just share my character sheet,

seen from Switzerland

seen from United States

seen from Ireland
seen from China

seen from Malaysia
seen from Bulgaria

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States
seen from Russia
seen from Switzerland
seen from United States
seen from Netherlands
just share my character sheet,
The Sound
Seminggu yang lalu, saya menghadiri kajian Ustadz Hanan Attaki di Masjid Sunda Kelapa yang terletak di daerah Menteng. Niat hati ingin berangkat pukul 09.00 pagi dari Bintaro, tapi karena masih banyak keraguan dalam hati, akhirnya saya baru berangkat ke Menteng jam 11 siang. Itupun berangkat dengan dua niat, menuntut ilmu sama mau silaturahmi dengan temen yang lagi pesiar dari kegiatan Prajabatan. Alhasil saya melaju kencang dengan sepeda motor dari Bintaro, dan benar saja, hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit saya sampai di Menteng.
Nah, kan apa yang menjadi firasat saya terjadi, jamaah membludak kemana-mana. Karena, beberapa hari sebelum Ustadz Hanan dateng ke Menteng, beliau sempat ngisi di Tangerang, dan jamaahnya tumpah ruah sampai ke halaman masjid. Akhirnya saya segera mencari parkiran, dan memarkirkan motor di atas trotoar, hehe, jangan ditiru yak. Kemudian saya masuk ke dalam masjid, dan hanya kebagian di bawah, itupun di teras masjid.
Selesai shalat dzuhur, saya beranjak ke atas bersama dengan jamaah lain, duduk berdesakan sambil menatap layar. Akhirnya setelah berjibaku dengan keterbatasan ruang dan si Arif (temen saya) ngajak makan, membuat saya pun beranjak meninggalkan kajian Ustadz Hanan dan bersama Arif menuju salah satu kedai makanan di daerah Menteng. hehe, ini juga jangan di contoh
Selepas makan siang dengan bermenukan smoothies bowl, saya beranjak bersama teman saya yang menyusul selekas kajian Ustadz Hanan untuk menghilangkan rasa lapar, akhirnya karena teman saya yang menyusul ini maunya makan nasi, kami bergegas ke Masjid Cut Meutia, sementara Arif memutuskan untuk kembali ke asrama di daerah Jaksel untuk melanjutkan kegiatan Prajabatan.
Selekas menemani teman saya menyantap nasi bebek di bawah lorong rel kereta api di dekat Stasiun Gondangdia, yang tak jauh dari masjid. Adzan Ashar pun terdengar memecah pembicaraan kami, pertanda kami harus segera menuju ke masjid untuk melaksanakan ibadah shalat ashar.
Saya segera bergegas mengambil air wudhu di bagian belakang masjid, kemudian berjalan memasuki masjid dari pintu depan. Nampak seorang pria bule sedang kebingungan. Ketika saya mengarahkan pandangan kepadanya dia nampak mempraktikan gerakan takbiratul ihram. Saya pun tidak menghiraukan dan langsung masuk ke dalam masjid. Pria tersebut kemudian diapakaikan sarung oleh beberapa bapak bapak karena memakai celana pendek ketika mau masuk masjid. Tak lama berselang ia ikut masuk ke dalam masjid dan memojok ke bagian shaf belakang, iqamat dikumandangkan, para jamaah langsung menyusun rapi barisan shafnya. Pria tersebut nampak kebingungan dan ia menjawab banyaknya pandangan mata kepadanya dengan melakukan gerakan takbiratul ihram, hingga akhirnya dia ikut berbaris masuk ke dalam shaf dan mengikuti gerakan shalat kami.
RANDOM #3
.................. Sontak terkejut karena ternyata telah sampai di toko buku yang dituju, ternyata tenggelam dalam lamunan membuat perjalanan menjadi tak terasa padahal toko buku itu cukup jauh. Senja semakin memerah padahal aku baru saja tiba. Ketika sampai di tempat pengambilan tiket parkir, aku sempat berpikir apakah ini parkir motor atau mobil ataukah keduanya digabung menjadi satu? Ternyata, di toko buku tersebut menerapkan pengambilan tiket karcis motor dan mobil ditempat yang sama, walau ternyata pada akhirnya tempat yang dituju berbeda, motor dengan motor dan mobil dengan mobil, hingga akhirnya pintu keluarnya sama juga. Lagi, aku tenggelam dalam lamunan, bagaimana jika diibaratkan pengambilan tiket karcis itu sebagai umat islam pada masa kejayaan dahulu, persatuan dan kesatuan umat islam yang mampu menaklukan konstatinopel, dan tempat parkir dapat diibaratkan dengan kondisi islam pada masa sekarang, dimana mereka memilih jalan dakwahnya masing-masing, sesuai dengan apa yang diyakininya. Berkelana mencari sesuatu hingga akhirnya menemukan pedoman hingga sampai pada pintu keluar itu diibaratkan dengan kejayaan atau kemenangan islam yang akan datang seperti yang sudah dijanjikan oleh Allah, dan umat islam akan bersatu menuju rumahnya kembali yaitu Syurga insya Allah.
Lagi, aku tersadar dari angan, sempat tak sadar dengan apa yang terbesit dalam pikiran, bisa-bisanya berpikir seperti itu, dan bisa-bisanya bukan lagi menjadi si sulung yang pelupa. Ah, indahnya akhirnya mendapatkan inspirasi dari sebuah perjalanan menuju toko buku. Indahnya islam yang damai ini. Senja sudah semakin memerah dan terus menuju pelabuhan malam, yang berarti malam akan segera menahkodai semesta untuk menuju fajar, dan kita sebagai anak buah kapalnya perlu mempersiapkan diri apa yang ingin dilakukan ketika dalam perjalanan menuju fajar.
Tangerang, 23 Januari 2107, 10.00 WIB
RANDOM #2
......................... Selama perjalanan, banyak orang yang berlalu lalang, layaknya kata-kata yang berseliweran di dalam pikiranku yang sedang dicoba untuk dirangkai agar menjadi puzzle yang utuh. Orang-orang yang akhirnya seenaknya menerobos jalan yang tak seharusnya dilewati, melawan arah, menyebrang sembarangan, lampu sen ke kiri belok ke kanan. Sempat kepayahan untuk akhirnya menyesuaikan orang-orang seperti itu, tak jarang juga menge-rem mendadak dan membuat ibuku kaget. Tak ada pilihan lain, daripada menabrak orang, pikirku.
Sempat tenggelam dalam lamunan, mengingat materi yang pernah dibawakan oleh seorang kakak, tentang masa depan suatu Negara yang ada di tangan islam, bukan meramal atau menentukan takdir, tapi memang begitu adanya. Allah yang menjanjikan bahwa islam akan menang, kelak. Dan umat islam harus memiliki optimisme yang kuat dalam hal ini karena islam dijadikan oleh Allah sebagai agama yang menjadi pedoman hidup, Allah langsung yang mengatur islam, Allah yang memiliki hukum dalam islam, Allah pula yang menjaga islam, seperti yang dijelaskan dalam Q.S. Ali-Imran ayat 19: “Sesungguhnya agama (yang diredhai) disisi Allah hanyalah islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah di beri Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” Allah yang menjanjikan bahwa islam adalah agama yang diridhai oleh Allah, namun dapat kita temui saat ini, islam sudah sedemikian difitnah hingga umat islampun malu untuk mengakui bahwa agamanya adalah islam baik tersirat maupun tersirat, tak ingin mengikuti syari’atnya karena malu dan takut di cap buruk dimata manusia, padahal apalah arti penilaian manusia dibanding dengan penilaian Allah. Selain itu, islam juga merupakan agama yang fitrah, agama yang sangat menghargai manusia, agama yang menegakkan keseimbangan dan islam adalah sebuah kabar gembira.
Jika pada akhirnya tidak ada islam mungkin bisa jadi kita menjadi orang-orang yang akhirnya melakukan pelanggaran di jalan tadi, yang seenaknya berbelok karena tak memiliki atau mengikut pedoman dengan benar, yang seenaknya melawan arah dan tak sesuai dengan apa yang seharusnya atau sama saja melanggar fitrahnya, lalu menyebrang sembarangan dan bisa saja terjatuh ditengah jalan karena berlalu dan kehilangan keseimbangan. Tetapi dengan islam kita akan merasa selalu damai, memiliki pedoman hidup, saling menghargai, seimbang dalam berbagai hal, menyampaikan kabar gembira kepada seluruh alam dan memiliki optimisme yang tinggi............
RANDOM #1
Siang tadi, matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya, membuat mata menjadi tak kuat melihatnya, berjalan sembari menunduk, entah menunduk malu ataukah ragu. Disisi lain ada yang sedang dirundung pilu karena rindu, entah rindu dengan siapa tapi yang dia tahu rindu itu sedang menggebu. Mungkin rindu dengan semangat berdakwahnya yang dulu, mungkin. Rindu semakin sesak ditengah kamar sepetak yang sempit. Mengingat kejadian demi kejadian yang telah dilewati. Pelajaran demi pelajaran. Kisah demi kisah. Makna demi makna. Ingin menulis namun ternyata tak ada kata yang terurai, semua masih berseliweran dalam sela-sela pikiran.
Jika begini terus bagaimana dapat memunculkan inspirasi? Akhirnya diputuskan untuk menuju sebuah toko buku demi mendapat inspirasi, entah di jalan, di parkiran, atau di dalam toko bukunya. Dalam perjalanan, sepertinya senja dan matahari telah berkoalisi untuk akhirnya tidak memancarkan sinar yang sangat menyengat, sehingga membuat suasana hanya hangat dan tidak penat.
Belum lama keluar dari gang, aku melihat sesosok yang berdiri sangat tegap dipinggir jalan. Sosok yang berhasil membuat jantungku seperti ada seorang drummer grup band metal yang memiliki semangat untuk menabuh drum dengan sekuat tenaga, yang akhirnya berhasil membuat degup jantungku lebih cepat berkali-kali lipat. Dia adalah seorang polisi yang berdiri dipinggir jalan. (Fyi: aku sangat trauma dengan polisi sejak peristiwa penilangan dulu. Aku sempat ditilang dan hal itu masih membekas hingga saat ini) Hft, dan saat ini aku bertemu lagi dengan melakukan kesalahan yang sama, yaitu aku tidak mengenakan helm berdua dengan perempuan yang selalu setia mengantarku kapanpun, ibu. Akhirnya aku memutuskan untuk memutar jalan, dan lagi ternyata jalan pintas yang lain sedang ditutup. Namun, dengan berpegang teguh bahwa jika Allah sudah berkehendak maka tak ada yang tak mungkin, masalah urusan jalan adalah masalah sepele dibandingkan dengan ketetapan-ketetapan Allah yang lain. Hingga akhirnya jalan yang ditutup itu ternyata dapat dilalui oleh sepeda motor, dan akhirnya aku dapat melewatinya.
Hi Jarak
Apakah ini awal perjumpaan kita? Perjumpaan yang akhirnya membuatku sadar bajwa tak ada yang jauh, hanya saja terkadang kaki yang malas melangkah.
Apakah ini awal perjumpaan kita? Perjumpaan yang akhirnya membuatku sadar bahwa bukan jarak yang memisahkan tapi keinginan yang belum juga dibarengi dengan ikhtiar.
Apakah ini awal perjumpaan kita? Perjumpaan yang akhirnya membuatku sadar bahwa senja dan fajar tidak jauh, hanya saja kita yang mesti menjemputnya lewat teriknya mentari dan dinginnya malam.
Apakah ini awal perjumpaan kita? Perjumpaan yang akhirnya membuatku sadar bahwa jika tidak dilakukan sekarang, lantas kapan? Kapan akhirnya aku bisa membalas makna-makna yang telah ku baca dengan makna-makna lain yang keluar dari tuts keyboard ini?
Tidak, bukan jarak yang salah, apalagi senja dan fajar. Tapi aku yang tak ingin memulai. Padahal sedari dulu alam seolah menuntunku menuju hal itu, terus menerus, sadar tidak sadar.
Bogor, 7 Januari 2017
Koalisi Alam
Mengapa siang selalu menjadi nahkoda yang menuju ke lautan rindu? Yang membuat anak buah kapal layaknya pasien asma. Sesak sekali. Mengingat kejadian demi kejadian yang dulu di lewatinya. Bukan hanya asma, tetapi migrain pun menjadi teman saat tenggelam dalam lautan rindu. Memikirkan betapa dulu ada begitu banyak cerita yang harus diingat. Baik buruk, senang sedih, bahagia kecewa, ikhlas kesal, sabar cemas. Sungguh banyak. Mengapa rindu itu menyiksa? Entahlah.
Mengapa senja begitu tega berlayar untuk melepas siang menuju malam? Yang sesaknya hampir sama? Yang rindunya seperti hanya ditambah sama dengan.
Lalu malam, mengapa ia selalu menjadi nahkoda yang menuju lautan kenangan? Yang membuat anak buah kapal seperti kutu buku yang terdampar dilautan lepas dengan buku-bukunya. Sibuk sekali membuka halaman demi halaman. Membaca lembar demi lembar. Hanya untuk tertawa bahkan menangis ketika berhasil mengingat kejadiannya.
Mengapa fajar juga seceria itu saat diminta untuk pergi ke pelabuhan lalu menaiki kapal yang bernahkodakan siang? Yang sama sesaknya dengan malam?
Mengapa alam seperti berkoalisi untuk akhirnya tenggelam dalam rindu yang menggebu, rasa yang menyiksa?
Tapi tidak, alampun bekerja sesuai dengan kehendak Illah-Nya. Mereka hanya patuh pada Illah-Nya. Saat diminta berlayar, mereka berlayar. Saat diminta menjadi nahkoda, dia menjadi nahkoda. Meski banyak rasa yang mengganggu. Tapi dibalik layar itu bukankah ada hikmah yang dipetik? Ada makna yang di dapat? Ada buah yang siap dilahap?
Seperti mereka, sudah sepatutnya manusia juga patuh pada aturan-aturan Illah-Nya. Seperti mereka, sudah sepatutnya manusia juga hidup secara teratur. Seperti mereka, sudah sepatutnya manusia juga jadi makhluk yang tidak mudah mengeluh. Seperti mereka, sudah sepatutnya manusia juga tak perlu khawatir tentang masa depan. Seperti mereka, sudah sepatutnya manusia juga meyakini kehendak-Nya, apa yang sudah dikehendaki oleh-Nya, biarlah hanya Dia yg tahu, tugas kita hanyalah mengikuti jalan-Nya lalu ikhtiar.
Biarlah alam berkoalisi utk memberi makna kpd para anak buah kapal. Hingga tiba saatnya, anak buah kapal sampai pd pelabuhan dan siap menahkodai kapal lain.
Tangerang, 8 Januari 2017
Untuk: Gadis November Dari: Gadis November lain di Cermin
Awal pergantian tahun selalu berhasil menyeretku pada kenangan tiga tahun yang lalu. Sama tepatnya pada awal tahun. Kau, yang sepertinya senang disebut sebagai gadis november. Kau yang kala itu cukup nekat untuk berikrar kepada Allah-mu.Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Kau telah melalui proses panjang dalam berhijrah. Kulihat kau gadis november yang tak jarang tertatih dalam menyusuri jalan itu, jalan yang telah kau pilih. Tak jarang pula kaupun terjatuh dan hampir saja mengeluarkan kalimat yang seharusnya tak keluar dari mulutmu yang dulu telah berikrar pada-Nya. Tapi tiga tahun juga akan menjadi waktu yang singkat ketika kau hanya melewatinya begitu saja tanpa progress yang jelas. Aku tahu ini tak mudah, tapi kau harus yakin ada Dia yang menemanimu.
Anyway, gadis november. Kulihat selama tiga tahun ini kau memiliki azzam yang cukup tinggi. Keinginanmu untuk berubah terus meningkat setiap waktunya. Walaupun tak bisa dipungkiri terkadang kau juga lemah dan semangatmu menurun. Tak apa, lelah itu wajar tapi seharusnya kau tidak lelah jika kau mengerjakannya dengan lillah, pasti ada saja yang membuatmu kuat bukan?Anyway gadis november. Kulihat progressmu setiap waktunya. Pribadi yang terus sabar dan diiringi dengan tangisan ketidaksabaran. Tak apa sabar itu memang selalu sakit. Tapi kau sudah mencobanya bukan?
Anyway gadis november. Tiga tahun lalu Dia takdirkan kau berjanji pada-Nya untuk taat dan mendekat. Bersyukurlah karena itu adalah awal yang manis. Awal yang membuatmu seperti sekarang. Nekat sekali saat itu, berbekal hasil tafakur diri yang nyatanya masih sangat jauh dari taat, kau bertahan hingga sekarang. Bersyukurlah tak jarang orang yang sudah berikrar taat namun dalam perjalanannya Allah balik lagi hatinya.
Anyway gadis november. Ku mohon menangislah karena dalam kurun waktu yang lumayan panjang itu kau belum mampu menguasai banyak ilmu, hafalanmu? Menangislah untuk ini.
Anyway gadis november. Walaupun masih sedikit, jangan lupa untuk berbagi ilmu kepada orang lain dan bermanfaat untuk orang lain. Belajarlah untuk berbagi walau kau belum punya banyak. Setidaknya dari yang sedikit ada pahala yang mengalir untukmu, dan kelak orang tersebut akan mencarimu di syurga jika ia tak melihatmu ada disana.
Anyway gadis november. Ku dengar kau suka menulis, tapi akhir-akhir ini tak kutemukan tulisan itu di lini masamu. Kemanakah? Apakah kau bosan? Sepertinya kau bukan bosan, tapi kau kehilangan semangat. Huh andai saja kau ingat betapa menggebu-gebu dirimu ketika bercerita kau ingin menerbitkan sebuah buku, satu saja begitu katamu. Aku menunggu hal itu loh. Apa kau tak ingat?Anyway gadis november. Ku dengar kau ingin menjadi hafidzah-nya Allah. Tapi tak kulihat semangat menghafalmu yang menggebu seperti saat kau bercerita tentang keinginanmu yang satu ini. Semangat jangan sampai kau tergerus bersama waktu hingga kau lupa ada perkataan yang mesti di pertanggung-jawabkan.
Anyway gadis november. Seharusnya saat ini, saat kenangan harus ku ingat lagi semangatmu terus bertambah. Mengingat masih banyak yang harus kau ubah. Masih banyak ilmu yang mesti kau tambah. Masih banyak bacaan qur'an yang mesti kau ubah. Pesanku, semangat berhijrah walau terseok setidaknya kau berusaha. Jangan sampai Allah cabut nikmat hijrah dari dirimu hingga akhirnya Dia balik hatimu dan membuatmu berbalik arah. Na'udzubillah.
Anyway gadis november. Aku hanya bisa berkata, menyemangati setiap waktunya karena tak tahu persis bagaimana kau melewati proses panjang dan melelahkan ini. Terlebih kekuatan fisikmu yang semakin melemah setiap harinya. Bersabarlah Allah yang menguatkanmu bukan dia ataupun mereka. Meski kau juga mendapat semangat dari mereka tetap Allah-lah yang mengerti betul bagaimana kau berproses menjadi dirimu hingga saat ini. Semangat bermanfaat.
(Catatan awal tahun)
Tangerang, 1 Januari 2017, 00:01 WIB