Yang Tak Pernah Mulai, Takkan Pernah Usai
Sekedar bersilang pandang cukup menjadi penawar, saat sewajar bertanya kabar "Hai, apa kabar?" tak mampu terujar. Saatnya menabung kembali rindu, hingga kita tak sengaja kembali bertemu.

titsay
Today's Document

★
Stranger Things
NASA
Monterey Bay Aquarium

izzy's playlists!

Discoholic 🪩
$LAYYYTER
No title available
cherry valley forever
Keni
Show & Tell
occasionally subtle
Acquired Stardust
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Andulka
Peter Solarz

No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Spain

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from Mexico

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from Australia
@adorablev
Yang Tak Pernah Mulai, Takkan Pernah Usai
Sekedar bersilang pandang cukup menjadi penawar, saat sewajar bertanya kabar "Hai, apa kabar?" tak mampu terujar. Saatnya menabung kembali rindu, hingga kita tak sengaja kembali bertemu.
Selamat lebaran dan liburan,
Katanya idul fitri, kataku festivalisasi.
Diantara riuh kelambu dan lampu merah-biru di setiap gang di kotaku, aku berdiri memutar kembali di sudut ingatan paling tepi. Ada aku 20 tahun lalu, mencoba baju baru dengan iringan kegembiraan bapak dan ibu. 3 tahun setelahnya aku sudah bisa bantu-bantu, membungkus tape ketan dan menggarang kembang gula di tungku. Ah sekarang sudah tidak ada lagi kebiasaan itu, kebersamaan itu, kehangatan itu. Yang ada hanya aku, yang gagal mengampuni dosa-dosaku. Gempita itu hanya sesingkat letupan opor diatas kompor, reda sesaat kau sajikan diatas meja.
Selamat merayakan teman-temanku,
Aku mencintainya sejak tetesan pertama. Pada gerak geliatnya, pada manjanya. Bahkan sebelum aku menyadari bahwa aku ternyata telah jatuh cinta, ia selalu hadir pada mimpi-mimpiku di malam gulita. Bahkan setelah kita tak pernah bisa berjumpa, aku masih akan tetap mencintainya. Ia, cinta pertama.
Ia sangat lucu, pencemburu seperti kamu, ia melarangku makan makanan kesukaanku, katanya takut terbagi cintaku. Ia juga kerap mencari perhatianku, mau bermalas-malasan sama aku. Ia memang begitu, pandai membuatku rindu masa-masa itu.
Terimakasih telah membuatku merasakan cinta pertamaku :)
Barangkali, kau tak pernah digugat nurani. Tentang mengingini lelaki dengan jemari yang dilingkari. Aku, mati mengampuni.
KataLev
Belajar Itu Sabar . Belajar itu membuka pikiran lebar-lebar, bahwa segala sesuatunya dapat dipikir dan dinalar. Belajar itu menyiapkan dada yang jembar, karena jalannya memang terkadang sukar. Belajar itu bukan mengejar gelar, tapi berproses tanpa kenal gentar. . Saya beruntung semangat saya setiap hari dibakar, dibuat berapi-api hingga berkobar. Dengan apa jika bukan dengan usaha dan doa orangtua saya yang tak pernah kelar. Oleh mereka, saya ditempa menjadi tegar dengan senantiasa digampar hingga memar. Saya sadar bahwa saya tidak serta merta dilahirkan menjadi pintar, tapi saya punya ambisi besar, untuk melahirkan dan membesarkan generasi-generasi terpelajar, tidak hanya bisa membedakan mana salah mana benar tapi juga mampu menjadi sinar untuk sekitar, bukan sekedar binar yang penuh nanar. #lampauibatasambisimu , bersama @HSBC_ID kita mampu #katalev #katalev #katalev
Pria Pukul Dua
Sengaja tidak saya sebutkan namanya. Pria yang awalnya hanya maya, dengan profile picture berkemeja putih p*******a duduk dibelakang kemudi menoleh ke arah kanannya dan sapaan sederhana menjelang pukul dua hari selasa yang sampai saat ini masih selalu saya syukuri hadirnya, sebagai senyata-nyatanya partner diskusi saya (diskusi apa saja mulai bagaimana kupu-kupu dan berudu bermertamorfosa, pemilihan kata “meromantisir kebetulan” yang tak pernah ada ujungnya, pola didik balita hingga remaja, serta politik di indonesia, hingga spesifikasi gadget A dengan saling mengunggah data dan fakta dan masih banyak lainnya). Tidak banyak yang saya ketahui darinya, pun yang saya bagi dengannya, sampai perlahan dengan ketelatenannya saya dibuat nyaman bercerita tentang semuanya, pribadi saya, keluarga saya, keinginan-keinginan saya, serta opini dan fantasi saya. Dan saya menjadi seapa-adanya saya di hadapannya. Bahkan yang selama ini tak pernah saya bagi meski pada bayangan dan pantulan diri saya sendiri dan juga seaib selilit di kawat gigi bisa keluar sendiri tanpa saya beranikan diri untuk mempertunjukkan padanya sejak dini. Padanya saya menaruh hati, entah mulai pertemuan keberapa yang terjadi diantara kami, mungkin di pertemuan pertama dini hari, atau di pertemuan kesekian kali ketika kita saling berbagi, atau bisa jadi malah sebelum jabat jemari; saat kita masih bertukar diksi dan imajinasi. Dialah pria dewasa sekaligus manja, penenang sekaligus penentang, dan penyayang berdada lapang yang kecupnya dikening sangat indah dikenang.
Hari ini adalah jawaban dari doa masa lalu yang kita rapalkan. Mungkin tak serupa, tapi manusia bisa lupa. Tuhan tau mana yang terbaik untuk setiap tangan yang terangkat mengirim pinta ke pintu langit-Nya. Semoga kita dijaga untuk membaik bersama. Semoga sisa usia kita memberi makna untuk sesama. Mas, aku tidak berniat untuk telat, sejak kemarin kemarinpun aku ingat. Selamat dua empat. Atas segala nikmat yang kau dapat, tetaplah ingat, untuk bersyukur pada maha perahmat, dan mengucap kasih pada wanita hebat, yang menghadirkanmu ke dunia dengan selamat dan dengan penuh cintanya merawat, hingga usiamu genap dua empat. Dua puluh empat bukan angka keramat. Jangan takut jika kedepan akan berat, yakinilah bahwa semua pasti terlewat, dan di setiap jatuh selalu ada angkat. Jangan khawatir tersesat, doaku untukmu tanpa sekat. Semoga mas er selalu sehat dan kuat, semoga setiap jerih payah menguras keringat dilimpahi berkat, semoga rejekinya berlipat-lipat, dan semoga sukses serta bahagia dunia akhirat dalam lindungan Tuhan lewat malaikat malaikat. Mas er, peluk aku lebih erat saat renggang menodai rekat, kecup aku lebih hangat saat cinta mulai tak pekat. Ketahuilah, aku menyayangimu sangat. Sekali lagi selamat dua empat. Maaf jika pesanku bukan yang pertama ada di saat kamu membuka mata, aku hanya ingin lebih lantang meminta pada pemilik semesta pengabul doa doa, padaNya, kamu nyata nyata kuminta lewat sujud tahajud dan duha. Mas mari meminta bersama, agar dimudahkan kedepannya :) . . . Desember 19, 2016. 08:59 (dalam sesak bis antar kota bangku kiri kedua, jalan raya Nganjuk-Bojonegoro)
Jarak melahirkan rindu dan ragu sebagai anak. Di dadamu, mana yang lebih ingin kau besarkan hingga dewasa kelak?
Cerpen : Bacaan Quran
Belasan tahun lalu, saat emak masih ada. Aku masih ingat bagaimana kami melalui jalanan ini setiap hari minggu pagi, kami ke pasar dekat stasiun kereta. Dulu, jalanan ini masih berbatu. Bebatuan yang ditata rapi. Kini semuanya sudah berubah menjadi aspal. Sekarang hampir tidak ada yang berjalan kaki ke pasar yang jaraknya hanya sekitar 500m dari desa. Pemotor hilir mudik, memenuhi jalanan.
Aku masih ingat bagaimana setiap perjalanan ke pasar ini, saat menemani emak ke pasar. Banyak sekali obrolan kami yang berkesan. Satu per satu obrolan itu pun menjadi peganganku hari ini. Sebuah nasihat yang menjadi nyala dalam hidup-hidup berikutnya, apalagi setelah emak meninggal. Salah satunya yang ingin aku ceritakan kepadamu.
Waktu itu usiaku sekitar delapan atau sembilan tahun, aku lupa tepatnya. Masa itu masa-masa setelah krisis moneter. Emak ikut berjualan di pasar dan perjalananku kala itu tidak hanya sekedar menemani emak ke pasar untuk belanja, tapi juga jualan. Aku membawakan barang-barangnya dengan sepeda kecil yang aku tuntun.
Waktu itu aku sudah mulai mengaji. Aku mengaji di rumah tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Dan aku benar-benar terkesan dengan pembicaraan kami kala itu, meski pada waktu itu aku tidak sanggup memahami dengan utuh kalimatnya. Kini aku paham.
“Nak, emakmu ini tidak bisa baca Quran. Emak cuma bisa mendengarkan dari orang lain kemudian mengingatnya. Emak tidak pernah mengaji, tapi itu bukan berarti emak tidak belajar agama. Emak sibuk bekerja dari pagi, untuk itu emak pengin nabung pahala yang banyak di kamu. Kamu harus belajar, baik belajar ilmu dunia maupun agama.”ujarnya.
“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan quraannya itu bukan yang mereka yang bacaannya sering diputar dari kaset rekaman di masjid tiap menjelang shalat jumat itu.” lanjutnya.
Aku memasang muka penasaran, tanda ingin tahu apa yang sebenarnya emak pikirkan. Aku memang terkenal paling payah dalam mengaji di antara teman-teman yang lain. Hafalanku paling kacau. Bacaanku juga tidak lancar. Dan emak tahu semua itu.
“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan qurannya itu adalah orang yang sekali ia membaca Al Quran, ia mengamalkannya. Setiap ayatnya, setiap perintah dan larangan di dalamnya. Itulah orang yang paling bagus bacaannya buat emak. Karena tidak hanya bibir yang membaca, tapi hati dan seluruh anggota badannya membacanya dan mengamalkannya.”
Kalimat itu mengalir dan berhasil membuatku bersemangat kala itu. Setiap kali satu ayat aku pelajari, setiap kali itu pula aku berusaha mengamalkannya. Seringkali aku bertanya maksudnya apa, mengapa, dan bagaimana setiap kali membaca. Ketidakmengertianku dan rasa penasaranku begitu besar sampai guruku kewalahan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, emak memutuskan untuk mengirimku ke tempat mengaji di kota.
Guru ngaji di lingkungan kami bukanlah seperti ustadz hari ini. Mereka mengajar mengaji karena bisa mengaji. Bukan karena lulusan pondok pesantren atau memang mendalami ilmu agama tsb.
Kini rasa syukurku meledak ledak setiap kali mengingat kata-kata emak. Dan aku berjanji kepada emak kalau aku akan memiliki bacaan Quran yang paling baik. Sebagai hadiah untuk emak.
©kurniawangunadi | yogyakarta, 15 maret 2017
Februari Merana, eh Merona
Februari pertengahan, angin barat, timur, dan selatan menggugurkan daun dari dedahanan, menerbangkan sepucuk puisi pembangkit penyesalan.
Tiga musim kering dan basah berganti sudah. Namun resah nampaknya masih betah, berdiam diri di hati yang bernanah. Menunggu adalah perkara mudah. Menyaksikan punggung berlalu diiringi penyesalan tak tahu malu itu teramat susah.
Tiara: “Andai saja saat itu aku peka, bahwa padaku dia menaruh suka, menantinya tak kan pernah membuatku luka.”
Fella: “Sayang sekali ya, mungkin dia bukan yang terbaik untukmu saat ini, yang kuyakini setiap yang diijini untuk hadir dalam hidup ini, pasti sudah sesuai porsi. Belajarlah dari sini, bahwa yang saling menyukai tak berarti bisa saling memiliki.”
Tiara: “Tapi, sudah selama ini aku menanti, dan baru-baru ini pula aku mengerti, sudah ada wanita lain disisi. Bodoh sekali aku ini.”
Fella: “Mulailah menata hati, semesta tak hanya melahirkan satu laki-laki. Memang praktek tak segampang teori. Berhenti menyiksa diri.”
Saluna: “Dia suka kamu nggak peka, kamu suka dia nggak peka. Apakah jika seandainya sama-sama suka dan sama-sama peka jaminannya akan sama-sama?”
Fella: “Kepastian?”
Saluna: “Kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Berdiri sendiri, bangkit berlari! Bisa jadi, saat ini kamu sedang diselamatkan. Tidak disatukan, agar tidak diduakan.”
Tiara: “Karena cobaan dan godaan akan selalu ada dalam sebuah hubungan.”
Saluna: “Februari tak melulu menyoal hati dan sejoli. Karena bahagia tak hanya sepaket dengan romansa cinta dua anak manusia. Bahagia untuk siapa saja.”
Angin menghembus ke utara, membangunkan Tiara dari lamunan panjangnya di Februari minggu ketiga. Darimana datangnya Fella dan Saluna?
#wpkita terinpsirasi dari kisah nyata salah satu kontributornya. Tebak, kisah siapakah gerangan dari kita bertiga @adorablev @agakdalam @roberthandrea ??? Cc: @kitajatim
#KITAJATIM #WPKITAJATIM #TakAdaCintadiFebruari
Sayang, tunggu aku di ujung rokokmu yang sebatang, nikmati aku yang menjelma asap yang menghilang. Sayang, tunggu aku di secangkir kopi yang kau tuang, sesapi aku yang menjelma aroma penenang. Aku tak hadir untuk menjadi sesuatu yang akan kau kenang, aku datang menjadi satu satunya yang kau pinang.
Kepada cinta pertama seorang levinda surya Bersama dengan ini saya sampaikan terimakasih untuk yang terkasih. Tetaplah menjadi pengasih tanpa sisih, pengobat perih tanpa pamrih, dan penawar pedih saat sedih.
#suratcintalevinda #katacintalevinda #wpsaya #sayabisa #wpkita #kitabisa
Jika mencari tahu memang kau haramkan atasku. Biarkan keraguan menjadi ganjaranmu.
Rumus menikah itu bukan 1+1=2, tapi (1-½)+(1-½)=1.
Kok bisa? Iya, bisa. Karena menikah bukan tentang 2 orang yang berbeda disatukan lalu kemudian saling melengkapi. Tapi lebih tentang 2 orang yang mau melakukan perubahan (entah menghilangkan atau menambah suatu sikap pada diri) untuk menjadi satu kesatuan, agar satu sama lain bisa benar-benar menerima bukan memaklumi. (via ayisafarillah)
CIYE YANG MAU NIKAH!..
(via linthang)
Jika membersamaimu hingga akhir, bagiku bukan sebuah takdir. Semoga Tuhan membantu kita untuk saling menyingkir dan tersingkir.
Levoy
Titip Rindu Untuk Bapak dan Ibu
Sebut saja anak durhaka, ditimang-timang, diupayakan kebahagiaan yang bergelimang, diperaskan keringat dari petang hingga petang, tapi perangainya jalang tak membuat hati orangtua senang, kadang-kadang bikin air mata berlinang dan pikiran mamang.
Apa masih pantas diri yang terlalu untuk merindu pada bincang bijak bapak dan merdu suara Ibu. Andai bisa kuhalangi waktu, agar tak secepat kilat berlalu, ingin dikembalikan lagi aku pada masa-masa itu: saat bus bagong dan harapan jaya yang berlalang-lalu adalah mesin pencetak tawaku, saat boneka gundul yang kunamai Nekki bekas mainan kakak sepupu adalah teman tidurku, dan dancow adalah penyambung air susu ibu yang mengenyangkan perutku.
Bapak dan Ibu, malam ini ada tangis terisak tersedu diantara sendu-sendu rindu. Telah terpanjatkan pada Tuhan untuk keselamatan dan kesehatan pada tengadah diatas selembar sajadah atas namamu. Semoga Tuhan mendengarkan dan memberi pengabulan atas doa-doaku, karena aku percaya bahwa Tuhan tidak tuli dan bisu, apalagi pemberi harapan palsu.