Seburuk apapun masa lalu, ia tidak akan pernah mampu mempengaruhi masa depan, kecuali kita sendiri yang mengijinkannya. Penyesalan selalu datang di akhir, bukan untuk mengenang luka, tapi memindahkan kita pada lembaran yang baru, seharusnya. Cinta yang jatuh, rindu yang tak berbalas, perasaan yang tak berlabuh, kesetiaan yang berbelok, pertemanan yang terluka, kegagalan-kegagalan usaha, rencana yang berantakan, pertengkaran-pertengkaran kecil, penghianatan pada janji, kesemuanya, tiada akan mampu mewarnai kehidupan kita hari ini, kecuali kita memberikan kepadanya kuas untuk melukis kenangan, kemudian menyiapkan papan batu sebagai media. Sreeet... Sreeet... Sreeet. Tergambar kuat di atas batu, mengakar di pikiran, mengabadikan luka-luka yang seharusnya dilupakan. Salah kita sendiri. Air bisa saja masuk menghanyutkannya, atau angin menerbangkannya, atau api membakarnya, atau dingin membekukannya, tapi kita tak pernah memberi ijin kepada mereka. Bukankah kita sendiri yang telah menciptakan tragedi? Mempersilahkan masa lalu kembali, menjamunya di ruang tamu, nostalgia bersama luka, mendramatisir naskah, hingga seolah, kita benar-benar telah kalah, tak bisa membuka lembaran baru. "Waktu tidak pernah berjalan mundur, dan hari tidak pernah berulang, tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru" -Aan Mansyur- Sudahlah! Sudahi sandiwara itu. Lihat, pagi selalu datang sesaat setelah makin pekat dan dinginnya malam. Kamu tak pernah selemah itu. Ale, Jogja, 16 Agustus 2017