Tulisan : Tak Perlu Menahannya Pergi
Kalau anak-anak mau pergi ya nggak apa-apa, nggak usah ditahan-tahan nanti malah anak-anak nggak berkembang. Kalau kita sebagai orang tua sudah mendidiknya dengan baik. Nanti, kalau kita tua, anak-anak itu akan kembali dengan kesadaran dirinya.
Kurang lebih, itulah intisari dari apa yang diucapkan oleh ibuku ke saudara kami yang anak perempuan semata wayangnya mau menikah. Menikah dengan orang yang jauh dan mulai takut kesepian di hari tua karena tidak ada anaknya lagi di rumah, ikut suaminya.
Dan barangkali, ini adalah salah satu hal yang terjadi di antara kita. Saat kita ingin sekolah, bekerja keluar kota di tempat yang jauh, menikah dengan orang yang jauh, orang tua kita menahan dan melarang kita. Kita mengiyakan meski dalam hati memberontak.
Sebagaia anak satu-satunya, seingat saya, saya tidak pernah dilarang untuk melakukan semua itu. Dan hari ini, itu adalah hal yang sangat saya syukuri. Saya memilik ruang untuk melangkahkan kaki yang luas, bahkan ketika setelah saya menikah dan ingin tinggal sendiri. Orang tua, tidak pernah meminta kami untuk tinggal di rumahnya saja untuk menamani, sama sekali tidak. Saya dibiarkan mencari rumah sendiri, beli sendiri, bayar sendiri, beda kota, meski saya anak tunggal.
Dan benar, pada satu masa. Saya ingin menemani orang tua saya, tapi memang bukan saat ini. Kembali ke desa, bersama anak dan istri, membersamai hari tua kedua orang tua saya. Saya yang tidak pernah dikekang untuk melangkahkan kaki, memilih untuk kembali. Rasanya, ketika jarang ketemu, tahu-tahu orang tua sudah terlihat semakin menua, ubannya di mana-mana, sudah memasuki masa pensiun.
Nilai kebijaksanaan itu juga yang akan kuturunkan ke anak-anakku nanti. Anak-anakku tidak akan kukekang mau pergi sejauh apa, mengeksplorasi dunia ini sesuai dengan kehendak hatinya, ketika dia mau menikah dan tak lagi tinggal di rumah ini pun, tidak apa-apa. Saya dan istri, tidak ingin menjadi beban langkah kakinya dalam menjalani peran-perannya di dunia ini.
Saya yakin dan percaya, kalau kami mendidiknya dengan baik, dengan kasih sayang, mengajarkannya kebijaksanaan hidup, dan tidak menjadi bebannya dalam melangkah, nanti juga dia akan pulang dengan sendirinya.
Dan jika di antara kita ada yang saat ini, langkah kakinya sedang tertahan karena tak kunjung mendapatkan restu dari kedua orang tua. Jangan jadikan pengalaman tsb, sebagai pengalaman yang juga diberikan ke anak-anakmu nanti. Jadikan generasi kita, sebagai pemutus mata rantai tsb.
——————————————————————
Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya ‘kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti
Pulang ke rumah.
Di Beranda - Banda Neira
——————————————————————–
Yogyakarta, 17 Maret 2021