Lagi hits banget soal parenting jaman sekarang. Segala macam teorilah yang udah kita baca tapi gue kebanyakan pake naluri loh, bukannya gak baca soal parenting cm gue gak mau berpatokan cm sama suatu literature. Pernah ada yang bilang sama gue BAYI JANGAN TIDUR SAMA ORTU BIAR DIAJARKAN MANDIRI tapi ada juga yang bilang gini BAYI LEBIH BAIK TIDUR SAMA MAMA BIAR PERTUMBUHANYA LEBIH BAIK. Lah terus aku kudu piye? Bagi gue mau tidur sama mama papanya ato tetep di box itu perkara pilihan. Gue biasakan Dedo tidur di box awalnya bukan karena apa-apa, ya mamanya lebih nyenyak aja tidurnya tau dia di box, nggak was-was kegencet papa mamanya yang big size ini. Umur 8 bulan dia udah gelisah di box, ya mau gak mau di tempat tidur dong. 8 bulan pisah tidur dari mama papa, puji Tuhan pertumbuhannya ga ada terganggu. Soal dia sekarang jadi tdr dengan orang tua tkt nggak mandiri? Kebetulan gue belum sanggup bayangin dia tidur di kamar lain sendirian kaya bule-bule di pasang sisi TV. Bilang gue katro, biarin! Kalo dia pisah kamar yang ada gue nggak bisa tidur. Akhirnya, gw sakit dan gak maksimal ngerawat Dedo. PERNAH BACA BLOG ORANG : "KERJA ADALAH ME TIME TERBAIK!" Ya silahkan tapi gue punya pandangan sendiri. Kalau kerja karena memang mau mengejar cita-cita atau karena tuntutan kebutuhan materi ya nggak masalah tapi kalo kerja dijadikan pelarian supaya gak jenuh ngurus anak?? Silahkan ngomong itu sama ibu yang belum dipercayakan punya anak. Sudah dipercayakan punya anak kok kaya gitu. KOK ANAKNYA BELUM JALAN? PASTI KURANG DILATIH YA? Hahahaha.. Ini paling sering dibilang orang karna Dedo sampe 14 bulan kemarin belom bisa jalan, sekarang puji Tuhan sudah bisa jalan (15 bulan). Gue percaya anak dikaruniai kemampuan berbeda-beda. Ada yang cepat jalan, cepat ngomong, cepat tumbuh gigi, cepat daya tangkap, cepat bisa konsentrasi, dan masih banyak yang lain. Dedo adalah anak yang punya konsentrasi bagus, dia bisa bedakan bentuk persegi panjang, persegi dan lainnya dari setahun. Dedo juga ngeh sama musik dari 10 bulan. Dia selalu goyang-goyangik begitu ada lagu yang dia suka. Dia juga bisa nyusun stacks dari umur setahun. See? Dia lama jalan tapi berkembang di area lain. Begitu juga anak-anak lainnya :) Fenomena lain, A : JADI ANAKNYA SAMA SIAPA? B : NANNY A : BERDUA DOANG? B : IYA SOALNYA KAN AKU KERJA SUAMIKU JUGA KERJA. A : GAK KASIAN ANAKNYA? ----- A : KM JADI SEKARANG GA KERJA? B : IYA RESIGN NIH SEMENJAK PUNYA BABY? A : SAYANG BGT SARJANANYA See? People nowadays are judgemental. Semua salah. Gak semua ortu yang punya bayi tinggal di deket neneknya sehingga idealnya neneknya ngawasin si Nanny berperilaku terhadap cucunya. Ya otomatis berdua lah itu anak sama nanny. Inget semua itu pilihan. Setiap orang tua, punya alasan paling bijaksana terhadap pilihannya. Then, ibu sarjana yang gak kerja itu gak sayang titlenya. Terus kalo dia mau jadi ibu tangga, ngasuh anak dan suami 24 jam dia gak usah kuliah biar ga sayang titlenya? Nanti kalo gak kuliah, ditanya lagi KOK GA KULIAH? Rempong ya shaaaaaaaay. Sebenernya mau bilang, KAN SAYANG UDH SEKOLAH GAK CARI DUIT? PERTAMA, tujuan berpendidikan adalah tidak melulu urusan cari uang. Berpendidikan itu membuat kita lebih baik dalam bersikap, lebih open minded, bisa diajak diskusi tentang banyak hal, dan berbagai hal lainnya. KEDUA, sarjana itu upgrade diri kita. Terima gak terima masyarakat kita judge by our title. Ya nggak? KETIGA, soal cari duit, duit bukan bisa dicari dengan kerja di kantor. Di rumah juga banyak yang bisa ngehasilin uang, cuma gak semua orang bisa kan dan gak perlu juga kan yang bisa ngehasilin duit di rumah pamer biar orang percaya bahwa titlenya nggak sayang kok. ANAK-NYA KOK NGGAK ADA DEFENSE-NYA SIH? PENAKUT YA? ANAK-NYA AGRESIVE DEH, SUKA MUKUL. Anak-anak dilahirkan berbeda-beda. Ada yang kalem, pemberani, nakal, pendiem, baik, kasar, lembut, dan sebagai macamnya. Anak-anak (Balita) itu pada dasarnya seringnya nggak sadar apa yang mereka lakukan salah. Dedo adalah tipikal anak yang pengalah. Kalau dia didorong anak lain, dia akan diem dan pergi. Gue bilang dia nggak punya nyali? Nope. Gue bilang dia anak baik tapi gue selalu ingatkan dia harus belajar melawan dalam beberapa kesempatan. Gue nggak pernah belain dia kalau dia ganggu anak lain, he needs learn to protect himself kecuali kalau anak yang ganggu sudah keterlaluan. Ada anak yang aggresive, cendrung mukul. Terus bilang anak itu nakal? Pada umumnya anak itu kita sebut nakal tapi bilang aja dia aktif dan pemberani tapi ingatkan dia untuk tau bahwa memukul itu tidak baik dan ajarkan minta maaf. Sifat anak nggak bisa kita pilih karena bahkan itu bisa aja sifat keturunan dari kita sendiri. Jadi, nggak usah lihat anak orang lain lebih gak oke dari anak kita dan seolah-olah orang tuanya nggak ajarin kecuali KETERLALUAN! Contoh : Dedo pernah main di miniz dan ada anak nyamperin dia dan dorong dia sampai jatuh, ibunya anak itu malah ngetawain. Mungkin dia bangga, anaknya pemberani. Disitu gue diem. Gue pindahin Dedo. Then, anak itu dateng lagi dan gangguin lagi dan ibunya ketawa lagi. Maaf banget, gue langsung omelin ibu itu. SEGERA SEKOLAHIN AJA BIAR PINTAR BERSOSIALIASASI. JANGAN KECEPATAN SEKOLAH AH, NANTI KEBURU JENUH SEKOLAH. Mau sekolah cepet mau sekolah nanti tunggu TK itu juga pilihan. Mungkin beberapa orang tua menganggap diajari para ahli yang mengerti anak adalah yang terbaik. Nah kalo gue, gue masih percaya sampai saat ini guru terbaik Dedo adalah gue dan papanya dedo. Juga keluarga sekitar. *** Intinya mengasuh anak bagi gue sebagian besar justru naluri, naluri itu datangnya dari SANG PENCIPTA dan pilihan bagaimana mengasuh anaknya, itu pilihan orang tua masing-masing. Soal teori mana yang benar atau salah gak ada yang bisa angkat tangan mengacung dialah yang paling benar karena ini bukan perkara matematika yang 1 + 1 sama dengan 2.