Aku Lelakimu
Menjadi yang dibutuhkan, diberi tanggung jawab, menjadi lelakimu.
dirt enthusiast
Alisa U Zemlji Chuda
will byers stan first human second
he wasn't even looking at me and he found me
taylor price
Xuebing Du
Show & Tell

pixel skylines
No title available
Sade Olutola
Not today Justin
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Sweet Seals For You, Always
DEAR READER
YOU ARE THE REASON
Mike Driver

Love Begins

Janaina Medeiros

tannertan36
Three Goblin Art

seen from Germany
seen from Canada
seen from Brazil
seen from United States
seen from Spain

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from Albania

seen from United Kingdom
seen from Philippines
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Senegal

seen from Japan

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States
@ainulrafiq
Aku Lelakimu
Menjadi yang dibutuhkan, diberi tanggung jawab, menjadi lelakimu.
Caranya bekerja?
Mereka bilang dan aku belajar implementasikan itu -selesaikan hal yang sudah kamu mulai-.
Sepertinya sudah kutemukan cara yang benar. Tabel dan file yang berhubungan dengan artikel diunggah sebagai suppl files. Link nya bisa digunakan untuk daftarkan DOI.
Seringnya, muara dari kebingungan-kebingungan saat menjadi manusia dewasa berawal dari minimnya pengetahuan/ilmu. Dengan dalih kesibukan yang seolah tak ada habisnya, kita tidak menyediakan waktu untuk belajar. Belajar banyak hal, hal-hal yang ingin kita tahu, bahkan ketika belajar kadang kita menemukan ternyata ada hal yang selama ini tidak kita tahu kalau itu ada.
Menjadi manusia dewasa, saat kita harus membuat keputusan untuk diri kita sendiri. Beban yang sebenarnya ringan bisa jadi sangat berat karena kita tidak tahu cara membawanya. Masalah yang mudah bisa jadi menjadi rumit karena kita tidak bisa melihat semua alternatif jalan keluarnya. Dan betapa tidak menyenangkannya menjadi dewasa dalam kondisi demikian. Saat kita diselimuti begitu banyak kebingungan, clueless, tidak tahu kepada siapa harus bertanya, bahkan kita tidak tahu masalah apa yang sebenarnya sedang kita hadapi sehingga kita salah mengambil kesimpulan, berakhir pada salah membuat keputusan. Bukannya masalah kita selesai, tapi justru menambah masalah. Luangkanlah waktu untuk belajar. Ilmu adalah lentera yang bisa menerangi langkah-langkah kita berikutnya. Jangan dikira belajar kita selesai, ketika kita telah selesai sekolah :)
A must to read later
Coba cek artikel yang diterbitkan oleh Plos Medicine, komponen pendukung pada naskah juga diberikan DOI -selain artikelnya sendiri-.
Mencari cara untuk melakukan ini dengan mendaftarkan DOI dataset dari Crossref, namun tampaknya belum begitu banyak dokumentasi Metadata xml nya.
Hasil pengajuan xml melalui admin tool, dan tidak berhasil. Pesan erornya adalah, skema xml dan komponen-komponennya tidak dikenali oleh sistem.
#
Langkah alternatif adalah, gunakan PURL sebagai pengidentifikasi daripada DOI.
Sesimpel itu? bagian 1/-
Sedang mempelajari tema 'peran perpustakaan dalam penerbitan jurnal' dan bertemu bacaan 'library publishing toolkit'. Yang menarik adalah, salah satu univ terkemuka di dunia, The Columbia University, menerbitkan jurnal-jurnal ilmiahnya menggunakan sistem Open Journal System a.k.a OJS.
Setelah mengunjungi laman salah satu jurnal terbitannya, the Journal of Global Health, impresi awalan yang saya tangkap adalah, tampilan laman jurnal ini sangat simpel, terfokus, dan tidak memiliki banyak embel-embel (logo-logo) macam kebanyakan jurnal terbitan institusi di Indonesia.
Oke, menyiapkan Mendeley desktop di komputer yang pakai Elementary OS agak tricky. Terutama karena aku pakai Libreoffice untuk aplikasi pemroses katanya.
Jadi ini kuncinya:
1. Citation plugin akan bekerja pada Libreoffice yang diinstal dari sumber asli atau PPA repo, bukan flatpak atau snap.
2. Ada fungsi pengaman file instalasi Mendeley Desktop untuk mengambil extensi citation plugin yang tidak bisa dikopi ke folder selain root, dan untuk perintahnya tidak dengan cp - r biasa.
Mutu jurnal ilmiah terdiri dari 3 aspek:
1. Penyaringan naskah;
2. Pengelolaan naskah;
3. Ketepatan waktu terbit;
Ketiga aspek ini berasal dari Permenristekdikti
9/18.
Pemrosesan naskah pada tahap Proofreading dan Production boleh jadi sebagai berikut:
1. Naskah diperbaiki tata bahasanya (format docx) > hasil proof versi jurnal dikembalikan ke penulis > hasil akhir proof dikonversi ke html >> masuk ke production
2. Naskah hasil konversi ditangging di AmeliCA xml
Relawan Jurnal Indonesia: kiprah untuk kemajuan pengelolaan jurnal ilmiah
Relawan Jurnal Indonesia (RJI) terbentuk sejak tahun 2016 -usianya sudah enam tahun- dengan pondasi pendirian untuk memberikan bantuan bagi pengelola jurnal dalam mengelola dan mengembangkan publikasi ilmiah. Oleh karenanya, RJI membentuk kerja sama dengan berbagai entitas lain yang memiliki visi serupa.
Salah satu layanan yang diberikan oleh RJI adalah pendaftaran anggota Crossref untuk mengaktifkan Digital Object Identifier a.k.a DOI. Kemudahan akses layanan tersebut merupakan buah kerja sama entitas nirlaba RJI dengan Crossref -organisasi pemberi DOI- sehingga konten yang berhubungan dengan luaran hasil penelitian, pengembangan, dan pengabdian kepada masyrakat memiliki pengidentifikasi persisten dan terstandarisasi metadata yang dimilikinya.
Hingga bulan Agustus 2021, sejumlah 1,829 institusi di Indonesia bergabung sebagai anggota Crossref melalui layanan DOI RJI, dan dari institusi tersebut terdapat 6,539 jurnal ilmiah yang menggunakan DOI untuk terbitannya. Jumlah yang begitu banyak ini juga berbanding dengan total dosen di Indonesia.
Selain menggandeng Crossref, nyatanya RJI juga bergabung dengan ORCID -organisasi nirlaba yang bergerak khusus memberikan identitas persisten untuk peneliti- dan merupakan satu dari dua lembaga di Indonesia sebagai anggota ORCID.
Peran RJI dalam implementasi misinya -membantu mengembangkan jurnal ilmiah- telah banyak dilakukan. Yang paling kentara adalah pelaksanaan seminar daring oleh masing-masing daerah (video tersedia secara gratis di Youtube) dan menyediakan forum diskusi yang semua ini sebagai komitmen RJI kepada jurnal ilmiah di Indonesia. Topik pengembangan kapasitas pengelolaan jurnal ini bervariasi, mulai dari tata kelola jurnal yang baik, indeksasi (Arjuna, DOAJ, ESCI, dan SCOPUS), pemanfaatan DOI, dan yang berkaitan dengan pengelolaan penerbit jurnal.
Dukungan dari organisasi yang memiliki motto "berbagi, giatkan publikasi" ini akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang dengan harus mengedepankan inovasi sehingga dapat mengimbangi tingginya animo institusi pendidikan, riset, dan lembaga swadaya masyarakat untuk membuat jurnal ilmiah.
Jurnal terakreditasi nasional Sinta 1-2 (garda utama), Sinta 3-5 (garda tengah), dan Sinta 6. Menghubungkan kualitas artikel terbitan dengan akreditasi jurnalnya dan bahkan indeksasi Scopus dan WOS yang dikatakan bereputasi. Namun ada hal lain dari kedua hal tersebut (akreditasi dan indeksasi) yaitu selengkap apakah metadata terbitan jurnal, apakah penerbit sudah mengadopsi konsep pengidentifikasi tetap identitas (ORCID iD) dan institusi (ROR iD)? Apakah artikelnya memiliki metadata Crossmark sehingga mudah ditemukan informasi artikel? Dan yang paling penting, apakah pengidentifikasi obyek digitalnya aktif?
Bahan renungan sebagai pengelola jurnal ilmiah. Jangan sampai berburu reputasi namun jurnalnya prematur!
Hai, Selama ini ke mana saja?
Tulisan terakhir di blog ini tahun 2016, lima tahun tidak berkabar, ya. Roda takdir membawa ku jauuh bersama banyak mimpi dan harapan dalam menjalani kehidupan. Tapi yang pasti, Aku tidak lupa, kok.
Sayang
‘Sayang’ merupakan kata dasar yang dengannya orang akan bahagia hatinya.
“aku sayang kamu”
“aku tidak sayang lagi”
About IB EE: Do you have some general (non chemistry) tips?
Yes! Here are some TIPS FOR THE EE :D
BEFORE YOU START
Think carefully about your subject
It is generally easier to write an EE in languages / social sciences than in the natural sciences, mainly because languages / social sciences only require research, reading and writing, whereas the natural sciences requires an additional experimental and data collection phase (which could go horribly wrong). Unless you have amazing resources for an EE in a group 4 subject, I would advice you to write it in something else.
Choose your subject basing on the supervisor
This might sound weird, but from my experiences, the dedication of your supervisor is pretty much the most important thing when writing your EE. It is vital that you get a supervisor who has a broad knowledge in the subject, and who is willing to dedicate a lot of time to helping you. You might be passionate about physics, but without someone who can guide you (and unlock the school labs at the odd hours of the day) it will become harder than you think!
Keep it simple (and creative)
The best EEs I’ve read are not extremely complicated. They are simple but creative, because with the resources you get from high school, it is hard to carry out complicated projects to the perfection. E.g. if you’re writing an EE in English, it helps to choose a book that hasn’t been analyzed thousands of times before, because then it is hard to keep your essay interesting. This rule applies to pretty much any IAs you have to do in IB - keep it simple (and if you’re lucky - creative!)
WHEN WRITING
Work in small chunks
I have heard many legends of people writing their EE night before the deadline and still passing (and even getting an A!), but please avoid that if you can. Make a plan. Use my advice for writing an essay. Don’t care about not writing it perfectly the first time - the hardest thing is to actually get started.
Divide your work into small chunks. Write one paragraph at a time, then don’t think more about it the rest of the day. Don’t stare at your computer for 12 hours straight and end up having a nervous breakdown.
Read around your topic
It is nice to read around your topic before writing, because that way you can write about more creative things. There is, for example, no need for you to mention metaphors that have been repeated thousands of times before - you can just cite it from a source, and expand upon that.
Keep your supervisor updated
It’s actually important that your supervisor knows you’re working, because they will write a “viva voce” for you towards the end that will count for the “holistic impression” bit of the rubric requirements. Send them drafts, discuss your latest thoughts with them and show them the articles and books you’ve read! Also, sometimes you have to remind your supervisor about the EE!
Read some example EEs that did NOT get an A
I feel like too many people make the mistake of purely reading EEs that scored an A, and compare their own EEs to those unreachable EEs, then get super stressed. It’s good to do that so you know what the examiners are looking for, but try to get your hands on some EEs that scored a B, C or D just to calm your nerves.
BEFORE DELIVERING
Check the formalities!
The layout and formalities of your EE actually counts towards your final grade, and with a bit of patience there’s no reason to lose those marks! Search up citation styles and stick to it.
Get other people to read it
Ask them if what they’re reading makes sense. Remember, the examiners are most likely going to read your EE once, so the shallow first impression is actually quite important. (Again, keep everything simple!)
Try to deliver it on time
As hard as it may be, try your very best to deliver it on time. Remember although everyone stresses the heck out about EE, it doesn’t count THAT much towards your final grade, compared to your exams and IAs. (Your world lit in the A language actually counts more, for some reason…) So deliver it as early as possible to avoid falling behind on your subjects and other IAs!
50 likes!
Tulisan : Setelah Lulus
Pernah tidak dalam satu waktu, kamu merenungi dirimu sendiri tentang kuliah yang sedang kamu jalani saat ini. Dari ribuan mahasiswa satu angkatan di kampusmu, apa yang membuatmu berbeda dengan mereka semua?
Apa “nilai lebih” yang kamu miliki dibandingkan dengan ribuan mahasiswa yang lain? Apa yang membuatmu merasa menjadi lebih berharga dan kamu merasa layak untuk mendapatkan peluang-peluang terbaik selepas lulus itu?
Lalu, setelah kamu lama merenunginya. Di semester tua yang semakin mencekam karena skripsi atau TA yang menghantui. Ada perasaan menyesal selepas bertahun di kampus dan kamu tidak pernah mengambil peran untuk menjadi apapun. Kamu sibuk dengan dirimu sendiri, pergi pagi dan segera pulang selepas kuliah. Itupun kalau tidak ada ajakan main dan nonton. Malas beroganisasi dan aktif di kegiatan baik di dalam jurusan maupun di luar jurusan. Tidak pernah mengambil kesempatan untuk ikut pertukaran pelajaran. Hampir absen disemua seminar dan kuliah umum di kampus yang diadakan baik oleh himpunan ataupun fakultas karena merasa itu tidak relevan dengan apa yang kamu pelajari.
Begitu banyak peluang yang datang dan kamu terus melewatkannya hingga tidak terasa penghujung semester telah tiba. Dulu, untuk bergerak keluar dari kamar kos yang nyaman terasa berat. Melawan terik matahari untuk berjalan dari kampus ke perpustakaan pun tidak kuasa. Diajak sedikit pusing memikirkan polemik kampus dan kegiatan kemahasiswaan pun enggan. Tidak pernah menambah jaringan pertemanan di luar kampusmu, bahkan tidak memiliki kenalan di kampus lain di luar sana.
Setelah sekian lama kamu merenungi pertanyaan,”Apa yang membuatmu berbeda dari ribuan mahasiswa lain di satu angkatanmu?”
Presiden Mahasiswa itu cuma satu orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan? Kabinet-kabinet BEM itu hanya diisi segelintir orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan? Pertukaran pelajar pun hanya mengirim beberapa orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan? Seminar dan kuliah umum itu pun hanya disediakan kursi untuk sejumlah orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan?
Di saat orang lain yang sebaya denganmu telah melesat begitu jauh. Kamu menyadari ternyata kamu tidak pernah menjadi apa-apa. Kamu tidak bisa menjelaskan apa yang telah kamu ciptakan demi kebaikan banyak hal di sekililingmu.
Dalam 24 jam yang sama. Ada orang yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri dan urusan banyak orang, ada yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri dan keluarganya, ada yang hanya bisa menyelesaikan urusannya sendiri, dan yang paling menyedihkan adalah orang yang bahkan menyelesaikan urusanya sendiri pun tidak bisa. Itu dalam 24 jam yang sama.
Maka benar bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat. Maka renungkanlah lagi, apa yang sudah kita lakukan selama ini?
Yogyakarta, 15 Januari 2016 | ©kurniawangunadi
Benar sekali...
Damn! Aku Kangen Rumah
Bahagia saat bisa komunikasi dengan keluarga di kampung. Meskipun jarak yang jauh, perkembangan Desa, berita tentang keluarga, hal-hal yang kecilpun bisa jadi berita yang.... Bikin kangen kampung!.. Nenek, adalah yang tidak pernah lupa ditanyakan kabarnya setiap kali keluarga telpon. Semoga Allah menjaganya, memberinya hidayah dan meng-anugerahkan khusnul khotimah kepadanya. Hafadzahallah... Aamiin.. Tadi sore ku-telpon-lah tante di kampung, sempat ngobrol sama nenek juga. Karena nenek gak bisa bahasa Indonesia, aku jadi kikuk karena kaku ngomong pake bahasa makassar. Hehe,.. Tapi walhamdulillah, sukses juga tanya-tanya keadaan nenek.. Kuingat, setiap kali liburan, pasti tidurnya bareng nenek. Wanginya itu looh, asli minyak urut.. 😘😘😘