Semoga dengan membuat tulisan ini, saya bukan termasuk orang yang menistakan agama saya sendiri. Saya hanya ingin mengungkapkan apa yang saya pikirkan mengenai polemik yang sudah terlanjur terjadi.
Era digital seperti sekarang ini membuat informasi (entah itu informasi yang berupa fakta, fakta yang dipelintir, maupun hoax) dapat menyebar dengan sangat cepat. Dalam menghadapi era yang menuntut kita untuk selalu up to date dalam berbagai segi, kita harus cerdas dalam memilah informasi yang berdatangan. Salah satu informasi yang menjadi perbincangan hangat saat ini adalah akan adanya demonstrasi tanggal 4 November 2016, sebagai buntut dari polemik ucapan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengenai salah satu ayat Al Qur’an yaitu Al Maidah ayat 51.
Banyak pihak yang menyatakan bahwa Ahok telah menghina Islam dan menjadikan masalah ini sebagai isu nasional. Masalah ini menggelembung dan banyak pihak yang (sepertinya) terprovokasi. Hal ini dikarenakan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh seorang gubernur dari ibukota sebuah negara dan momen pilkada yang akan berlangsung pada Februari 2017 yang diikuti oleh gubernur petahana tersebut.
Untuk menilai sesuatu hal, ada baiknya kita melihat dari berbagai sudut pandang. Mari kita terapkan untuk menilai masalah ini....
Saya di sini tidak sama sekali bermaksud untuk membenarkan atau menyalahkan salah satu pihak. Sekali lagi, saya hanya ingin mengutarakan pendapat saya mengenai hal ini.
Di videonya, Ahok menyebutkan “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu ga bisa pilih saya. Ya kan dibohongi pake Surat Al Maidah 51 macem-macem itu”. Di sisi ini, Ahok memang salah karena sudah mengutip ayat dalam kitab suci yang bukan merupakan keyakinannya, terlebih lagi, hal tersebut menimbulkan kontroversi dengan menggunakan kata bohong. Dari segi bahasa, menurut saya (saya bukan ahli bahasa), yang bohong adalah lawan politik yang selama beliau berpolitik selalu menggunakan ayat tersebut untuk menjatuhkan beliau. Jika dilihat dari sisi Ahok, Ahok mungkin sudah gerah dengan lawan politiknnya yang menggunakan isu SARA untuk menjatuhkan dirinya, bukan dengan program-program kerja yang kompetitif.
Dalam versi lain yang menjadi viral di media sosial, video tersebut dipotong dengan pemotongan yang tidak pas karena tidak menyebutkan subjek yang melakukan kebohongan. Dalam versi tersebut, Ahok mengatakan “Bapak Ibu ga bisa pilih saya. Ya kan dibohongi pake Surat Al Maidah 51 macem-macem itu.” Jika dinilai dari versi ini, Ahok terkesan menyatakan Surat Al Maidah 51 ini digunakan sebagai alat untuk membohongi. Dapat dilihat di sini bahwa terdapat niat yang tidak baik dari orang yang telah memotong video ini dan menyebarluaskannya.
Melalui tulisan saya ini, saya ingin mengajak untuk berpikir lebih dalam mengenai ucapan Ahok ini. Perlu dicatat, saya bukan relawan teman Ahok ataupun tim pemenangan Ahok. Saya bahkan cenderung apatis dalam hal politik.
Masalah ini memang sarat unsur politik menjelang pilkada. Sebagaimana kita ketahui bahwa politik merupakan cara seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan kekuasaan, entah itu dengan cara yang bersih atau kotor. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkannya dengan lebih halus, politik adalah segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dsb) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain.
Jika dilihat dari isi ayatnya, menurut saya (yang bukan juga ahli agama), saya mencoba mengartikannya Surat Al Maidah 51 ini secara utuh dalam satu ayat, saya menangkap maksud baik dari Allah SWT untuk mencegah kita diperintah oleh pemimpin yang lalim; didahului dengan perintah untuk tidak memilih pemimpin dari yang bukan beragama Islam, hal ini (menurut saya) dimaksudkan untuk mencegah kita dipimpin oleh pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaannnya dalam segi akidah seperti yang telah dilakukan oleh Firaun. Wallahua’lam.
Sekarang pertanyaannya kembali ke diri kita sendiri, kita benar-benar merasa marah atas pernyataan Ahok ini atau kita hanya terprovokasi tanpa berusaha mencari dan memahami apa yang terjadi?