Semua orang bisa saja untuk membuat anak. Tetapi, belum tentu mereka mampu untuk menjadi sosok orang tua.
Apakah hanya ada istilah anak durhaka di dunia ini? Kenapa saya tidak pernah mendengar orang tua durhaka? Padahal, sudah berbuat keji terhadap darah dagingnya sendiri.
Nama saya kuntari. Disini, saya akan menceritakan kisah semasa saya hidup. Semua bermula karena saya dianggap anak haram. Ya, anak yang sanggup bertahan hidup setelah orang tuanya mencoba menggugurkannya.
Penderitaan harus melawan obat tidak hanya di alami semasa saya di rahim perempuan yang kusebut, ibu. Tetapi setelah lahir ke dunia, penderitaan demi penderitaan harus saya alami hingga saya beranjak remaja.
Berlaku kasar terhadap anak sedari dini baik secara verbal maupun fisik, pilih kasih, tidak pernah mem-validasi perasaan anak, menyerang secara psikis dan mental, menjadikan anak sebagai pelampiasan amarahnya, dan masih banyak lagi.
Kami, sebagai korban anak yang lahir karna married by accident. Tentunya tidak mempunyai kewajiban untuk menjadi sebuah pelampiasan amarah kalian, karena harus menanggung malu terhadap keputusan yang sudah kalian buat dengan kesadaran penuh.
Kalau bisa meminta kepada Tuhan, kami tidak meminta untuk dilahirkan dari rahim mu, ibu. Saya ingin seperti anak-anak lainnya, yang diharapkan, dikasihi, di mengerti, di beri kepercayaan, dan diperlakukan seperti anak mu yang lainnya.
Jadilah orang tua yang bisa mengerti, bukan selalu ingin di mengerti.
Pada dasarnya, tak selamanya apa yang di ucapkan dan di lakukan orang tua itu adalah hal yang benar. Komunikasi dua arah itu perlu. Sedari kecil saya tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih ataupun mengutarakan perasaan saya. Bahkan untuk berargumen, menjawab satu kata saja sapu siap meluncur ke pantat saya.
Contoh kecil, saya selalu menangis hingga kelas 1 SMP acap kali melihat rambut saya di depan cermin sepulang potong rambut. Ya, tentunya dengan gaya rambut pendek bondol yang selalu menjadi pilihannya, bukan pilihan saya.
Ya, mereka berdalih ucapan orang tua selalu benar, tidak usah menjawab atau melawan orang tua. Tapi kenapa mereka tidak ingin mendengarkan perasaan kami juga? Padahal, saya selalu ingin mendengarkan dia ketika dia marah-marah tidak berkonsep. Saya tidak tahu kenapa dia marah dan tidak mencari solusinya. Selalu membesar-besarkan sesuatu padahal bisa saja tidak dijadikan sebuah masalah.
Sebagai contoh, saya menumpahkan gelas berisi susu di atas meja. Dia marah-marah padahal dia bisa cukup mengatakan, lain kali lebih hati-hati ya nak, ayo kita ambil kain lap lalu di bersihkan mejanya biar bersih dan tidak banyak semut datang, selesai. Saya pun akan paham, dan di lain hari saya tidak ceroboh dan mengulangi nya lagi. Karena dia menjelaskan alasan rasionalnya dan melakukan sebuah solusi bersama-sama.
Saya memaklumi, di usia 24 tahun ibu saya tidak cukup tahu banyak akan ilmu parenting. Maka dari itu, anggap saja saya adalah kelinci percobaan dia dalam mendidik anak. Banyak kelirunya, tapi dia juga banyak belajar. Nyatanya sekarang dia memperlakukan adik-adik saya tidak seperti memperlakukan saya dahulu. Ada senangnya memang, tetapi ada sedihnya juga.
Disini saya tidak menyalahkan ibu saya, hanya saja. Saya cukup kecewa karena apa saja hal baik yang sudah saya lakukan tidak pernah cukup baginya. Sehingga ada titik dimana saya menyerah.
Karena saya tidak mampu merubah takdir saya bagaimana harus dilahirkan, tidak bisa memilih siapa ayahnya, bagaimana kisahnya, dan kenapa saya ada di dunia ini.
Ya, tidak heran kenapa saya sampai detik ini menjadi pribadi yang kuat. Karena sedari janin pun, saya sudah melewati begitu banyak hal yang membuat saya kesakitan, tapi tuhan menyelamatkan saya.
Tuhan memberi saya kesempatan untuk hidup, dan menginginkan saya untuk membuktikan kepada dia bahwa dia telah salah dulu berusaha memusnahkan saya dari rahimnya.
Tidak sampai disitu, saya harus melewati masa bayi saya hingga 3 tahun di panti asuhan bernama YPAB Permata Hati. Ya, waktu itu ibu saya harus menyelesaikan pendidikan nya untuk menjadi insiyur. Kabarnya, dia sesekali datang untuk menyusui saya.
Saya masih punya fotonya lengkap dengan gaya rambutnya yang pendek dan keriting ala tahun 90- an. Disitu saya merasa sangat di kasihi sebelum saya hadir di rumah ibu saya, sebuah keluarga besar yang cukup terpandang.
Ketika usia saya 3 tahun, ada seorang tentara dari klaten yang berminat untuk mengadopsi saya. Tetapi, ayah saya yang waktu itu merantau di kalimantan tidak tega dan menyuruh kakak nya untuk menebus saya di panti.
Tetapi saya tidak lama tinggal di keluarga ayah saya. Karena beberapa minggu kemudian, saya di ambil paksa oleh ibu saya. Dan sejak saat itu, kesengsaraan demi kesengsaraan pun di mulai.
Itulah mengapa saya bercita-cita untuk menjadi psikolog klinis anak. Ya, saya ingin mengedukasi para orang tua sekalian agar kalian berbekal ilmu parenting yang cukup baik, sebelum kalian mempunyai keinginan "membuat anak" dan bisa mendidik mereka dengan baik.
Karena saya tidak ingin nanti ada Kuntari-Kuntari yang lain lagi di dunia ini yang mana harus merasakan pola asuh yang tidak tepat. sehingga menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi yang pemberontak, tidak percaya diri, merasa tidak pantas, dan merasa tidak mempunyai siapa- siapa di hidupnya.
Saya tidak ingin banyak anak-anak diluar sana mengalami trauma yang diciptakan oleh keluarganya sendiri, hanya karena orang tua yang egois dan tidak ingin memikirkan perasaan anaknya. dengan dalih demi kebaikan anak, atau ingin anaknya menjadi orang yang sukses.
Tentu tidak dengan jambakan, pukulan bambu, memukul hingga berdarah, mengikat di tiang depan rumah dengan kain agar dilihat tetangga hanya karena main dengan teman sepulang sekolah, dan segala hukuman-hukuman lain kan, bu? Percayalah, bu. Kami justru tidak akan menurut, Tetapi kami semakin takut.
Contoh nyata adalah suatu hari saya menjatuhkan gelas, lagi. Karena saya akan tahu ibu akan marah besar kepada saya, akhirnya saya berbohong. Saya buang gelasnya di dalam plastik ke kebun. Agar ibu tidak tahu dan saya tidak kena omelan dan pukulannya.
Padahal, bonding dan komunikasi ibu dan anak itu sangatlah penting. Bagaimana anak bisa terbuka kepada ibu jika ada masalah, atau apa saja yang ia alami jika mereka saja tidak pernah mau memberi kepercayaan.
Bukannya mau terbuka, dan menjadikan mereka tempat kami mengadu, mencurahkan segala perasaan, masalah, kalau mereka saja membuat kita takut duluan. Akhirnya ya banyak terjerumus ke hal-hal yang negatif, karena mereka tidak tahu harus menuangkannya kemana. Misal, mabuk, narkoba, pergaulan yang tidak baik.
Dan saya harap bagi pembaca tumblr saya, mungkin diantara kalian ada yang bernasib sama seperti Kuntari. Melewati pola asuh yang kurang tepat, dan tentunya kita sadar saat nya kita akhiri cukup di generasi kita ini. Jangan sampai anak kalian bernasib sama halnya seperti yang Kuntari alami.
Saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada, Kuntari, terimakasih sudah menjadi pribadi yang kuat hingga saat ini.
Terimakasih juga kepada pihak-pihak panti "Yayasan Pemeliharaan Anak dan Bayi Permata Hati" yang sudah merawat saya semasa saya hidup di panti. Terimakasih juga untuk, ibu. Berkat ibu, kuntari bisa mendapat kesempatan merasakan bagaimana kehidupan di dunia. Ibu, Kuntari sudah memaafkanmu.