubungan setara.
In the series of classes that took place for 17 hours in 20 February 2014, Sekolah Seni Salah Didikan formulated a notion regarding the role of art spaces such as Cemeti Art House in the context of alternative education in Yogyakarta. These chairs serve as track records of the discussion that arose during that time. Sekolah Seni Salah Didikan is a place formed by various attempts at self-education, including processes of creating, sharing, improving, changing and receiving knowledge, as a collective and within a relationship of equals.
Proyek pameran 1x25 Jam saat ini sampai pada babak VI dengan tema pendidikan informal dalam ruang alternatif. Babak ini diawali oleh Syafiatudina dengan proyeknya yang berjudul Sekolah Seni Salah Didikan. Mulai tanggal 20 Februari 2014, pukul 05.00 WIB hingga 21 Februari 2014, pukul 01.00 WIB, Syafiatudina akan berada di ruang galeri Rumah Seni Cemeti dan menerima siapa pun yang ingin datang dan turut serta membentuk Kurikulum Berbasis Ketidaktahuan dari Sekolah Seni Salah Didikan dengan memberikan ide atau mengajukan pertanyaan.
The exhibition project 1x25 Hours is now at Stage VI with the theme of informal education in alternative art spaces. Stage VI began with Syafiatudina's project entitled "Sekolah Seni Salah Didikan (The Miseducated Art School)". From February 20th at 5 AM until February 21st at 1 AM, Syafiatudina will be in the gallery space of Cemeti Art House and will receive people who want to come and participate in forming the ignorance-based curriculum of the Miseducated Art School by giving ideas or asking questions.
Karya Yaya Sung yang dipamerkan disini terdiri dari lapis demi lapis foto yang dicetak diatas kertas dan ditempel ke permukaan dinding, yang kemudian disobek dan ditutup dengan cat: proses ini terjadi secara berulang-ulang selama masa 2 x 25 jam yang menjadi jadwalnya. Aksi menempel karya dan menghapusnya lagi secara berulang-ulang dapat dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan peran praktik kesenian – terutama, bagaimana karya seni terus menerus dibuat dan dipamerkan, sementara dampak yang mereka hasilkan tidak selalu nyata maupun jelas.
Pada lapisan kertas yang tersisa, gambar yang ada pada kertas nyaris tidak terlihat lagi. Pada awalnya, mereka memuat potret diri Yaya disertai sejumlah benda yang menyerupai benda-benda yang pernah dipakai oleh beberapa seniman pada pameran di Rumah Seni Cemeti yang dianggapnya memiliki motivasi politis yang kuat (“Knalpot”, 1999 dan “Slot in the Box”, 1997).
Yaya Sung’s work exhibited here consists of layer upon layer of photography printed on paper and pasted on the wall, which she then tore off and painted over: this process takes place repeatedly over the 2 x 25 hours that was designated to her. The repeated act of putting the work up only to tear it off again may be seen as an attempt to question the role of art practice, where artworks are continuously being produced and exhibited yet their impacts are rarely thoroughly direct or clear.
In the remaining layers of paper, the images are no longer distinguishable. In the beginning of the process, they show Yaya’s self-portraits with various objects that resemble objects used by artists in a number of exhibitions at Cemeti Art House that she considersto have strong political motivations (“Slot in the Box”, 1997 and “Knalpot, 1999).
Zulhiczar Arie menggabungkan lebih dari 100 foto karya yang pernah dipamerkan di Cemeti. Foto karya yang digunakan berasal dari slide film positif yang kemudian diolah menjadi sebuah karya video dengan teknik amalgamation. Dalam karya ini, Zul mencoba mengajak penonton untuk membayangkan bagaimana jika seluruh karya yang pernah dipamerkan di Cemeti tersebut "dimampatkan" menjadi satu melalui karya video dan cetak.
Zulhiczar Arie compiled over 100 photographs of artworks that have been exhibited in Cemeti. He created a video work with "amalgamation" technique from the positive film slides. In this video work, Zul aim to invite audiences to imagine what it would be like if the artworks that have been previously exhibited at Cemeti were "condensed" into a video and print format.
(Mulai tanggal 20 Februari 2014, pukul 05.00 WIB hingga 21 Februari 2014, pukul 01.00 WIB. Proyek ini akan dibuka dengan acara makan pagi bersama, pada tanggal 20 Februari 2014, pukul 10.00 WIB.)
Apa itu Sekolah Seni Salah Didikan?
Sekolah Seni Salah Didikan adalah sebuah tempat yang dibentuk oleh berbagai upaya mendidik diri sendiri, termasuk di dalamnya praktik mencipta, membagi, memperbaiki, mengganti dan menerima pengetahuan, secara bersama-sama dan dalam hubungan setara. Setiap orang dapat menjadi guru dan murid di saat yang bersamaan, bagi dirinya dan orang lain.
Mengapa Salah Didikan?
‘Salah didikan’ mungkin berarti murid yang bodoh dan pendidikan yang gagal. Namun salah didikan juga dapat berarti adanya pembangkangan atau bahkan kemandirian dalam menemukan metode pendidikan yang berbeda. Dalam proyek ini, istilah ‘salah didikan’ diambil dari dua sumber referensi. Sumber pertama adalah novel Salah Asuhan karya Abdul Muis (1928). Sedangkan sumber kedua adalah album musik Lauryn Hill yang berjudul The Miseducation of Lauryn Hill (1998). Judul album Lauryn Hill ini terinspirasi dari buku The Mis-education of the Negro karya Carter G. Woodson (1933) yang menyatakan bahwa pendidikan mandiri/alternatif merupakan jalan untuk membebaskan diri dari kekerasan struktural di institusi pendidikan formal.
Sekolah Seni Salah Didikan merupakan bentuk pendidikan yang salah karena tidak ada posisi guru dan murid yang jelas dan materi pengajaran dibentuk bukan berdasarkan pengetahuan melainkan ketidaktahuan. Sedangkan seni merupakan cabang ilmu dengan sejarah pembentukan yang kompleks namun selalu terbuka terhadap perubahan. Dalam Sekolah Seni Salah Didikan, ketidaktahuan dalam membentuk pendidikan seni akan membuka kesempatan untuk segala upaya uji coba hingga evaluasi yang memberi nilai pada keberhasilan sekaligus kegagalan.
Apa yang terjadi antara Sekolah Seni Salah Didikan dan pameran 1X25 jam di Rumah Seni Cemeti?
Sekolah Seni Salah Didikan mengajak anda untuk turut bersama-sama membentuk sekolah ini serta kurikulumnya. Mulai dari tanggal 20 Februari 2014, pukul 05.00 WIB hingga 21 Februari 2014, pukul 01.00 WIB, Syafiatudina (peneliti dan kurator, Kunci Cultural Studies Center, Yogyakarta), sebagai salah satu inisiator Sekolah Seni Salah Didikan akan berada di ruang galeri Rumah Seni Cemeti. Selama acara ini, anda dapat datang dan turut serta membentuk Kurikulum Berbasis Ketidaktahuan dari Sekolah Seni Salah Didikan dengan memberikan ide atau mengajukan pertanyaan kepada Syafiatudina.
Beberapa isu yang menjadi ketertarikan Sekolah Seni Salah Didikan adalah;
Apa dan bagaimana nilai pendidikan seni dibentuk dalam ruang alternatif dan kolektif seniman di Yogyakarta? Bagaimana pendidikan alternatif dilihat dari perspektif seni dan politik?
Pendidikan seperti apa yang memberi bobot yang sama antara teori dan praktek?
Jika semua orang adalah murid sekaligus guru bagi semua orang, bagaimana menentukan ilmu yang benar?
Bagaimana cara agar sekolah seni ini dapat membiayai dirinya sendiri?
Kurikulum dan format sekolah yang dibicarakan selama acara ini, akan didokumentasikan dan dibagikan kepada publik dalam bentuk buklet, pada saat diskusi proyek 1X25 Jam, tanggal 28 Februari 2014, pukul 19.30 WIB.
Sekolah Seni Salah Didikan mengajak anda untuk turut bersama-sama membentuk sekolah ini serta kurikulumnya. Mulai dari tanggal 20 Februari 2014, pukul 05.00 WIB hingga 21 Februari 2014, pukul 01.00 WIB, Syafiatudina (peneliti dan kurator, Kunci Cultural Studies Center, Yogyakarta), sebagai salah satu inisiator Sekolah Seni Salah Didikan akan berada di ruang galeri Rumah Seni Cemeti. Selama acara ini, anda dapat datang dan turut serta membentuk Kurikulum Berbasis Ketidaktahuan dari Sekolah Seni Salah Didikan dengan memberikan ide atau mengajukan pertanyaan kepada Syafiatudina.
Beberapa isu yang menjadi ketertarikan Sekolah Seni Salah Didikan adalah;
Apa dan bagaimana nilai pendidikan seni dibentuk dalam ruang alternatif dan kolektif seniman di Yogyakarta? Bagaimana pendidikan alternatif dilihat dari perspektif seni dan politik?
Pendidikan seperti apa yang memberi bobot yang sama antara teori dan praktek?
Jika semua orang adalah murid sekaligus guru bagi semua orang, bagaimana menentukan ilmu yang benar?
Bagaimana cara agar sekolah seni ini dapat membiayai dirinya sendiri?
Kurikulum dan format sekolah yang dibicarakan selama acara ini, akan didokumentasikan dan dibagikan kepada publik dalam bentuk buklet, pada saat diskusi proyek 1X25 Jam, tanggal 28 Februari 2014, pukul 19.30 WIB.
Pada hari Kamis, 13 Februari 2014 jam 22.00, Saleh Hussein memulai proses berkaryanya. Beberapa jam setelah itu terjadi hujan abu akibat letusan gunung Kelud yang mengakibatkan proses berkarya Ale tertunda dan Cemeti terpaksa ditutup pada 14 Februari 2014. Siang ini, Ale kembali melanjutkan karya muralnya sampai jam 24.00.
On Thursday, February 13th, 2014, at 10 PM, Saleh Hussein starts his working process. Due to the eruption of Mt. Kelud on February 14th, he has to stop working as Cemeti is closed for one day as well. This afternoon he continues drawing the mural until midnight.
Leonardiansyah Allenda mengundang beberapa orang seniman yang pernah merasakan ruang Cemeti yang lama di Ngadisuryan dan ruang yang baru di D.I. Panjaitan. Seniman-seniman yang juga sahabat dekat Mella dan Nindityo tersebut diundang untuk reuni dan menginap bersama selama satu malam.
Leonardiansyah Allenda invited artists who have experienced the old Cemeti's space in Ngadisuryan and the latest one in D.I. Panjaitan, for reunion. The invitees are Mella and Nindityo's close friend. They spent the night together in the gallery.
Yudha Sandy membuat karya drawing dengan stiker di atas tembok dan instalasi papan nama beserta foto demonstrasi yang diambil lewat smartphone. Citra kartun pada drawing yang dibuat oleh Sandy adalah ilustrasi simbolis dari upaya dan keberhasilan Cemeti dalam menyiasati ketidakmengertian pemerintah. Sementara, instalasi papan nama adalah penggalan judul dari program-program Cemeti yang membesarkan sejumlah seniman dan merupakan bagian dari karya foto yang mengimitasi aksi demonstrasi.
Yudha Sandy created drawing with sticker on the wall and installation of wooden signs and photographs that he took with smartphone. The cartoon images that Sandy created are symbolic illustrations of the Cemeti's successfull attempt in circumventing the government's lack of understanding. Meanwhile, the wooden signs installation shows parts of Cemeti's programmes' names that nurtured many artists. The wooden signs also part of the photography works that imitating acts of demonstration.
Yudha Sandy memulai proses berkaryanya sejak hari Minggu, 10 Februari 2014 jam 18.00 hingga hari ini jam 19.00. Karya Sandy membahas tema tentang Cemeti sebagai institusi dan dukungan dari berbagai entitas serta komunitas lainnya.
Yudha Sandy starts the working process since Sunday, 10th February 2014, at 6 PM until 7 PM today. His works asking about Cemeti as an institution and support from various entities and other communities.
Suasana pidato dan orasi 'MIMBAR BUDAYA' pada hari Sabtu, 8 Februari 2014 jam 20.00. Pidato dan orasi dibawakan oleh Sarono, Gatari Surya Kusumo, Tutik Suharyanti, Ariza Sandy Najena, dan Hasan Basri.
Live speech 'MIMBAR BUDAYA' last Saturday, 8th February 2014, 8 PM. The speech was delivered by Sarono, Gatari Surya Kusumo, Tutik Suharyanti, Ariza Sandy Najena, and Hasan Basri.
Elia Nurvista mengumpulkan kritik tertulis mengenai Cemeti dan akan dipentaskan dalam bentuk orasi oleh orang-orang yang akrab dengan dunia seni rupa tapi jarang memiliki 'suara'. Dibantu oleh Theodorus Christanto dan Ferial Afiff, orang-orang yang diundang untuk melakukan orasi tersebut mulai berlatih sejak semalam.
Elia Nurvista compiling various criticisms about Cemeti, which will then be performed by those involved in the art world but rarely have a 'voice'. Assisted by Theodorus Christanto and Ferial Afiff, the participants started to practice since last night.
Anang Saptoto mengambil dua peristiwa yang pernah terjadi di Cemeti dan menghadirkannya dalam bentuk proyeksi perspektif pada tembok dan lantai galeri serta dalam teks pada kartu pos. Kedua peristiwa tersebut, yaitu: pameran "Exploring Vacuum" tahun 2003 dan workshop fotografi oleh Anja de Jong dalam rangka pameran "Spaced Out" tahun 2000.
Anang Saptoto selected two past events which took place in Cemeti and represent them in the form of perspective projection on the walls and floors of the gallery, as well as in the text of the postcards. The events are: "Exploring Vacuum" exhibition in 2003 and photography workshop by Anja de Jong as part of "Spaced Out" exhibition in 2000.