3 BUKU DI BULAN 3
Pada tahun sejak lahir hingga masa kecilnya Bele Antonius hidup dalam tradisi adat istiadat orang Buna'. Salah satu etnis yang ada di Pulau Timor. Di Belu, orang Buna' berdiam di wilayah dataran tinggi bagian utara Kabupaten. Berbatasan langsung dengan Distrik Bobonaro - Timor Leste. Hingga pada 2006 Bele fokus belajar tentang Capital, sebagai modal dalam pembangunan. Social Capital, Human Capital dan Spiritual Capital. Memory, ikatan masa kecil membuat nya fokus pada Spiritual Capital. Setelah perjalanan panjang studinya di luar, Bele kembali ke tanah tempat dia dilahirkan. Buna'. Pulang kepada memori, pulang kepada wajah-wajah familiar dengan kesadaran baru, misi baru. Mendokumentasikan dan mengelola pengetahuan budaya etnis Buna'.
Sebaran Etnis Buna' cukup luas. Bele fokus di wilayah Henes - Lakmaras. Tempat dia lahir.
Melihat kembali siklus kehidupan yang berputar disana, sistem perkawinan, pola kepemimpinan, kesenian rakyat, hingga Esensi Religi orang Buna' (Hot Esen). Kali ini Bele melihat ini semua bukan hanya dengan perspektif nya sebagai anak-remaja yang tumbuh disana. Bele datang dengan perspektif seorang manusia yang akan memperoleh gelar Doktor.
Belum tuntas saya baca buku ini.
....
....
Au Loim Fain menjadi kalimat yang terus 'mengganggu' pikiran Romi Perbawa sejak ia mengunjungi Desa Oenino, Timor Tengah Selatan. Wilayah yang didiami oleh masyarakat etnis Dawan. Tempat kelahiran almarhumah Adelina Sau.
Pada February 2018 lalu, Adelina meninggal dunia akibat siksaan majikannya ketika menjadi pekerja migran di Malaysia.
Adelina adalah salah satu korban praktek jahat agen Human Trafficking yang dalam proses perekrutan hingga pemberangkatan, identitasnya dipalsukan oleh agen yang memperjualbelikan-nya.
Au Loim Fain yang menjadi judul buku foto Romi Perbawa adalah kalimat terakhir Adelina.
Delapan tahun Romi melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia, Malaysia & Hongkong tuk memotret. Melihat, merasa, mendengar langsung cerita dari subyek-subyek yang ia bingkai. Dan akhirnya buku ini diterbitkan oleh Panna Foto Institute pada 2021. Proses panjang yang membutuhkan modal komitmen serta tuntutan konsistensi yang bukan main-main.
Apa sih yang bikin Om Romi melakukan ini semua? Apa yang mendorong nya begitu kuat?
Romi Perbawa bukan foto jurnalis. Dia juga bukan wartawan, setau saya dia juga bukan peneliti.
Romi yang saya kenal adalah pengusaha yang gemar berfotografi, kemudian memilih fokus pada Fotografi Dokumenter. Oh, om Romi juga adalah seorang suami dan ayah dari anak-anaknya.
Au Loim Fain adalah Karya Buku Foto kedua yang ia buat. Karya sebelumnya lahir pada Tahun 2014, yaitu buku foto berjudul The Riders Of Destiny yang diterbitkan oleh GFJA.
Membaca Au Loim Fain, membawa memori saya kembali kepada cerita The Riders of Destiny. Buku yang bercerita tentang kehidupan para Joki Kuda anak-anak di Pulau Sumbawa - NTB. Walau isunya berbeda.
Pada 2018, dalam perjalanan bersama menuju Desa Toi'anas, saya mendengar cerita tentang hal yang membuat om romi masuk dalam cerita kehidupan para joki cilik di Sumbawa.
Berawal dari sebuah foto yang dia bingkai. Foto yang menggambarkan seorang anak kecil yang jatuh terkapar di lintasan arena balapan kuda. Visual yang menggelitik kencang hatinya sebagai seorang ayah. Kemudian memantapkan dirinya tuk merekam segala detil yang tak terlihat oleh ramai penonton balapan kuda, riuh penjudi yang bertaruh jutaan rupiah, politikus yang doyan memanfaatkan keramaian.
Di lintasan arena, kuda terus dipacu hingga kecepatan maksimal nya. Joki anak dipilih karena memiliki berat badan yang ringan. Beban Kuda menjadi lebih enteng, larinya kencang. Strategi yang bukan baru. Ini sudah dipandang sebagai tradisi yang perlu dijaga. Om Romi mengalami langsung ini semua sebagai seorang ayah.
Dalam Au Loim Fain, om Romi mengangkat isu terkait Pekerja Migran Indonesia. Secara khusus, perhatiannya fokus pada hubungan antara yang merantau berkerja sebagai PMI dan yang ditinggalkan di Kampung Halaman. Bagi saya, ada benang merah yang terhubung diantara Au Loim Fain & The Riders Of Destiny. Anak-anak.
Saya dan anda, tentu pernah menjadi anak-anak. Dan nanti akan/telah menjadi ayah/ibu dari anak-anak.
Insting om Romi sebagai ayah membawanya menuju Desa Toianas, Kecamatan Amanatun Tengah Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Saya senang sekali ketika diajak tuk ikut menemani. Melihat langsung seorang fotografer dokumenter bekerja adalah berkat buat saya yang lagi belajar soal fotografi dokumenter. Waktu itu, saya memilih tidak membawa kamera. Agar fokus menyimak setiap proses dan membantu sebisanya.
Amanatun terbagi dalam dua wilayah. Utara dan selatan. Utara mencakup wilayah dataran tinggi, sedangkan selatan di wilayah sepanjang garis pantai. Wilayah Amanatun dikenal dengan citra yang menakutkan. Tidak semua orang bernyali tuk masuk telusur selak beluknya. Reputasi "Teku" yang lekat dengan perampokan hingga pembunuhan menjadi bayangan ngeri kebanyakan orang. Hari itu kami di neko-neko oleh kerabat di Betun untuk tidak masuk kesana pada waktu hari sudah gelap.
Tuk sampai di Toianas memang lebih mudah lewat wilayah Kabupaten Malaka. Karena berbatasan langsung. Sungai menjadi batasnya. Mobil dengan kapasitas tenaga yang besar dengan kaki-kaki yang kokoh yang mampu mengantar kami kesana.
Pikir saya, kondisi inilah yang membuat wilayah Amanatun masih banyak yang terisolir. Akses jalan nya buruk. Pembangunan sarana publik lambat.
"Orang dari kantor pemerintah di Kota So'e hanya berkunjung pas mo Pilkada sa" ungkap bapak pemilik rumah yang kita tinggal selama disana.
Saya lupa nama si bapak. Dia adalah Kepala Sekolah. Sekolah yang gedungnya sudah lenyap akibat longsor. Hingga akhirnya, dia memanfaatkan Halaman rumah pribadinya menjadi ruang-ruang kelas yang disekat dengan bahan seadanya. Seperti tenda nikahan yang dibuat menggunakan dinding pembatas daun kelapa.
Waktu itu, lagi musim penyakit sepertinya. Dalam jelang waktu yang tidak terlampau jauh, ada yang meninggal karena TBC. Entah benar atau tidak, tapi kami sempat menghadiri salah satu acara pemakaman.
Om Romi mencari tau tentang keberadaan keluarga yang merantau sebagai PMI. Dan mulai berkunjung ke pintu demi pintu. Anak-anak yang bermain dihalaman bubar. Lari bersembunyi dibalik pohon, ke belakang dapur kemudian mengintip penasaran. Kita bertemu dengan laki-laki dan perempuan tua. Berkenalan, bercerita dan meminta ijin tuk memotret.
Pada satu lopo, seorang kakek berbaring dekat tungku kayu. Dia lagi sakit. Mungkinkah TBC? Entah. Dia dirawat oleh nenek dan cucu-cucunya yang masih anak-anak, paling besar umur remaja. Yang remaja mengurus adik-adiknya juga bekerja membantu nenek dan kakek.
Pelan-pelan anak-anak yang bersembunyi memberanikan diri tuk mendekat. Bunyi klik kamera terdengar. Sembari hasil pembingkaiannya ditunjukan kepada anak-anak. Mereka mendekat, melihat, tertawa sambil kembali menjauh. Semacam menjaga jarak aman.
Dihalaman yang lain, kami bertemu dengan anak remaja perempuan. Matanya jernih, kuat. Tidak ada ketakutan. Kecantikan Timor tergambar pada dirinya. Senyumannya ikhlas. Dia rajin mengambil air dari sumur yang letaknya lumayan jauh dari dapur rumahnya. Dia juga sudah pandai memasak. Teduh sekali rasanya ketika bercerita dengannya. Namun muncul juga kekhawatiran disaat yang sama. Bagaimana jika para Agen TKW datang dan membujuknya dengan cerita kemewahan kota besar di negara asing? Apakah dia akan terima dengan senyuman ikhlas yang sama?
Pemuda/pemudi yang juga orang tua dari anak-anak ini pergi dengan mimpi akan kesejahteraan yang lebih baik. Setiap bulan ada yang mengirim uang tuk dipake membangun rumah tembok. Rumah tembok semacama simbol keberhasilan akan capaian hidup sejahtera. Membuat status sosial menjadi lebih terpandang dan standar panutan tuk keluarga yang lain, tuk generasi usia produktif dimasa sekarang.
Lima hari kami berkeliling di Toi'anas. Lima hari juga om Romi tidak mandi, susah BAB. Kita pergi pada masa air susah. Kondisi toiletnya bisa terbayang.
Pertanyaan ini muncul lagi, apa yang mendorong om Romi tuk menjalani ini semua?
Hingga saat ini, saya merasa karena om Romi melihat ini dengan hati seorang Ayah. Anak-anak di Sumbawa, anak - anak di Toi'anas, Oenino, di Flores, beberapa daerah di Jawa, hingga yang lahir dan dibesarkan di kebun sawit dan kompleks pabrik, proyek di Malaysia, Hongkong, Om Romi menempatkan mereka sebagai anak-anaknya. Dan dengan pendekatan fotografi dokumenter dia ingin agar cerita-cerita ini didengar dan dirasakan sehingga semua pihak turut merasakan hal yang sama. Turut merasakan tentang ada kesalahan yang urgen tuk benahi oleh setiap orang, oleh negara. Namun ada hal-hal baik-baik juga yang perlu dijaga dan menjadi teladan.
Saya belum selesai membaca buku Au Loim Fain ini.
.....
Pak Maxi mungkin ada pengalaman personal yang sukar ia lupakan dengan Malaria.
Malaria di Timor sudah menjadi penyakit yang biasa. Hampir semua orang yang tinggal disini ada Malaria.
Saya memiliki Malaria. Pada saat pikiran tubuh letih, perasaan tidak nyaman akan hadir. Indra perasa menjadi kacau, persendian terasa asam, suhu badan menjadi tak karuan. Kadang dingin, kadang panas menggigil.
Mama selalu memberi asupan makanan dengan menu yang berbeda ketika malaria singgah. Bubur dengan ikan, daging serta ragam sayuran. Sayur yang umum dalam menu sehari-hari hingga yang khusus seperti daun Ende, daun Tumbuh Pohon.
Selain itu sari dauh pepaya yang pahitnya terlalu jadi asupan obat. Kemudian diiringi dengan air gula sabu tuk penyeimbang rasa manis di mulut. Air gula juga menjadi pembuka sebelum yang pahit-pahit masuk ke lambung.
Darimana mama belajar semua ini?
Buku ETNOMEDISIN : Pengobatan Tradisional Penyakit Malaria Masyarakat Tetun di Timor Barat baru tiba dikamar saya hari ini. Belum saya baca isinya. Namun sudah mentriger ingatan-ingatan tentang malaria dan mama.
Terimakasih kasih tuk pak Maximus M. Taek yang sudah menelusuri, menuliskan, membukukan hingga mengirimkan pengetahuan ini secara langsung. Semoga menjadi berkat tuk banyak orang.
.....
.....
Ketiga buku ini datang pada masa yang sama. Maret.
Buku yang menuliskan tentang nurani identitas sebuah suku bangsa yang begitu padat akan Nilai. Yang selaras dengan alam semesta dan pencipta tuk menopang segala bentuk kehidupan dialaminya.
Namun, buku yang lain, ada kisah yang sarat dengan 'konflik'. Tentang dampak pilihan-pilihan hidup yang berujung kehilangan namun juga ada harapan. Pilihan-pilihan ini tentu berkaitan dengan tradisi -kebiasaan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. Jaman yang berubah, melahirkan berbagai cara pandang yang baru. Masing-masing pilihan tentu mempunyai konsekuensi berbeda. Namun apakah itu didasari akan sebuah kesadaran? Atau justru menghadirkan jebakan-jebakan yang tak diinginkan di masa depan.
Pengetahuan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya, tentu menjadi salah satu dari sekian banyak tuntutan modal yang harus diketahui. Salah satunya adalah pengetahuan tentang obat tradisional ini.
Neuh. Begini dulu catatan nya. Terimakasih tuk segala pengetahuan yang ada.
Tini, 28 Maret 2021















