13) Tanda Tangan (dalam Tiga Puluh Hari Bercerita)
"Pepatah bilang, perut yang lapar tidak memiliki telinga," ucap Meja yang murung.
Stempel yang melankoli dan karibnya, si Pulpen, tampak kebingungan.
"Kau mengerti apa yang dikatakan Meja?" tanya Stempel.
"Entah. Tapi, kau tau apa yang lebih mengkhawatirkan dari sebuah meja sok bijak? Lihat, tintaku hampir habis," ucap Pulpen, "Dan tiga ratus lembar Surat Keputusan sudah kutandatangani sejak kedatangan kita!"
Stempel terlihat sedih, "Aku begitu khawatir kau akan digantikan."
Pulpen mengela napas, "Enak sekali jadi kau. Punya masa jabatan lebih lama."
"Entahlah. Aku tidak paham kenapa belum ditugaskan. Padahal kertas sudah bertumpuk."
"Coba tanyakan sendiri pada meja sok bijak itu? Dia sudah lima tahun di ruangan ini," ucap Pulpen menatap kosong langit-langit.Â
"Dari mana kau tau kalau dia sudah bertugas lima tahun?"
"Lihat. Di kakinya, ASET PROVINSI 2019."
Stempel menatap meja penuh harap, "Wahai Tuan Meja, kenapa kertas-kertas itu belum bisa kuberi cap pengesahan? Padahal tupoksiku ada di situ. Kasihan sekali mereka. Pasti sesak sekali bertumpuk begitu."
"Kertas paling bawah yang pertama kali dibubuhi tanda tangan oleh si Pulpen sejak kalian tiba, kalian tau namanya?" tanya Meja tiba-tiba.
Stempel menoleh ke tumpukan kertas. "Hai tuan kertas paling bawah, bolehkah perkenalkan diri?"
"Mustafa, S.Pd. Masa jabatan 20 tahun, usia 53 tahun. Aku SK kelima yang diutus tuanku dan tiba di sini setelah perjalanan jauh dari sekolah terpencil. Aku hanya ingin naik pangkat sekali saja."
"Kasihan sekali. Tuan Meja kenapa kau menanyakan itu?" tanya Stempel bersedih.
"Tunggu saja, sekarang tugasmu akan kau laksanakan," ucap Meja.
"Benarkah?" Berbinar wajah Stempel kemudian berkata, "Aku senang bisa membantu Mustafa, S.Pd."
Sepuluh lembar tunai, berwarna merah, terikat rapi, bergambar presiden dan wakil presiden pertama, tergeletak mewah di meja. Dua sungging senyum dan satu kertas SK yang baru saja datang. Pulpen menunaikan tanda tangan terakhirnya, stempel melaksanakan tugas pertamanya, tapi bukan untuk kertas Mustafa, S.Pd.