Aku sempat mengira, bahwa kita adalah dua hal yang saling menemukan Nyatanya tidak demikian, kita hanya berupa beberapa kata yang tidak sempat terangkai menjadi kalimat bahkan prosa
taylor price
Not today Justin
will byers stan first human second
tumblr dot com
One Nice Bug Per Day

pixel skylines

bliss lane
wallacepolsom
Keni
Misplaced Lens Cap
cherry valley forever
The Bowery Presents
$LAYYYTER

JVL
Jules of Nature
noise dept.
KIROKAZE
occasionally subtle
Cosimo Galluzzi

Origami Around
seen from Türkiye

seen from Indonesia
seen from Norway

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Egypt

seen from Chile
seen from United States
seen from Colombia

seen from Germany
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from Ecuador
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@afiframdana
Aku sempat mengira, bahwa kita adalah dua hal yang saling menemukan Nyatanya tidak demikian, kita hanya berupa beberapa kata yang tidak sempat terangkai menjadi kalimat bahkan prosa
Tidak mudah menemukanmu
Tidak mudah menemukanmu,
Karena aku tidak bisa menemukanmu di lini masa. Ketika yang lain sibuk dengan foto-foto dan kata-kata di lini masa mereka. Kamu justru sibuk berjuang dengan keadaan yang kamu hadapi, dengan beratnya kehidupan yang tengah Tuhan ujikan kepadamu, dan semua itu bisa kamu lalui dengan kesabaran yang luar biasa.
Tidak mudah menemukanmu,
Karena ketika yang lain sibuk memoles diri sebagai pengisi feed di media sosial. Kamu justru sibuk memilah lembar demi lembar buku kuliah yang begitu tebal. Tidak pernah sedikitpun kamu mengeluh tentang beratnya menjalani kuliah dalam keadaan yang serba tidak mengenakkan. Tidak seperti kebanyakan teman-temanku di sini, kisi-kisi tidak keluar, kami mengeluh habis-habisan. Lebih lebih dengan keterbatasan yang kamu miliki, kamu masih mau berbagi ilmu yang kau dapatkan kepada orang-orang sekitarmu.
Tidak mudah menemukanmu,
Karena kamu jarang sekali menulis tentang dirimu, tentang keadaanmu, tentang keresahan yang kamu rasakan. Kamu selalu melewati hari-hari dengan tangis yang tertahan karena kesabaran yang kamu miliki. Kamu selalu memiliki cara untuk menyembunyikan permasalahan dan kesedihanmu. Padahal ketika kamu menulis, aku yakin seyakin-yakinnya, semua orang akan berdecak kagum dengan tulisanmu.
Semoga kita bertemu, lagi...
Perjalanan selalu mengajarkan kita banyak hal. Satu di antaranya yakni pertemuan dan perpisahan. Ada saat di mana kita bertemu seseorang, menemani kita beberapa saat, sembari bercerita tentang beberapa hal dan saling melempar senyum bahagia. Lalu ada saat di mana kita harus berpisah, karena tujuan yang berbeda, saling berlepas pandang, lalu pergi meninggalkan. Setidaknya, dari sekian banyak pertemuan dan perpisahan itu akan selalu ada makna yang hendaknya kita pahami. Makna yang bisa menjadikan kita menjadi lebih bijaksana menuju apa yang sejatinya menjadi tujuan kita. Semoga kita sampai dengan apa dan siapa yang telah ditentukan menjadi kebaikan untuk kita. Mari kita ucapkan terima kasih dan ruang yang luas berupa maaf atas kesalahan mereka yang sudah sudi berbagi waktu dalam perjalanan kita seraya mendoakan kebaikan untuk mereka yang meninggalkan karena tujuan yang tidak sama lagi. Dan mari kita genggam erat mereka-mereka yang masih setia menemani kita dalam perjalanan ini. (at 白川郷(Shirakawa-go)) https://www.instagram.com/p/BtHk6rehcnb6rNmMPoTmCOeI1oIgdl1T7W2XQM0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=navtrv4bnrer
Hello, Tumblr
Asing
Aku hanya seorang yang asing, mengucapkan salam dan berkata beberapa patah kata. Lalu kamu membalasnya dengan bercerita banyak hal tentang keresahan yang kamu rasakan. Keresahan-keresahan tentang pekerjaan yang kamu jalani saat ini, tentang seseorang yang membersamaimu di masa lalu, tentang keluarga yang tidak pernah memberikan kenyamanan dan tentang masa depan yang masih kamu takutkan keadaannya.
Aku dengan penuh kesabaran mendengarkan, kemudian aku berusaha untuk membantu sekuat tenaga yang aku bisa. Karena menceritakan semua itu kepadaku bukankah secara tidak langsung kamu memberikan kepercayaan, bukan hanya untuk menjaga cerita-cerita itu, akan tetapi lebih dari itu, kamu sedang membutuhkan pertolongan.
Lalu ketika aku hadir dengan memberikan pertolongan, kamu meragukan pertolongan yang aku berikan. Kendati aku tidak mengharapkan apa-apa darimu, tidak satupun hal yang ku harapkan darimu. Kemudian kamu beralasan bahwa kebaikan dan pertolongan yang aku berikan akan membuat mu memiliki perasaan yang tidak seharusnya kepadaku. Kalau itu yang kamu takutkan, akupun juga sama. Lalu kenapa kamu tetap memilih untuk enggan menerima dan justru meminta ku untuk tidak lagi memberikan pertolongan itu.
Aku hanya seorang yang asing, yang dengan lancang mengucapkan salam dalam kehidupan mu, untuk kemudian mungkin bisa saja kamu membalasnya setiap harinya atau kita akan saling pergi meninggalkan. Karena aku hanya seorang yang asing, dan aku sadar akan itu.
Tentang Jogja
Kala itu aku baru saja turun dari kereta, perjalanan sejauh kurang lebih 8 jam aku tempuh dari Ibukota. Sore itu, aku tiba di Jogjakarta. Kakiku segera melangkah mencoba berlari di antara riuhnya manusia di Stasiun Lempuyangan. Aku tidak mau membuat mu menunggu lebih lama di luar sana.
Tidak ada perkataan yang terlempar ketika aku menemui mu. Lalu seperti biasa, dengan menggunakan sebuah sepeda motor aku mengajakmu berkeliling melewati ruas ruas jalan di Jogja. Sembari menaiki sepeda motor, aku berceloteh banyak tentang kerinduan ku pada kota ini. Tentang jalanan, tentang orang-orang , tentang udaranya, dan tentang makanannya. Kamu tetap saja diam.
Lalu kita berhenti pada sebuah warung. Lalu kamu mulai bercerita tentang kuliah yang kamu lalui hari ini. Bercerita tentang keresahan-keresahanmu akan tugas kuliah yang menumpuk, tentang keinginan membeli sesuatu tapi tak ada uang untuk menebusnya, dan tentang sahabat-sahabatmu yang bahkan aku tak pernah menemuinya. Aku mendengarkan dengan seksama.
Kemudian aku bercerita tentang keresahanku mengambil keputusan untuk menuntut ilmu di Ibukota, tentang amanah yang sedang ku emban, dan tentang lelah ku bersabar menghadapi keadaan di sana. Kamu mendengarkan, mungkin seraya mendoakan.
Lalu kita kembali menaiki sepeda motor dan mengelilingi ruas ruas jalanan di Jogja hingga larut malam. Bagiku berbagi cerita denganmu dan dengan kota ini adalah penguat kesabaran dalam menjalani banyaknya kenyataan yang seringkali bertentangan dengan doa-doa ku.
Ada satu cerita yang masih belum mampu aku mengutarakannya, yakni kisah kisah tentang masa depan.
Kalau dengan dia saja kamu berjuang sedemikian, berjuang lah untukku juga
Katamu,
Dan aku termenung, apakah selama ini isyarat ku tidak pernah sampai,
Sebenarnya aku ingin membantumu berjuang bersama seraya menuntaskan keresahanmu atas seseorang
Namun, ada banyak keadaan yang belum bisa diselesaikan dengan bijak, dan aku tidak ingin membuatmu menunggu, karena itu aku memilih diam dan meninggalkan
Keinginan Kecil
Saya punya sebuah keinginan kecil, sederhana saja, namun sepertinya perlu banyak petunjuk.
Jika Allah mengizinkan, saya ingin sekali pergi ke luar negeri. Ke negara di mana muslim adalah minoritas. Saya ingin shalat di masjid mereka, bercakap-cakap dengan mereka. Saya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang muslim minoritas, bagaimana mempertahankan iman dan islam yang tentu bukan barang mudah di sana.
Saya ingin menyalami tangan mereka erat-erat sembari menebar senyuman. Sebuah salam dan senyum pertanda perbedaan suku , warna kulit dan budaya bukanlah penghalang terikatnya hati kami sebagai seorang muslim.
Saya ingin seharian bersama di rumah mereka, sebuah keberuntungan jika saya bisa melakukan puasa sunnah di sana, menikmati santap sahur bersama, lalu berbuka dengan mereka.
Saya ingin berpergian ke luar negeri, tetapi bukan ke objek-objek wisata nya yang paling utama. Tetapi ke masjid masjid yang bertahan di tengah mayoritas non muslim. Merasakan bagaimana jamaahnya, merasakan bagaimana mereka menjaga shalat lima waktunya di sana.
Bukankah itu akan menjadi sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan. Duh, kiranya Allah wujudkan suatu saat kelak.
Ada yang berminat untuk melakukan perjalanan semacam ini?
The Sound
Seminggu yang lalu, saya menghadiri kajian Ustadz Hanan Attaki di Masjid Sunda Kelapa yang terletak di daerah Menteng. Niat hati ingin berangkat pukul 09.00 pagi dari Bintaro, tapi karena masih banyak keraguan dalam hati, akhirnya saya baru berangkat ke Menteng jam 11 siang. Itupun berangkat dengan dua niat, menuntut ilmu sama mau silaturahmi dengan temen yang lagi pesiar dari kegiatan Prajabatan. Alhasil saya melaju kencang dengan sepeda motor dari Bintaro, dan benar saja, hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit saya sampai di Menteng.
Nah, kan apa yang menjadi firasat saya terjadi, jamaah membludak kemana-mana. Karena, beberapa hari sebelum Ustadz Hanan dateng ke Menteng, beliau sempat ngisi di Tangerang, dan jamaahnya tumpah ruah sampai ke halaman masjid. Akhirnya saya segera mencari parkiran, dan memarkirkan motor di atas trotoar, hehe, jangan ditiru yak. Kemudian saya masuk ke dalam masjid, dan hanya kebagian di bawah, itupun di teras masjid.
Selesai shalat dzuhur, saya beranjak ke atas bersama dengan jamaah lain, duduk berdesakan sambil menatap layar. Akhirnya setelah berjibaku dengan keterbatasan ruang dan si Arif (temen saya) ngajak makan, membuat saya pun beranjak meninggalkan kajian Ustadz Hanan dan bersama Arif menuju salah satu kedai makanan di daerah Menteng. hehe, ini juga jangan di contoh
Selepas makan siang dengan bermenukan smoothies bowl, saya beranjak bersama teman saya yang menyusul selekas kajian Ustadz Hanan untuk menghilangkan rasa lapar, akhirnya karena teman saya yang menyusul ini maunya makan nasi, kami bergegas ke Masjid Cut Meutia, sementara Arif memutuskan untuk kembali ke asrama di daerah Jaksel untuk melanjutkan kegiatan Prajabatan.
Selekas menemani teman saya menyantap nasi bebek di bawah lorong rel kereta api di dekat Stasiun Gondangdia, yang tak jauh dari masjid. Adzan Ashar pun terdengar memecah pembicaraan kami, pertanda kami harus segera menuju ke masjid untuk melaksanakan ibadah shalat ashar.
Saya segera bergegas mengambil air wudhu di bagian belakang masjid, kemudian berjalan memasuki masjid dari pintu depan. Nampak seorang pria bule sedang kebingungan. Ketika saya mengarahkan pandangan kepadanya dia nampak mempraktikan gerakan takbiratul ihram. Saya pun tidak menghiraukan dan langsung masuk ke dalam masjid. Pria tersebut kemudian diapakaikan sarung oleh beberapa bapak bapak karena memakai celana pendek ketika mau masuk masjid. Tak lama berselang ia ikut masuk ke dalam masjid dan memojok ke bagian shaf belakang, iqamat dikumandangkan, para jamaah langsung menyusun rapi barisan shafnya. Pria tersebut nampak kebingungan dan ia menjawab banyaknya pandangan mata kepadanya dengan melakukan gerakan takbiratul ihram, hingga akhirnya dia ikut berbaris masuk ke dalam shaf dan mengikuti gerakan shalat kami.
Percayalah, mencintai seseorang tersebab agama yang ia miliki dengan mengesampingkan ketiga lainnya membutuhkan keimanan yang juga tidak sembarangan
Ketika sedang asyik berjalan kaki menuju stasiun untuk kembali ke Ibukota bersama @obitriyana, kami bertemu dengan anak-anak yang berbahagia bermain bola sepak di jalanan. Mungkin ini adalah perlombaan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan negeri ini.
Saya tetiba meminta @obitriyana untuk menghentikan langkah. Saya larut dalam kebahagian mereka. Anak-anak yang bermain bola dengan semangat meski hanya dengan lapangan bearalaskan aspal. Para orangtua yang berteriak histeris menyemangati anak-anak mereka yang bertanding dan berbagai keriuhan lain yang ada pada sore itu.
Sore ini mengingatkan kepada kenangan saya pada masa lalu, ketika sering melawan bapak ibuk untuk bermain bola sepak di sebuah lapangan bola voli di dusun sebelah atau di halaman depan rumah mbah. Meskipun harus nyeker, saya dan kawan-kawan begitu bahagia. Terkadang meski hujan pun, tidak mampu membuat kami urung bermain bola.
Bahkan sore ini mengantarkan saya kepada memori belasan tahun silam, ketika sempat merengek kepada Bapak untuk dibelikan sepatu bola. Namun, sampai sekarang keinginan itu tidak pernah terwujudkan. Setidaknya kita pernah berbahagia dengan hal-hal sederhana dalam hidup kita. Lalu, kenapa kita masih saja sibuk mencari makna kebahagian itu sendiri?
note: saya pensiun dari dunia persebakbolaan sejak cantengan menyerang jempol kaki saya di waktu SMA. hehe
Mas, Anak MBM ya?
“Mas, anak MBM ya ?”
Entah, sudah berapa kali kalimat pertanyaan itu meluncur kepada diri ini. Dan, entah diri ini sudah hampir kehabisan jawaban untuk menjawab pertanyaan satu ini. Sebelum melangkah lebih jauh kiranya saya harus menjelaskan, bahwa MBM adalah singkatan dari Masjid Baitul Maal, nama Lembaga Dakwah Kampus Agama Islam yang ada di kampus saya dulu, STAN.
Sebenarnya saya cukup risih dengan pertanyaan tersebut, karena saya pernah ditolak menjadi bagian dari LDK ini empat tahun silam. Masih teringat dengan jelas kala itu hujan sangat deras, dan saya membuka payung selekas Ashar dan memantapkan kaki melangkah ke Masjid kampus untuk mengikuti wawancara sebagai salah satu prasyarat untuk bisa menjadi bagian dari pergerakan dakwah mereka. Namun, apa hendak dikata, saya tertolak dan tidak bisa menjadi bagian dari MBM. Padahal saya sangat yakin, dengan kapabilitas dan kemampuan yang saya miliki, saya bisa menjadi bagian dari organisasi tersebut, maklum ini adalah amanah dari Murobbi’ saya semasa SMA, sehingga saya patut kiranya memperjuangkannya meski tak sampai.
Akhirnya semenjak saat itu, saya memutuskan untuk tidak akan menjadi bagian dari MBM dalam hal organisasional. Saya hanya mengikuti liqo pekanan yang difasilitasi oleh MBM. Liqo pekanan pun bukan berarti bukan tanpa masalah, saya harus dihadapkan pada ketidakjelasan murobbi, gonta-ganti kelompok, hingga akhirnya sempat absen lama karena ketidakjelasan yang saya juga tidak mengerti karena apa. Sebenarnya ngerti sih, tapi kurang sopan jika saya katakan di sini.
Berbicara “anak MBM” maka kiranya ada dua sebab, karena dia sering terlihat di MBM dan mungkin karena akhlak serta semangat dakwah nya hampir menyamai mereka yang “anak MBM”. Dan saya sadar, akhlak dan semangat dakwah serta keilmuan saya jauh dari mereka “anak MBM” dan saya mungkin menjadi bagian dari yang sering shalat di MBM atau mungkin karena berteman banyak dengan anak MBM. hehe
Semenjak saya tidak tergabung dalam LDK, pemahaman akan dakwah saya menjadi kian luas. Ketika melakukan liqo reuni dengan sahabat semasa SMA, murobbi waktu SMA pun mengaminkan sekali jika banyak dari kami yang akan mengalami kesulitan untuk menjadi bagian dakwah di kampus, dan sangat teringat jelas dalam ingatan saya perkataan beliau.
“memang bangunan dakwah itu terlihat indah pada awalnya, namun ketika kita memasuki ruang tamunya, dan masuk ke dalam lagi ke dapurnya. Maka kita akan melihat betapa masih banyak permasalahan di dalamnya. Maka tugas kita bukan lari dan menjauh. Cukuplah kiranya kita duduk duduk di teras nya, ketika kita tidak menjadi bagian di dalamnya.”
Pada akhirnya berdakwah tidak harus dengan menjadi bagian dari LDK, dan itu sudah menjadi keputusan saya. Meskipun saya merasa dikesampingkan karena sesuatu yang tidak jelas itu tadi, saya berusaha untuk bisa tetap melakukan kerja-kerja dakwah dengan cara yang seminimal mungkin yang saya bisa.
Saya juga tidak membatasi pergaulan saya dengan banyak kelompok di kehidupan masyarakat, saya tetap takdzim kepada mereka yang mungkin tidak sefikroh dengan saya. Saya masih bisa ngopi bareng mereka sembari makan gorengan dan membahas kondisi umat saat ini. Karena dakwah tidak melulu dengan pengajian, dari secangkir kopi hangat dan gorengan bisa jadi sarana yang luar biasa dalam penyampaian kebaikan. hehe
Kalau Uzumaki Naruto bilang “Ini adalah jalan ninjaku”, maka izinkan saya dengan sedikit berimijinasi mengatakan “Ini adalah jalan dakwahku”
Maka, apakah saya anak MBM ?
Dari banyak kehilangan yang telah ku alami, ternyata kehilangan diri sendiri hal yang paling menguras perasaan dan pikiran
Jadi, sekarang aku di mana ?
"perjalanan kali ini tidak mudah, mungkin ke depan akan banyak kesabaran yang perlu kita lalui" , kataku. . . "tidak apa - apa, bukankah dibalik kesabaran, Allah akan menjanjikan sesuatu yang indah", katamu meyakinkan. . . "perjalanan kali ini mungkin tak ku ketahui kapan berakhirnya, karena perkiraan-perkiraanku bisa saja tidak sesuai", kataku. . . "tidak apa - apa, karena dibalik ketidaktahuan itu, Allah menjadikan kita berdoa lebih kuat, dan berharap yang terbaik" , katamu meyakinkan. . . "perjalanan kali ini mungkin saja tidak akan membawa kita ke tujuan yang semestinya selama ini kita rencanakan, bagaimana, apakah kamu masih bersedia berjalan bersama", kataku. . . "tidak apa-apa, selama tujuan kita adalah kebaikan, setidaknya kita sudah memperjuangkannya, yang tidak boleh berubah adalah keyakinan dan tawakal kita kepada Allah, sehingga apapun nanti akhirnya, kita bisa menerimanya dengan lapang", katamu kembali meyakinkan. . . "baiklah, kita akan memulainya, semoga tidak ada yang sia-sia dari perjalanan ini" kataku sembari mengajakmu melangkah perlahan.
aku tau, kau tinggi seperti langit tapi selalu merendah serendah bumi.
kau tau apa yang membuatku jatuh cinta?
sifatmu yang mengagumkan. begitu ramah, tak tampak kesombongan terpancar dari dirimu. padahal kutau, kau miliki segala hal mengagumkan dalam dirimu.
sikapmu yang bijaksana. begitu mengayomi, tanpa bermaksud menggurui. begitu gemar berbagi tanpa sekalipun meminta kembali.
dirimu yang menyenangkan. selalu tertawa, dan selalu punya telinga untuk mendengarkan. ditambah, kedua tangan yang senang hati memeluk.
(via sepertikertas)
‘sederhana’…
(via catatan-sederhana)