Bagaimana jika rasa cintamu kepada seseorang hanyalah demi mendapatkan perhatian?
Kamu tentu masih ingat betapa cintanya kamu sama dia, sampai berusaha mencari akunnya hanya supaya bisa berkomunikasi dengannya. Betapa bahagianya kamu ketika berhasil mendapatkan kontaknya. Kamu masih ingat, kan?
Bagaimana jika menyenangkan seseorang hanyalah bentuk putus asa karena tidak bisa dilakukan kepada dia yang kamu cinta?
Suatu hari, kamu mencoba membahagiakan dia yang kamu cinta dengan caramu sendiri. Cara yang bagimu tepat, tapi muak bagi dia. Setelahnya, kamu tidak lagi melakukan caramu. Kamu buang semua usaha bodoh yang kamu lakukan selama berbulan-bulan, hingga akhirnya kamu merasakan penyesalan. Kamu masih merasakannya, kan?
Bagaimana jika selama ini, apa yang kamu lakukan adalah sebuah pelarian atas harapan yang tak tercapai?
Saat itu, kamu bertemu seseorang. Dia lebih bisa diajak ngobrol meskipun hanya via pesan singkat. Sampai kamu merasa nyaman. Tapi, ada perasaan bingung yang muncul. Haruskah aku melepaskan dia, dan lebih intens dengan seseorang? Ataukah aku tetap menunggunya dan menghiraukan rasa nyaman bersama seseorang? Kamu masih ingat kebimbangan itu, kan?
Pada akhirnya kamu tidak membuang rasa cintamu kepada dia. Kamu berusaha menyimpannya di tempat orang-orang tidak bisa melihatnya. Kamu masih saja menikmati tulisannya. Bahkan, sesekali kamu bertukar pesan via WhatsApp. Kamu bahagia sekali. Kamu hanya menurunkan rasamu, agar tidak melewati batas.
Sampai saat ini, kamu pun tau bagaimana perasaanmu kepada dia. Tapi....
Bagaimana jika dia tidak berubah? Bagaimana jika...ah sudahlah.
Apapun kemungkinannya, Aku masih mencintaimu dengan caraku sendiri.