Perempuan Independent
Mungkin itu adalah lebel yang disematkan pada seorang perempuan yang hidupnya terlihat mandiri di setiap saatnya. Nyatanya memang keadaan yang memaksanya menjadikan semua harus dilakukan sendiri tanpa harus merasa merepotkan orang di sekitarnya.
Siapa yang akan peduli dengan hidupnya yang bagi sebagian orang terdekatnya adalah sebuah beban dalam hari-harinya? Tak ada, sejak kecil harus belajar untuk mampu menghadapinya sendiri. Apa itu maunya? Tentu tidak! Pernah sekali dua kali mencoba hal yang sama seperti teman-temannya kalau ada sesuatu ada tempat untuk cerita dan membela. Nyatanya takdir Tuhan tak sama dengan mereka, Apa yang di dapat setelah itu? Kecewa, ya kecewa karena oleh ekspektasinya sendiri tentang kehidupan yang didambakan akan sama dengan mereka-mereka.
Mungkin sejak itu ia mulai sadar dan tau diri dia berbeda, mungkin bukan secara fisik ya tapi lebih berbeda dari bentuk sikap-sikap dunia padanya. Akhirnya waktu menjadikan ia menjadi perempuan yang mandiri dan tegar dengan ego yang dikenal bagi sebagian orang sangat tinggi.
Dunia memaksa ia untuk terus berjalan meski dengan tertatih-tatih. Sedih dengan berlari dan akhirnya angin yang menghapuskan air matanya. Mata sembabnya yang tidak bisa disembunyikan namun ditutupi dengan bibir yang tersenyum lebar. Rasanya jika ada yang peka, mata memang tidak bisa berbohong. Nyatanya dunia tidak peduli dengan semua yang terjadi padanya.
Malamnya bertemu dengan sepi dan lagi-lgi harus meneteskan air mata. Kadang malamnya menjumpai tubuh yang panas dingin, namun paginya harus tetap seperti biasa untuk bekerja. Tampilan setiap pagi menggunakan gincu atau bahkan bedak tebal bukan untuk menarik orang lain untuk suka, itu semua untuk menutup bekas tangisan dan bibirnya yang selalu pucat. Ia pandai memakai topeng hanya untuk menghindari pertanyaan yang hanya formalitas dari mereka mereka yang tidak sungguh peduli.
Sisi lain yang terlihat buruk adalah sikapnya yang cuek sdan tidak peduli. Tapi apakah mereka tau ia dibentuk oleh apa? Perempuan itu pernah percaya, namun seketika dipatahkan oleh keadaan yang membuatnya tak percaya pada siapa pun.
Kini perempuan itu telah tumbuh dewasa, tumbuh dengan kesadaran betul bahwa ia harus terus menguatkan kakinya untuk terus berjalan maju tanpa melihat apa yang sedang ia tapaki dan lalui. Ia harus terus bekerja keras sendiri untuk terus bisa hidup tanpa merasa menjadi beban siapapun lagi.













