bahkan proses menyembuhkan lukanya lebih lama dari proses jatuhnya itu sendiri—dirawat beriringan soalnya.

Origami Around
ojovivo
h
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
No title available
Cosmic Funnies
AnasAbdin

祝日 / Permanent Vacation

⁂

blake kathryn
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
art blog(derogatory)

Love Begins
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Discoholic 🪩
Cosimo Galluzzi

JBB: An Artblog!
Game of Thrones Daily
we're not kids anymore.
NASA

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Mexico
seen from United States
seen from Iraq

seen from Malaysia

seen from Cuba

seen from Cuba

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Netherlands
@abendrotmemoir
bahkan proses menyembuhkan lukanya lebih lama dari proses jatuhnya itu sendiri—dirawat beriringan soalnya.
dan pada akhirnya cerita yang pernah ada bukan lagi tentang penyesalan, tapi tentang ketulusan yang berakhir pada penerimaan dan keikhlasan. hingga kini, segalanya masih sama.
cerita kemarin adalah bagian dari buku kehidupan yang suatu saat (mungkin) akan kubaca lagi, untuk ku pelajari—atau sekadar ku kenang karena pernah jadi cerita yang indah tapi berharap tidak terulang dalam keadaan yang sama, di kehidupan yang akan datang.
lagipula, titik tertinggi dari mencintai adalah merelakan, bukan?
aku payah dalam beberapa hal; memasak yang selalu tanpa takaran, menjahit baju yang bolong, mengatur angka dalam rekening, hingga menata kata di depan banyak orang.
hal payah lainnya yang gagal aku kuasai ialah berpura-pura untuk tidak mencintaimu—disaat namamu mendadak muncul di kepala, di telinga, dan disaat wajahmu menjadi yang paling sering kucari di keramaian.
payah ya?
sebaris namamu pernah menjadi hal yang paling kunanti setiap harinya, baik yang tertangkap oleh mata maupun yang mampir ke telinga.
tidak peduli cerita apa yang akan kamu bagi, kabar apa yang kudengar tentangmu, atau pertanyaan apa yang ingin kamu ajukan, aku selalu bersiap menyambutnya—dengan hati yang penuh campur rasa.
jika ditanya sejak kapan, entah. mungkin sejak kita saling kenal? atau sejak kata "kita" sempat mengarah pada muara yang sama.
kini, ruang hidupku berubah menjadi sunyi yang bising. nama yang dulu paling kunanti, kini menjadi yang kutakuti jika muncul—di layar gawaiku, linimasaku atau dalam obrolan orang-orang sekitarku.
bukan karena aku benci.
aku hanya lelah berkejaran dengan cemas— karena ketika kembali, ia akan menyeret pulang seluruh hantaman rasa yang susah payah kupulihkan.
anehnya, nama yang kini semenakutkan itu, rindunya tetap pandai menemukan sudut paling sunyi untuk menetap.
bersikeras aku membuang ingatan tentangmu dari palung pikiran paling dalam.
susah payah kuluruhkan segala rasa yang pernah ada.
sampai aku sadar. sekeras apapun upayaku untuk meniadakanmu adalah tindakan yang sia-sia dan melelahkan.
sialnya, apa-apa perihalmu telah punya ruang sendiri dalam tiap sudut hidupku.
bukan semata soal romansa, tapi jauh lebih bermakna—tentang cinta, empati, dan keikhlasan yang melampaui waktu.
rasa yang kini bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih jauh dari itu— ketulusan.
aku berjanji kepada-Nya dan diriku sendiri—janji yang kusemogakan bisa kutepati.
ingatan dan rasa ini masih ada dan akan tetap ada. keduanya punya koordinatnya sendiri, di ruang yang tidak akan dijamah oleh siapapun, termasuk olehmu.
aku diam bukan karena hilangnya ingatan juga rasa. aku diam karena aku tidak ingin mengganggu siapapun, termasuk diriku.
tidak akan kubiarkan siapapun memporak-porandakan lagi perasaan yang sudah kususun rapi di ruang yg semestinya.
semuanya tetap sama, tetap dengan ketulusan yang utuh.
maka akan selalu kuupayakan agar tidak merusaknya lagi dengan apa-apa yang Tuhan tidak suka.
tidak pernah ada yang salah perihal rasa—hanya butuh ruang simpan yang tepat.
rasa ini akan terus terlangitkan dalam bentuk doa untuk kehidupan yang lebih baik di setiap bagiannya.
sehat lahir, sehat batin.
berbahagialah dengan utuh, aku mohon, aku akan turut serta dalam ketenangan.
time will heal everything and we kno, its not easy.
Lagipula, dunia ini luas, orang-orang baru selalu ada, dan di antaranya pasti ada yang lebih sejalan denganmu—bukan hanya soal perasaan, tapi juga dalam hal respect dan komitmen. Jangan ragu untuk membuka diri, ya.
pada akhirnya asing jadi terasa lebih nyata dari perasaan lain yang sempat terutarakan. kalimat penuh yakin serta upaya penuh tenaga, apakah jadinya akan sia dan sia?
aku, kamu, kita semua pernah sama-sama bahagia. maka salah bukan cuma punyamu, tapi punyaku juga punya kita semua.
berani jujur pada diri, waktu yang cuma seujung jari mengantarkan aku, kamu, dan kita pada masa yang belum pernah ada sebelumnya. perihal keinginan besar untuk menyatu tanpa tau bagaimana caranya. perihal keinginan memperjuangkan bahagia diri, serta perihal lain di persimpangan— beruntung tidak ditabrak.
tapi katanya, hidup tidak selalu seperti angan yang dibayangkan. ikhlas sering jadi teman setia yang hadir perlahan bersama dengan rasa lain yang juga kian bertambah.
membencimu tidak pernah menjadi bagian dari kata sifat yang ingin kuwujudkan menjadi kata kerja. sementara memaafkanmu sudah jadi tugasku sejak upaya yang—semoga tidak pernah sia-sia—aku, kamu, dan kita semua kerahkan sampai saat ini.
pernah tau bagian besar hidupmu tidak pernah ada dalam timeline hidup yang aku bayangkan sebelumnya. tapi Tuhan berkata timeline hidupku tidak bisa selalu lurus dan ternyata aku belok dihidup orang-orang itu—termasuk kamu.
terima kasih untuk cerita, upaya, dan rasanya. aku, kamu, dan kita semua menikmatinya dengan seksama.
mari buat cerita lain yang jauh lebih baik dan benar dari sebelumnya!
hari ini kuberanikan cerita perihal apa yg sedang kualami selama hampir beberapa bulan ke belakang. bukan perihalmu, tapi perihal rasa sakit yang aku rasakan juga rasa percaya diriku yang menghilang. perihal pertanyaan apakah aku layak bahagia juga kenapa aku mengalami ini semua? kenapa aku bisa se-gemetar ini ketika mengingatnya? kenapa aku bisa merasa sesak bahkan hanya ketika membayangkannya?
aku paham betul bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa-kenapa-juga bagaimana, membuat kesan aku meragukan takdir-Nya, padahal tidak pernah sedikitpun keraguan itu muncul dibenakku. aku selalu percaya bahwa rasa sakit yang aku rasakan, kamu-dia-mereka datang ke hidupku bahkan menggoreskan luka yang cukup besar itu semua terjadi atas izin-Nya.
dengan segala kelemahanku, Allah berikan ketegasan lewat jalan yang lain. karena Dia tau, hamba-Nya yang ini perlu dikasih jatuh dulu baru bisa bangun.
kemudian soal kamu yang bikin aku jatuh, aku tidak pernah berharap keburukan sekalipun datang ke hidupmu. bolehkah aku berharap sedikit saja kamu rasakan sakitnya aku, agar kamu tau bagaimana harus menjaga perasaan saudarimu yang selemah ini?
teruntuk yang tanpa sengaja kudzolimi, semoga Allah bukakan pintu maafmu untukku dan diperluas hatinya untuk memberitau, letak salahku disebelah mana.
terhaturkan maaf untuk Ibu, karena anakmu ini telah sakit.
katanya, "aku merindukanmu. merindukan setiap kalimatmu yang tidak pernah kutemui dimanapun dan kudapati dari siapapun. merindukan setiap manisnya kalimat yang berubah bentuk menjadi tindakan nyata yang ternyata jauh lebih manis. beruntung sekali bukan? mereka yang bisa merasakannya utuh darimu tanpa pernah kurang sedikitpun?"
dibalas, "aku pun merasakan yang sama. sekalipun keterbatasan itu milik kita, keutuhan nyatanya milikmu. maaf sudah jatuh cinta dan mengakuinya"
kemudian si perempuan nyeletuk dalam pikirnya, untuk apa minta maaf atas nama perasaan yang tidak pernah salah?
lalu dia membalas, "aku maafkan dan teruslah mengakuinya. terima kasih untuk rasa yang tidak pernah terbatas. mencintaimu adalah pilihan terbaik yang kupilih saat ini. nantinya mungkin, merelakanmu? berbahagialah, agar kalahku tidak sia-sia"
diakhir, keduanya lenyap. pelan-pelan ditelan waktu yang tidak pernah sempurna milik mereka. perasaannya tetap ada, dirawat sedemikian rupa dengan cinta dan sayang yang kian bertambah. berharap pada Pemilik waktu, kelak segalanya berpihak pada rasa yang sudah diakuinya, selalu.
diatas segala amarah, percayalah tidak ada yang lebih tragis dari marahnya orang yang sedang jatuh hati karena takut disalahkan atas perasaannya yang tidak pernah salah.
katamu, "mengeluh lah sebanyak-banyaknya ke aku" katamu, "tumpahkan semua yang kamu rasakan." katamu, "aku akan berusaha"
1 jam, 2 jam, 1 hari, 2 hari, 1 bulan, 2 bulan, dan saat itu pula lah menunggu jadi terasa begitu lama, terasa kosong.
sering ku bilang aku tidak suka omongan tanpa tindakan. sering ku bilang berkata jujurlah semampu mana kamu bisa berusaha.
atau, ini hanya salahku yang terlalu besar dalam membentuk harapan? lagi-lagi aku pula yang ingkar atas ucapanku.
entahlah, rasanya ketenangan lagi sulit-sulitnya aku rasakan.
bahagia ya, agar kalahku tak sia-sia.
jangan banyak pikiran, katanya.
lucu ya tapi? yang paling sering bilang, justru yang paling sering menuhin pikiran hehe.
hidup tuh begini ya memang?
Mereka tuh sama-sama jahat. Cuma beda cara nyakitinnya aja.
"bahagia ya kak"
kalimat yg selalu mengiringi setiap Senin pagi sebelum kembali ke 'perantauan' beserta doa lengkapnya setiap selepas beliau sholat.
kalimat sederhana yg dulu gak pernah gue bayangkan akan jadi se-bermakna ini sekarang.
kalimat yg jadi salah satu titik penentu keberanian diri ini mengambil langkah besar dalam hidup.
kalimat yg terasa sangat tulus dari setiap mereka yang mendoakan hidup yg hampir hancur ini. tidak pernah merasa paling hancur karena tiap manusia punya titiknya masing-masing, juga banyaknya koma untuk melanjutkan hidupnya yang belum selesai kata-Nya.
"bahagia juga ya, bun"
kataku, membalasnya.
dulu kamu selalu bilang "aku cuma mau kamu bahagia" dan berulang kali juga aku tanya "kalau iya mau aku bahagia, kenapa malah kamu nyakitin aku?"
tanya yang tidak pernah ada jawabannya; sampai sekarang. selalu saja kamu bertengkar dengan pikiranmu sendiri.
pernah baca ini di tulisan orang, kata dia "belajar berhenti memperbaiki hal yang justru melukai kita ketika kita mencoba untuk menyelamatkannya"
aku setuju, karena aku pernah melakukannya dan kehilangan diri sendiri. adakah yang lebih menyakitkan dari kehilangan diri sendiri?
kamu bisa menjadi 2 orang yang berbeda dalam satu waktu dan bodohnya aku gak keberatan terlibat dalam kerumitan ini; adalah hal yang paling aku gak suka darimu (juga diriku) saat ini.
Jangan biarkan aku menebak dari kepingan-kepingan kata; sementara satu kalimat terus terang bisa menjelaskan semuanya.