tentang manggul
Di negeri ini, memikul beban sering kali baru dianggap kerja kalau ada kamera di depannya.
Padahal jauh sebelum tutup lensa dibuka, rakyat sudah lebih dulu menunduk —bukan karena hormat, tapi karena punggungnya sibuk menopang hidup.
Kami manggul tiap hari. Tanpa briefing atau konferensi pers. Tanpa caption yang disiapkan tim humas.
Bedanya, kami manggul karena perlu, dan sebagian pemimpin manggul karena ingin... dilihat.
Lucunya, yang dipikul sering sama: beras, bantuan, atau simbol penderitaan.
Yang berbeda cuma satu: setelah foto diambil, bebannya bisa diturunkan. Sedangkan rakyat tidak. Kami pulang tetap membawa beban, besoknya manggul lagi, lusa masih sama, tahun depan belum tentu berubah.
Tapi tak apa. Kami sudah terlatih sejak lama. Sejak kebijakan sering terasa lebih berat daripada karung yang ada di pundak.
Dan soal pencitraan, jujur saja—kami pun kadang melakukannya. Biar terlihat kuat. Biar terlihat sanggup.
Tapi kami pura-pura kuat supaya bisa bertahan. Sedangkan mereka pura-pura peduli supaya bisa bertahan di jabatan.
Kami pura-pura kuat supaya tetap hidup. Bapak-bapak yang terhormat pura-pura peduli supaya tetap dipilih.
Kalau kata mamang mah ya, biarlah rakyat saja yang manggul beras. Pemimpin cukup memikul amanah. Itu saja sudah berat.
Terakhir, mamang cuma pengen bilang: "emang Bapak doang yang bisa manggul..??"
tji leng shi, siang januari yang rada terik















