Inovasi stagnan
Pelik malam desertai hirur pikuk hedon manusia-manusia yang katanya akademisi, melejit erat dengan postingan yang ingin terinspeksi dengan dalih estetika. Mungkin akan menjadi ambivalensi bagi kalian pembaca, maka itulah kausa kalian adalah golongan yang akan saya ceritakan.
Organisasi, komunitas, aliansi atau apalah yang menjadi instrumen kalian hari ini adalah semu jika tidak berpijak dari ranah eksistensi, atau kalian ingin berdalih kembali? Secara tersirat saya bosan bercengkrama dengan golongan saya untuk membahas golongan kalian dan inilah waktu yang tepat untuk daya menuangkan ampas itu disini.
Program kerja yang mengerjakan berpuluh puluh tenaga tanpa ranah edukasi tanpa substansi perjuangan itukah inteklektual? Saya akhirnya perlu meniscayakan kata van Deventer kalian adalah calon pekerja yang patuh, beradap dan produktif sebuah eufimisme yang konyol di mata kami saat berlaku di era kolonial. Dari ketiga elements of darkness tersebut pada ujungnya mengkaratkan ujung tajam pedang kalian yakni Nalar - Kritis.
Terlatih bekerja dengan rasa kekeluargaan ( Taik! ) yang pada halnya apatis tidak ada bekas solidaritas di ranah akademis, bisa dibuktikan apakah pemimpin kalian menjajikan kemenangan yang sama untuk kalian? Atau kalian hanya menjadi tim hore untuk merayakan kemenangannya ? Apakah dia menggaransikan kesejahteraan kalian dimasa yang akan datang dengan rangkulan pahit dan tawaan dia sebagai seorang pemimpin? Trus apa timbal balik kalian dari botol tersebut ? Kenapa tidak memilih apatis saja ?
Logika terbaliknya apa jadinya jika kalian tidak berpartisipasi? Jika berbicara kondisi kemarin maka itu benefit kalian tidak menjadi bagian itu! Iya benar tidak ada hal fundamental karena layaknya karyawan pabrik, Kecuali ada penghargaan penuh bagi kalian para berkemeja apapun warnanya apapun logonya apapun emblemnya dengan perihal jangka panjang dan kemaslahatan banyak orang.
Ayo teman sudah berapa semester kita di lingkungan jenuh ini dan masih saja kita terjajah dengan pikiran sempit nan angkuh. Asensinya kalian seorang mahasiswa merupakan tentara cadangan proletar yang memiliki pistol-pistol intelektual mskipun intuitif untuk menembak aparat negara yang mengkilat nan rakus. Sistem negara yang longsor dimanfaatkan bagi perut-perut berdiameter tangki tinja.
Mahasiswa Kampus 2 yang memiliki elegansi di SPP menjadi sekat dengan konteks mahasiswa lainnya, idealisme dan nalar apakah milik mahasiswa fisip saja? Kita yang membayar mahal diberlakukan untuk menghafal dan mereka dengan standar dibawah diberi keleluasan yang kompleks untuk memahami, merefleksi dan menafsirkan, trus sistem fisiologis cerebrum yang kita pelajari cuma menjadi mesin buat mereka gitu tanpa implementasi nyata dari kita, jelas buat kita nice to know paradoks, debu adalah rasionalisasi kita jika diajak turun ke jalan, polusi apalagi karena kita paling sehat gitu, UP yang sudah dihafal 2 lembar portofolio bias ditelan bersama saos makanan cepat saji yang utopis dikonsumsi kalangan mustadafin. Terus masih bergunakah instrumen kalian ? Apa kontribusinya ? Rapat - Rapat - Tipes - Apendisitis
Selamat lebaran para calon buruh kesehatan yang terjajah!



















