Can't wait to see you 😘
No title available
ojovivo
macklin celebrini has autism

No title available
Misplaced Lens Cap
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com
RMH
will byers stan first human second
YOU ARE THE REASON
Fai_Ryy
hello vonnie
almost home
Lint Roller? I Barely Know Her

bliss lane

JVL
wallacepolsom
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Sade Olutola

Kiana Khansmith
seen from Czechia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Bangladesh
seen from Albania
seen from United States

seen from United States
seen from Vietnam

seen from United States
seen from Albania
seen from Nepal

seen from Nepal
seen from Albania
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@ahmedahmad
Can't wait to see you 😘
Rindoe
Jangan pernah bergantung pada sesuatu yang tidak kekal. Bergantunglah pada zat yang Baqa.
Kalau sudah jalannya insyaAllah dimudahkan oleh Allah swt. Sampai saat ini semuanya berjalan lancar, mudah-mudahan terus lancar dan ga ada mentok sama sekali. Aamiin.
Mereda
Dan gonjang-ganjing dunia persilatan pun semakin mereda. Alhamdulillah. Berarti gak salah kan keputusan yang sudah gue buat. Dan semakin percaya bahwa janji Allah itu nyata. Bahwa ketika kita meng-investkan rezeki pada jalan yang baik, akan dibalas berlipat-lipat ganda.
Evolusi Beruk
Berawal dari perjalanan gue ke kantor, kami melaju pukul 6.00 wita. Agak siang memang kalo dibandingkan jika berangkat menggunakan bus jemputan. Begitulah enaknya bawa LV ke mes. Berangkat bisa rada-rada siang. Setelah melewati pos security mes, gue memperhatikan beberapa kelompok beruk. Kelakuannya macem-macem. Ada yang mencari kutu beruk yang lain, ada yang jogging, ada juga yang bercinta di tengah jalan dan di muka umum. Memalukan tapi ya begitulah beruk, kawin sana sini ganti-ganti pasangan. Trus ga pake akad nikah. Makanya menikah lah yang membedakan kita dengan binatang. Bukan begitu?
Pemandangan seperti itu biasa dijumpai buat gue dan ga aneh. Semuanya normal sampe gue liat 1 ekor beruk yang ternyata bisa berjalan dengan 2 kaki, tapi di alam bebas. Gue pernah liat doger monyet. Monyet tersebut dilatih agar bisa melakukan beberapa aktivitas yang biasa dilakukan manusia, tujuannya untuk hiburan yang melihat, trus dikasih receh deh. Bisa naek motor, jalan 2 kaki dan bawa payung, ada juga yang bisa solat. Pinter ya monyetnya. Tapi jangan salah, dibalik kemahiran si monyet itu latihannya parah lho, disiksa sama yg punya monyet. Dia belajar bukan karena keinginan sendiri, tapi karena dipaksa.
Nah dari situ ada yang bisa kita petik lho, kengkawan. Kita sebagai manusia, yang memiliki akal yang lebih baik daripada beruk, punya kebebasan untuk belajar atas kemauan sendiri. Tidak dipaksa seperti doger monyet. Kalo kita perlu dipaksa untuk belajar. Bukannya kita tidak lebih baik dari monyet?
Nah sekarang sudah sadar kali ya bisa jadi, kasarnya kita ga lebih baik dari beruk dalam niat belajar. Alias yo podo wae beruk karo wong. Tapi ga sampe disitu aja kengkawan. Ada kemungkinan beruk bisa melebihi kita lho. Beruk-beruk jaman sekarang sudah punya kamauan untuk belajar. Contohnya yang gue alami kemaren, kamar gue kemasukan beruk. Padahal sebelum berangkat kerja udah gue kunci gerinda nya. Ternyata apa, mereka bisa kok buka gerinda, belajar dari mana coba? Apa disiksa kayak doger monyet, engga bro, sis. Mereka belajar sendiri. Gue sering merhatiin sih, pas gue mau keluar dari kamar dan mengunci gerinda, gue sering melihat beruk ngintipin gue ngunci kamar, sering sekali. Mungkin dari situ dia belajar, memang harus beberapa kali dulu belajar baru paham, mereka ga secepat manusia dalam menangkap hal baru. Tapi niatnya itu lho, gigih sekali.
Oleh karena itu kita sebagai primata dengan kasta tertinggi harus waspada coy. pemain bola luar negeri beberapa ada yang beranak pinak, tapi ga kunjung menikah. Nah coba bayangin kalo beruk nikah dulu sebelum kawin, berarti beruk siap mengambil alih kasta tertinggi primata.
Beruk telah berevolusi bung. Salam beruk.
Cumi goreng tepung, makanan yang ga aneh sih. Apalagi di bontang dengan seafoodnya yg kaya akan jumlah, jenis, dan rasa. Tapi pengen banget nyoba yang satu ini.. hahahah..
Melakukan apa yang bisa dilakukan
Alhamdulillah cita-cita gue mengumrohkan orang tua dapat terlaksana. Berikut gue nya pulak haha. Senyum terus mengembang di bibir kedua orangtuaku, bukan hanya karena mereka jadi ke tanah suci, tapi karena anaknya yang penuh dosa ini ikut serta ha ha ha. (Kenapa gue memutuskan ikut? Ya karena kasian lah masa ortu gue luntang-lantung berdua disana). Senyum itu terus mengembang dan merupakan kebahagiaan tak terkira buat gue.
Ya Allah, izinkan anak ingusan ini mengunjungi rumah-Mu. Aku sadar banyak dosa yang telah diperbuat. Aku pun tidak bisa menjamin kepribadian ini akan berubah 180 derajat setelah ibadah ini. Tujuanku hanya menyenangkan orang tua, tidak kurang tidak lebih. Hanya mengharap ridho dari mereka karena aku yakin ridho-Mu berasal dari ridho kedua orang tuaku.
Ya sementara yang bisa gue lakukan adalah berusaha membuat orangtua gue bahagia, ditengah banyaknya kekurangan gue sebagai hamba Allah. Semoga Allah memberkati.
Berkelit? Cuih..
Berkelit, salah satu perilaku yang paling gue hindari. Pertama karena gue emang ga pintar berkelit. Yang kedua karena gue ga mau ribet. Ya, menurut gue berkelit itu ribet. Bukannya menyelesaikan masalah, yang ada memperbanyak masalah saja. Yang ada cuma buang-buang tenaga.
Ketika lo bener, pertahankanlah kebenaran itu, tapi ketika lo salah, ya mengakulah salah. Simple, ga usah dibuat rumit lah. Tenaganya bisa lo simpan untuk hal lain, ga usah dibuang-buang.
Pesan untuk yang masih kuliah
Hai, gue mau nulis lagi nih. Udah liat judul di atas kan? Kenapa judulnya “pesan untuk yang masih kuliah”? Simplenya karena gue udah ga kuliah, itu satu. Yang kedua, gue mau berbagi pengalaman gue tentang apa yang gue lewati dari bangku kuliah sampe sekarang. Sekarang gue udah pada fase mencari duit, dimana semuanya menjadi nyata, dan kenyataan itu kita liat dengan mata kepala kita sendiri. Berbeda dengan jaman kuliah, semua masih bersifat membayangkan, samar-samar. Dari tempat kerja lah kita menyadari bahwa: ‘oh ini toh maksudnya yang dosen ajarin di kelas’, ‘oh ternyata ini fungsinya’. Kesadaran itulah yang kira-kira didapatkan bagi yang kerjanya sesuai dengan bidang perkuliahan. Kesadaran berikutnya adalah penyesalan. Di titik ini kita menyesal: 'kok dulu kuliah ga sungguh-sungguh ya’, atau: 'duh nyesel banget ga merhatiin dosen’. Itu yang gue pribadi alami sih. Jadi pesan gue sama yang masih kuliah adalah: 1. bersungguh-sungguhlah, klise sih tapi bener lho ini. Kalo greget kuliah kita rendah, semagic apa pun, seluar biasa apapun sebuah ilmu ga akan masuk di otak kita. Emang sih namanya mood orang tuh ga stabil, tapi kita jaga jangan sampe drop banget lah. 2. Di awal, akhir sesi kuliah atau sesi manapun, terserah lo, tanyain ke dosen tentang aplikasi di lapangan terkait materi yang sedang dipelajari. Ini penting, karena bisa jadi kita malas ngikutin kuliah karena kita sendiri ga ngerti itu buat apaan. Kalo kita ngerti aplikasinya apa, ngerti kalo itu penting, Insya Allah bakal fokus sih menurut gue. 3. Jangan hanya fokus di satu sub jurusan dan mengabaikan yang lain. Ini karena melihat tantangan jaman sekarang. Jaman sekarang ini menuntut kita mengeluarkan segala isi otak kita, terkait ilmu dan kreativitas. Makin kaya ilmu makin kaya kesempatan kita mengingat kondisi perprofesian dan kesejahteraan yang sedang dalam masa sulit secaa global. Gue sendiri sebagai anak teknik sipil dulu fokus di sub jurusan transportasi, kenapa? Karena itungannya ga begitu susah. Dulu gue jujur muak sama itungan mektek yang mebutuhkan ketelitian tinggi soal kekokohan sebuah struktur bangunan. Tapi yang gue rasain sekarang adalah, nyesel. Kalo dulu gue sungguh-sungguh juga di bidang struktur, gue sekarang mulai bisa rintis jadi konsultan atau kontraktor bangunan. Gue bisa punya alrernatif lain selain bidang earthmoving dan road construction yang selama ini gue geluti di tempat kerja. Begitulah kawan-kawan, manfaatkan segalanya selagi lo kuliah. Baik di bidang akademik maupun di organisasi. Karena ketika lo lulus jadi sarjana, lo ga bisa minta dosen buat ajarin lo lagi. Yang lo bisa lakukan hanya mengingat sesuatu yang buram. Sungguh-sungguhlah kuliah, sayang kan udah bayar mahal-mahal?
Planner yang baik tidak mengandalkan opportunity yang tak pasti untuk menyelesaikan masalah
Asap
Asap. Asap di sini bukan singkatan dari as soon as posible. Asap di sini merupakan kata benda. Asap bisa diartikan sebagai zat berupa gas yang keberadaannya merugikan untuk udara yang biasa kita hirup (sori ga liat kbbi). Asap sekarang ini menjadi bahan obrolan yang tidak ada habisnya terkait pembakaran hutan dan musim kemarau yang berkepanjangan di beberapa daerah di sumatra dan di kalimantan. Gimana ga abis diobrolin wong asapnya ga abis-abis. Posisi gue ngobrolin asap adalah sebagai korban. Karena tempat kerja gue sekarang terletak di pulau kalimantan, tempatnya di kota bontang, kalimantan timur. Jadi gue bakal menjelaskan fenomena asap ini dengan kapasitas sebagai korban. Apakah asap di daerah gue kerja termasuk parah? Iya. Mungkin ga separah palangkaraya atau riau ya. Tapi cukup parah sampe gue harus jadi ninja setiap harinya (pake masker terus). Kenapa asap ini bisa terjadi sih? Mungkin gue baru bisa menemukan 2 alasan kenapa asap ini terjadi. Pertama memang karena kemarau yang berkepanjangan. Kedua karena banyak kebakaran hutan, atau lebih tepatnya dibakar sih. Dari 2 penyebab ini gue bakal lebih bahas yang kedua karena lebih controllable dibanding penyebab yang pertama. Kenapa sih hutan dibakar segala? Karena manusia butuh pembersihan lahan untuk perkebunan. Cuman prosedur sebenarnya adalah pembersihan lahan dengan sistem clearing, grubbing, dan skidding. Gue sedikit tahu karena pembersihan lahan di tambang juga seperti itu. Pertama buldozer datang untuk merobohkan pohon-pohon yang masih mampu dirobohkan. Seengganya dengan dozer ini sebagian lahan sudah bersih. Yang tersisa hanya tunggul kayu dan kayu yang kuat sehingga dozer tidak mampu menghantam si pohon. Untuk mengatasi ini biasanya dibutuhkan gergaji mesin atau biasa disebut chainsaw. Sisa-sisa tunggul akan dicincang sedangkan kayu-kayu bagus akan dipotong dan dikumpulkan. Kayu-kayu yang bagus (diameter lebih dari 30cm) memang dikumpulkan dan diserahkan ke orang kehutanan. Sampai di situ saja prosesnya? Tidak. Kita juga harus bertanggung jawab untuk rehabilitasi setelah penggunaan lahan. Prosedurnya memang ribet dan butuh biaya besar sehingga banyak yang mengambil jalan pintas. Jalan pintas seperti apa? Ya dengan membakarnya. Tinggal nyalain api, selesai. Ga ribet, dan murah (by the way ini baru argumen ya, tanpa baca literatur dan gue belum sempet nyari bukti yang kuat) Orang-orang seperti ini lah yang menurut gue harus ditindak. Ngeselin kan mereka, udah males, ngeracunin orang pula. Dihukum mati pun gue setuju-setuju aja kalo misalkan pemerintah mau tegas. Pemerintah harus punya plan untuk memberantas makhluk-makhluk seperti mereka. Kalo plannya nunggu kuasa Tuhan alias musim ujan berarti pemerintah bisa dicap perencana yang buruk atau bahkan bisa disebut ga punya plan. Karena sebuah plan yang baik tidak mengandalkan kondisi dan tidak akan kalah dengan kondisi. Selain itu juga dengan musim ujan tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah. Asap mungkin hilang, tapi pemanasan global akan terus terjadi karena terus berkurangnya lahan hijau. Ini ibarat mengatasi penyakit dengan obat yang tidak tepat. Tidak mecegah apa yang sebenarnya menjadi akar masalah. Berdoa saja semoga si pemerintah ini tidak eksternal aja yang diurusin, tapi internal juga. Percuma hubungan bilateral sama negara lain bagus tapi rakyatnya banyak yang mati. Eh bentar, ga tau juga deng bilateral yang mana itu juga, entah antara negara lain dan Indonesia, entah antara negara lain dan golongan/individu, entahlah.
Make your parents happy is your real investment
Menyikapi gonjang-ganjing
Masih soal gonjang-ganjing dunia persilatan. Kondisi sulit ini mulai membuat gue berpikir untuk menyimpan uang yang tadinya udah mau gue keluarkan. Ya pastinya untuk jaga-jaga aja menghadapi kondisi terburuk. Sambil memikirkan investasi apa yang akan dilakukan untuk membuat uang yang ada ini berputar dengan baik. Begitulah secara logikanya menghadapi kondisi yang cukup pelik ini. Tadi gue sempet bilang kalo si duit yang ada ini akan gue pake kan, buat apa, buat orang tua gue. Membuat gue sempet dihadapkan pada dilema. Apakah gue akan tetap melakukannya, atau banting setir mengingat gonjang-ganjing tadi. Pilihan yang menurut gue cukup sulit tadinya. Tetapi ada dorongan kuat yang membuat gue akan tetap melakukannya, dan mengesampingkan si gonjang-ganjing ini. Dorongan itu adalah: 1. bagaimana peran membahagiakan orang tua yang sebenarnya merupakan investasi yang sebenarnya. Jadi ketika lo keluarkan duit lo untuk kebahagiaan mereka, insya Allah akan diganti berlipat-lipat ganda. 2. Gue ga mau menyesal di kemudian hari. Namanya umur ya gatau kan. Lebih baik bahagiakan orang tua lo selagi bisa daripada nanti lo nyesel dan keluar kata-kata penyesalan: kenapa gue ga sempet ngebahagiain ortu saat mereka masih di dunia. Sekarang udah gabisa lagi. Penyesalan yang cukup mengerikan bukan?. Dua dorongan hebat itulah yang membuat gue tetap melakukannya. Mumpung rejekinya ada. Semoga Allah meridoi segala langkah yang gue ambil. Aamiin.
Gonjang-ganjing dunia persilatan
Di tengah gonjang ganjing dunia persilatan yang sedang hangat alhamdulillah gue bisa menjauh sejenak kurang lebih 16 hari. Bisa perpikir jernih untuk menentukan bagaimana langkah ke depan. Mudah-mudahan beberapa hari ke depan inspirasi-inspirasi mulai berdatangan. Mumpung sedang pada saat yang tepat. - balikpapan ke bandung, tanpa headset
Biru dan Putih
Mungkin dari melihat judulnya saja langsung muncul pertanyaan dari banyak orang. Ya ada yang bertanya, ada juga yang tidak. Yang tidak biasanya sudah mengerti. Kalo yang nanya berarti ga ngerti, sesimple itu sih. Dari ilmu persentasi sebenernya gue sempet belajar sih bahwa ketika kita membuat sesuatu, contohnya judul sebuah tulisan, jangan menggunakan kata-kata yang mengundang pertanyaan. Karena akan berbahaya buat kita ketika tidak bisa menjawabnya. Tapi kalo gue bisa menjawab gapapa kan? Gitu aja kok repot. Sini gue jawab.
Putih, biasanya dipasangkan dengan hitam. Hitam dan putih adalah warna, hitam dan putih adalah dua kata yang merupakan antonim. Hitam dan putih, lagunya ada band. Hitam putih, acaranya deddy corbuzier. Dari sini kita bisa liat bahwa dari hitam dan putih pun bisa muncul banyak pemahaman. Makanya alasan pertama gue memilih biru sebagai pasangan si putih karena supaya menghilangkan segala hal yang ambigu. Dan kesannya spesial dan aneh kan. Biar ga pasaran hehehe.
Alasan kedua karena di sini gue mau membahas 2 single ERK yang baru, yang satu judulnya biru, yang satu judulnya putih. Bagi yang ngikutin perkembangan ERK mungkin sudah tahu dari judul, mau diarahkan ke mana ini tulisan. ERK adalah Efek Rumah Kaca, band indie asal jakarta yang udah gue suka dari kelas 2 SMA. Kapan gue SMA? Diem lo, jangan banyak nanya, skip. Aliran musiknya ERK nih apa ya? Gue sendiri ga ngerti. Gue juga ga mau sok tau soal musik. Karena yang berhak menilai bagus engganya musik ya kuping masing-masing. Kuping gue sama kuping elo pasti beda. Ya beda lah. Ketika kita berada di ruang yang sama akan jadi berbeda ketika kita ada di waktu yang berbeda. Apalagi ini, ruangnya aja beda. Kuping gue ya kuping gue, kuping lo ya kuping lo, sangat terpisah.
Semuanya punya kebebasan memilih selera musik. Gue juga sebenernya ga peduli sih mau indie apa mainstream, yang penting gue appreciate sekali kalo paduan nada dan instrumen musik bisa enak masuk di kuping gue. Memang sih kelebihan indie itu mereka punya ruang bebas buat berkarya, ga dibatesin apa pun. Suka-suka mereka bikin musik kaya apa, minimal bisa dinikmati sendiri, dan sukur-sukur orang lain juga bisa menikmati. Ya karena itu tadi, kuping orang tuh beda-beda. Bentuknya aja udah beda-beda.
Tapi jangankan yang indie, lagu-lagu mainstream yang lebih umum pun bisa aja ada yang ga suka kok. Apalagi kalo ga punya keunikan, sang artis harus siap tenggelam karena kurangnya kreativitas. Tapi bukan berarti yang indie lebih bagus daripada yang mainstream sih. Jadi mainstream juga tantangannya gede lho, gimana caranya tu musik bisa masuk ke banyak kuping. Salut sekali kalo ada artis yang bisa begitu. Tapi ya balik lagi semua punya penikmat masing-masing.
ERK, band indie yang udah gue suka dari 9 tahun yang lalu (kebongkar deh kapan gue SMA nya) baru-baru ini ngeluarin dua single, dan masing-masing single ini terdiri dari 2 fragmen. Untuk lagu “Biru” sebenarnya terdiri dari 2 lagu yang digabung yaitu “pasar bisa diciptakan” dan “cipta bisa dipasarkan”, ga perlu gue jelasin panjang lebar karena ini nyambung sama alinea sebelumnya. Ya pasar musik bisa diciptakan, dan cipta bisa dipasarkan. Karena masing-masing musik punya penikmatnya masing-masing.
Sementara single Putih juga terdiri dari 2 fragmen yaitu “Tiada” dan “Ada”. Ada yang bilang ini merupakan lagu yang didedikasikan buat keluarga dan kerabatnya personil ERK. Fragmen “tiada” untuk mengenang kawan mereka yang pergi, sedangkan fragmen “ada” sebagai bentuk sukur mereka kalo mereka memiliki orang-orang terkasih yang selalu berjalan beriringan.
Kalo gue sendiri mengartikannya lain, ada dan tiada merupakan sesuatu yang bertolak belakang. Di sini kita belajar untuk menghargai dua hal yang bertolak belakang. Karena apa, karena kita tak akan tau rasanya ada jika kita tak pernah merasakan tiada. Kita tidak akan tau hitam jika kita tidak tau putih. Kita tidak akan tahu betapa terangnya siang ketika kita tidak tau gelapnya malam. Kegelapan tidak selalu menakutkan kalo kata Simon Hardiman (bagi yang baca partikel nya Dee pasti ngerti). Tiada siang tanpa adanya malam. Keduanya berkolaborasi agar kehidupan terus berjalan setiap harinya.
Ya dari situ gue belajar bahwa kedua hal yang bertolak belakang sebenarnya berkolaborasi membentuk keseimbangan yang indah, seperti di lagu putih ini. Bertolak belakang itu biasa kok, dan semua akan berjalan dengan baik jika kita bisa saling menghargai.
Ini pendapat gue ya, kalo lo ga setuju ya gapapa, santai aja. Namanya juga pendapat.
Keras
Keras, positifkah keras dalam bersikap itu? Atau negatif? Gimana pendapat lo?
Kalo menurut gue ya bisa positif, bisa juga negatif. Tergantung konteks, dan tergantung juga dengan kondisi dan situasi. Ketika kita keras pada kondisi dan situasi yang tepat, maka keras bisa jadi dalam artian positif, begitu pun sebaliknya.
Lalu bagaimana dengan lembut? Positif atau negatif? Menurut lo gimana?
Sama juga menurut gue, lembut pun sama dengan keras. Bisa positif, bisa juga negatif. Segala sesuatu bisa saja menjadi baik atau menjadi buruk tergantung situasi dan kondisi. Ya kecuali Yang Maha Benar yaitu Allah swt.
Keras, kondisi ini berhubungan dengan kehidupan gue sekarang yaitu di tambang. Di mana gue bekerja di lokasi yang kata orang sih keras, ga tau menurut lo. Menurut lo gimana?
Bisa jadi memang keras sih, karena investasi di sini bukan investasi yang sebatas jutaan rupiah, tapi sudah triliunan. Berani betul investasi triliunan, ya berani karena hasilnya juga triliunan.
Jumlah yang besar ini memang membuat tensi setiap orang di sini menjadi tinggi, dan respon orang terhadap tensi ini juga berbeda-beda. Tergantung sifat masing-masing pribadi.
Kebanyakan orang di sini keras, mungkin karena karakter inilah yang biasanya cocok dengan iklim di tambang. Rasanya sudah biasa liat orang marah-marah, atau bos bentak-bentak. Keluar kata ‘goblok’ dari bos? Kayaknya sih biasa. Bahkan seperti masuk kuping kanan, keluar kuping kiri saking biasanya. Atau beberapa terpaksa biasa lebih tepatnya, padahal dalam hati tak terima.
Ada juga segelintir orang yang lembut, termasuk gue sepertinya, gue cenderung ke lembut. Lah kok bisa ada orang yang lembut di tambang? Kan katanya yang cocok kerja di sini biasanya yang punya kepribadian keras. Kenapa orang-orang lembut dibiarkan masuk ke lingkungan ini? Kenapa gue dibiarkan masuk? Apa karena orang lembut juga dibutuhkan di sini untuk membentuk nilai keseimbangan? Supaya ada yang keras, ada yang lembut? Atau apa karena bersikap lembut sebenarnya ga masalah di kehidupan tambang? Bisa jadi karena sebenarnya keras bukanlah satu-satunya tolak ukur, masih ada variabel lain. Bisa jadi kecerdasan, kegigihan, tak kenal lelah, dan banyak lagi variabel yang ga bisa gue sebutin satu persatu.
Kalo gue ngeliatnya sih setiap orang berbeda-beda, ga bisa dipaksakan untuk keras, atau dipaksa untuk lembut. Biarpun lingkungan di tambang keras, menurut gue ga baik juga kalo segelintir yang lembut ini berubah jadi keras, kesannya maksa banget ga sih? Coba bayangin kalo kucing menggonggong? Cocok ga? Maksa kan?
Menurut gue jangan gara-gara lingkungan kita keras kita harus jadi keras juga. Itu namanya ga berprinsip noh. Dan jangan sampe lingkungan mengubah hal yang ada di diri kita apalagi yan sifatnya prinsipil. Biarkan yang keras tetap keras, dan yang lembut tetaplah lembut. Karena seperti yang gue bilang di awal, segala sesuatu bisa saja menjadi baik atau menjadi buruk tergantung situasi dan kondisi. Kebaikan dan keburukan itu bisa jadi memang ga mutlak. Menurut gue menjaga prinsip yang baik dan menjadi diri sendiri merupakan plihan yang bijak. Gue percaya semua orang, dengan kepribadian yang tentunya berbeda, memiliki cara yang berbeda-beda agar bisa menjalankan tugas dengan baik. Yang penting kan goalnya dapet. Banyak jalan menuju Roma kok. Dan semua orang memiliki peluang yang sama besar. Itulah yang gue bener-bener rasakan saat ini. Kesimpulannya lo ga perlu jadi keras biarpun lo hidup di tambang kalo lo gamau hehe. Buktinya kerjaan gue saat ini aman-aman aja dan lancar aja tuh. Justru menurut gue lembut ada bagusnya juga, lembut membuat kita bisa berpikir jauh lebih matang dan tenang dalam berstrategi, ya alhamdulillah.