Sakitmu, menyakitiku
Setiap kali kudapati kabar bahwa kau sedang sakit. Itu akan menyakitiku. Sepanjang waktu akan membuatku dihantui kekhawatiran yang teramat. aku belum bisa menjadi pengobat dari segala sakit yang kau derita. Aku belum bisa menjadi orang pertama yang akan merawatmu hingga pulih. Sehatlah fisikmu itu doaku.
Setelah bersamamu, separuh hidupku telah ikut bersamamu. Apa yang kumiliki telah menjadi kepunyaanmu. Aku selalu berharap bahwa kaupun akan melakukan hal yang sama terhadapku. Seluruhnya telah ikut bersamamu kecuali ragaku yang tetap disini. Dalam setiap harapan yang kupupuk hingga tumbuh keyakinan besar dalam diriku. Bahwa suatu hari, hari bahagia itu akan datang. Kau akan datang membawaku bersamamu. Kita akan menjadi satu dan kau berhak membawa jiwa dan ragaku yang telah lama kau miliki ini. Adakah sama setiap impian yangku ingini akan dirimu? Adakah bahagia yang bisa kau dapati dari diriku seperti bahagia yang selalu kuselamatkan untuk menguatkan penatianku.
Kau satu-satunya bahagia yang ku impikan dari seluruh luka, kesakitan, yang kuterima. Kau tau? Satu-satunya rasa sakit yang ku benci dalam hidupku ialah kematian ayahku. Aku tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Dan syya tidak ingin merasakan kesakitan itu lagi bersamamu. Untuk bisa bertahan sejauh ini aku mengobati lukaku sendiri, aku pulihkan sakitku sendiri, aku berjuang sendiri setiap hatiku kalah dan merasa tak kuat lagi. Ini berat, begitu berat. Satu-satunya kekuatuanku adalah doa ku yang tak pernah putus untukmu.
Aku memilih menetap padamu, menjadikanmu satu-satunya dan menjadikanmu yang terakhir. Pahamilah ini. Meski dalam keyakinanku hingga saat ini, bisa jadi aku bukanlah satu-satunya dalam hidupmu, aku mampu menerima namun sudihkah kau menjadikanku yang terakhir dalam hidupmu?
Beberapa janjimu yang selalu menguatkanku ialah: kau takkan meninggalkanku ; kau menyayangiku ; kau akan hidup bersamaku selamanya. Aku percaya meskipun dalam banyak hal logikaku kadang meragu.
Aku dan kau hidup dijaman dimana jarak bukanlah alasan penghalang temu, aku dan kau hidup dimana perbedaan waktu bukan alasan untuk menciptakan jarak, aku dan kau hidup diera dimana semua yang yang berjarak mampu terasa dekat. Tapi itu untuk pasangan yang lain. Bukan untuk aku dan kau. Aku tetaplah manusia yang hidup dimana satu kabar adalah hadiah terbesar yang akan ku teriman, aku tetaplah berada dimana jarak adalah pencipta rindu yang takkan usai. Aku tetap manusia paling kuno disaat semua teknologi mampu mendekatkan yang jauh. Bukan halnya sulit untuk aku dan kau bertatap muka tanpa bertemu. Tapi kau tak menginginkan. Dan aku bisa apa. Lagi-lagi hanya mampu merima apapun yang kau beri.
Tak mengapa disaat semua pasangan yang berjarak mampu saling bertata dalam layar ponsel biarlah aku menjadi pasangan yang merindukan temu.
Biarlah tetap terjaga debaran ini sampai saatnya tiba asalkan bersamamu.
Aku akan siap menerima sikap dinginmu juga tak acuhmu padamu. Aku rela bertemankan air mata untuk melelehkan hatiku yang semakin hari semakin membeku karena dingin sikapmu. Aku menikmati setiap cara kau membersamaiku.
Namun, kesalahan apa yang kulakukan hingga kau seakan menghukumku. Adakah dalam setiap keinginanmu tidak kupenuhi? Adakah perbuatan kasar yang pernah kuberi padamu? Adakah penolakan yang pernah kuucapkan? Atau adakah rasa sakit yang kutitip padamu? Lalu mengapa kau begitu kejam mengujiku? Hingga aku harus tertatih-tatih dalam menyeimbangimu, aku harus relah kehilangan kepingan hati yang kadang tak mampu terselamatkan dalam mengejar ketertinggalanku olehmu.
Tapi ketahuilah kau adalah guru sabarku. Terima kasih untuk latihhan sabar yang kau beri untuk kumiliki darimu. Entah pada waktunya aku akan lulus atau sebaliknya. Semoga Allah menguatkanku.
Untuk segala yang telah ku perjuangkan agar bersamamu. Haruskah aku mundur? Haruskah aku kalah? Bukan karena sirna sudah segala rasa dan lenyap semua bentuk usahaku untuk bersamamu. Karena rasa ini hanya untukmu dan akan tetap di sana tak ubah juga tak beranjak. Hanya saja, ini bukan kita bila yang terus meniti segalanya hanya aku, ini bukan kita bila yang terluka hanya aku, ini bukan kita bila nyatanya semua harap hanya menjadi anganku sendiri. Aku tidak menyalahkanmu, aku tidak menuntutmu. Karena aku telah meminta, memohon agar kamu mengerti. Namun kau hanya berakata aku merasa menyesal dan bersalah padamu maafkan aku yang tidak begitu perhatian padamu karena begitulah aku sejak dulu. Aku bisa menerimanya namun jika hanya aku yang menerima segala yang ada padamu maka siapa yang akan mengerti dan menerima diriku jika bukan kamu. Bukankah itu tidaklah adil untuk sebuah kata kita. jika kau tak bisa, apa aku bisa memaksa.bukankah itu tidak mungkin memaksamu.
Lalu jawaban apa yang akan ku katakan saat orang tuaku mulai menanyakan kedatangnanmu? Kisah kita yang mana akan ku ceritakan pada sahabatku saat memyanyakanmu. Kabar apa yang akan kukatakan pada orang-orang yang telah mengetahui kita?
Akankah aku kalah sendiri tanpa kau pertahankan? Akankah kau berbahagia dengan kekalahanku? Jangan hancurkan mimpi indahku bersamamu. Bukankankah ini visi kita sejak awal? Lalu apa kabar dengan misi-misi kita?
aku sanggup menerimamu dalam kesakitan apupun asalkan kau tetap menjadi pengobat rasa sakitku. Jadikanlah aku yang terakhir dalam hidupmu. Aku mencintaimu. Tolong jangan menyakitiku.
Berjanjilah bahwa semua janju yang kau beri untukku akan kau penuhi. Demi Tuhan!
Takalar, 25 Desember 2017
Adelina
semoga ada takdir baik untuk kita












