Kalau dalam agama yang saya imani, privasi itu semacam aurat. Ada batasan yang harus dan memang wajib dijaga. Menjadi salah bila ia disingkap atau orang lain sengaja ingin menyingkapnya.
Hari ini, ditengah begitu banyak ruang untuk berekspresi. Orang-orang mulai lupa menerapkan batasan-batasan itu. Sudah menjadi wajar bila privasi seseorang tersingkap oleh dirinya sendiri. Tapi, masih mengherankan bagi saya pribadi dengan banyaknya orang yang ingin menyingkap privasi orang lain.
Saya percaya bahwa setiap orang ingin dihargai ruang privasinya. Saya pribadi tidak menjawab semua pertanyaan yang masuk ke email ataupun inbox saya karena pertanyaan-pertanyaan yang masuk pun kadang terlalu jauh. Terlalu jauh untuk orang yang tidak saya kenal.
Cara kita bertanya-menanyakan menjadi kebablasan. Keingintahuan kita terhadap orang lain menjadi berlebihan. Kita lupa mengenai batas. Kita lupa mengenai norma. Bahwa setiap orang itu memilik ruang semacam rumah yang apabila kamu ingin masuk, ketuklah pintu dan ucapkan salam. Bukan tiba-tiba masuk begitu saja, kan?
Kita belajar tentang banyak hal di dunia ini, tapi kita lupa belajar tentang kesopanan dan budi pekerti. Kita bisa saja memegang gelar akademis yang panjang tapi kita sulit sekali bisa memegang gelar orang yang baik, orang yang santun, orang yang berbudi dan beradab.
Memiliki ruang privasi adalah kebahagiaan setiap manusia. Ruang yang tidak ingin diusik oleh siapapun untuk menyimpan rahasia-rahasia dalam hidupnya. Dan mari sama-sama belajar menghargai itu semua.