terkadang, aku masih mempertanyakan, seberapa rasamu terhadapku. Tetapi semakin pertanyaan itu ku lontarkan ke hati, semakin sesak rasanya. Mungkin memang tidak perlu, sebab ikrar suci itu sudah diucapkan, Tetapi bagiku sangat perlu untuk tahu dan seberapa penting aku dalam hidupmu.
Namun, jika pertanyaan ini kukatakan kepadamu, pasti kau akan marah dan aku akan sedih, lebih sedih malah. harusnya memang aku tidak lagi memikirkan ini tetapi bagaimana ya, sikapmu yang kadang membuat aku ingin bertanya.
aku salut sama orang-orang yang berani dan sanggup untuk di poligami. kayak apa rasanya, memang si bagi yang ikhlas n ridho jaminanannya surga. kalau aku ngga siap sama sekali, ngga sanggup malah. punya suami yang punya mantan istri aja rasanya begini apalagi kalau suami punya istri lain.
Aku doakan semoga emba-emba atau ibu-ibu yang mengikhlaskan suaminya nikah lagi dikasih kekuatan, keikhlasan dan kesabaran agar surga yang nanti menjemput. aamiin.
eh, kok malah ngelantur si.
aku memang keras kepala, bahkan mengambil keputusan yang ektra ordinary. bapak sama ibuk sudah ngingetin, namun waktu itu aku percaya bahwa aku akan baik-baik saja, tidak masalah dan all is well. But now, semuanya ternyata tidak baik-baik saja. aku bisa menerima anak suami dengan baik meski adakalanya cemburu dan merasa terasing, merasa aku tak ada artinya. masalah tidak baiknya sebenarnya disitu, jika rasa ini ku konfirmasi sama suami pastilah jadi prahara. so, aku simpan saja. sama nulis disini.
aku yakin suatu saat nanti rasaku akan baik-baik saja. ikhlas seutuhnya. aku butuh nyamoah yang engga menyakiti siapapun. aku butuh cerita tetapi tidak menambah masalah. aku tidak mungkin nangis ngadu di depan bapak ibuk, karena mreka pasti akan mengembalikan ke aku. “kan kamu yang dulu mutusin untuk menerima?jadi ya sekarang harus bertanggung jawab. Yang ikhlas, yang sabar.” jawaban bapak pasti seperti itu kurang lebihnya.
memang ya ujian rumah tangga itu macem-macem, beragam dan mulai dari yang ringan ampe berat sesuai kadar kemampuan kita masing-masing. jadi kalau aku dikasih ujian seperti ini pasti bisa melewati. aku sudah biasa menahan ingin, mengalah dan berdamai dengan keadaan pahit. harusnya aku bisa lebih tegar, lebih kuat menjalani ujian ini.
aku harus kuat dan aku harus bahagia. aku bahagia dengan pernikahan ini meski tak luput dari luka dan kecewa. nah, maka biar tidak seperti ini, aku yang harus mengupayakan agar tidak terluka. semoga Alloh meridhoi.