Delusi Rasional
Pikiran atau pandangan yang tidak berdasar (tidak rasional), biasanya berwujud sifat kemegahan diri atau perasaan dikejar-kejar; pendapat yang tidak berdasarkan kenyataan; khayal. Itu adalah definisi delusi berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia. Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang seseorang yang mengatakan bahwa di dalam tubuhnya terdapat sesosok naga, atau orang yang mengatakan bahwa dia adalah penguasa alam semesta. Orang-orang seperti itu dapat kita kategorikan sebagai pengidap gangguan delusi. Pada umumnya delusi tidak begitu berbahaya bila diderita oleh satu orang, namun akan sangat berbahaya bila diderita oleh banyak orang. Jika satu orang percaya bahwa dirinya adalah Tuhan, mungkin itu tidak berbahaya. Namun, jika kemudian banyak orang yang mempercayainya mungkin disitu masalahnya.
Pada 2006 alhi biologi asal Inggris bernama Richard Dawkins menerbitkan buku yang sangat kontroversial yaitu God Delusion, dia beranggapan bahwa kepercayaan akan Tuhan adalah gangguan delusi yang paling banyak diderita umat manusia dan dia mengajak banyak orang untuk keluar dari delusi tersebut dengan menggunakan akal rasional, akan tetapi salah satu delusi paling kuat dan bertahan lama terutama di dunia barat adalah delusi rasional, sejak lama para filsuf dan ilmuwan menganggap bahwa rasionalitas adalah ciri manusia yang paling mulia, sehingga para filsuf menggunakan rasionalitas mereka untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk, cara mereka mengagung-agungkan rasionalitas inilah yang membuat Jonathan Haidt mengatakan bahwa mereka terkena gangguan delusi rasional, bahkan delusi ini jauh lebih akut melampaui delusi akan tuhan atau dewa-dewi, hingga program-program delusi utopia yang terus menambah pengikut lempaui pengikut agama.
Seorang filsuf Eric Schwitzgebel pernah meneliti dan mensurvei secara diam-diam para filsuf moral yang sepanjang harinya mereka gunakan untuk memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk dan memberikan ceramah moral dikampus-kampus ternama. Untuk membuktikan apakah filsuf moral lebih bermoral dari pada filsuf atau profesor dibidang lain, dengan mengukur seberapa sering mereka beramal, membersihkan sampah sendiri, mendonor darah, menelpon orang tua dan membalas pertanyaan mahasiswa di surat elektronik. Namun hasilnya sungguh ironi, schwitzgebel tidak menemukan sedikitpun perbedaan antara filsuf moral dan filsul atau profesor dibidang lain. Dapat kita katakan kepakaran untuk berargumen tentang moral tidak berbanding luruk dengan moral itu sendiri.
Rasionalitas sama sekali tidak dapat kita sandingkan dengan kata baik atau buruk, sebab rasional merupaka kata kerja yang bebas nilai. Rasional itu ibarat pisau yang dapat kita gunakan untuk memotong apel dan dapat pula kita gunakan untuk memotong orang. Jika memotong apel itu baik dan memotong orang itu buruk, maka kata baik atau buruk itu harusnya kita berikan kepada orang yang menggunakan pisau, bukan pada pisau itu sendiri. Kita dapat menggunakan rasional kita untuk mengatur strategi agar mendapatkan banyak pembeli di toko dan mendapatkan banyak uang, dan kita juga dapat menggunakan rasional untuk mengatur strategi agar dapat menyelinap masuk ke rumah orang kaya kemudian mengambil uang dan perhiasan, dengan itu kita juga akan menjadi kaya. Mungkin membaca buku-buku filsafat moral bukanlah hal yang efektif untuk meningkatkan moral karna faktanya rasionalitas itu bebas nilai dan filsuf moral juga tak begitu bermoral.
Dengan menggunakan rasionalitas bukan berarti kita dapat berfikir terbuka lalu mampu menerima gagasan yang bertentangan dengan apa yang kita yakini, yang jelas hal itu sangan sulit untuk dilakukan, karena otak kita terdesain untuk mengkonfirmasi suatu hal yang membuat kita terlihat benar, bukan untuk menjadi benar. Ketika ada seseorang yang mencoba untuk mengkoreksi agama saya, saya akan mati-matian mengolah kata untuk untuk membuktikan bahwa agama saya lebih baik dan benar, meskipun saya sebenarnya tidak begitu mengerti pula. hal ini dapat disebut bias konfirmasi, yang berarti kita hanya mengkonfirmasi apa yang kita anggap benar saja, hal ini bukanlah sebuah kekurangan, melainkan ciri bawaan yang harus kita latih untuk mengurangi pengaruhnya, karna cukup berdampak buruk pada kehidupan.
Dengan adanya bias konfirmasi bukan berarti kita harus berhenti menggunakan rasionalitas dan hanya mengandalkan firasat dalam menilai sesuatu. Akan tetapi harus kita akui bahwa seorang individu sangat sulit untuk kita andalkan rasionalitasnya terlebih lagi bila terdapat kepentingan pribadi dan reputasi. Akan jauh lebih baik bila kita memiliki keanekaragaman intelektual dan ideologi dalam suatu kelompok yang sama-sama bertujuan untuk mencari kebenaran. Kemampuan untuk dapat berfikir secara kelompok dan bersabar untuk mendengarkan pendapat yang tidak sejalan dengan kita, itu jauh lebih baik dibandingkan perdebatan yang dibarengi dengan bias konfirmasi, semakin kesini akhirnya kita mulai menyadari bahwa kolaborasi jauh lebih baik dibandingkan kompetisi.










