Because the heart wants what the heart wants. . . #SejatinyaAkuSeniman #PenulisIndie #ManusiaMultiDimensi #ThrowBack #2016 #BestMoment
Not today Justin

Origami Around
Claire Keane
YOU ARE THE REASON

titsay
tumblr dot com
EXPECTATIONS

Discoholic 🪩

Love Begins
Noah Kahan
One Nice Bug Per Day
Cosmic Funnies

oozey mess
I'd rather be in outer space 🛸
KIROKAZE
$LAYYYTER
Mike Driver
Game of Thrones Daily

No title available
Show & Tell
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Austria

seen from United States

seen from Australia

seen from Italy
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Austria

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@aksaratuannona
Because the heart wants what the heart wants. . . #SejatinyaAkuSeniman #PenulisIndie #ManusiaMultiDimensi #ThrowBack #2016 #BestMoment
jika rindu adalah benih cinta, maka pertemuan-pertemuan adalah pupuknya dan hati yang bersih adalah taman terindah dimana kau tempatkan tanaman cintamu yang berbunga-bunga
tuan
panjang angan, mengentaskan kerinduan adalah omong kosong
tuan
sekuel?
yap, harus :)
Percakapan di Meja Makan (Reza)
kau tak perlu repot-repot mengunjungi pusaraku lagi sayang. aku malu dengan mayat lain, kondisi kami sama-sama membusuk tapi tanah kuburku selalu basah, harum kelopak mawar merah dan putih tak pernah hilang, nisanku paling bersih. kau tak pernah terlambat datang, selalu tepat pukul lima, suaramu membangunkan tidurku. lalu kau ceritakan seluruh harimu, rinci, serinci warna mahkota prabu yudhistira di atas wayang kulit.
wajahmu sendu, selalu sama dari pertama kali kita bertemu. senyummu bahkan tak pernah sedikitpun layu. sesekali kau bawa anak jalanan kita. membiarkan mereka bermain di sana, meramaikan suasana pemakaman yang sepi.
aku sekarang di depanmu. mengamati tingkahmu yang khas di meja makan. tepat pukul tujuh, kau selalu datang tepat waktu menaruh piring lalu menghangatkan makanan yang kau beli di jalan. kau masih sama, tidak suka ikan, dan masih minum teh tawar.
aku duduk di depanmu. memandangi kerling matamu yang jernih. bila datang sedih ingin rasanya kurangkul lalu kuseka air matamu. karena tak ada yang lebih menyenangkan daripada menyeka air mata kekasihku dengan punggung tanganku sendiri. bila sudah pecah tangis, tak ada mega yang lebih mendung dari matamu, aku ingin dimandikan hujan air matamu, kuteguk semua sedihmu agar sedihmu memenuhi aku lalu bahagiaku memenuhi kamu.
aku masih di depanmu, cara makanmu tak berubah, masih rapih seperti mengatur perlengkapan bayi. hey, kalau kita menikah sepertinya kita sudah punya satu bayi, tapi kau akan lekas hamil lagi hahahahaha.
dua tahun berlalu rava, 730 hari tanpa pernah absen kau datang. aku bosan tinggal di sana sendirian. sebenarnya aku, sudah lama mengikutimu. kalau kau bisa merasakan keberadaanku, kau takkan menyebutku hantu bukan?
jika saja kau bisa mendengar suaraku, akan kuungkap semua rahasia laras yang selama ini kita cari. rahasia keluarga kita, nostradamus sampai jayabaya. kau tidak akan memercayai ini.
setiap hari doaku sama, semoga kau bisa mendengarku. cepat selesaikan makanmu, kau telat 13 detik. aku harus pergi.
sampai jumpa besok, di meja makan.
Cerpen - Perang
Sendunya jadi rindu. Tawanya jadi semu. Bergulung perempuan tua itu diperapian. Kaku membiru mengemis kasih dari uluran tangan sesosok pengasih. Tuanya jadi arang, padahal mudanya berdiri tegak cemerlang berkilauan. Baju zirahnya lenyap dicuri orang. Cukup untuk mereka beli makan hingga sebulan kedepan, persetan dengan kaku biru kedinginan perempuan tua berambut pirang itu. yang penting sesuap nasi bisa membungkam tiga empat mulut semalam-malaman daripada mengurus seorang renta yang sudah berbau kuburan.
Pemuda itu menyambung nafas yang tercekik genggaman tiran. Semua yang bersayap malaikat bisa saja berbau setan, juga sebaliknya, setan menyembunyikan tanduknya di balik sorban atau kopiah hitam. Api di mana-mana. Di jalanan juga di hati. Lapangan ibu kota jadi saksi pembantaian seribu rakyat yang mengemis keadilan. Hati yang lapang menjadi kuburan masal untuk asa dan harapan. Bagi kami tak apa mencuri, jika hasil curian kami memberikan kami tenaga untuk mengobarkan bendera revolusi. Rakyat harus makan, maaf kami pinjam sebentar makanan kalian. Kelak jika tirani telah runtuh, kita adakan pesta besar di alun-alun kota untuk mengganti makanan kalian yg kami pinjam. Hilang rasa cinta. Hilang peluk hilang tawa. Perut lapar merenggut kasih sayang. Bahkan tulang belulang tetangga rela dihisap demi mendapat rasa kenyang. Negeri kami poral poranda kawan. Jangan berani kau sebut zombie, nanti ribuan malaikat maut tanpa ragu menghampir lewat tangan tangan kami. Bukan virus bukan bakteri. Tapi pikiran kami habis dicuci kezaliman kapitalis yang merusak ujung ujung saraf kepala kami. Pandang jeli keatas. Kau lihat jendela jendela kaca macam tak tersentuh debu perpindahan kembali zaman purba. Disitu para pemegang kekuasaan bersembunyi. Disitu para penguasa angkat kaki, merokok cerutu sore hari sambil memandang puas atas kerja kerasnya selama ini. Tiada lagi hati nurani. Kami sudah teronggok basi tanpa arti.
bisa saja sore ini kami bergerak. sembunyi-sembunyi atau baris-berbaris rapih di jalan-jalan protokol kota kami tak peduli, peluru peluru itu takkan mampu mematikan nyali kami, toh peluru itu dibeli dengan uang kami. tapi kami memilih menunggu, menunggu teman-teman kami yang masih memakai seragam tentara itu sadar kalau mereka menodongkan senjata ke arah yang salah. "mau ditunggu sampai kapan dik? mau sampai anakmu itu memakan adiknya sendiri hah?!" yang ditanya hanya diam memandang kosong ke arah jam yang bisu karena sudah lama tak disisipi tenaga baru. "kamu itu tumpuan rakyat, semuanya bergantung sama kamu dik, kamu harus memutuskan keputusan sekarang." lagi lagi yang ditanya hanya diam. kali ini ia melirik mesin pengirim pesan telegram. matanya seperti menyala, dari mulutnya terdengar gemelutuk gigi yang geram. jika mereka yang duduk duduk sambil mengisap cerutu di sana ingin menikmati negri ini sendirian, maka kami sebagai rakyat yang baik melayani penguasanya akan menyuguhkan sebuah suguhan yang amat menarik, yaitu sebuah pemberontakan. anggukan pemuda itu kepada juru ketik mesin telegram membuat satu ruangan sibuk, pesan pesan dikirimkan, pos pos perlawanan menyalakan tanda pergerakan. bendera revolusi sudah dikibarkan. rakyat bergerak cepat menuju satu titik. mungkin sore ini mereka akan mati, atau mungkin penguasa itu akan pergi.
koar koar pemberontakan terdengar diiringi kibaran api dan tembakan peluru bebas keudara. ribuan baju lusuh compang camping berdiri untuk yang entah keberapa kalinya teriak kata "BEBAS!" "HANCURKAN TIRANI" sedemikian rupa. didengar? jangan harap. bagai berbisik pada ujung batu. tiada guna, bahkan kau sempurna dikata gila. beberapa saat yang tidak lama setelahnya, sebutlah setengah hari mendemo pemilik cerutu gedung tinggi itu, ribuan orang yang memiliki lambung lambung kosong yang mulai mencerna dirinya sendiri untuk mendapatkan gizi itu berteriak lirih sekali. semakin lama teriakan semngat itu memelan, bahkan tujuannya pun berubah perlahan. persetan kata bebaskan, merubah revolusi, mengahcrkan perut perut bunvit itu agar meraskan hujaman bumi. "kami ingin sesuap nasi" "air keran pun sangat berarti, tuan. bisakah kau sedikit berbagi." hanya itu lafaz yang mampu mereka zikirkan hingga berpuluh puluh kali. bumi bukan lagi jadi saksimu menjadi damai kini nak. bumi porak poranda. hingga bulan pun tampak layak menjadi tempat peristirahatan utama.
Maka di tanah yang berdarah-darah itu, banjir air mata dan darah menjadi pemandangan memilukan tiap pasang mata anak dunia yang menyaksikan kemegahan negri itu berubah menjadi arena penjagalan hak asasi manusia.
Tumbuh benih persaudaraan dari hati pemegang senapan. Tak tega melihat manusia sejenisnya terkapar penuh lubang menganga lalu ia tarik dirinya dari pasukan, tak disangka benih itu tersebar sporadis, tumbuh subur di hati para tentara. Nahas cerutu baru dibakar, belum ada dua hisap pintu persembunyian pemimpin lalim itu didobrak sekawanan tentara yang kini jelas pandangannya, jelas kesetiaannya untuk siapa. Satu peluru ditembakkan, persis menyasar kepala. Cipratan darah kental mengotori peta negara. Impas.
Kalau nadiku bisa dengan cepat mengantarkanku menuju pelukanmu sebelum aroma rindu ini tercium hidung bulatmu, maka kusayat nadi ini sebelum air mataku tuntas leleh sampai dagu, Rava.
Reza
seriusin gak nih? hehe cc: soramedina & ahmadwildaaan
cover by: auleey
semua sifat itu baik, sikap yang membuatnya terlihat buruk.
dan sifat itu bawaan lahir, sikap bisa dirubah
hati manusia itu bagai kolam. sifat buruk membuatnya bergejolak mencampurkan air dan kotoran. maka ketenangan membuat kotoran-kotorannya mengendap dan menjernihkan permukaannya
duduk bersila dan hadapkan hatimu kepada tuhan, agar ia berikan ketenangan.
kau tidak akan ditemukan cinta sebelum kau membersihkan hatimu. karena tak akan ada yang mau bertamu ketika rumahmu kotor.
ayo bersih-bersih
tuhan tau, tapi ia menunggu
untuk yang hampir putus berdoa
Selamat pagi teman-teman semoga senyuman dari orang-orang yang kalian cintai meringankan langkah kalian :)
Kami tunggu kritik dan saran kalian di inbox kami yaa :D
Milyaran kepala tunduk kepada takdir, apa jadinya jika manusia mampu menundukkan takdir? Maka cinta, harta dan tahta berhasil digenggam.
Namun apakah manusia akan puas?
Reza Rava, goresan aksara Tuan & Nona.
now you can read it freely in a pdf format. ENJOY!
https://docs.google.com/file/d/0Bt7b9INRsqMlQwNF80c1FTRWM/edit?usp=docslist_api
Please respect our books by not rewrite your name on it or even do plagiarism.
Terimakasih sudah menyempatkan waktu sibuknya untuk membaca karya kami. Kritik dan saran akan selalu kami tunggu untuk mengahasilkan karya hebat berikutnya :)
#aksaratuannona #art #sephia #sketch
ENTAH YANG KEBERAPA MEREKA MULAI MENULIS BERSAMA LAGI
saat ditemui di kamarnya, reza sama sekali tak menoleh, bahkan tidak menyahut saat dipanggil. mungkin jiwanya sedang menari dengan gerakan pena di atas kertas kertas itu.
baru ketika ditepuk bahunya oleh rava ia menoleh. matanya seketika berbinar melihat siapa yang datang.
"rava?" ia kaget tidak sadar rava sudah ada di sebelahnya.
"mencoba mencampuri takdirku lagi, tuan?" tanya rava sebal sambil mencubit perut reza.
"eh? bukan bukan, aw." jawab reza gelagapan.
mereka berdua tertawa, kerinduan mereka tumpah dengan kejadian aneh pagi pagi.
"kita ditakdirkan untuk menulis cerita, rava." ujar reza membuka percakapan. mereka sudah duduk di depan meja kerja reza, rava duduk di kursi sebelah reza. reza berbicara sambil meneruskan menulis.
"ya tapi bukan takdirku."
"jangan ge er yang ku tulis bukan hanya kamu, ada aku, ada laras, ada teman-temanmu, ada teman-temanku. aku menulis dunia ini rava."
"bagaimana kamu bisa percaya ceritamu akan menjadi kenyataan?"
"aku tinggal percaya, dan bercerita begitu lepas sesukaku."
"apa kamu pernah merasa semua yang kamu lakukan berjalan sesuai dengan maumu? maksudku apa kamu merasa segala yang terjadi adalah kehendakmu?"
"ah tidak juga rava, sebenarnya aku hanya penulis cerita, boleh kamu sebut aku pembual. tapi ceritaku ditakdirkan tuhan untuk menjadi kenyataan. masih ada takdir tuhan diatas ceritaku, cerita kita. dan kita ditakdirkan untuk itu."
rava terdiam.
reza melanjutkan kata katanya, kini ia genggam tangan wanitanya.
"ravanda medhira, maukah kau menulis lagi bersamaku? selamanya?"
anggukan rava membuat terang suasana hati reza.
Cerita apa lagi?
akhir akhir ini tidak ada apapun seputar mimpi. rava terlalu sibuk dengan segala persiapan kuliahnya. minggu ujian didepan mata, sekaligus penentuan apa ia bertahan atau justru terusir dari pendidikan profesi yang sedang diambilnya. tidak main main, bahkan segala tindak tanduk seru yang disampaikan ahmad disetiap kunjungannya kerumah rava tentang proyek mereka hanya ia gubris ala kadarnya. asal tanggung jawabnya pada proyeknya selesai, sudah. ia kembali berkubu pada kesibukannya.
sesaat waktu terasa berhenti. rava tahu, reza pasti sedang menulis di buku takdir. membawa namanya. perasaan itu sudah menjadi suatu kebiasaan, hingga rava sadar akan perbedaan yang terjadi diantaranya.
sontak ia berdiri, meninggalkan tumpukan bukunya. bergegas pergi kerumah reza. ia tidak ingin lagi terlibat apapun dengan cerita yang dibuat reza. nanti semuanya berjalan terlalu rumit. rava tidak siap menerima kejutan apapun sekarang, isi kepalanya terlalu penuh untuk dipecahkan dengan kejutan cerita reza. biarlah ia menanggung malu karena kemarin pergi tanpa kata dari hadapan reza daripada ia harus menanggung lika liku cerita yang tergoreskan pada buku takdir.
sesampainya ia, pintu diketuk perlahan. paras cantik laras yang pertama kali dilihatnya. senyum keduanya merekah, sudah lama sekali tidak berjumpa.
"kamu benar, ia sedang menulis." sambut laras sambil memeluk hangat rava. "dan kali ini ceritanya indah sekali, aku saja rela dihabiskan ceritanya oleh reza." bisik laras setelahnya.
cerita apa lagi?