Hari Raya Kemenangan : Kembali ke Fitri dan Esensialisme
Berpuasa yang diwajibkan bagi umat islam bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan hawa, nafsu, emosi, serta perilaku-perbuatan yang berpotensi menghilangkan pahala dan nilai puasanya (menahannya). Hal ini dilatar belakangi oleh hadist yang menyatakan bahwa tidak sedikit orang berpuasa yang hanya mendapat lapar dan dahaganya saja. Mengapa demikian?
Esensi dari puasa adalah proses menahan, memaksa tak hanya fisik dalam pembiasaan namun juga aktivitas non fisik. Berpikir, berkata, bertingkah dan berlaku positif yang dipaksakan agar menghidari puasa yang hanya mendapat lapar dan dahaganya. Selain sebagai detoxifikasi (aspek penyembuhan yang ada dalam diri) yang dianjurkan tak hanya oleh agama, namun juga oleh para pemikir dan filsuf, pembiasaan diri dalam hal positif bertindak-berlaku ini juga adalah proses mendidik jiwa. Harapannya, setelah satu bulan membiasakan diri selalu positif juga akan bisa juga mempertahankannya setelahnya. Maka hari kemenangan, hari raya idul fitri sudah seharusnya menjadi titik dimana jiwa sudah merdeka dari belenggu ego, nafsu, emosi, dan prilaku yang sebelumnya coba ditahan ketika puasa.
Kembali ke fitri, kembali murni dan ke sifat dasar manusia, kembali menuju esensinya, kambali menjadi suci, dan memulai lagi hari-hari pasca ramadhan dengan jiwa dan raga yang semoga bersih dari yang mengotorinya. Semoga 🙏🏼










